Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
BAHAGIA YANG PALSU?


__ADS_3

Hallooo pembaca setiaku, terimakasih, semangat dari kalian makin bikin aku semangat buat upp lanjut cerita ini, karena jujur aja aku juga nggak pengen berbelit dan pengen cepat tamat, tapi aku harus tetep ngikutin alur sampai Maya dan Biru bahagia setelah melewati rintangan yang aku buat ini.


Jangan lupa like, komen dan di favoritkan, ya. Gift/Vote juga, dukungan dari kalian semangat aku, peyuk online dari author untuk kalian semua 🤗.


****


"Aaaaaaaa, lepas!" teriak Zenia yang di tarik rambutnya oleh ayahnya sendiri.


Pria berambut putih itu membawa Zenia ke jalanan sepi dan langsung menampar Zenia.


"Hah, kemana aja, lo!" bentak Tano seraya kembali menarik rambut Zenia yang masih merasakan sakit di pipi dan sekarang harus kembali ditarik rambutnya oleh Tano.


"Lepas, Zen udah bahagia tanpa ayah!" kata Zenia dengan bibir bergetar, wanita itu takut Tano akan mencelakainya.


Benar saja, Tano hampir mencelakainya dengan bersiap meninju perut Zenia tetapi beruntung, Bram datang tepat waktu sehingga dapat menyelamatkan Zenia dan juga bayinya.


Sekarang, Bram sudah berada di atas dan meninju Tano yang berada di bawahnya.


Setelah babak belur Zenia meminta pada Bram untuk berhenti.


Bram dan Zenia meninggalkan Tano begitu saja yang terkapar di tepi jalan.


Bram yang menenteng kantong berisi mangga muda itu segera menggandeng tangan Zenia yang terasa dingin.


"Kamu nggak papa?" tanya Bram dan Zenia menganggukkan kepala.


Sementara itu ada seorang wanita yang menggelengkan kepala, wanita itu adalah Marisa.


"Tidak bisa diharapkan!" gerutunya, setelah itu pergi dari persembunyiannya.


"Harusnya Bram jangan datang dulu, biar gua yang jadi penyelamat Zenia!" batinnya dan sekarang Marisa kembali ke rumahnya.


****


Di apartemen, Zenia sudah tidak lagi menginginkan mangga muda itu, perasaannya sekarang adalah takut, takut akan bertemu dengan ayahnya lagi.


"Lagian kenapa kamu keluar? Kalau kamu mau keluar harus ada yang menemani, jangan keluar sendiri lagi!" kata Bram dan Zenia menganggukkan kepala.


Zenia segera memeluk Bram dari belakang yang sedang menyimpan mangga muda itu di kulkas.


Bram terkejut dan mengusap tangan Zenia yang melingkar di perutnya.


"Sudahlah, tidak apa, ada aku di sini!" kata Bram dan Zenia menangis.

__ADS_1


Zenia yang sedang hamil itu membuat perasaannya berubah-ubah, sebentar senang, sebentar sedih, sebentar lagi tidak jelas, tetapi Bram yang sudah dewasa itu mengerti Zenia sehingga membuat gadis itu merasa nyaman bersamanya.


Apakah kebersamaan mereka akan menumbuhkan rasa di hati?


Sekarang, Bram meminta Zenia untuk ke kamar dan istirahat, Zenia menurut dan segera melepaskan pelukan itu.


Setelah itu Bram merasa lega, tak bisa dipungkiri kalau Bram juga lelaki normal yang masih memiliki hasrat untuk perempuan. Tetapi Bram tidak ingin melukai hati Zenia.


****


Di rumah Biru, Miko baru saja pamit pada Pia, mereka baru saja mengerjakan tugas bersama dan tentunya ada Ifraz yang ikut bergabung, lelaki bule itu menjadi satpam diantara Pia dan Miko.


Miko berniat untuk mencium kening Pia dan Ifraz menghalanginya menggunakan telapak tangannya yang ia letakkan di kening Pia sehingga Miko mencium tangan Ifraz.


"Asin, tau nggak!" gerutu Miko dan Ifraz sama sekali tak menunjukkan ekspresi apapun.


"Benar-benar es balok!" kata Pia dalam hati, walau begitu, Pia merasa senang karena Ifraz sangat menjaganya.


Setelah Miko pergi, Pia masuk ke rumah dengan langkah yang terlihat sangat ringan dan Ifraz menahan lengan Pia, sekarang dua netra itu saling menatap.


