Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Sebenarnya Pesawat Itu Dari Biru!


__ADS_3

Keesokannya, sore hari, Gala datang dengan membawa mainan untuk Gala dan Ifraz yang sedang bermain dengan Maya melihat kedatangan Gala membuat Ifraz bangun dari duduknya, segera berlari, berhambur memeluk Gala.


"Ummmaaah." Gala menciumi pipi kanan dan kiri ponakannya.


"Om punya sesuatu buat kamu, tapi, Om minta cium dulu!" kata Gala seraya memberikan pipinya dan Ifraz dengan gemas, ia mencium omnya sampai pipi Gala menjadi basah.


Setelah itu, Gala membawa Ifraz ke gendongannya, lalu tangan kanannya mengeluarkan kotak hadiah yang ia janjikan.


Ifraz dengan cepat meraih kotak itu dan meronta meminta untuk turun. Ifraz berlari ke arah Maya yang sedang memperhatikan.


"Mamah, aku mau buka ini!" kata Gala dengan suara imutnya dan saking semangatnya Ifraz, ia berlari sampai tersandung kakinya sendiri.


Maya dengan cepat membantu Ifraz untuk bangun.


"Mana yang sakit, sayang?" tanya Maya seraya mengusap lembut lutut anaknya.


Ifraz menggelengkan kepala, pria kecil itu sedang fokus dengan oleh-oleh dari pamannya.


Setelah itu, Maya pun membantu Ifraz untuk membuka mainan yang Gala bawakan.


"Waaaaa, bagus banget pesawatnya," kata Maya, wanita itu membayangkan, seandainya Biru membelikan mainan untuk Ifraz, pasti Ifraz akan sangat bahagia.


"Ini, bilang apa sama om?" tanya Maya seraya memberikan mainan itu pada anaknya.


"Ma'acih, Om!" ucap Ifraz seraya menunjukkan gigi-gigi kecilnya dan di tengah keseruan mereka, tidak lama kemudian ada Murni bersama dengan orangnya dan Dinara.


"Assalamu'alaikum," seru Murni seraya menggandeng lengan kecil Dinara dan Dinara yang merasa asing itu memeluk kaki Murni membuat Murni segera menggendongnya.


"Waalaikumsalam," jawab Maya dan Gala bersamaan, mereka bangun dan menyambut Murni, mencium punggung tangannya.


"Anak siapa ini, Mah?" tanya Maya, dalam hati berfikir kalau itu adalah anak Biru.


"Kalau anak Mas Biru nggak mungkin udah segede ini, harusnya masih berusia sekitar satu tahun," batin Maya.


"Dia cucu mamah, kenalin sayang. Tante Maya, Om Gala dan ini jagoan Omah namanya Ifraz," kata Murni pada Dinara seraya memperkenalkan orang-orang baru di hidupnya.


"Ayo salim sama Om dan Tante!" kata Murni seraya menuntun tangan kecil Dinara sementara Ifraz, pria kecil itu memperhatikan rambut ikal Dinara, seolah memanggilnya untuk di raih dan benar saja, Ifraz yang berada di gendongan Maya itu menarik rambut Dinara dengan dua tangannya.


"Huaaaa... aaaaaa... huaaaaaa!" Dinara menangis karena takut, sakit dan terkejut.

__ADS_1


"Sayang, kamu nggak boleh gitu, Nak. Naranya sakit, harus minta maaf dan jangan ulangi!" perintah Maya dan Ifraz meraih tangan Dinara untuk diciumnya tetapi Dinara sudah terlanjur takut pada Ifraz.


Dinara menyembunyikan wajahnya di lengan Murni.


Setelah itu, Maya merasakan kalau Ifraz meminta turun dan Maya menurunkannya, Ifraz berlari mengambil mainan pesawat barunya lalu ditunjukkannya pada Dinara.


"Ayo, Nak. Main sama saudara kamu!" kata Murni berusaha membujuk Dinara dan Dinara yang melihat mainan begitu banyak di belakang Maya berdiri itu mau untuk turun dan Ifraz masih tidak melupakan kalau dirinya harus meminta maaf.


Ifraz meraih tangan Dinara dan menciumnya, "Maaf!"


Dinara hanya diam saja, setelah itu Ifraz mengajak Dinara untuk bermain bersama, Dinara pun menganggukkan kepala.


Dinara berlari lebih dulu dan Ifraz semakin tergoda dengan rambut ikal Dinara yang bergerak, hampir saja Ifraz menjambak Dinara dari belakang kalau Maya tidak memperhatikan.


