Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Membuka Luka Lama


__ADS_3

Maya masih mengenali wajah pria itu yang tak lain adalah Biru, pria itu baru saja membeli cake untuk Pia, hari ini gadis itu berulang tahun.


"Hai, Pak Tua, kalau jalan juga liat lurus ke depan!" jawab Maya, wanita itu sengaja menjawabnya dengan seperti itu untuk menutupi kegugupannya.


Dan Biru hanya memperhatikan saja, pria itu merasa berdebar berada sangat dekat dengan Maya.


"Aneh!" kata Maya, wanita itu pergi meninggalkan Biru yang masih terdiam, pria itu sedang mengatur detak jantungnya.


Begitu juga dengan Maya, wanita itu yang baru saja masuk ke toko kue segera duduk di sofa kecil dan mengusap dadanya.


"Astaga, kenapa aku deg-degan!" ucap Maya dalam hati, "seharusnya aku bisa bertanya soal foto semalam pada pria itu!" lanjut Maya, wanita itu segera keluar dari toko untuk mencari Biru tetapi pria itu sudah tidak ada di tempat.


"Aku harus menemui Ran dan menitipkan salam pada pria itu!" ucap Maya dalam hati.


Setelah itu Maya segera membeli apa yang dicarinya dan setelah mendapatkan itu Maya melanjutkan perjalanannya.


Di sana Maya meminta pendapat pada teman-temannya mengenai Biru dan Ifraz.


"Lebih baik kamu katakan yang sebenarnya, May!" saran Ayana seraya mengusap perutnya yang gendut, perempuan yang sekarang berhijab itu sedang mengandung anaknya yang ke tiga.


"Jangan sih, May. Nanti kalau Ifraz tau yang selama ini ditutupi pasti dia kecewa!" kata Dilan dan Maya memikirkan pendapat dari dua temannya yang sama-sama dianggapnya benar.


"Tapi, dikatakan atau tidak pasti tetap kecewa!" jawab Maya, "aku jadi serba salah, aku terlalu menuruti permintaan Daniel dan mertuaku. Seharusnya aku bisa tegas dengan diriku sendiri!" jawab Maya dan dua temannya menarik nafas dalam.


"May, mungkin tante Imel itu takut kalau anaknya akan sakit lagi," jawab Dilan, wanita itu semakin gemoy setelah menikah dan melahirkan dua anak yang sekarang duduk di bangku SD kelas lima dan dua.


Maya menitikkan air matanya dan hanya di depan sahabatnyalah Maya dapat menunjukkan air mata itu.


Ayana mengusap punggung Maya, wanita itu mengerti bagaimana perasaan Maya yang belum dapat kembali sepenuhnya pada Daniel.


Tetapi Ayana juga pernah bertanya pada Maya, sebenarnya siapa yang Maya cintai tetapi Maya hanya diam tidak menjawab.


"Dari pada sedih mendingan kita nonton aja yuk, mumpung anak-anak masih sekolah, sekalian kita mengenang masa muda dulu, jangan mentang-mentang udh emak-emak terus lupa buat nyenengin diri sendiri!" kata Ayana dan Maya merasa tersindir dengan ucapannya itu dan memang benar kalau Ayana menyindir Maya yang selalu mementingkan keluarganya sampai melupakan kebahagiaannya sendiri.


Padahal, Maya selalu berfikir kalau anak-anaknya lah kebahagiannya.


Selama kedua anaknya itu bahagia maka Maya akan bahagia.


Sementara itu, di kelas, Zen sedang memasukkan selembar foto kedalam tas Ifraz.

__ADS_1


"Pantes aja lo nggak mirip sama papah lo, orang lo bukan anak kandung!" kata Zenia, gadis cantik itu segera menutup kembali tas Ifraz dan segera keluar dari kelas untuk menyusul Ifraz ke kantin dan ternyata di kantin Pia sedang mentraktir semua temannya.


Zen hanya memperhatikan, karena sekarang ia sudah banyak uang tidak lagi membutuhkan traktiran.


****


Sebelum pulang, Maya menyempatkan diri untuk menemui Ran di sebuah kafe, wanita yang mengenakan long blazer itu sudah menunggu Ran.


Maya mengulurkan tangan saat Ran sudah datang, tetapi pria itu tak berani menerima uluran tangan wanita yang masih dicintai oleh Tuannya, Ran menganggukkan kepala dan tetap berdiri sebelum Maya memerintahkan untuk duduk.


