
Menangis bukan berarti lemah, kuat bukan berarti tak pernah menangis.
Kuat adalah, ketika jatuh namun memilih untuk bangun dan bangkit ~ Mala.
****
Bram mengejar Maya tetapi wanita itu sudah tak terlihat, bahkan Bram sudah tidak menemukan Maya saat mencari ke rumahnya.
"Abang, lu kemana aja?" tanya Gala seraya membuka pagar.
"Gua ada, nggak kemana-mana! Mana Maya?"
"Udah pergi," jawab Gala seraya menggaruk tengkuknya.
"Kemana?"
"Gua nggak tau, yang gua tau mbak Pergi sama tante!"
Bram menarik nafas dalam, setelah itu Bram mencoba pergi ke rumah Maya dan Biru, di sana lelaki itu juga tidak menemukan Maya.
"Maya! Lu kemana, May?" gumam pria itu dalam hati.
Sementara Maya dan Murni sudah berada di dalam pesawat.
Murni menatap wajah Maya yang sudah dianggapnya sebagai anak. Terlihat Maya tersenyum, entah apa yang membuatnya tersenyum Murni tidak mengetahuinya, tetapi senyum itulah yang dinantikan oleh Murni setelah air mata yang selalu Maya dapatkan.
Maya menatap wajah pria yang pernah ia cintai, pria itu sedang membuatkan susu hamil untuk dirinya, dengan manja Maya menunggu duduk di kursi meja makan.
Kenangan yang indah yang tidak pernah ingin ia lupakan tentunya masih banyak kenangan indah lainnya sebelum negara api menyerang.
Teringat dengan luka itu membuat Maya menitikkan air mata dan sekarang wanita itu meninggalkan kota kelahirannya, ingin menyembuhkan hati yang terluka.
"Selamat tinggal, Mas. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu! Selamat tinggal Bram, terimakasih sudah hadir di hidupku!" batin Maya.
****
Biru... lelaki itu masih belum sadar telah dipermainkan oleh wanita yang dianggapnya paling mengerti dirinya.
Sekarang, Biru menjatuhkan kepalanya di atas kaki Hafizah dan Hafizah membelai lembut rambut Biru.
"Sayang," lirih Biru dengan mata terpejam.
"Hmmm," jawab Hafizah.
__ADS_1
"Makasih masih bertahan dengan ku walau aku sudah tidak memiliki apapun lagi!"
"Aku mencintai kamu, bukan harta kamu!" jawab Hafizah, wanita itu mengecup bibir suaminya.
Dalam hati, Hafizah memikirkan bagaimana nasibnya dan Bambang kedepannya. Wanita itu menyembunyikan kegelisahannya karena tidak ingin membuat Biru pusing untuk saat ini, wanita itu ingin menjadi paling mengerti Biru.
****
Bram... lelaki itu berdiri di tepi danau, sesekali melempar batu ke air yang tenang itu. Ingin menangis, tetapi entah harus menangisi apa, pria berparas tampan itu merasa bingung dengan dirinya yang tak berhenti memikirkan Maya.
"Maya, kenapa lu masuk ke hati gua sedalam ini!" gerutunya, tanpa terasa pria itu meneteskan air matanya, merasa menyesal karena tidak cepat membuka pintu untuk Maya.
"Aaaaaaaaaa!" teriak Bram, lelaki itu kembali merasakan sakit hati saat harus kehilangan wanita yang berada di hatinya.
"Udah gua bilang, lu nggak boleh jatuh cinta, Bram. Nggak boleh!" teriaknya dalam hati. Sekarang, pria itu berjongkok menghapus air matanya.
"Apa pantas, Maya? Lelaki seperti gua buat ngejar lu?" batinnya masih teriris.
Sekarang, Bram memilih untuk bangun. Bertekad ingin meninggalkan dunia kelamnya.
****
"Seandainya bila, ku bisa memilih, aku memilih untuk tidak membagi hati ini apalagi cinta ini, mencintai dengan perasaan utuh terhadap pasangan adalah nikmat. Aku tidak lagi dapat mencintainya secara utuh setelah kehadiran pria itu di hatiku, sekarang yang kuperlukan adalah mengembalikan hati agar kembali fokus pada anakku! Hanya anakku!" batin Maya, wanita itu sudah sampai di tempat tujuannya yaitu Jawa Timur.
