
Maya segera bangun dan meninggalkan Bram yang mengembungkan pipinya.
"Nyebelin!" geram Maya dalam hati, wanita itu masuk ke kamarnya, di sana ia merasa bingung karena sebenarnya tidak ada acara dengan temannya.
Lalu, Maya berfikir untuk menemui anaknya sebelum Biru pulang dari kantor, benar saja Maya keluar dari kamar dan harus menabrak Bram yang membawa baskom berisi air hangat, air itu mengenai dada Bram membuat baju pria itu menjadi basah. "Maaf, aku nggak sengaja!" kata Maya seraya mengusap dada Bram sedangkan Bram merasa sangat senang karena Maya menyentuhnya.
Bram menahan tangan Maya di sana tetapi secepat kilat Maya menarik tangan itu. "Biar aku ambilkan baju ganti milik Gala!" kata Maya seraya masuk ke kamar Gala yang berada di kamar sebelahnya.
Bram pun meletakkan baskom itu dan melepaskan kaosnya yang basah membuat Maya merasa gugup saat melihat badan kekar itu.
"Ini!" ucap Maya seraya memalingkan wajahnya, Maya memilih untuk keluar dari rumah sebelum hari menjadi sore.
Maya memesan ojek online supaya bebas dari kemacetan dan Maya yang sedang berdiri itu sudah tidak merasa diawasi lagi.
"Apa orang suruhannya itu nggak ngawasin aku lagi? Baguslah!" gumam Maya, tidak lama kemudian ojek yang dipesan itu datang.
Maya memakai helm terlebih dulu lalu naik ke motor bebek kang ojek.
Sesampainya di depan pagar, Maya mengetuk gembok yang menempel di sana.
Lalu, Maya memanggil satpam yang berjaga.
"Pak Norman!" seru Maya dan yang dipanggilnya itu segera mendekat berniat membuka pintu.
"Saya mau mengambil Ifraz, tolong bawakan dia keluar!" perintah Maya, wanita itu takut untuk masuk ke rumah tersebut, takut tidak bisa keluar lagi dan Norman hanya berdiri tanpa menjawab.
Melihat itu Maya berdecak lalu berniat untuk menerobos Norman.
"Maaf, Nyonya. Tuan muda tidak diizinkan untuk melewati pintu utama!"
"Aku ibunya, aku berhak atas anakku!"
"Kecuali Nyonya kembali ke rumah ini!" jawab Norman, pria itu melarang keras Maya yang akan mengambil anaknya.
Bahkan, sekarang Norman kembali menutup pintu itu memperlakukan Maya seperti bukan majikannya.
Maya bersedih dan sekarang berjongkok di depan pagar itu.
"Nggak mungkin aku kembali ke neraka ini!" gumam Maya.
"Aku harus membuat rencana, tapi bagaimana? Semua menjaga bayi itu dengan ketat!"
Merasa usahanya selalu sia-sia Maya menjadi sedih dan sekarang Maya melihat jam di tangannya ternyata hari sudah sore, wanita itu memilih untuk bangun dan akan kembali mencobanya di lain waktu.
__ADS_1
Maya melambaikan tangannya pada taksi setelah mendapatkan taksi sekarang Maya sudah duduk di bangku belakang, matanya terus memperhatikan rumah gedong milik Biru.
"Tunggu mamah, Nak!" ucapnya dalam hati.
Namun, baru setengah perjalanan taksi itu harus berhenti karena mogok membuat Maya mau tak mau harus turun.
"Ini, Pak. Ongkosnya!" kata Maya seraya mengulurkan tangannya.
"Terimakasih," jawabnya. ?
Setelah itu, Maya berdiri di trotoar menunggu angkutan umum dan saat itu juga sebuah mobil asing berhenti di tepat di depannya, seorang pria membuka pintu mobilnya dan ternyata itu adalah Bram.
"Maya! Masuk. Sebentar lagi mau hujan!" kata Bram dan benar saja rintik-rintik gerimis mulai membasahi rambut lembutnya.
Maya pun tak memiliki pilihan lain.
Wanita itu masuk dan duduk di samping Bram yang duduk di bangku belakang.
"Jalan, Pak!" kata Bram pada sopir taksi tersebut.
"Lu katanya jalan sama temen? Mana temen lu?" tanya Bram menatap Maya yang terlihat murung.
