Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Gagal Moveon!


__ADS_3

Biru tetap berdiri di depan pintu kamar Pia. Pria itu sedikit bercerita kalau hatinya pernah terluka dan tidak ingin mengkhianati lagi hatinya.


"Kamu tau, Pia. Ayah menganggap selama ini adalah kutukan, ayah hidup dalam rasa penyesalan, sedih, merindukan dan hanya bisa melihat tanpa menyentuh!" lirih Biru.


"Maksud ayah? Apa ibu yang membuatnya patah hati? Lalu di mana ibu?" tanya Pia dalam hati.


Merasa penasaran membuat Pia turun dari ranjang, ia membuka pintu dan Biru segera masuk, duduk di ranjang.


"Ayah, nggak biasanya cengeng seperti ini?" kata Pia.


"Kenapa? Tidak boleh? Ayah keluar lagi saja, tidak jadi menceritakan kisah ayah!" kata Biru seraya bangun dan Pia menahan lengan Biru.


"Ayah, ayah tidak pernah bercerita di mana ibu? Setiap Pia bertanya pasti jawabnya 'ada, dia ada, didekat kita' udah gitu doang!" protes Pia. Gadis itu melepaskan lengan ayahnya.


Pia si gadis mungil itu menjatuhkan dirinya di ranjang. Menatap langit-langit kamarnya dan Biru ikut berbaring di sisi Pia.


"Ayah tidak berbohong!" jawab Biru, pria itu bangun dari tidurnya, melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


"Ayah, apakah ibu meninggalkan ayah?" tanya Pia dan Biru yang baru sampai pintu menghentikan langkahnya.


"Iya, karena kebodohan ayah!" jawab Biru, setelah mengatakan itu, Biru keluar dari kamar Pia, tidak lupa menutupnya.


Biru mengusap matanya yang mulai basah, tidak ingin Pia melihat Biru yang cengeng.


****


Sementara itu, di villa sebelah, Maya sedang menginterogasi Ifraz yang telat kembali.


"Dari mana kamu?" tanya Maya, wanita itu sedang membereskan meja dan Ifraz masih bermain ponsel, duduk di sofa gantung yang berada di halaman belakang.


"Tadi Ifraz ketemu teman yang ternyata sama sedang berlibur juga di sini," jawab Ifraz, pria itu segera memasukkan ponselnya ke saku dan membantu Maya membereskan perabotan, membawanya masuk ke villa.


Selesai dengan itu, sekarang Maya berdiri di pintu. Wanita yang sedang berdiri itu merasa di awasi, menatap ke villa sebelah yang terlihat gelap, mengusap lehernya kemudian segera menutup pintu tidak lupa menguncinya.


"Aneh, nggak ada siapa-siapa, tapi kaya ada yang merhatiin, apa sekarang villa ini berhantu?" gumam Maya dalam hati, lalu Maya yang sedang mematikan lampu itu terkejut saat berbalik badan dan melihat Daniel sudah berdiri di belakangnya.


"Astaga, Mas. Bikin kaget aja sih!" gerutu Maya.


"Aku haus, sayang. Mau ambil minum!" jawab Daniel.


"Sini aku ambilkan," kata Maya yang kemudian berjalan ke arah dapur.


"Sayang, nggak usah, kamu terlihat sangat lelah, istirahatlah!" kata Daniel dan Maya berterimakasih pada suaminya.


"Makasih, Mas. Kamu pengertian sekali," kata Maya, wanita itu tetap mengambilkan Daniel minum.

__ADS_1


****


Sementara Biru, pria itu merasa kalau jantungnya hampir lepas dari tempatnya saat Maya menatap ke arah villa nya yang sudah gelap karena Biru memang sengaja mematikan lampu ruangan itu.


"Astaga, cuma diliatin gitu doang aja aku deg-degan!" gerutu Biru dalam hati.


Pria itu memilih untuk bangun dan menutup tirai, masuk ke kamarnya dan bersiap untuk tidur.


Biru, pria yang hidup dalam penyesalan, dalam hatinya masih berharap kalau Maya akan datang dan memeluknya lagi.


"Maafkan aku, Maya." Biru selalu mengucapkan kata itu, namun, sudah terlambat. Dulu, ia sangat keras kepala sekali.


****


Malam telah berlalu, sekarang Maya dan Kania sedang jalan-jalan pagi, menghirup udara segar pegunungan dan Daniel melihat anak istrinya itu keluar segera menghubungi seseorang.


Daniel mengatakan untuk menemuinya di belakang, (apa? Belakang? Belakang mana? Apakah Daniel tau kalau Biru mengikuti?