Maya dan Murni di jemput oleh orangnya.
"Sayang, sebentar lagi mamah datang!" gumam Maya, lalu Murni menatap Maya yang menatapnya dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
"Terimakasih, mah," lirih Maya, wanita itu memeluk Murni seolah dirinya memeluk Lisna.
"Sudah seharusnya mamah sebagai orang tua memihak yang benar!" jawab Murni, setelah itu wanita berpakaian serba hitam itu mengecup pucuk kepala Maya.
"Kamu sedang apa, Biru! Kenapa kamu sangat bodoh!" gumamnya dalam hati.
"Mah, apa mamah memikirkan nasibku setelah mamah membuangku seperti sampah?" tanya biru dalam hatinya, pria itu sedang memandang pemandangan dari balkon villanya.
"Biru yakin kalau Biru bisa bangkit tanpa bantuan dari mamah!" ucapnya, pria itu kembali masuk ke dalam dan melihat Hafizah membawa bungkusan.
"Apa itu?" tanya Biru, pria itu tidak begitu perduli dan hanya sekedar ingin tau saja.
"Aku membeli tas dan tas ini aku pesan sebelum kejadian kamu diusir itu," jawab Hafizah, setelah mengatakan itu Hafizah segera masuk ke kamarnya dan segera melempar paket itu ke kolong ranjangnya.
"Semoga kamu aman ya di situ!" ucap Hafizah pada kotak itu, selesai dengan kotak sekarang Hafizah kembali pada Biru, lelaki itu mengajak Hafizah berenang di kolam belakang tetapi Hafizah menolak karena udaranya sangat dingin.
__ADS_1
"Dingin, Mas. Aku maunya yang anget-anget!" jawab Hafizah.
"Yang anget? Maksud kamu, itu?" tanya Biru, pria itu melirik pada Hafizah.
"Bukan itu, tapi kaya skoteng atau mie rebus kan enak! Cocok sama suasananya."
"Ooh, ya sudah ayo kita cari, aku nggak mau anak kita jadi ileran!" ajak Biru seraya menggenggam lembut tangan Maya.
"Tapi, Mas. Bukannya kita harus menghemat, seenggaknya sampai kamu dapat kerjaan lagi."
"Beli skoteng paling berapa sih, nggak mungkin ngabisin duit sampai satu juta kan?"
Hafizah tersenyum dan sekarang sudah duduk di samping Biru yang sedang memarkirkan mobilnya.
Melihat itu, Bambang merasa khawatir, Bambang takut rahasia Hafizah akan diketahui oleh Biru.
"Apakah dia akan memaafkan kamu nanti, Nak. Sudah ayah bilang, sebaiknya kamu mengatakan yang sejujurnya!"
Pria itu kembali masuk setelah menutup pintu pagar. Hidupnya tidak tenang karena menyembunyikan kebenaran dan kesehatannya itu semakin menurun.
UHUK! UHUK!
Bambang terbatuk, pria itu merasa kalau sisa hidupnya tidak lama lagi.
"Keberadaan ayah juga tidak kamu anggap, Hafizah! Kamu dibutakan cinta, cinta buta!" ucapnya dalam hati.
Sementara Hafizah, wanita itu sudah merasa lelah berkeliling mencari skoteng tetapi tidak menemukan dan sekarang mereka membeli mi goreng di tepi jalan.
Di sana, Biru melihat seseorang memesan nasi goreng petai membuat dirinya teringat dengan Maya.
"Kamu menghancurkan seluruh hidupku!" batin Biru yang masih belum menyadari kesalahannya sendiri.
"Mas!" Hafizah menegur Biru yang terdiam.
"Kenapa?" tanya Biru, pria itu mengerjapkan matanya.
"pesen apa?"
"Aku mie goreng biasa aja!"
"Ok," jawab Hafizah, setelah itu ia memesan tiga menu yang sama untuk keluarganya.
Hafizah dan Biru menunggu dengan sabar dan di sana banyak mata yang memperhatikan Biru membuat Hafizah merasa bangga telah memiliki seseorang seperti Biru di sisinya. Sekarang Hafizah menunjukkan kemesraan supaya mereka semua tau kalau Biru adalah miliknya.
__ADS_1
Bersambung.
Yuk jangan lupa dilike setelah baca ya dan jangan lupa beri dukungan buat novel kesayangan kalian ini 🤗