Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Memendam Rasa


__ADS_3

Daniel yang baru saja pulang dari kantor itu melihat Maya sudah tertidur pulas.


Ia mengusap lengan Maya tetapi maya seperti orang pingsan yang tak merasakan sentuhan tangan suaminya itu.


Daniel pun memilih untuk mandi dan Maya dalam tidurnya itu masih terlalu terngiang ucapan Imelda yang selalu mengatai dirinya ratu drama dan pandai menyembunyikan perasaannya, bahkan Imelda juga mengatakan kalau sebenarnya Maya tidak mencintai Daniel.


Maya membuka mata, memilih untuk duduk dan seketika pandangannya menjadi gelap, Maya pingsan saat itu juga dan Daniel yang melihat Maya masih berbaring di ranjang itu mengira kalau istrinya masih tidur.


Merasa lelah sekarang Daniel duduk di kursi pijitnya.


****


Di kamar, Ifraz memikirkan Maya yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Mungkin pikiran aku aja!" katan Ifraz dalam hati.


Sementara itu, Zenia yang baru saja menikah sedang merasakan kebahagiaan yang tak terkira, Bram semakin perhatian padanya, sebelum tidur, Bram membuatkan susu hamil, Zenia yang menunggu duduk di kursi meja makan itu memperhatikan Bram dengan terus mengembangkan senyumnya.


Bram pun tersenyum saat memberikan susu hangat buatannya pada Zenia.


"Terimakasih," kata Zenia dan Bram membalas dengan mengecup keningnya.


Zenia semakin merasakan kasih sayang dari Bram.


Setelah susu itu habis sekarang Bram mengajak Zenia untuk pindah ke kamarnya.


"Apa?" tanya Zenia yang merasa gugup ketika Bram mengajaknya tidur satu kamar dengannya.


"Kita suami istri, Zen! Tidak boleh tidur terpisah!" kata Bram dan Zenia pun menganggukkan kepala.


Zenia bangun dan sekarang berjalan beriringan dengan Bram masuk ke kamar pengantin.


Zenia merasa senang saat di atas ranjang itu bertabur kelopak bunga mawar merah.


Lalu Zenia mengusap perutnya dan Bram pun mengerti apa yang di maksud oleh Zenia.


"Tidak apa, aku tidak akan meminta hakku sekarang juga, aku hanya ingin membuat kamu merasa berarti, ini pernikahan pertama bagi kita dan sudah seharusnya kita membuat kenangan indah ini bukan?" tanya Bram dan zenia merasa terharu, baru kali ini Zenia merasa bahagia selama hidupnya.


"Terimakasih, om!" kata Zenia yang memeluk lengan kekar Bram.


Bram menatap Zenia dan tersenyum.

__ADS_1


Sekarang Bram membawa Zenia ke ranjang, di sana, Bram masih bisa menahan hasratnya mengingat kalau Zenia sedang hamil anak orang lain, yang Bram inginkan sekarang adalah menjaga Zenia dan bayinya dengan tulus dan kasih sayang.


****


Keesokan paginya, Maya bangun dengan wajah yang pucat, ia membantu membuat sarapan.


Maya yang menyajikan sarapan itu ditatap oleh Ifraz yang baru saja bergabung di kursi meja makan.


Ifraz pun bertanya, "Mah, pucat banget, Mamah sakit?'' tanya Ifraz seraya menatap Maya dan Maya yang seolah dirinya baik baik saja itu menjawab dengan senyum.


Tidak lama kemudian datang Daniel, pria itu juga melihat wajah pucat Maya, ia menanyakan hal yang sama dan Maya menjawab kalau dirinya terlihat pucat karena tidak make-up.


Daniel percaya dengan apa yang diucapkan oleh Maya. Tetapi Ifraz tidak, ia mengerti kalau ibunya sedang menyembunyikan sesuatu.


Sekarang Ifraz seolah percaya pada Maya, padahal Ifraz ingin sekali menemukan obat yang Maya konsumsi.


Belum selesai makan. sekarang Maya jatuh pinsan dan tentunya itu membuat Daniel dan Ifraz panik.


Daniel segera memanggil dokter untuk datang ke rumah dan Ifraz mencari-cari obat yang Maya konsumsi, tetapi, Ifraz tidak menemukan obat itu.


Setelah datang dokter, sekarang Maya sudah selesai diperiksa.


Dokter mengatakan kalau Maya terlalu stres.


"Suami macam apa aku ini! Istri stres saja aku enggak tau!" kata Daniel dalam hati.


