
Benar saja setelah kepergian Biru yang diketahui anak-anaknya sedang bekerja itu telah berhasil membuat Ifraz dan Pia saling menjaga.
Pia juga tidak menolak untuk diantar, jemput oleh Ifraz yang selalu mengatasnamakan Biru.
"Ayah bilang, gue harus jaga lo!" Begitulah kata Ifraz dan Pia yang memang memiliki perasaan itu tak menolak.
Satu minggu berlalu, sekarang Ifraz mendapat pesan dari Bram yang mengatakan kalau dirinya akan menikah dengan Zenia, Bram juga mengirim alamatnya tinggal.
Sekarang Pia yang sedang menemani Ifraz di kantor itu melihat raut wajah Ifraz yang tiba-tiba berubah menjadi masam.
"Kenapa?" tanya Pia yang sedang duduk di sofa panjang dalam ruangan itu.
"Zen akan menikah," jawab Ifraz seraya kembali meletakkan ponselnya itu ke meja.
"Lo cemburu?" tanya Pia.
"Nggak lah, cuma kecewa aja gue udah ditusuk dari belakang."
Setelah mengatakan itu Ifraz bangun dari duduknya dan Pia mengikuti Ifraz, Ifraz yang sadar telah diikuti itu menghentikan langkah kakinya.
"Ngapain lo?" tanya Ifraz seraya melirik ke belakang.
"Ikut lo, gue takut lo yang lagi kecewa terus milih bundir!" jawab Pia dan Ifraz menoyor kepala Pia.
"Bodoh, gue mau ke toilet!" kata Ifraz dan Pia tanpa menjawab segera kembali duduk di sofa. Gadis ayu itu merasa malu dan sekarang Pia menjadi senyum-senyum sendiri.
Begitu juga dengan ifraz, pria itu senyum-senyum sendiri saat ingat dengan tingkah Pia.
"Sayang, katanya mau dijodohin!" ucap Ifraz dalam hati, pria yang akan buang air kecil itu kembali teringat kalau Pia adalah adiknya.
"Bodoh! Kalau nggak dijodohkan juga nggak bakal mungkin gue bisa sama dia, dia adik gue sendiri, perasaan gue nggak boleh lebih dari perasaan sayang abang ke adiknya sendiri!" ucapnya dalam hati.
Selesai dengan itu Ifraz kembali duduk di kursinya, sesekali melirik Pia yang ternyata sudah tidur di sofa panjang.
Ifraz bangun dari duduknya untuk mendekati Pia, pria itu berjongkok dan wajahnya berada di dekat wajah Pia yang sedang memejamkan mata.
Ifraz memperhatikan bibir Pia dan segera memajukan wajahnya.
Ifraz ingin mengecup benda kenyal itu sekali lagi dan baru saja Ifraz akan menempelkan bibirnya sudah datang Ran yang mengantar berkas untuk Ifraz pelajari.
Ifraz segera berpura-pura kalau akan menepuk nyamuk tetapi Ran bukanlah anak kecil lagi yang dapat dibohongi seperti itu.
Ran hanya menatap datar Ifraz.
Setelah Itu Ifraz segera bangun dan kembali duduk di kursinya.
Sementara itu Pia sedang bermimpi kalau tunangannya itu akan mencium tangannya setelah memakaikan cincin, sayangnya, wajah tunangannya itu tak terlihat jelas bagi Pia, belum sempat dicium olehnya sudah datang Ifraz yang mengacaukan acara pertunangan itu.
__ADS_1
Pia segera bangun karena terkejut dengan ifraz yang mengamuk di mimpinya itu.
Pia segera mencari keberadaan Ifraz yang ternyata sedang berdiri di tepi jendela memperhatikan jalanan Ibu Kota sore ini.
Ifraz menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan oleh Pia.
"Udah bangun lo?" tanya Ifraz, setelah itu ia menyambar jasnya yang ada di kursi, Ifraz memakainya dan segera mengajak Pia untuk pulang.
Pia bangun dan mengikuti Ifraz. Ifraz menghentikan langkah kakinya dan membuat Pia menabrak punggung Ifraz.
"Kenapa sih selalu di belakang?" tanya Ifraz pada Pia dan Pia diam tidak menjawab, lalu Ifraz menarik tangan Pia mengajaknya untuk berjalan bersama.
Pia menjadi sedikit gugup karena tangannya digenggam oleh pria yang disukainya.
