
Jangan lupa like dan di favoritkan, ya.
Selamat membaca^^
****
Di rumah Imelda, Daniel baru saja sampai di depan rumah, pria itu turun untuk membukakan pintu mobil Imelda.
Sekarang, Imelda tidak tau harus berbuat atau mengatakan apa setelah mendengar kabar kalau anaknya akan di ceraikan oleh istrinya.
"Salah apa kamu, Nak. Kenapa harus dilukai untuk yang ke dua kalinya!" tangis Imelda seraya memeluk Daniel.
"Sudah, Mah. Daniel yakin semua akan baik-baik saja," ucap Daniel yang berusaha menenangkan hati Imelda.
"Ya sudah, sudah malam, Daniel pulang dulu, kasian Ken di rumah sendirian."
"Iya sudah, hati-hati!" kata Imelda memperingatkan.
Daniel menganggukkan kepala dan setelah itu menunggu Imelda masuk ke rumah barulah Daniel pergi dari sana.
Sesampainya di rumah, Daniel melihat Kania baru saja keluar dari mobil Biru, terlihat Biru berjalan beriringan dengan mengusap kedua lengan Kania.
"Ada apa ini?" tanya Daniel yang baru saja turun dari mobil. Pria itu merasa cemburu melihat kedekatan Biru dengan anaknya.
"Papah!" seru Kania, gadis itu berhambur, berlari kearah ayahnya lalu memeluk erat.
Belum sempat Daniel mengetahui apa yang terjadi, pria itu sudah naik darah pada Biru, Daniel beranggapan kalau Biru akan mengambil Kania setelah berhasil mengambil Maya.
Daniel melepaskan pelukan anaknya dan segera mendekati Biru yang terdiam, Biru merasa heran dengan sikap Daniel yang seperti tak bersahabat.
"Apakah kamu akan mengambil Kania juga setelah berhasil mengambil Maya kembali?" sergah Daniel seraya mencengkram kerah kemeja putih Biru.
Biru menurunkan tangan Daniel dan memang Biru tidak tau apa yang sedang Daniel bicarakan.
"Apa maksudmu? Aku hanya menolong anakmu!" jawab Biru, setelah itu Biru pergi meninggalkan Daniel dan Kania memanggilnya.
"Om."
Biru hanya menengok sekilas kemudian pergi, benar-benar pergi meninggalkan keluarga Daniel.
"Papah, nggak seharusnya papah seperti itu sama Om Biru!" kata Kania, ia menatap tak percaya pada Daniel.
"Kamu belain dia?"
"Papah kenapa nggak tanya dulu?" jawab Kania, setelah itu Kania berlari, masuk rumah meninggalkan Daniel yang frustasi.
__ADS_1
****
Dengan alasan suami, istri terus berselisih, ditambah ibu mertua yang selalu ikut campur membuat Maya berhasil menggugat Daniel di persidangan.
Daniel hanya pasrah, hanya bisa mengabulkan permintaan Maya demi kebahagiaannya.
Tetapi Daniel tidak akan rela apabila Maya kembali pada Biru.
Sekarang, Maya dan Daniel keluar dari pengadilan, Maya meminta maaf pada Daniel dan Imelda.
Hanya Daniel yang menerima uluran tangan Maya, sementara Imelda, ia membuang muka pada Maya, kali ini Imelda tidak akan memaafkan Maya setelah kembali melukai perasaan anaknya.
Imelda menyeret lengan Daniel sementara Sukma hanya memperhatikan tanpa mengatakan apapun pada Maya.
Sekarang, Maya kembali ke hotel, di sana ia sudah di tunggu oleh Melisa, teman barunya yang memberikan keberanian, tidak seperti Ayana dan Dilan yang selalu meminta Maya untuk bersabar.
Melisa mengajak Maya untuk bekerja di butik miliknya dan Maya menerima tawaran itu karena memang sekarang Maya harus pandai mencari biaya untuk menanggung hidupnya.
Baru saja Maya keluar dengan menyeret koper miliknya, ternyata sudah datang Ifraz yang menjemputnya dan sekarang berdiri di depan pintu.
"Mah, mamah pulang ke rumah Faz, ya.Mamah nggak boleh nolak!"
"Tapi-" jawaban Maya segera terpotong oleh Ifraz, pria muda itu tau kalau Maya akan menolak.
"Mah, nggak ada tapi-tapian."