"Gue nggak suka lo dekat-dekat sama dia!" kata Ifraz dan sekarang pandangannya beralih ke bibir tipis Pia, masih terasa kenyal dan Ifraz masih belum melupakan rasa itu.


Ifraz sudah memajukan wajahnya bersiap mencium Pia, tetapi kembali lagi terlintas di benaknya yang mengatakan kalau Pia adalah adik sendiri.


Pia yang sudah berdebar itu memiliki sedikit rasa kecewa saat Ifraz tidak jadi mengecupnya.


Di kamar, Ifraz menggerutu.


"Sial! Kalau bukan adik sendiri udah gue habisin dia!"


Sekarang, Ifraz masuk ke kamar mandi untuk menjinakkan juniornya yang mulai bangun karena Ifraz telah berfikiran kotor.


****


"Astaga, gue bisa deg-degan gini!" ucap Pia yang masih berdiri di balik pintu kamarnya.


Pia pun segera masuk ke kamar mandi, sebelum tidur ia mencuci wajahnya, tidak lupa memakai rangkaian skincare malam.


Pia tidur dengan perasaan galau karena masih terus memikirkan Ifraz dan apakah rencananya akan berhasil?


Bagaimana dengan Miko? Apakah akan bertahan membantu Pia?


Keesokan harinya, Ifraz yang sedang santai di balkon sambil berjemur itu melihat Miko sudah datang pagi sekali dengan pakaian olahraga, sepertinya Miko dan Pia akan olahraga pagi bersama.

__ADS_1


Benar saja, tidak lama kemudian Pia keluar dari rumah dengan berlari kecil dan sudah siap untuk lari pagi.


Ifraz mencoba untuk cuek dan kali ini tidak ingin terpancing.


"Bodo amat lah!" kata Ifraz yang kemudian kembali fokus ke ponselnya.


Tetapi selama Ifraz duduk itu selalu memikirkan Pia, membayangkan kalau Miko menggenggam tangan Pia, mengecup kening Pia, memberikan minum untuk Pia.


"Kenapa gue kaya nggak rela gini, sih. Apa karena Pia adik gue! Gue juga punya adik lain, Kania, tapi biasa aja!" gerutu Ifraz dalam hati.


Lelaki itu pun bangun dan memilih untuk mandi, setelahnya ingin melihat Kania, adik tersayangnya.


Sementara itu, Pia yang sudah mulai berkeringat memilih untuk duduk di bangku taman dan Miko menyusulnya.


Pia membuka pembicaraan, "Kok dia nggak ngikutin, ya?"


"Mungkin itu perasaan lo aja kalau dia ada rasa atau cemburu sama lo!" jawab Miko dan Pia merasa sebal dengan jawaban itu, Pia menatap datar Miko dan Miko mengucapkan maaf pada Pia dan merangkum wajah gadis yang ada di depannya.


Lalu, Miko yang tadi menatap mata Pia sekarang sudah menatap bibir Pia, Miko memajukan wajahnya dan Pia mengatakan kalau Miko tak perlu melakukan itu.


"Ngapain? Kan Ifraz nggak lihat, dia nggak cemburu!"


Miko pun melepaskan rangkuman itu, sebenarnya itu memang yang ingin Miko lakukan, bukan sekedar untuk memanasi Ifraz.


"Gue capek, mau pulang!" kata Pia, gadis itu bangun dari duduknya dan Miko hanya bisa mengikutinya.


"Susah amat mau sentuh hati lo, Pi!" kata Miko dalam hati.


****


Di rumah Maya, wanita itu sangat senang melihat anaknya kembali.


Maya langsung menanyakan apakah ada yang dibutuhkan oleh Ifraz dan Ifraz menjawab tidak.


"Aku mau lihat Kania, kangen sama dia!" kata Ifraz seraya berjalan masuk dan membuka pintu kamar Kania yang kosong, anak itu sudah berada di sekolah.


"Nggak kangen sama mamah?" tanya Maya yang berjalan mengikuti Ifraz.


Ifraz tidak menjawab dan Maya menarik lengan anaknya.


"Dengar Ifraz, mamah nggak pernah ada niat untuk membohongi kamu, mamah cuma mau keluarga kecil kita bahagia tanpa ada masalalu dari mamah!"


"Bahagia yang palsu?"

__ADS_1


Maya terdiam dan bersambung.


Sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2