
Baru saja Pia membuka pintu kamar Biru tangannya sudah dihentikan oleh seseorang dan orang itu adalah Biru.
"Mau ngapain?" tanya Biru dan Pia tergagap.
"Ah. itu. Anu, Ayah!"
"Anu, apa?" tanya Biru menatap mata Pia.
"Kumis dan berewok ayah sudah tebal, Pia mau mengambil pisau cukur dan akan mencukur kumis itu kalau ayah sedang tidur!" jawab Pia, sedangkan Karen berdiri di belakang Pia, menggenggam erat pinggang Pia.
"Terimakasih sayang, niat baiknya, tapi ayah bisa mencukur sendiri!" jawab Biru. Setelah itu Biru membuka pintu kamar dan kembali menutupnya.
Pia mengajak karen untuk masuk ke kamarnya. "Gimana sih, katanya lagi pergi!" protes Karen, gadis berambut panjang itu menjatuhkan dirinya di ranjang empuk Pia.
"Mana gue tau kalau ayah bakal cepat kembali!" jawab Pia, gadis itu ikut menjatuhkan dirinya di ranjang.
Sementara itu, Biru merasa kalau rencananya membuat Pia penasaran telah berhasil.
"Usaha lebih keras lagi Pia!" batin Biru, pria itu melepaskan jas dan jam tangannya.
****
Hari telah berlalu, sekarang anak-anak sudah kembali beraktivitas.
Ifraz mengantar Ken lebih dulu ke sekolah.
"Sekolah yang rajin, Ken! Katanya mau pinta seperti abang!"
"Iya, abang juga ya, jangan pacaran mulu!" jawab Kania, setelah itu ia turun dari mobil, tersenyum pada Ifraz, senyum yang dipaksakan.
Ifraz hanya menggelengkan kepala. Setelah itu, ia melakukan mobilnya ke sekolah SMA di mana dirinya menimba ilmu.
Sesampainya di sekolah, Ifraz melihat Pia yang juga baru saja turun dari mobil. Ifraz memarkirkan mobilnya di samping mobil Pia.
Lelaki itu yang menganggap Pia sahabatnya, segera merangkul Pia dari belakang dan Pia menurunkan lengan Ifraz dari lengannya.
"Cie, ngambek, ngambek kenapa?" tanya Ifraz yang kembali merangkul Pia dan kali ini menggelitiki pinggang Pia.
"Gimana gue bisa ngambek kalau lo selalu bisa bikin gue tertawa!" batin Pia, gadis mungil itu memukuli lengan Ifraz dan Ifraz menahan lengan itu, membuat dua netra itu saling menatap, lalu Ifraz segera menurunkan tangan Pia.
"Yuk, ke kelas," kata Ifraz dan Pia menganggukkan kepala.
"Ya ampun, di lihat seperti itu makin bikin gue meleleh tau nggak!" batin Pia.
Mereka pun berjalan dengan bergandengan tangan, lalu, datang Zen yang tiba-tiba memisahkan mereka dari belakang, Zen menggenggam lengan Pia dan Ifraz, melemparkan senyum untuk keduanya.
"Astaga, ganggu aja ini anak!" gerutu Pia dalam hati, setelah itu, Pia melihat Bima yang berada di depannya.
"Bim!" seru Pia, gadis itu melepaskan tangan Zen dari tangannya, lalu mengejar Bima.
"Pia!" seru Ifraz dari belakang, Ifraz selalu tidak menyukai apabila Pia dekat seorang pria.
__ADS_1
"Faz, kok gue ditinggal!" kata Zenia yang berdiri dengan cemberut, membuat Ifraz menjadi bingung tetapi ia memilih kembali pada Zen.
"Maaf, gue... itu, reflek, gue harus jaga Pia, gue nggak mau-" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Zen sudha menaruh jari telunjuknya di bibir Ifraz.
"Gue nggak nanya soal Pia!" kata Zen.
Ifraz pun menurunkan jari Zen dari bibirnya, pria itu tersenyum kikuk.
Setelahnya kembali berjalan bersamaan.
Zen juga berhasil memasukkan selembar foto yang diberikan Marisa ke tas Ifraz.
****
Sementara itu, Marisa sedang membayangkan kalau mulai hari ini Ifraz akan banyak bertanya.
"Setelah kamu berhasil membodohi anakmu hari ini, aku yakin kalau besok kamu tidak akan bisa menjawab foto ini!" kata Marisa, wanita itu menatap foto Bram yang sedang bersama dengan Maya dak Ifraz di sebuah mall.
