Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Bau?


__ADS_3

Yuk kak, likenya jangan lupa ya.


Yang belum favorit, ayo segera di favoritkan, ya!


Selamat membaca.


****


Malam telah datang, Ifraz yang mengetahui kalau Daniel sedang berada di luar kota itu ingin menemani Maya sebentar.


Pria muda itu mengkhawatirkan Maya, khawatir kalau Maya mengkonsumsi obat itu lagi.


Sesampainya di rumah Maya, Ifraz melihat Maya sudah tertidur, Ifraz kembali menggeledah kamar Maya diam-diam.


Ifraz pun merasa lega karena tidak menemukan itu, berharap kalau Maya sudah tidak lagi mengkonsumsi obat penenang.


Ifraz menarik nafas dalam, setelah itu keluar dari kamar Maya.


Ifraz memilih untuk duduk di sofa depan kamar Maya.


Ifraz mengirim pesan pada Biru, ia mengatakan kalau tidak menemukan obat apapun.


Biru yang menerima pesan itu merasa lega, tetapi Biru tetap meminta Ifraz untuk selalu memperhatikan Maya.


"Sepertinya, ibumu tidak terbuka dengan Daniel, perhatikan dia dan jaga dia, jangan sampai kembali meminum obat itu!" perintah Biru.


Pria yang usianya tidak lagi muda itu sedang duduk di kursi kebesarannya seraya berbalas chat dengan Ifraz.


Ifraz menjawab, "Baik!"


Ifraz yang sedang menunggu Maya itu kembali membuka ponselnya dan kali ini mendapatkan pesan dari Pia yang menanyakan di mana dirinya.


"Aku lagi di rumah mamah, kamu istirahat, nanti aku pulang!" balas Ifraz dan setelah itu, Ifraz kembali memasukkan ponselnya ke saku jaket.


Setelah di rasa aman dan Maya tidur sungguhan, Ifraz memilih untuk pulang, karena bagaimanapun Pia juga membutuhkannya.


Sebelum pulang, Ifraz kembali mengecek keadaan Maya dan ternyata Maya sedang menangis dalam tidurnya.


Ifraz pun membangunkan Maya.


"Mah, bangun mah!" kata Ifraz dan Maya pun segera membuka mata, Maya segera memeluk Ifraz dan mengatakan kalau dirinya baru saja bermimpi buruk.


"Sudah, mamah tenang, ada Ifraz di sini!" kata Ifraz seraya mengusap punggung Maya.


Setelah tenang, Maya pun melepaskan pelukan itu, meminta pada Ifraz untuk pulang dan menemani istrinya.


"Enggak papa, Pia juga ngertiin kok," jawab Ifraz dan setelah itu Ifraz meminta Maya untuk menceritakan apa yang membuat Maya tidak nyaman sampai terbawa mimpi.


Maya menangis lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan Ifraz.


"Mamah ingin sendiri, itu saja!" kata Maya yang menundukkan kepala.


"Baiklah, tapi mamah harus ingat, kalau banyak yang menyayangi mamah, jangan pernah merasa sendiri!" kata Ifraz, setelah mengatakan itu, Ifraz pun bangun dari duduknya, ia berjalan meninggalkan Maya yang masih menunduk. Ifraz menutup pintu kamar itu dan kembali duduk di sofa depan kamar Maya.


Ifraz mengintip Maya dari lubang kunci, terlihat Maya sedang berdiri di tepi jendela penuh dengan kecemasan.

__ADS_1


Ifraz kembali ingat saat Kania mengatakan kalau omahnya kemarin datang, Ifraz menjadi penasaran dengan apa yang mereka obrolkan.


Sementara Maya, ia terus mengingat ucapan Imelda.


"Sekarang, kalian sudah jadi besan, jangan gunakan kesempatan ini untuk saling bertemu!"


Maya mengusap wajahnya, ia merasa tertekan dengan tuduhan Imelda tetapi selalu menutupinya, apalagi di depan Daniel, Maya tidak ingin mereka bertengkar.


Sekarang, Maya mencoba untuk membaca buku sampai tertidur.


Setelah itu, Ifraz kembali pulang ke rumahnya, di sana, Pia masih menunggu Ifraz dan mendadak sikapnya menjadi manja.


Pia cemberut saat melihat Ifraz yang baru saja masuk ke kamar.


"Kamu belum tidur?" tanya Ifraz yang sedang menutup pintu.


"Belum!" jawab Pia singkat, setelah itu Pia segera menarik selimutnya dan menutupi tubuhnya sampai batas leher.


Matanya masih memperhatikan Ifraz yang sedang melepaskan jam tangan lalu jaket.