Ifraz tidak langsung mengajak Pia pulang, tetapi Ifraz mengajak Pia untuk ke acara nikahan Zenia dan Bram.
Ifraz dan Pia hanya memperhatikan mereka dari mobil, terlihat kalau Zenia dengan kebaya putih itu sedang keluar dari masjid, terlihat romantis karena Bram yang mengenakan setelan jas putih itu menuntun tangan Zenia.
Pia memperhatikan Ifraz yang terlihat sedih.
"kenapa? Lo masih suka sama dia?" tanya Pia.
"Enggak!"
"Terus kenapa lo sedih?"
"Cup... cup, kasian!" kata Pia seraya menepuk bahu Ifraz dan Ifraz menyingkirkan tangan Pia dari bahunya, Ifraz tidak ingin Pia menyentuhnya.
"Jangan sentuh-sentuh gue!" gerutu Ifraz, setelah itu Ifraz kembali melajukan mobilnya.
Sekarang keduanya hanya saling diam, Pia menyibukkan dirinya dengan menonton drakor dari layar ponselnya.
Sesampainya di rumah, mereka sudah ditunggu oleh Biru yang ternyata sudah pulang.
Pia yang melihat Biru sedang duduk di ruang tengah itu segera menghambur kearahnya.
"Ayah!" seru Pia dengan manja dan sekarang segera memeluknya.
"Ayah juga kangen kamu!" kata Biru yang sedang dipeluk oleh anaknya.
"Manja!" kata Ifraz yang ikut duduk bersama mereka.
"Biarin, wlee!" jawab Pia seraya menjulurkan lidahnya pada Ifraz dan siapa sangka kalau itu sangat menggoda bagi Ifraz.
Ifraz merasa tidak tahan lagi dengan Pia dan ingin kembali tinggal dengan Maya.
"Yah, Ifraz kangen sama mamah, Ifraz pulang ya?"
__ADS_1
Biru pun mengizinkan itu, sedangkan Pia, ia hanya menatap datar Ifraz yang bangun dari duduknya.
Ifraz memilih untuk mandi dan setelah mengganti pakaiannya Ifraz tidak ikut makan malam bersama, beralasan kalau sangat merindukan masakan Maya.
"Kenapa nggak makan dulu?" tanya Biru dan Ifraz hanya tersenyum.
Sekarang Pia yang memperhatikan Ifraz sudah berlalu itu kini merasa ingin ikut.
Tetapi Pia menahannya, hanya bisa menatap kepergian Ifraz saja.
Selama perjalanan, Ifraz merasa aneh pada dirinya sendiri dan merasa beruntung kalau sedari dulu sudah menganggap Pia sebagai sahabat.
Ifraz tidak membayangkan kalau dirinya menyimpan perasaan dari lama mungkin dirinya tidak akan sanggup untuk menerima kenyataan kalau Pia akan dijodohkan.
Ifraz yang mengendarai motornya itu sekarang sudah sampai di rumah Danie.
Di sana, rumah selalu terlihat sepi.
Sekarang, Ifraz mencari Maya ke kamarnya dan ternyata pintu itu tidak tertutup rapat.
Ifraz melihat kalau Maya seperti sedang meminum obat. Ifraz berfikir kalau Maya sedang sakit.
Ya, benar. Memang Maya sakit. Sakit di hatinya karena ulah mertuanya.
Ifraz mengetuk pintu, memanggil mamahnya.
Seketika membuat Maya sedikit terkejut dan segera memasukkan botol obat itu ke sakunya.
"Ifraz," lirih Maya yang sedikit gugup.
"Ada apa, Mah? Mamah sakit?" tanya Ifraz seraya berjalan ke arah Maya dan Maya membuka tangannya, membawa Ifraz masuk ke pelukannya.
"Mamah cuma pusing aja," jawab Maya dan Ifraz tidak curiga sama sekali.
Hanya saja Ifraz menyadari perubahan fisik Maya yang terlihat pucat saat tanpa make-up dan badannya semakin kurus.
"Kita ke dokter ya, Mah!" ajak Ifraz dan Maya menggelengkan kepala.
"Mamah hanya butuh istirahat, sana, pergi lah ke kamar kamu, istirahat!" kata Maya seraya sedikit mendorong Ifraz.
Hm, sebenarnya apa ya yang Maya konsumsi itu?
Bersambung.
Jangan lupa like ya teman-teman.
Maaf juga banyak typo dan salah kata dalam menulis.
__ADS_1
Terimakasih yang masih setia membaca ❤