
Sesungguhnya, Maya sangat ingin mengatakan yang sebenarnya, tetapi wanita itu merasa tidak tega pada Bram dan perasaan tertekannya saat ini membuat Maya merasa sedikit pusing, lama kelamaan pandangannya mulai kabur, tetapi ia dapat mendengar suara Bram.
"May, gua tau, ada yang lu sembunyiin, kan!" kata Bram.
Lalu, Bram berteriak memanggil nama Maya saat Maya jatuh pingsan, beruntung Bram dengan cepat menangkap tubuh Maya yang terhuyung.
Teriakan Bram didengar oleh Marisa dan wanita itu segera berlari masuk.
"Astaga, kenapa Bram?" seru Marisa yang masih berdiri di pintu.
"Cepat sini, berat, gua susah gerak!" kata Bram yang sedang menahan tubuh Maya.
Marisa segera membantu Maya, ia membawa Maya untuk dibaringkan di sofa.
Setelah itu, Marisa segera memanggil dokter.
****
Setelah Maya melarang Biru untuk menemui putranya, sekarang Biru menjadi tidak fokus dalam mengerjakan pekerjaannya.
Biru memanggil Ran. Ia meminta untuk menggantikan dulu sebentar pekerjaannya. Biru keluar dari kantor, ia mengendarai mobilnya yang ternyata ke makam orang tua dan mantan mertuanya.
Sekarang Biru berjongkok di samping makam Lisna.
"Bu, maafkan Biru yang tidak bisa menjaga anak ibu dengan baik, sekarang, Biru hidup dalam penyesalan. Mungkin ini adalah hukuman untuk Biru yang bodoh telah menyia-nyiakan anak ibu, sekarang, Biru kehilangan banyak orang, Biru sudah tidak berharap lagi anak ibu kembali, karena Biru tidak mau mengganggu kebahagiaannya sekarang."
Setelah mengatakan itu, Biru menabur bunga di atas makam Lisna. Selesai dengan itu, Biru pergi ke makam Murni, TPU itu saling berhadapan, Biru hanya tinggal menyebrang jalan saja.
Setelah kepergian Biru, sekarang datang Gala.
"Ada bunga? Siapa yang baru datang dari sini, mungkin Mbak Maya, tapi tumben biasanya dia ngajak aku bareng," gumam Gala.
"Ah, sudah lah, siapa lagi kalau bukan Mbak," batin Gala. Pria itu bercerita pada Lisna.
"Bun, restui Gala, Gala mau menikah, satu minggu lagi," ucap Gala seraya mencabut rumput yang tumbuh liar.
"Bun, taukah Bunda? Sekarang Mbak Maya sudah bahagia, bahagia bersama pria yang dulu Bunda tentang, memang, kalau jodoh tidak akan kemana, Bun."
****
"Papah, kenapa kita pergi ke rumah sakit?" tanya Ifraz pada Daniel.
"Iya, Mamah kamu lagi jenguk teman," jawab Daniel, ia menunggu Maya di mobil, Daniel yang selalu memikirkan Maya itu merasa tidak tenang, ia segera membawa Ifraz untuk menjemput Maya.
__ADS_1
"Kok lama, Pah?" tanya Ifraz yang menatap wajah Daniel.
"Iya, ayo kita masuk! Kita cari mamah kamu!" kata Daniel seraya melepaskan sabuk pengamannya dan sabuk pengaman Ifraz yang duduk di sebelahnya.
Daniel menggandeng tangan kecil Ifraz.
Sesampainya di depan ruang rawat Bram, Daniel membuka pintu itu, terlihat Maya yang sedang duduk dengan menundukkan kepala, Marisa dan Bram mereka saling diam.
"May," lirih Daniel dan Ifraz memanggilnya, "Mamah."
Semua orang melihat ke arah pintu, Bram menatap penuh benci pada pria yang diyakini itu adalah suami Maya.
"Pergi!" ucap Bram, pria itu menahan amarah setelah mengetahui kalau Maya sedang hamil.
Ya, Maya yang pingsan harus di periksa dan ternyata sedang hamil. Bram tidak dapat berkata apa-apa lagi, selain hatinya yang seolah tersayat, cahaya hidupnya sekarang benar-benar pergi.
Maya masih diam membuat Bram ingin mengeluarkan amarahnya dan benar saja, Bram menyibak semua benda yang berada di atas nakas membuat Ifraz ketakutan dan bersembunyi di belakang Daniel, kepalanya melongok, menatap Maya yang sedang menangis.
