Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Mati Rasa


__ADS_3

Maya terdiam, bahkan wanita itu tak membalas apa yang dilakukan oleh suaminya, wanita itu membiarkan Biru menjamah seluruh lekuk tubuhnya, tetapi... hatinya selalu merasa kalau ada sesuatu yang hilang.


Gairah yang ia miliki kini sudah tidak ada lagi seperti dulu, sekarang yang dipikirkan Maya adalah 'Biru melakukan itu juga dengan istri barunya'.


Lalu, bisikan Biru membuat Maya tersadar dari lamunannya.


"Maya, kenapa? Apa kamu tidak menginginkannya juga?" bisiknya tepat di leher Maya, mencoba membuat istrinya terpancing dengan hasratnya.


Tetapi Maya tidak menjawab, wanita itu masih terdiam, tidak mau menatap suaminya, air matanya menetes dan tersiram guyuran shower yang mengalir.


Biru merangkum wajah istrinya, memajukan wajahnya berniat untuk mengecup bibirnya, di sana Biru teringat dengan foto Bram yang sedang mencium bibir Maya.


Lelaki itu menepiskan rasa bencinya terhadap Bram karena saat ini yang ia inginkan adalah kembalinya Maya.


Sedangkan Maya memalingkan wajahnya, menolak untuk dicium, wanita itu tidak pernah lupa dengan pengkhianatan suaminya.


Tak tahan lagi membuat Maya menangis, berjongkok memeluk lututnya.


Sedangkan Biru, pria itu meraih handuk kimononya, memakainya lalu keluar dari kamar. Pria itu duduk di tepi ranjang dengan perasaan kesal karena tidak dapat menyentuh hati Maya.


"Aku tau, kamu belum memaafkan aku, May!" batin Biru, pria itu bangun untuk mengambilkan kimono Maya.


Setelah itu, Biru kembali masuk ke kamar mandi dan Maya masih dengan posisi yang sama. Melihat itu membuat Biru segera mematikan kran air tersebut lalu menutupi tubuh Maya menggunakan handuk yang dibawanya.


"Bangun, May. Aku tidak akan memaksa!" lirih Biru dan ternyata Maya masih tidak mau bangun.


"May, katakan. Tolong jangan diam! Apa perlu aku harus mengambil pisau supaya kamu bisa menyayat nadi ku?" tanya Biru, pria itu merasa putus asa melihat istrinya terluka.


Maya menggelengkan kepala, lalu mendongakkan wajahnya membuat Biru melihat mata merah Maya karena menangis.


Biru membantu Maya untuk bangun, memapah tubuh mungil istrinya. Pria itu membawa Maya keluar dari kamar mandi.


Biru mengambil baju ganti untuk dirinya dan Maya. Mereka memakainya tanpa ada suara dan Biru memperhatikan Maya yang kesusahan untuk menutup resleting belakangnya.


Maya yang sedang kesal dengan perasaannya sendiri melampiaskannya pada resleting yang tak bersalah itu.

__ADS_1


"Aaa!" Pekik Maya seraya memaksa resleting itu naik.


Lalu, Maya merasakan tangan suaminya itu menahan tangan Maya.


"Biar aku bantu!" lirih Biru, benar saja Biru membantu Maya untuk meresletingnya.


Setelah itu, Biru mengambil sisir Maya, menyisir rambut indah yang sekarang sudah menjadi pendek.


"Kamu cantik, mau itu rambut panjang atau pendek aku tetap suka!"


Maya menitikkan air mata dan segera menghapus air mata itu, selalu teringat degan kata Bram kalau dirinya tidak boleh cengeng.


Sedangkan Biru, pria itu mengerti kalau Maya tengah menahan kegundahan hatinya.


Biru menginginkan Maya untuk mengatakan semua apa yang ada di hatinya, supaya terasa lega dan itu mungkin bisa membuat Maya menjadi lebih baik.


"May..., aku tau aku bersalah, tapi katakanlah, May. Kamu bisa sepuas hati mencaci aku, kamu bisa menghukum ku, May."


Mendengar itu membuat Maya ingin mengeluarkan isi hatinya.


"Apalagi yang harus ku katakan, apa aku harus mengingatkan kalau kamu belum memilih aku atau dia? Apa aku harus mencacimu karena telah berbagi badan ini, kamu menciumnya, kamu tidur dengannya, aku sakit setiap memikirkan itu!" ucap Maya dengan suara berat dan tertahan.


