
Maya memuji Bram yang terlihat tampan dengan toga wisudanya, lalu Maya beralih pada Gala yang menyingkirkan Bram dari hadapan Maya.
"Mana ponakan aku?" tanya Gala, pria itu ingin mengajak ponakannya itu berswafoto.
"Itu, ayo kita foto bersama!" ajak Maya pada Gala dan juga Bram.
Setelah itu, Bram melihat pada seorang wanita yang berjalan ke arahnya, wanita itu adalah Marisa yang sudah tidak merajuk lagi pada dirinya.
"Selamat ya, Bram!" ucap Marisa seraya berjabat tangan dan acara hampir di mulai membuat mereka membubarkan diri dan segera masuk ke ruangan wisuda.
Selama acara berlangsung, Gala membayangkan kalau di sana ada orang tuanya membuat Gala bersedih, tetapi pria itu menahan supaya air matanya tidak jatuh.
****
Di toko Biru, ada seorang anak kecil yang datang bersama dengan ibunya, anak itu berlarian mencari sesuatu yang ingin dibelinya.
"Althaf! Jangan lari kamu!" seru ibunya seraya berusaha meraih anaknya, tentu saja si ibu takut kalau anaknya akan menghancurkan toko Biru.
Biru hanya tersenyum melihat anak kecil yang aktif dan lincah itu dan saat Biru sedang menikmati pemandangan itu datang dua orang temannya.
Randy dan Anton, mereka berdua seolah ingin mengejek Biru.
"Jadi sekarang ini usaha lo? Kemana asisten lo? Siapa namanya? Ran... iya, iya. Udah nggak sekaya dulu dia, nggak sanggup lah bayar Ran!" ejek Anton seraya memberikan tumpukkan kertas untuk di fotocopy.
"Memangnya di kantormu tidak ada mesin fotocopy? Miskin sekali perusahaan kalian!" gumam Biru tanpa melihat dua mahluk menjengkelkan itu.
"Bukan tidak ada, tapi sengaja datang kemari, ya... biar kelihatan ada pengunjung datang kemari, ya nggak Ran!" ejek Anton dan Biru hanya diam saja, dia tidak menanggapi cemoohan mantan teman-temannya itu.
Sedangkan Randy, pria itu meninju pelan lengan Anton, memintanya untuk berhenti mengejek Biru.
Selesai dengan pekerjaannya, Biru segera memberikan berkas-berkas tersebut pada Anton.
"Gratis! Tanpa kalian datang ke toko ini, toko sudah ramai pengunjung!" kata Biru tanpa melihat wajah dua temannya.
Setelah itu, Biru pergi meninggalkan tokonya, merasa empet melihat dua temannya.
__ADS_1
"Aris! Saya pergi cari makan dulu!" kata Biru pada karyawannya.
Biru melihat jam di tangannya dan ternyata hari hampir sore yaitu pukul 14:35 WIB.
"Memang aku bukan lagi direktur utama di perusahaan besar, setidaknya, aku bisa membangun usahaku sendiri!" gumam Biru dalam hati. Pria itu yang merasa kesal merasa ingin makan enak.
"Selama ini aku udah ngirit! Nggak ada salahnya sesekali makan di restoran!" lanjut Biru dan benar saja, Biru mengendarai motornya ke salah satu restoran, di sana, baru saja Biru masuk, pria itu mendadak terdiam, berdiri di pintu, matanya melihat Maya sedang duduk bersama dengan Gala, Bram dan Marisa, terlihat Bram sedang menggendong seorang balita dan Biru langsung mengenali balita itu yang membawa mainan yang dipesan di tokonya.
Biru berbalik badan, pria itu mengurungkan niatnya untuk masuk ke restoran.
Merasa tidak boleh mengganggu kebahagiaan Maya dan Ifraz.
Dengan langkah yang lemas, Biru kembali ke motornya.
"Harusnya, aku yang di sana!" batin Biru, "aku yang menggendong putraku! Tapi karena kebodohan ku, aku kehilangan kebahagiaan yang sesungguhnya!"
Biru masih berada di atas motornya, merasa bimbang dengan perasaannya. Merasa rindu dan hatinya mengatakan kalau tidak ada salahnya dirinya mencoba mendekat untuk mendapatkan maaf.