Setelah itu, Marisa pergi ke rumah Brandon, ia ingin melihat keadaan adiknya yang masih membenci Maya sampai ini, walau membenci, Bram tidak dapat melukai Maya, dia hanya bisa memendam rasa benci dan cinta itu menjadi satu.
Sekarang, Bram sedang melukis, mengisi kesibukan, ia menghentikan aktivitasnya saat melihat Marisa datang.
"Ngapain?" tanya Bram tanpa melihat Marisa.
"Bram, lebih baik kita ke kantor, udah lama lu nggak keluar dari rumah!"
"Nggak, gue nggak suka keluar!"
"Bram, ayolah!"
"Astaga!"
Marisa memilih untuk duduk di sofa, memperhatikan lukisan Bram yang setengah jadi, terlihat wajah seorang wanita.
"Bram, lupakan dia! Lu pantas bahagia!" kata Marisa.
Bram hanya diam saja, dia membukakan pintu untuk Marisa, agar Marisa keluar dari kamarnya.
Belum sempat Marisa keluar, ponselnya sudah bergetar, ia mendapat panggilan dari sekolah, mengatakan kalau Zenia pingsan.
"Merepotkan!" gerutu Marisa.
"Siapa?" tanya Bram.
Setelah itu, Marisa segera mendorong kursi roda Bram.
"Lu penasaran kan, ya udah ikut aja!" kata Marisa.
"Gua nggak mau keluar kak!" kata Bram dan sekarang keduanya sudah keluar dari rumah dan ini adalah kali pertama bagi Bram melihat dunia luar lagi setelah pulang dari rumah sakit empat belas tahun silam.
Bram menutup wajahnya menggunakan dua telapak tangannya, merasa silau.
__ADS_1
Tak mendapatkan penolakan lebih lanjut dari Bram membuat Marisa membawa lelaki itu ikut bersamanya.
"Lu maksa banget sih, kak!" gerutu Bram yang sedang dibantu masuk ke mobil oleh Marisa.
"Kenapa? Gua sayang sama adik gua!"
"Gua juga sayang lu, kak!" jawab Bram.
Marisa pun tersenyum, sedikit demi sedikit ingin mengembalikan semangat hidup Bram.
"Lu kapan mau merit?"
"Kayanya gua nggak akan merit!" jawab Marisa.
"Kenapa?"
"Gua udah punya ponakan, angkat, dia yang akan mengurus gua nanti!"
"Emangnya dia mau?" tanya Bram seraya memasang sabuk pengaman.
"Demi uang dia akan melakukan segalanya!" jawab Marisa, wanita itu yang sudah duduk di bangku kemudinya segera menancap gas. Membawa Bram ke sekolah Zen.
Sesampainya di sana, "Gua tunggu di sini aja!" kata Bram, Marisa pun menganggukkan kepala, keluar dari mobil dan segera pergi menyusul Zen UKS.
****
Setelah jam pelajaran olahraga selesai, Pia memilih ke kantin bersama dengan Karen. Sementara Ifraz ia berlari ke UKS, ingin melihat keadaan Zen.
Di sana, Ifraz kembali bertemu dengan Marisa, Ifraz menyapanya dan Marisa menatapnya datar. Marisa kembali memperhatikan Zenia.
"Zen, kenapa kamu bisa pingsan?"
"Zen kelelahan, tan. Olahraga tapi nggak kuat!"
"Lemah!" kata Marisa.
"Zen mau ijin pulang, Tan."
"Ya sudah, sekarang bisa jalan sendiri kan?" tanya Marisa, Zen pun mencoba untuk bangun dan ternyata kepalanya masih pusing.
"Biar gue bantu," kata Ifraz yang memperhatikan Zen.
"Terimakasih, Faz!" kata Zenia dan Ifraz menggendongnya di belakang, Ifraz juga merasakan suhu tubuh Zenia yang tinggi.
"Harusnya kalau lo sakit di rumah aja!" kata Ifraz dan ternyata Zenia tertidur di gendongan Ifraz.
Sementara Marisa, wanita itu pergi menemui wali kelas Zen dan mengambil barang Zen di kelasnya.
Sekarang, Ifraz membangunkan Zenia, menyuruhnya untuk segera masuk ke mobil Marisa. Di sana Ifraz melihat Bram yang memperhatikannya.
"Permisi, Om!" kata Ifraz dan Bram hanya menganggukkan kepala. Pria itu merasa tidak asing, merasa melihat Biru saat melihat Ifraz.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa klik like setelah membaca, terimakasih banyak 🙏