Daniel yang sedang berjalan keluar melalui pintu belakang itu berpapasan dengan Ifraz.


Ifraz baru saja selesai bersepeda dan menyimpan kembali sepeda itu di belakang.


"Pah, mau kemana?" tanya Ifraz.


"Cari angin!" jawab Daniel, pria tampan berbadan tegap itu menepuk bahu anaknya.


"Astaga, anak papah bucin juga ternyata!"


"Papah yang ajarin!" jawab Ifraz, setelah itu keduanya tertawa bersama, lalu kembali ke tujuan masing-masing.


Daniel keluar melalui pintu belakang dan ternyata di sana Biru sudah menunggu. Ya, Biru lah yang Daniel hubungi.


"Saya tidak basa-basi lagi," ucap Daniel, pria itu memasukkan dua tangannya di saku celana sportnya.


"Mau sampai kapan anda terus mengikuti keluarga saya?" tanya Daniel.


"Saya tidak mengikuti keluarga anda, saya hanya mengikuti kemana anak saya pergi! Jangan lupakan, Ifraz darah daging saya! Anak kandung saya! Jangan meminta saya untuk menjauh darinya! Sudah bagus saya tidak mengambilnya dari istrimu!" jawab Biru, pria itu tidak bisa mengontrol emosi di setiap Daniel meminta Biru berhenti untuk mengikutinya.


Sekarang, Daniel merasa heran, kenapa Biru selalu mengetahui keberadaan keluarganya.


"Anda yakin karena Ifraz? Bukan karena istri saya?"


Biru bangun dari duduknya.


"Jaga istrimu baik-baik!" ucap Biru, setelah itu meninggalkan Daniel yang menatapnya datar.

__ADS_1


"Astaga, kenapa dia tidak menikah saja, lalu lupakan istriku!" gumam Daniel dalam hati.


Pria itu kembali ke villanya. Daniel kembali teringat semalam, saat dirinya menunggu Ifraz di luar, ia melihat Biru yang baru saja masuk ke villa sebelah.


"Astaga, pria itu mengganggu akhir pekan ku! Apa harus ku jual villa ini? Pindah mencari lagi? Tapi, villa ini adalah milik Kania, sudah lah yang penting sekarang Biru menepati janjinya kalau dia tidak akan menemui Maya dan Ifraz!" batin Daniel. Pria itu takut akan kehilangan Maya dan anak yang sudah dianggapnya seperti anak kandung.


****


Di villa Marisa, wanita itu sedang menampar Zen dan itu adalah permintaan Zenia sendiri.


"Gadis gila!" Marisa menggelengkan kepala setelah menampar Zen.


"Aaau!" pekik Zen seraya mengusap pipinya.


"Tante punya dendam apa, kenapa bisa sekeras ini menampar ku?" protes Zen, ia melirik pada Marisa.


"Kamu sendiri yang minta dan kapan lagi aku menamparmu!"


"Hah! Dasar nenek lampir!" gerutu Zenia dalam hati, gadis itu segera berlari keluar ingin menemui Ifraz.


Seraya berjalan, Zen menelepon Ifraz.


"Ifraz," lirih Zen seraya menangis.


Mendengar itu, Ifraz panik, bertanya apa yang terjadi.


"Gue mau cerita, tapi gue nggak bisa bicara lewat telepon, gue jalan ke tempat lo!" lirih Zen di buat sesedih mungkin.


Ifraz segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Pergi menyusul Zen menggunakan sepedanya dan benar saja keduanya berpapasan di tengah jalan.


Ifraz turun dari sepedanya dan segera memeluk Zenia yang menangis dengan mengusap pipinya.


"Zen, lo kenapa? Cerita sama gue? Kenapa pipi lo memerah?" tanya Ifraz seraya merangkum wajah Zenia.


"Gue... gue, nggak bisa cerita sekarang, yang gue butuhin sekarang adalah bahu buat bersandar!" lirih Zenia.


"Ada bahu gue tempat lo bersandar, jangan lupa kalau gue selalu ada buat lo!" kata Ifraz, pria itu kembali memeluk Zenia.


Setelah tenang, sekarang, Ifraz mengajak Zenia berkeliling dengan naik sepeda.


Bersambung.


Berhasilkah rencana Zenia dan Marisa?


Yuk jangan lupa untuk like dan di favoritkan ya, supaya tidak tertinggal update terbarunya.

__ADS_1


Yang baik hati sudah memberikan dukungan, terimakasih banyak 🤗


__ADS_2