"Jaga istri anda baik-baik," ucap dokter itu setelah memberikan resep dokter.


Ifraz yang sedari tadi memperhatikan itu meminta untuk menebus obatnya.


"Biar Faz aja yang berangkat, Pah!"


Daniel pun berterimakasih pada Ifraz.


Selama perjalanan, Ifraz memikirkan Maya dan semakin bersedih karena Maya tidak menceritakan apapun padanya.


"Mah, kenapa mamah selalu terlihat bahagia di depan mata kami? Padahal Mamah terluka? Jadikan aku teman mu, Mah, maafkan Faz juga kemarin banyak salah sama mamah."


Ifraz berbicara dalam hati, setelah sampai di apotek, Ifraz segera memberikan resep itu pada apoteker.


Sementara itu, Daniel sedang menggenggam tangan Maya dan sekarang Maya sudah membuka mata.

__ADS_1


"Mas. Kamu belum berangkat ke kantor?" lirih Maya dan Daniel yang tadinya menundukkan kepala itu segera melihat Maya yang sedang menatapnya.


"Aku tidak akan bisa bekerja kalau kamu sakit, sayang!"


"Aku tidak sakit, lihat, aku baik-baik saja," kata Maya yang masih mencoba untuk menyembunyikan isi hatinya dari Daniel.


"Jangan bohong, aku tidak suka kamu bohong!" jawab Daniel yang hampir tak dapat menahan kekesalannya karena Maya masih tak mau jujur juga padanya.


"Aku enggak bohong, cuma butuh istirahat aja, Mas!" jawab Maya seraya mencoba untuk bangun dari berbaringnya.


Daniel sekarang mengerti kenapa Imelda selalu mengatakan kalau Maya adalah ratu drama. Ya, karena Maya selalu seolah bahagia dan menutupi semua dari Daniel.


"Katakan, apa yang membuatmu stres?" tanya Daniel yang sekarang sudah tidak menggenggam tangan Maya lagi.


Sementara itu, Ifraz yang sudah mendapatkan obat itu sedang mendengarkan perseteruan ibu dan ayahnya dari balik pintu.


"Aku enggak stres dan aku baik-baik aja, kamu tau kan, Mas. Aku ini bukan perempuan manja, kamu tau itu!" ucap Maya seraya bangun dan sekarang ingin mandi untuk menyegarkan badannya.


Tetapi, Daniel semakin merasa kalau Maya selalu tertutup padanya.


"Mau sampai kapan? Sampai kapan aku harus menunggu kamu terbuka sama aku, May?"


Maya yang sedang memilih pakaian ganti itu terdiam. Tak berani menatap Daniel.


"Apa karena kamu sudah sering bertemu dengan mantan suami kamu? Kamu enggak bisa lupakan dia? Dia yang dulu menyakiti kamu?"


"Jangan bahas dia, ini rumah tangga kita! Tidak ada hubungannya dengannya dia!" jawab Maya seraya menatap Daniel.


"Maya, selama ini aku diam, aku mengalah, supaya rumah tangga kita tidak ada masalah, aku tidak ingin bertengkar sama kamu, bertengkar sama kamu berarti menyakiti hati aku sendiri, tapi tolong lah, tolong, sedikit saja kamu berbagi keluh kesah kamu sama aku! Supaya ada gunanya aku sebagai suami di rumah ini!" Daniel menatap Maya, ia merasa kecewa karena Maya masih saja keras kepala.


Maya menjawab, "Kamu itu baik, sudah sempurna, kurang apa lagi, nggak ada, di sini yang salah aku, bukan kamu, jangan merasa bersalah, sekarang bangun dan berangkat ke kantor, di sana karyawan kamu membutuhkan kamu!" kata Maya dan Daniel merasa kalau Maya telah mengusirnya.


Mendengar itu Ifraz segera pergi dari balik pintu dan benar saja, tidak lama kemudian Daniel keluar dari kamar itu degan perasaan jengkel. Bahkan raut wajahnya pun terlihat kalau ia sedang memendam amarah.


Setelah kepergian Daniel, Maya berjongkok di depan lemari, menangis, menekan dadanya.


"Aku nggak mungkin menjelek-jelekkan mamah kamu sendiri, aku enggak mau dibilang mengadu domba antara anak dan ibu, aku lebih baik diam!" kata Maya dalam hati.


Bersambung.


Harap sabar ini ujian:v

__ADS_1


Jangan lupa like dong setelah membaca, anggap aja amal sama aku 🤭.


Sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2