Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Memikirkan Maya!


__ADS_3

"Katakan, apapun itu akan ku berikan, kamu tau Maya. Aku sangat mencintai kamu," ucap Biru seraya meraih tangan Maya dan mengecup jari-jari lentik Maya.


Melihat dan mendengar itu membuat Maya merasa sesak, sangat berat untuk mengambil nafas. Dengan suara bergetar Maya mencoba untuk berbicara apa yang ingin dibicarakan.


"Aku juga mencintai kamu, Mas!" lirih? Maya, wanita itu melepaskan tangannya dari Biru lalu menghapus air matanya.


"Tapi aku tidak ingin begini! Tidak ingin seperti ini, kamu bilang ingin aku yang seperti dulu kan? Aku juga ingin kamu yang seperti dulu, yang hanya mencintaiku saja, tapi sekarang aku melihat kalau kamu juga mencintai dia, itu membuat aku sakit, Mas!" ucap Maya, wanita itu tercekat sehingga suara yang itu tak terdengar terdengar jelas tetapi Biru memahaminya.


"Aku juga selalu membayangkan disaat malam-malam kamu bersama dia, aku sakit, Mas!" ucap Maya seraya menekan dadanya sementara air mata semakin deras saat Maya mengeluarkan isi hatinya.


Biru menghapus air mata itu merangkum wajah Maya. "Jangan menangis Maya! Katakan apa yang ingin kamu katakan, akan ku berikan sebagai tanda maafku!"


"Maaf kamu tidak akan merubah semuanya, Mas!" lirih Maya seraya menurunkan tangan Biru dari wajahnya.


Dengan bibir bergetar dan hati yang bergejolak, meronta meminta tolong karena sakitnya tiada obat selain waktu yang akan menghapus secara perlahan.


Maya mengatakan kalau dirinya meminta untuk bercerai.


"Ceraikan aku, Mas!" lirih Maya dan Biru langsung bangun dari duduknya, tangannya mengepal, pria itu menahan amarahnya. Lalu Biru kembali duduk, menatap wajah istrinya yang sudah sembab.


"Maya aku ulangi lagi pertanyaannya, mungkin aku yang salah telah mengatakan akan memberikan semuanya. Katakan, apa yang kamu inginkan, aku akan memberikan semuanya selain perceraian!"


"Yang aku mau adalah bercerai! Aku tidak akan sanggup untuk membagi cinta dan suamiku! Aku lebih baik mengalah, aku tetap mau bercerai!"


Biru bangun dari duduknya lalu keluar dari kamar Maya tanpa mengatakan sepatah katapun, pria itu membanting pintu membuat Maya mengerti kalau suaminya sangat marah.


Maya menangis memanggil Bundanya.


"Bunda!" lirih Maya, wanita itu sangat merindukan belaian dari tangan lembut bundanya yang sekarang sudah tenang di alam sana.


****


Begitu juga dengan Biru, pria itu berlari masuk ke kamar, menangis di sana.


Hatinya hancur telah membuat Maya sakit dan menangis tetapi dirinya tidak ingin bercerai dari Maya, dirinya amat mencintai Maya dan tidak menyangka dengan tidak sengaja dapat melukai orang yang sangat dicintainya.

__ADS_1


Sampai larut malam Biru berada di kamar yang penuh kenangan dan kehangatan, Biru mengabaikan ponselnya yang terus berkedip dan sekarang Biru merasa lapar, pria itu turun dan makan malam hanya seorang diri.


Ia melihat ke tempat biasa Maya duduk dan selalu ada Ifraz di tengah mereka.


Sekarang tak sehangat dulu. Biru merindukan semua itu, sekarang Biru bangun dari duduknya membuka pintu kamar Maya yang tidak terkunci, terlihat Maya sudah tidur memeluk bayinya.


Biru meneteskan air mata, menyesal tetapi semua sudah terlanjur menjadi bubur.


Pria itu memilih untuk keluar dari rumah menghilangkan penat yang ia rasakan, Biru pergi ke sebuah kafe dan di sana Biru melihat Bram bersama dengan seorang wanita yang terlihat sangat seksi.


"Ck!" decak Biru, lelaki itu kembali cemburu saat melihat Bram dan sekarang Biru yang melihat Bram bersama dengan seorang wanita berfikir kalau wanita itu adalah kekasihnya.