"May, ayo kita pulang!" ajak Daniel, pria itu mengerti apa yang terjadi, berfikir kalau Maya sudah mengatakan semua pada Bram.
"Ya, pulang sana! Pulang ke rumah suami mu!" teriak Bram, pria itu ingin pergi dari ruangan itu, meninggalkan Maya dan semua orang tetapi ia tidak dapat menggerakkan kakinya dan karena Bram terus mencoba untuk turun sekarang Bram terjatuh dari brangkar, Daniel mencoba untuk membantu Bram tetapi tangannya di singkirkan oleh pria malang itu.
"Pergi!" teriak Bram seraya melemparkan tiang infus dan itu hampir mengenai Ifraz yang berdiri di tengah ruangan, segera Maya melindungi Ifraz dan mengajaknya untuk keluar.
"Ayo Dan, sudah kita pulang saja!" lirih Maya seraya meraih bahu Daniel yang masih berjongkok di depan Bram.
Daniel pun bangun dan sekarang Marisa mencoba untuk membantu Bram dan Bram melakukan hal yang sama, menyingkirkan tangan Marisa.
"Kenapa lu jagain dia buat gua!" teriak Bram.
"Bram, yang gua tau, gua mengkhawatirkan lu waktu itu!" lirih Marisa, ia juga merasa bersalah, seharusnya dulu ia memberi kabar pada Maya, tetapi Marisa berfikir kalau Maya akan menunggu Bram atau mencarinya.
Maya yang masih berdiri di pintu, ia melihat kebelakang, menatap Bram.
"Maafkan aku, Bram!" Setelah mengatakan itu, sekarang Maya dan Daniel yang menggendong Ifraz benar-benar pergi dari sana.
Daniel menggenggam tangan Maya, seolah memberitahu kalau ada dirinya yang selalu setia bersamanya.
****
"Kenapa kak? Kenapa!" teriak Bram.
"Apa gua nggak pantas bahagia? Kenapa Maya khianatin gua di saat gua terbaring? Lu kenapa nggak jagain dia!"
__ADS_1
"Bram, tolong jangan seperti ini, semua udah terjadi, kakak minta maaf, andai waktu bisa terulang, kakak pasti nyuruh orang buat datang ke rumah Maya, biar ada kabar dari kamu!"
"bullshits!" teriak Bram seraya menyingkirkan tangan Marisa dari lengannya.
"Pergi!" Bram masih berteriak.
"Bram, tapi, nanti lu sendiri, ayo gua bantu," lirih Marisa dengan lembut, wanita itu merasa iba dan tidak tega melihat keadaan adiknya dan itu lah yang dari kemarin ia khawatirkan, sekarang menjadi nyata.
Kebenciannya pada Maya semakin terasa.
Sekarang, tidak ada pilihan lain, Marisa keluar dari ruang rawat Bram. Ia duduk di kursi panjang yang tersedia.
"Dad! Kenapa Daddy tidak pernah ada buat kami? Walaupun kami sudah dewasa tapi kami tetap membutuhkan Daddy!" tangis Marisa dalam hati.
****
Di perjalanan, Maya hanya diam, bahkan Daniel harus memangku Ifraz seraya menyetir.
"Dan," lirih Maya tanpa menatap suaminya, pandangannya kosong ke depan, hatinya merasa telah menjadi wanita paling jahat di dunia.
"Nanti aja, kita bahas di rumah, ya!" lirih Daniel.
Maya menjawab dengan menganggukkan kepala.
Sesampainya di rumah, Daniel meminta pada Minah untuk menjaga Ifraz.
Sekarang, Daniel menyusul Maya ke kamar.
"Kenapa, May? Apa kamu mau kembali bersamanya?"
"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Apa kamu sudah lupa dengan janji kamu yang akan selalu menemani aku?"
"Bukan begitu, aku lebih baik mengalah dari pada harus melihat wanita yang kucintai tidak bahagia bersama ku!"
"Aku bahagia, mana ada wanita yang tidak bahagia selama dicintai?"
"Kamu mencintaiku?" tanya Daniel, pria itu masih mempertanyakan cinta Maya pada dirinya.
Maya terdiam, ia merasa heran kenapa Daniel selalu menanyakan itu.
Bersambung.
Pembaca yang baik, jangan lupa tinggalkan like ya! Terimakasih bagi yang sudah membaca🤗.
__ADS_1