"Ya, kamu harus meminta maaf, bukannya itu yang kamu inginkan!" kata hati Biru dan Biru memantapkan niatnya, pria itu turun dari motor dan kembali ke resto, sayangnya saat Biru kembali, semua orang sudah tidak ada di sana.
Lalu, Biru yang terdiam itu mendengar suara yang menegurnya, "Mas, jangan berdiri di pintu!"
"Ah... iya. Maaf!" kata Biru, pria itu kembali keluar dan akhirnya pria itu memilih untuk makan siang menjelang sore di RM. Padang.
Biru memilih duduk di sudut, membelakangi semua pengunjung, Biru menyantap makanannya itu dengan terus membayangkan wajah Ifraz yang tadi digendong oleh Bram. Biru tak ingin kalau bayangan itu cepat hilang.
Selesai dengan makan, sekarang, Biru kembali mengendarai motornya, pria itu melewati taman yang terlihat ramai di sore hari, Biru menghentikan motornya memperhatikan seisi taman.
Terlihat banyak anak-anak bermain ayunan, perosotan, trampolin dan masih banyak lagi, di sana Biru membayangkan kalau dirinya menggenggam tangan kecil anaknya, mengajaknya bermain bersama.
Setelah hari semakin sore dan taman semakin sepi pengunjung, Biru pun ikut membubarkan diri, Biru kembali ke tokonya.
Di sana, Biru dikagetkan dengan Aris yang mengatakan kalau ada seorang anak kecil yang sedang mencarinya.
Biru senang mendengar itu, mengira kalau Ifrazlah yang mencari. Tetapi Biru tidak menemukan sosok yang diharapkannya.
__ADS_1
Lalu, Biru merasakan sesuatu di kakinya, Biru pun melihat kearahnya. "Ayah," lirih gadis kecil yang menarik-narik celana jeans Biru.
"Ayah?" tanya Biru, ia mengira kalau gadis kecil itu sedang mencari-cari ayahnya.
"Gadis kecil, dimana ayah kamu?" tanya Biru yang sudah mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil tersebut.
Lagi, gadis kecil yang berada di depannya itu memanggil Biru 'ayah'.
"Astaga, aku bukan ayah kamu!" ucap Biru berhasil membuat gadis kecil itu takut dan menangis.
Biru menggendong gadis itu, berusaha menenangkannya.
Biru juga bertanya pada Aris, kenapa ada anak kecil sendirian di tokonya.
"Entah, tadi toko ramai aku tidak memperhatikan, aku udah cek CCTV dan ternyata anak itu masuk sendiri ke toko," jelas pemuda berusia 20 tahun itu (Aris).
Setelah anak itu tenang dan masih berada di gendongan Biru, ia membawanya ke kantor polisi.
Di sana, Biru meminta bantuan untuk dicarikan orang tua dari anak tersebut.
Tetapi, lagi-lagi anak itu memanggil Biru sebagai ayahnya, seperti yang Murni ucapkan padanya. Ya, anak kecil itu adalah Dinara, Murni sengaja memberikan Dinara pada Biru supaya dirinya tidak kesepian.
Murni yang sempat melihat Biru berada di tepi taman kota itu mengerti perasaan anaknya yang sangat merindukan putranya, Murni melakukan itu karena berfikir akan sedikit mengurangi rasa sepi di hati Biru.
"Tapi, anak ini bukan anak saya, Pak!" ucap Biru pada Polisi yang tak mempercayai laporan Biru.
"Jangan mengelak, atau jangan-jangan anda ayah yang tidak bertanggungjawab, sampai ingin meninggalkan anak sendiri?"
Tentunya, perdebatan itu semakin membuat Dinara takut, gadis kecil itu menangis memanggil oma.
"Omah, ayah nakal!" kata Dinara dengan suara yang sedikit cadel khas anak-anak.
"Astaga, gimana orang mau percaya kalau aku bukan bapaknya, dia manggil aku ayah mulu!" gerutu Biru dalam hati.
Bersambung.
__ADS_1
Makasih yang masih setia mengikuti cerita ini, sampai jumpa di episode selanjutnya. Jangan lupa untuk klik like setelah membaca 🤗