Ifraz pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih, selesai dengan itu, Ifraz segera menyusul Pia dan mengajaknya tidur.


Ifraz memeluk Pia dari belakang.


"Sayang, maaf. Kamu tau sendiri, mamah nggak boleh sendirian, aku takut mamah kenapa-kenapa!" kata Ifraz mencoba memberi pengertian.


Bukannya menjawab, tetapi Pia mendadak tidak menyukai bau dari Ifraz.


"Kamu bisa lepasin aku, nggak?"


"Kamu bau!" jawab Pia yang menutup hidungnya.


Ifraz segera melepaskan pelukannya itu, ia mencium aroma badannya sendiri dan yang tercium adalah wangi parfum kesukaan Pia sendiri.


"Bau apa, jangan ngada-ngada kamu!"


Setelah itu Ifraz kembali memeluk Pia dan yang terjadi adalah Pia segera mengeluarkan isi perutnya di sana.


"Uueekk!"


"Pia, kamu jorok banget sih!" seru Ifraz yang tangannya terkena muntahan Pia.


"Uueeekk!" Lagi, Pia mengeluarkan isi perutnya.


"Aku udah bilang, kamu bau, tapi kamu nggak percaya!" jawab Pia seraya mengelap mulutnya menggunakan selimut yang di pegangannya.


"Astaga, kenapa istri gue jadi jorok begini, sih!" gerutu Ifraz yang merasa sebal dengan sikap Pia sekarang ini, bukannya mengelap menggunakan tisu tetapi menggunakan selimut.


Malam telah berlalu dan Ifraz yang tidur di sofa kamarnya itu membuka mata dan melihat Pia sudah tidak ada di ranjangnya.


"Kemana tuh anak?" tanyanya pada diri sendiri.


"Hampir setahun aku tidur meluk dia, semalam enggak meluk berasa kangen banget!" gumam Ifraz, setelah itu Ifraz bangun dan mencari Pia yang ternyata ada di dapur sedang membuatkan kopi untuk Ifraz.


Ifraz segera memeluknya dari belakang dan Pia segera melepaskan pelukan itu.

__ADS_1


"Kenapa sih?" protes Ifraz.


"Sumpah, kamu bau dan aku nggak suka baunya!" kata Pia dan Ifraz yang merasa jengkel itu dengan sengaja membawa kepala Pia ke keteknya.


Pia segera memukul dada Ifraz dan mendorongnya.


Pia merasa kesal dan semakin mual dengan bau Ifraz.


Pia berjalan cepat pergi ke kamar mandi diikuti oleh Ifraz. Ifraz memijit tengkuk Pia dan Pia yang belum mengisi perutnya itu hanya mengeluarkan cairan putih.


"Kamu sakit, Pi?" tanya Ifraz dan Pia menggelengkan kepala.


"Tapi dari semalam kamu muntah mulu, kamu salah makan? Apa gara-gara permen itu?"


"Jangan nyalahin makanan!" kata Pia, setelah itu, Pia menarik kaos ifraz untuk mengelap mulutnya.


"Astaga, jorok banget, sumpah!" gerutu Ifraz, ia menatap datar Pia yang senyum kuda.


Setelah itu, Pia pergi meninggalkan Ifraz yang masih menatapnya datar.


****


Maya sedang menyiapkan sarapan untuk Kania dan dirinya.


"Mah, papah enggak pulang, ya?" tanya Kania yang sedang duduk di kursi meja makan.


"Enggak sayang, papah kamu sibuk!" jawab Maya seraya meletakkan segelas susu putih untuk Kania di meja makan.


"Tumben mamah enggak ikut, biasanya ikut?"


"Mamah ingin istirahat, sayang. Mamah merasa lelah sekali!" jawab Maya seraya mengusap rambut hitam tebal Kania.


"Mamah sakit?"


"Enggak, tapi sedikit kurang fit aja!"


"Kalau gitu biar Ken nggak usah sekolah, Ken mau rawat mamah di rumah!"


"Kamu harus sekolah, paling juga nanti abang kamu ke sini, mamah bisa ditemani sama abang."


"Baiklah," jawab Kania terdengar pasrah.


Setelah itu, Maya memerankan taksi online untuk Kania.


"Mamah sudah pesan, ayo cepat habiskan sarapannya!" kata Maya, ia memberikan senyum dan membelai wajah Kania.


"Iya, mamah hati-hati di rumah, kalau sakit segera panggil abang!"


"Iya, sayang!"


Setelah itu, Maya mengantarkan Kania sampai ke pintu, ia memperhatikan Kania yang masuk ke taksi, Maya merasa tidak enak saat itu juga.


"Apa karena aku selalu gelisah belakangan ini, ya?"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2