Maya tidak menjawab dan Bram sudah tau kalau Maya telah berbohong.
"Kenapa lu bohong sama gua?" lirihnya, pria itu bersedekap dada, kepalanya dimiringkan melihat ke kirinya.
"Kenapa? Kalau ada apa-apa cerita aja sama gua?" kata Bram, lelaki itu menahan tangan Maya yang sedang mengusap air matanya.
Lalu, Bram membawa Maya ke dalam pelukannya, Maya menangis Sesenggukkan.
"Aku kangen Ifraz!" jawab Maya dengan suara berat.
Bram pun mengusap rambut Maya dengan lembut.
"Tenang, gua yakin cepat atau lambat masalah ini akan cepat selesai!"
Maya menganggukkan kepala, setelah itu Maya segera melepaskan pelukan Bram dan Maya kembali duduk seperti semula, kali ini memalingkan wajahnya dari Bram tidak ingin pria itu melihat air matanya.
Bahkan, Maya sampai lupa bertanya kemana Bram akan membawanya dan ternyata Bram membawa Maya ke apartemen. Ya, sepertinya Bram sudah bertekad untuk terus mengejar Maya.
"Kenapa ke sini? Aku pikir tadi kamu mau ngantar aku pulang?" protes Maya.
"Kan gua mau pulang terus lu mau gua ajak kok sekarang baru protes!"
__ADS_1
"Aku nggak mau!" jawab Maya, wanita itu berdiri di depan gedung apartemen tersebut.
"Nanti gua antar pulang, sekarang udah tanggung sampai sini!" bujuk Bram.
"Bukan masalah itu, tapi aku nggak enak berduaan aja sama kamu!"
"Oh itu, ya udah gua telepon Marisa biar kita enggak berduaan." Bram pun merogoh saku celananya dan menghubungi kakaknya.
"Ayo, dia sedang perjalanan mau ke sini! Kita tunggu aja di dalam," ajak Bram dan Maya pun tidak menolak.
Dalam hati, Maya bertanya-tanya mengapa dirinya tidak menolak saat Bram mengajaknya.
"Kalau butuh temen, gua bisa dipercaya!" kata Bram, pria itu berjalan dengan masih sedikit pincang.
"Sini aku bantu!" kata Maya dan wanita itu memapah Bram. "Enggak enak dipapah sama lu, May!" protes Bram.
"Loh, kenapa?" tanya Maya seraya menatap Bram.
"Lu pendek, May!" kekeh Bram.
"Aku bukan pendek tapi mungil!" protes Maya seraya mencubit pinggang Bram, agaknya Maya sudah mulai sedikit akrab dengan Bram sampai sudah tidak merasa canggung lagi.
"Iya... iya, gitu dong senyum, jangan nangis terus!" kata Bram seraya mengusap perutnya yang dicubit.
Sesampainya di depan pintu apartemen, Bram segera membukanya dan mempersilahkan Maya untuk masuk.
"Kalau mau minuman dingin ada kulkas, ambil sendiri!" kata Bram. Pria itu memilih untuk duduk di sofa panjang depan televisi.
Maya pun membuka kulkas itu dan mengambil salah satu botol minuman dingin tersebut.
Tanpa membaca tulisan yang berada di botol itu Maya mulai meminumnya dan menurutnya minuman itu rasanya sangat aneh tetapi Maya mengulangi untuk menenggak minuman tersebut.
"Apa ini?" tanya Maya seraya menatap botol itu dan Bram yang mendengar itu segera melihat ke arahnya.
"Jangan itu, May!" seru Bram, tetapi sudah terlambat karena Maya sudah menenggaknya.
Maya pun menjadi sedikit pusing dan pandangannya sedikit kabur, hampir terjatuh kalau Bram tidak sigap menangkapnya.
Maya menyipitkan matanya menatap Bram yang menahan tubuhnya, lalu gadis itu menangis seraya memukuli dada Bram karena yang terlihat di matanya lelaki itu adalah Biru.
Maya terus meracau, mengatai Biru sebagai lelaki jahat.
"Aku benci kamu!" teriak Maya tepat di depan wajah Bram.
__ADS_1
"Astaga, perasaan minum dikit doang udah mabuk aja!" gumam Bram seraya memapah Maya membawanya untuk istirahat di kamar sebelah.
Bersambung.