
Terimakasih yang selalu mendukung dan membaca karya saya, saya di sini menuliskan sesuai dengan apa yang saya pikirkan tepatnya sesuai dengan apa yang saya bayangkan tentang Maya, Bram dan Biru. Jadi mohon maaf kalau tulisan saya tidak sesuai dengan harapan atau tidak sesuai dengan pemikiran pembaca. Terlepas dari kejengkelan semua itu perlu diingat kalau novel ini hanya hiburan semata 🙏.
****
Setibanya di bandara Biru memesan taksi untuk Hafizah.
"Mas, aku maunya diantar kamu, lagi pula sudah beberapa hari ini kamu enggak pernah pulang ke rumah aku, selalu sama mbak Maya, katanya mau adil," rengek Hafizah.
"Hafizah, maaf. Aku sedang ada keperluan, kamu pulang duluan. nanti libur aku pulang ke sana lagi!" kata Biru seraya mendorong Hafizah supaya masuk ke taksi.
Hafizah pun tak mengatakan apapun lagi, wanita itu duduk di bangku belakang, mengerucutkan bibirnya.
Biru tak menghiraukan Hafizah karena yang ada dipikirannya saat ini adalah Maya.
Setelah memakan waktu hampir tiga jam, dari Bali ke rumahnya, sekarang Biru sudah sampai di kediamannya, terlihat Maya sedang duduk bersama dengan Ruslan dan Monica, mereka adalah teman bisnis Biru yang baru sempat datang untuk menjenguk Maya. Mereka duduk di ruang tengah.
"Ah, ada tamu ternyata!" seru Biru yang berdiri di pintu ruang tengah, sekarang Biru menghampiri teman bisnisnya itu yang menyambut kedatangan Biru.
"Sudah lama?" tanya Biru seraya berjabat tangan.
"Ya, lumayan. Hampir satu jam." jawab pria itu.
Biru pun bergantian menyalami istri dari pria tersebut, setelah itu Biru mempersilahkan kembali tamunya untuk duduk dan Biru duduk bersebelahan dengan Maya, pria itu merangkul pinggang istrinya menunjukkan kemesraan palsu di depan mereka.
"Wah, kalian ini pasangan serasi, sayang sekali kemarin diterpa rumor orang ketiga!" celetuk Monica dan Ruslan sedikit menyenggol lengan istrinya menggunakan siku.
"Itu tidak benar, biasalah ketika orang berada di atas maka akan ada saja cobaannya!" jawab Biru seraya mengecup pipi kiri Maya.
"Ya, benar. Tapi tidak semua orang bisa melewati cobaan itu," jawab Maya dan Biru merasa tersindir tetapi pria itu membalas dengan senyum.
"Mau teh?" tanya Maya seraya memberikan teh hangat untuk suaminya.
"Terimakasih," kata Biru seraya menerima teh itu, Biru memberikan senyum pada istrinya.
"Kalian ini bikin jiwa muda saya kembali!" kata Ruslan seraya melirik Monica.
"Enggak apa berjiwa muda asal bukan masa pubertas kedua, itu bisa bahaya," kekeh Maya yang seolah tak berhenti menyindir Biru.
"Ya sudah, kalau begitu kami pamit, kami ingin menghabiskan akhir pekan di rumah, mengenang masa muda kita ya, Mih!" kata Ruslan dan Monica menjawab, "Papih, malu ikh!" Ruslan menjawab dengan mengecup pipi istrinya itu membuat Maya dan Biru terkekeh dengan kelakuan dua sejoli yang tak muda lagi itu.
Setelah itu Maya dan Biru mengantar tamunya sampai ke pintu.
"Terimakasih sudah mengunjungi kami," kata Maya seraya meraih tangan Monica.
__ADS_1
"Sama-sama, sayang!" kata wanita berusia tiga puluh lima tahun lebih itu.
****
Setelah kepergian tamunya, Biru segera menarik lengan Maya membawanya masuk ke rumah.
"Apa ini?" tanya Biru seraya menunjukkan foto Maya dan Bram di layar ponselnya.
"Oh, itu aku sama Bram, kenapa?" tanya Maya dengan santai.
Wanita itu pergi meninggalkan Biru masuk ke kamar, tepatnya mengabaikan Biru.
Biru mengejarnya dan membuka pintu kamar yang tidak terkunci.
''Maksud kamu apa?'' tanya Biru seraya meraih lengan Maya.
''Memangnya kenapa kalau aku punya teman pria?'' tanya Maya seraya mengibaskan tangan Biru dari lengannya.