"Nggak jauh beda, ternyata udah pacar tapi berani-beraninya deketin bini orang!" gerutu Biru, pria itu menyamakan Bram dengan dirinya yang tidak cukup satu wanita dalam hidupnya, lalu Biru membulatkan matanya saat melihat Bram dan wanita itu bercium**an, seketika yang terlihat di mata Biru wanita itu adalah Maya.


Mendidih darah Biru, pria itu berjalan mendekati Bram dan memisahkan mereka yang sedang bercumbu. Namun, setelah dilerai olehnya kembali terlihat wajah wanita itu bukanlah Maya.


"Apaan sih lu!" geram Bram.


Kepalang tanggung, Biru pun mengatakan apa yang ingin dikatakan.


"Jangan dekati bini gue lagi!" ancam Biru dan Bram terkekeh.


"Ayo kita pergi, ada orang gila di sini!"


"Nggak jelas!" gerutu wanita yang bersama Bram, ia mengatai Biru.


****


Seperti biasa, Bram akan mengajak wanitanya untuk makan malam lebih dulu sebelum berolahraga dan selama itu juga Bram memikirkan Maya.


"Ya, gua cuma kasian aja sama Maya!" gumamnya dalam hati.


Selesai dengan makan malam Bram tidak lupa mampir ke minimarket untuk membeli pengaman. Karena Bram tidak akan melakukan itu tanpa pengaman.


Setelah mendapatkan apa yang dicari sekarang Bram membawa wanitanya ke hotel.

__ADS_1


Di sana, Bram melepaskan jaket kulitnya melemparkannya ke sembarang arah.


Lalu Bram merasakan kalau wanita itu memeluk Bram dari belakang.


"Kita mulai sekarang! Gue udah nggak tahan!" desah wanita itu di telinga Bram dan tanpa menunggu lama lagi sekarang Bram dan wanita itu sudah berada di ranjang.


Namun, entah mengapa Bram selalu memikirkan Maya, bahkan wanita yang berada di bawahnya pun menjelma menjadi Maya membuat Bram tidak tega untuk menggagahinya.


Malam ini Bram tidak bekerja dengan benar bahkan Bram mengecewakan wanita itu membuat wanitanya menggerutu, hasratnya tak tersalurkan.


"Maaf, lu nggak usah bayar apapun! Gua harus pergi!" kata Bram yang kemudian memakai kembali semua pakaiannya, bahkan Bram melupakan untuk melepas pengaman itu dari pusakanya.


"Ck!" decak wanita itu yang sudah berada di bawah selimut. Merasa dirugikan membuat wanita tersebut menelepon seseorang yang mengenalkannya dengan Bram. Ia memprotesnya, bukan hanya memprotes tetapi juga memarahinya.


Sementara Bram, sekarang sudah dalam perjalanan mengendarai motornya dan harus melewati rumah Maya. Bram mengamati rumah itu dan memikirkan Maya.


"Gua enggak tega sama lu, May!" gumamnya, setelah itu ia kembali melanjutkan perjalanannya.


Bram pulang ke apartemen, sesampainya di parkiran Bram mendapat telepon dari temannya. "Halo!"


"Gimana sih, dia ngomel! Lagian enggak biasanya lu kaya gini? Kenapa, lu ada masalah?"


"Kagak! Gua butuh istirahat!" jawab Bram dan setelah itu Bram memutuskan sambungan teleponnya.


****


Keesokan harinya, Maya bangun pagi dan ditemani Susi, Maya kembali berlatih berjalan di taman samping rumah.


Maya merasa senang karena keadaannya sekarang sudah membaik. Perlahan Maya sudah bisa berjalan lagi. Tentunya Biru memperhatikan Maya dari lantai atas.


Biru yang ingin memperbaiki hubungan itu pun segera berlari turun, dirinya ingin ada untuk Maya di saat masa sulitnya.


Tetapi, Maya yang melihat kedatangan Biru membuatnya malas untuk berlatih, sekarang Maya perlahan berjalan mendekati kursi rodanya dan kembali duduk untuk beristirahat.


Bersambung.

__ADS_1


Terimakasih kaka buat yang sudah membaca. Yang sudah memberikan dukungan berupa vote/giftnya 😘.


Yang belum like ayo dong di like biar aku semangat upp nya. Jangan pelit jempol ya readers 😙😘 sampai jumpa lagi di episode selanjutnya.


__ADS_2