"Aku minta maaf, May. Katakan aku harus bagaimana, sementara Hafizah sudah hamil, kamu sendiri seorang perempuan, May. Tega kah kamu melihat Hafizah melahirkan anaknya tanpa seorang suami?"


Mendengar itu membuat Maya membalikkan badannya, menatap tajam mata suaminya.


"Kalau aku jadi dia, aku tidak akan menyakiti perasaan wanita lainnya, ini semua kalian yang membuat, kenapa kamu tanyakan itu padaku? Apa kamu tidak memikirkan aku? Bagaimana perasaan aku sebagai wanita yang kamu duakan! Brengs*ek!" kata Maya.


Setelah mengatakan itu, Maya berlari keluar dari kamar Biru dan Biru berusaha meraih tangan Maya, ingin meminta Maya untuk tidak selalu melarikan diri dalam menyelesaikan masalah ini.


Tetapi Maya berhasil melepaskan tangan Biru dari tangannya, wanita itu berjalan cepat ke kamar tamu, mengambil tas tangannya di atas meja rias.


"Nia, saya akan kembali lagi nanti!" kata Maya dan setelah mengatakan itu, Maya berlari keluar dari rumah dan Biru memperhatikan itu dari lantai atas, pria itu menundukkan kepala, merasa sangat bodoh telah mengatakan itu pada Maya tanpa memikirkan bagaimana perasaan Maya.


****

__ADS_1


Di villa, Hafizah sedang memainkan ponselnya, mencari bantal untuk mengganjal perutnya supaya terlihat hamil sungguhan.


(Kata siapa pelakor selalu enak dan tenang, justru hidupnya tidak tenang karena selalu memikirkan cara licik supaya bisa mempertahankan hubungannya dengan suami yang telah susah payah dicurinya.)


"Maaf, Mas. Aku melakukan ini karena aku sangat takut kehilangan kamu!" batin Hafizah.


Wanita itu merasa was-was juga takut ketahuan. "Tapi bagaimana lagi, yang perlu ku lakukan adalah menjaga bayi itu sampai lahir dan selamat juga menjaga rahasia ini."


Hafizah menarik nafas dan sekarang Hafizah bangun dari duduknya, wanita itu harus menyiapkan makan malam untuk ayah dan gadis yang dipungutnya itu.


Hafizah tidak melihat keberadaan Bambang yang biasanya akan selalu mengurus taman dan burung untuk kegiatannya.


"Ayah kemana, tumben nggak kelihatan!" batin Hafizah, lalu wanita itu mencoba mencari ke kamar.


"Ayah," seru Hafizah seraya membuka pintu kamar Bambang dan terlihat Bambang terbaring lemah di sana.


"Ayah, kenapa?" tanya Hafizah seraya berjalan mendekati ayahnya.


Hafizah melihat wajah yang sangat pucat, lalu Hafizah membantu Bambang untuk merubah posisinya menjadi duduk.


"Ayah sakit?"


"Iya, ayah merasa tidak enak badan," jawab Bambang seraya terbatuk.


"Kita ke rumah sakit ya, yah!" ajak Hafizah seraya membantu Bambang untuk bangun, tetapi Bambang terlalu lemah dan sekarang Hafizah berfikir kalau dirinya saja yang memanggilkan dokter untuk datang ke villa.


"Ya sudah, Ayah istirahat saja. Biar Afi yang mencari dokter untuk ayah," kata Hafizah, setelah membantu pria itu berbaring segera Hafizah keluar dari kamar itu.


Hafizah pergi ke klinik terdekat mencari dokter untuk Bambang dan sekarang dokter sudah memeriksa keadaan Bambang.


"Bagaimana keadaan ayah saya, dok?" tanya Hafizah dan dokter menjawab kalau Hafizah harus menjaga ayahnya, mengatur pola makan dan kalau bisa jangan sampai stress.


"Ayah stress kenapa? Harusnya yang stress aku karena aku pura-pura hamil," batin Hafizah.


Bersambung.

__ADS_1


Terimakasih yang sudah membaca cerita ikan terbang ini 🏇🏇


Jangan lupa tinggalkan likenya, kalau mau komen di persilahkan 🏇🏇 tapi jangan lupa untuk klik likenya.


__ADS_2