Maya mencegah Ifraz, menatap matanya, Maya menggelengkan kepala pada Ifraz.


"No!"


Setelah itu, Maya menitipkan anak-anak pada pengasuh untuk diawasi. Apalagi Ifraz, dia sangat aktif dan masih belum mengerti kalau apa yang dilakukannya itu adalah berbahaya.


Sekarang, Maya, Murni dan Gala , semua duduk di ruang tengah, mengobrol santai.


Maya merasa kasihan, tidak membayangkan bagaimana kalau itu ada di posisi Ifraz, membuat hati Maya tersentuh dan menganggap Dinara sebagai anaknya.


"Bagus itu, anak-anak memang harus kita sayangi. Dinara pasti bahagia memiliki mamah seperti kamu!" kata Murni.


****


"Dew, aku semalam ketemu sama mantan suami," kata Hafizah yang sedang menonton bioskop bersama.


"Terus?" tanya Dewi seraya mengusap perutnya yang membesar karena sedang hamil besar.


"Ya, gimana. Dia masih benci sama aku," lirih Hafizah seraya memakan popcorn yang berada di tangannya.


"Sini, aku bilangin, yang udah biarlah udah, jadikan pengalaman dan pelajaran, jangan pernah mengawali hubungan dengan sebuah kebohongan!"


"Iya," jawab Hafizah singkat, "kapan ponakan aku lahir, Dew?" tanyanya, mencoba mengalihkan pembicaraan.


"HPL bulan depan," jawab Dewi, setelah itu, Dewi meminta pada Hafizah untuk memotretnya. Dengan senang hati Hafizah mengambilkan gambar itu.

__ADS_1


****


Setelah beberapa hari berlalu, sekarang Murni dan Dinara sudah kembali ke Jakarta, begitu juga dengan Maya yang ingin menghadiri wisuda adiknya.


Sekarang, Maya berada di rumah Murni, tanpa sengaja ia melihat Murni yang sedang memandangi foto anaknya, Maya dapat melihat itu karena kamar Murni tidak tertutup rapat.


"Mamah pasti sangat merindukan Mas Biru!" batin Maya.


Maya mengetuk pintu.


"Masuk!" ucap Murni seraya melihat ke pintu.


Maya memberikan senyum padanya, lalu masuk ke kamar.


Maya berpamitan harus menghadiri wisuda adiknya.


"Iya, kamu hati-hati." Murni membelai wajah Maya membuat hati Maya teriris, wanita itu kembali merasa kalau dirinya telah mengambil semua milik Biru.


"Aku harus mengembalikan anak pada ibunya!" batin Maya, "tapi di mana dia sekarang, aku takut akan mengusik hidupnya dan wanita itu!" lanjut Maya.


"Kenapa bengong? Nanti telat, lihat kamu sudah sangat cantik, seperti bidadari!" ucap Murni seraya memperhatikan dari ujung kepala sampai ujung kaki Maya.


Maya tersenyum setelah itu keluar dari kamar Murni dan diantar oleh sopir Murni.


"Ayo sayang," ajak Maya pada Ifraz yang sedang digendong oleh babysitternya diikuti oleh asisten Maya.


Sesampainya di hotel berbintang, di mana wisuda itu di gelar Maya menghubungi Gala dan saat Maya mencari-cari keberadaan adiknya, wanita itu tidak sengaja menabrak Bram dengan sigap Bram menangkap tubuh Maya yang terhuyung.


Dua mata itu saling menatap dan Bram merasa kalau debaran jantungnya meningkatkan lebih cepat, tak berkedip sampai asisten Maya datang dan meminta Bram untuk melepaskan Nyonya-nya.


"Ma-maya!" ucap Bram terbata.


"Lepaskan aku, Bram!" lirih Maya, wanita itu tersadar tidak lagi menatap Bram dan berusaha melepaskan tangan Bram dari pinggangnya.


"Selama ini aku menahan dan melarang ada rasa yang tumbuh untuk kamu, tapi kenapa sekarang kita dipertemukan lagi?" gumam Maya dalam hati, wanita cantik itu seolah lupa kalau Gala kuliah di kampus yang sama dan semester yang sama dengan adiknya.


"Mbak!" seru Gala dari belakang Bram, pria itu sangat senang karena satu-satunya keluarga yang dimilikinya itu menepati janji yaitu menghadiri undangannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2