''Aku enggak suka!''
''Terserah kalau kamu enggak suka, memangnya aku perduli, mau kamu pergi berlibur ke Bali atau Cappadocia sekalipun terserah!'' jawab Maya , wanita itu menatap suaminya yang terlihat menahan amarah.
''Kenapa? Kamu mau marah? Lebih baik kamu berhenti memperdulikanku seperti kemarin!'' kata Maya, wanita itu meninggalkan Biru yang mengepalkan tangannya, Maya masuk ke kamar mandi dan saat itu pula Bram menghubungi Maya.
Biru menerima panggilan itu dan langsung meneriaki Bram.
''Ada apa lo hubungi bini gue?''
Mendengar siapa yang menerima panggilan itu Bram menjadi tidak tau harus menjawab apa. Setelah itu Bram mendengar suara Maya seperti sedang berebut ponsel dengan Biru.
Tidak lama kemudian panggilan itu terputus karena ponsel Maya telah dibanting oleh Biru.
''Memangnya aku tidak bisa membeli ponsel baru?'' ucap Maya dan Biru memilih untuk keluar dari kamar Maya sebelum dirinya semakin habis kesabaran.
Biru membatin kalau Maya senagaja melakukan itu hanya untuk membalasnya. ''Ya pasti Maya hanya membalasku! Lebih baik aku tidak usah menghiraukan, aku rasa dia akan lelah sendiri dengan sandiwaranya.''
Sementara Maya memerintahkan Andy untuk mencari ponsel baru untuknya.
''Harus sama dengan ponsel ini!'' kata Maya seraya menunjukkan ponselnya yang pecah.
****
Di apartemen Bram, pria itu sedang memikirkan Maya.
__ADS_1
''Apa mereka bertengkar?''
''Ahh, sudahlah, lagi pula gua dibayar memang untuk membalas pria itu. Untuk apa gua memikirkan dia, yang penting Maya baik-baik saja!'' gumam Bram.
****
Di rumah Dilan, gadis itu mendapat hadiah dari Ran, tetapi gadis itu menolak, justru merasa bersalah pada Maya yang sekarang masuk kejebakannya yaitu menjalin hubungan pura-pura dengan Bram.
''Anda tidak usah khawatir, akan kami pastikan Nyonya menemukan cinta sejatinya entah dengan Tuan atau orang lain, biarkan hatinya memilih. Ini adalah ujian untuk Tuan dan Nyonya kami kalau cinta akan membawa hatinya berlabuh,'' kata Ran, setelah mengatakan itu, pria tampan berbadan atletis tersebut pergi dari rumah Dilan meninggalkan segepok uang di tangan Dilan.
''Astaga, lebih baik uang ini aku gunakan bersama Maya untuk bersenang-senang, biar aku nggak begitu merasa bersalah padanya,'' gumam Dilan.
''Lagian aku enggak kurang duit, cuma kurang beruntung dalam asmara aja!'' Dilan masih bergumam.
Setelah itu, Dilan menghubungi Maya tetapi ponselnya tak dapat dihubungi.
''Kenapa ya? Kok nggak aktif!''
Setelah itu Dilan mencoba menghubungi kembali dan kali ini terhubung.
''May, kenapa tadi nggak bisa dihubungi?''
''Ponsel mati baru hidup lagi!'' jawab maya, ''ada apa?'' tanya Maya, wanita itu duduk di ranjang seraya memperhatikan Ifraz yang sedang distimulasi oleh orang salon bayi yang dihubunginya.
''Nanti malam jalan, yuk. Aku mau traktir kamu sama Ayana."
''Boleh, dimana? Kirim aja alamatnya!'' kata maya dan setelah itu Dilan memutuskan sambungan teleponnya, gadis itu menghubungi Ayana dan Ayana pun tidak menolak.
waktu telah berlalu, sekarang Maya sedang bersiap untuk pergi dan Biru masuk ke kamarnya.
''Mau kemana kamu?'' tanya Biru yang masih berdiri di pintu.
''Mau pergi sama Aya dan Dilan. Kenapa?"
''Jangan bohong kamu!''
''Jangan samakan aku dengan kamu yang terbiasa berbohong!''
Bersambung.
Di sini banyak pelajaran ya, kalau kita sebagai manusia itu tidak boleh maunya menang sendiri atau serakah dan benar kata upin ipin kalau tamak selalu rugi.
Nah, sebagai pembaca yang baik jangan lupa tinggalkan Like setelah membaca. Jangan lupa di Favorit juga ya 😙
__ADS_1