"Nanti, kalau Ayah mau ketemu sama Ghali, Ifraz yang bawa Ghali ke rumah Ayah," bujuk Ifraz seraya mengambil koper dari tangan Maya.
"Tapi... mamah harus bekerja." Maya menahan koper itu dari tangan Ifraz.
Mendengar itu Ifraz pun terkekeh, ucapan Maya seperti menggelitik di telinganya.
"Mah, anak mamah ini berbakti, sukses di usia muda, kenapa mamah harus repot di hari tua?"
"Astaga, mamah di bilang tua, emang iya sih, mamah udah punya cucu, umur mamah juga udah menginjak kepala 4."
"Jadi, sekarang Mamah harus ikut Ifraz!"
Maya pun melunak, ia mengajak Melisa si teman barunya yang usianya lebih muda 10 tahun darinya untuk melihat kediaman putranya.
Di perjalanan, Ifraz menanyakan keadaan Kania dan menjawab Kania marah sampai tidak ingin bertemu dengannya lagi.
"Tidak apa, nanti Ifraz bantu bujuk Ken!" kata Ifraz seraya terus fokus menyetir.
Setelah beberapa menit perjalanan, sekarang Ifraz sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah.
__ADS_1
Ifraz mempersilahkan semua orang untuk masuk. Setelah itu, Ifraz kembali pamit karena harus menjemput Ken.
"Hati-hati!" kata Maya, Ifraz pun mencium punggung tangan Maya dan menganggukkan kepala pada teman ibunya.
"Pia mana?" tanya Maya sebelum Ifraz pergi dan Pia yang baru keluar dari kamar itu menjawab.
"Aku di sini, Mah. Selamat datang," kata Pia seraya memeluk Maya, lalu bergantian bersalaman dengan teman ibunya.
"Mari duduk," ajak Pia, wanita yang semakin gemoy setelah melahirkan itu membawa koper Maya ke kamar.
Pia juga meminta pada bibi untuk menjamu tamunya.
Tapi siapa sangka, kalau Maya yang sedang menghindari Biru itu harus bertemu karena Biru baru saja mengeluarkan produk baru yaitu susu ibu menyusui membuat Biru teringat putrinya.
Melisa sempat terpesona dengan ketampanan Biru yang dianggapnya semakin tua semakin jadi.
Melisa menyikut lengan Maya yang terdiam.
"Siapa dia, May?"
"Ayahnya Pia," jawab Maya, ia tak menceritakan kalau Biru adalah mantan suaminya.
"Sebentar, saya panggil Pia dulu!" kata Maya, ia segera bangun dari duduknya dan ternyata Biru menahan Maya.
"Tidak perlu, aku titip ini aja buat Pia," kata Biru seraya mengulurkan paper bag yang ada di tangannya.
Maya menerima itu dan menganggukkan kepala, sementara Melisa melihat kalau ada sesuatu diantara mereka, karena keduanya terlihat sama-sama canggung.
"Aku permisi," kata Biru yang kemudian pergi dari rumah Pia. Ya, Biru merasa kalau Maya tidak ingin bertemu dengannya maka dari itu Biru memilih untuk segera pergi.
****
Di sekolah, Ifraz melihat Kania sudah menunggu, Ifraz segera menekan klakson mobilnya dan Kania pun menghampiri.
"Masuk!" perintah Ifraz dan Kania pun menurut.
Sekarang, Kania duduk di samping Ifraz, tidak lupa memasang sabuk pengaman. Perlahan Ifraz mulai menginjak gas dan sekarang Ifraz memesan makanan dari drive thru untuk adiknya.
Setelah mendapatkan apa yang dipesan sekarang, Ifraz mencoba mengajak Kania untuk berbicara baik-baik mengenai Maya.
Kania mendengus sebal saat Ifraz menyebut mama.
"Jangan bahas itu sekarang, Ken tidak ingin mendengar!" jawab Kania seraya memakan ayam goreng pemberian Ifraz.
"Sampai kapan? Cobalah mengerti, Ken. Ini sudah menjadi keputusan mereka," lirih Ifraz, sekarang keduanya harus berhenti di lampu merah dan Kania mengambil kesempatan itu untuk turun dari mobil Ifraz.
__ADS_1
"Ken!" teriak Ifraz, sementara itu Kania terus berlari meninggalkan Ifraz yang menatap kepergiannya.
Bersambung.