"Ran, saya bukan lagi Nyonya kamu, bersikap biasa saja, silahkan duduk!" kata Maya dan Ran pun menarik kursi, duduk berhadapan dengan Maya.


"Minumlah, kapan lagi aku mentraktir kamu!" kata Maya dan Ran lagi-lagi hanya menganggukkan kepala. Menatap segelas es kopi latte.


"Maaf, ada apa Nyonya memanggil saya?" tanya Ran.


"Sampaikan pada Tuan, katakan padanya kalau aku tidak mau dia mengusik kehidupan ku! Aku sudah bahagia bersama dengan keluarga ku!" ucap Maya, setelah itu Maya menyeruput jus jeruk miliknya, lalu Maya bangun dari duduknya pergi meninggalkan Ran yang masih duduk di tempatnya.


Lalu, Maya menghentikan langkah kakinya saat mendengar Ran tidak berbicara secara formal lagi.


"Aku tau, kenapa kamu menerima pernikahan itu dengan mantan kamu!" kata Ran.


"Kamu ingin melupakan Tuan, bukan? Tapi bukan seperti ini caranya!" kata Ran, dia sudah berdiri di sebelah kanan Maya.


"Jangan berbicara seperti itu, aku merasa jahat!" jawab Maya.


"Memang faktanya, jangan pura-pura bahagia!" Setelah mengatakan itu, Ran pergi meninggalkan Maya, sementara Maya, wanita itu sudah mulai berkaca, dengan cepat Maya mengusap matanya yang basah.


Sekarang, Maya berjalan keluar dari kafe itu, menunggu taksi di tepi jalan dan justru Ran lah yang menghampirinya.


"Biar saya antar, Nyonya!"


"Terimakasih, saya bisa pulang sendiri!" jawab Maya, wanita itu melambaikan tangannya pada taksi yang melintas.


Ran masih berada di sana, ia segera menghubungi Biru.


"Tuan, saya sudah mengatakan semua!"


"Bagaimana ekspresinya?"

__ADS_1


"Nyonya...." Ran menggantungkan ujung kalimatnya membuat Biru penasaran.


"Katakan!"


"Nyonya, menangis!"


Mendengar itu, Biru memutuskan sambungan teleponnya.


"Sudah ku duga!" batin Biru, pria itu berdiri di tepi jendela, menatap keramaian kota di sore hari.


****


Sementara itu, tanpa Maya dan Ran ketahui, sebenarnya ada Daniel yang melihat pertemuan mereka sore ini, tetapi Daniel memilih untuk diam, selain sedang bersama dengan klien, lelaki itu penasaran dengan siapa Maya membuat janji.


Sekarang, Daniel merasa kalau Maya membohongi dirinya.


"Katanya ketemu teman tapi... ah, sudahlah!" batin Daniel. Pria itu ingin melupakan apa yang dilihat, tetap mempercayai Maya, Daniel yakin kalau Maya menemui Ran untuk membicarakan hal penting.


Tanpa Daniel tau, di rumah, Maya sedang menghadapi kemarahan Ifraz.


"Ifraz, kamu kenapa? Kenapa kamar mamah diberantakin?" tanya Maya yang baru saja kembali ke rumah.


"Aaaaaaaaa!" teriak Ifraz, pria yang masih mengenakan seragam itu menyibak meja rias Maya.


"Ifraz, kamu kenapa? Kalau ada masalah ceritakan sama Mamah!" kata Maya, wanita itu tak berani mendekati Ifraz yang sedang mengamuk.


Tidak menjawab, Ifraz memilih untuk pergi dari rumah. Maya mengejarnya dan menahan lengan Ifraz.


"Faz, kamu mau kemana? Dalam keadaan marah seperti ini?" seru Maya, ia teringat dengan kejadian saat dirinya mengalami kecelakaan waktu, ia mengendarai mobil dalam amarah.


"Lepas!" teriak Ifraz seraya menyingkirkan tangan Maya dari lengannya.


"Abang? Mau kemana?" tanya Ken dengan polosnya, gadis itu baru datang membeli camilan di minimarket terdekat.


Bersambung.


Pembaca yang baik, yuk tinggalkan loker setelah membaca.


Terimakasih 😇

__ADS_1


__ADS_2