
Yuhuu, aku up lagi nih. Jangan lupa like ya biar aku semangat uppnya 🥺.
Selamat membaca.
****
Setelah keberangkatan Pia dan Ifraz, Daniel mengajak Maya untuk ke kamar.
"Ngapain?" tanya Maya dan sekarang Maya mengikuti Daniel yang menggandeng tangannya.
"Bikin adik buat Ken!" jawab Daniel dan Maya pun mencubit pinggang Daniel, Maya mengatakan kalau suaminya seperti tertular gairah muda.
"Nggak papa, kan ada kamu, istri halalku!" Jawab Daniel seraya menutup pintu kamar.
Baru saja Daniel mengecup kening istrinya, pintu itu sudah di gedor oleh Kania.
"Anak kita nggak ngerti banget!" gerutu Daniel setelah mengecup kening Maya.
Sedangkan Maya menahan tawa saat suaminya menahan hasrat.
Sekarang, Daniel melongok kan kepalanya di pintu.
"Ada apa?" tanya Daniel, pria itu menatap tak tega pada putrinya yang terlihat murung.
"Abang pergi sama Kakak Pia, sekarang Papah sama Mamah ngunci diri di kamar, Ke sama siapa Pah?" rengek Kania seraya menghentakkan kakinya.
Maya yang mendengar pun menjadi tak tega, ia menyusul Daniel dan membuka pintu itu lebar.
"Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan!"
usul Maya.
"Maauuuu!" jawab Kania dengan sangat antusias.
"Ok, bersiaplah!" kata Daniel seraya mengusap pucuk kepala Kania.
Setelah itu Kania segera bersiap, begitu juga dengan Maya dan Daniel.
"Maaf sayang, jadi batal, sepertinya Kania tidak menginginkan adik!" kata Daniel yang sedang memakai jam tangannya.
"Masih banyak kesempatan di lain waktu, aku tidak apa-apa!" jawab Maya dan sekarang Maya memperbaiki riasan di wajahnya setelah itu Maya mengambil tas tangannya di lemari.
"Aku sudah siap, ayo!" kata Maya dan Daniel pun merengkuh tubuh Maya, keduanya berjalan beriringan.
Sementara itu, ternyata Kania sudah menunggu di dalam mobil.
__ADS_1
"Hay, kita mau jalan kemana hari ini?" tanya Daniel pada Kania.
"Kita ke ancol?" tanya Kania yang berada di bangku belakang.
"Boleh, kalau menginap di pulau seribu gimana?" usul Maya dan Daniel merasa takut kalau harus berlama-lama di dekat laut.
"Papah enggak setuju, mending kita main wahana aja, ya!" kata Daniel dan semua menjawab, "Baiklah!"
"Kompak banget kalian!" kekeh Daniel.
Setelah semua sepakat sekarang Daniel melajukan mobilnya dan ternyata kebahagiaan keluarga kecil itu diintai oleh Marisa.
"Kalian, aku ingin sekali melupakan kalian, tapi aku tidak bisa, aku tidak puas kalau belum menyakiti Maya!" kata Marisa seraya mengeratkan pegangannya di setir kemudi.
"Aku harus menyingkirkan Maya!" kata Marisa, setelah melihat semua orang bahagia, sekarang Marisa merasa semakin membenci Maya dan dirinya sendiri yang tidak dapat move on dari luka hatinya.
Sekarang, Marisa memilih untuk pulang ke rumahnya.
Di sana, ia segera masuk ke ruang kerjanya dan menatap foto yang terpajang di dinding, foto itu adalah foto Maya dengan anak panah yang menancap tepat di dahinya.
"Tunggu! Sekarang kalian boleh lah bersenang-senang, tunggu kejutan dari aku!" kata Marisa.
****
"Mah, Ifraz sudah dewasa sekarang, sudah menjadi seorang suami dari gadis kecil yang dulu mamah tolong," kata Biru, walaupun tidak ada yang menyahut, pria berpakaian rapih dengan kemeja putih itu tetap bercerita, ia yakin kalau Murni tetap mendengar dan tau kalau anaknya sering datang untuk menjenguknya.
"Mah, setelah Ifraz dan Pia menikah sekarang Biru semakin merasa kesepian. Apakah dulu mamah merasakan apa yang Biru rasakan?" tanya Biru, sesekali menatap batu nisan bertuliskan nama Murni.
"Biru berharap, secepatnya mereka dapat momongan, untuk menemani hari tua Biru!" lirih Biru dan tanpa terasa air matanya menetes.
Biru merindukan saat Ifraz masih bayi, sangat singkat waktu itu Biru untuk menimang bayinya.
"Seandainya Biru tidak bodoh!" gumamnya, Biru menundukkan kepala, merasakan penyesalan yang semakin dalam.
Selesai dengan itu Biru membaca doa untuk Murni, ia juga membacakan ayat-ayat suci Al-Quran, Biru membaca surah yasin dengan berderai air mata.
Seketika Biru teringat dengan anak-anak, apakah mereka bisa mengaji? Kalau tidak, siapa yang akan membacakan dan mengirim doa setelah Biru meninggal nanti.
Biru akan menanyakan itu setelah mereka pulang dari bulan madu.
Sekarang, Biru yang sudah selesai dengan urusannya itu segera bangun dari jongkok, Biru juga pamit pada Murni dan mengatakan kalau akan lebih sering datang.
Biru mulai melangkahkan kaki meninggalkan makam Murni, sesampainya di depan ternyata Biru bertemu dengan Gala dan istrinya, juga anaknya.
"Assalamu'alaikum," ucap Biru dan di sambut hangat oleh Gala.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab Gala, sepertinya lelaki itu sudah memaafkan Biru yang dulu sangat dibencinya.
Justru Gala sekarang mengerti kalau penyesalan Biru bukanlah main-main, terbukti dari Biru yang selama ini masih sendiri.
"Kapan lu mau merit lagi?" celetuk Gala dan istrinya menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Gala.
"Kenapa? Suka-suka gue lah!" jawab Biru, seraya mengulurkan tangan pada Gala, sedangkan pada Istri Gala, Biru hanya mengatupkan dua tangannya di dada dan tersenyum ramah padanya.
"Salim sama opa!" kata Gala pada anaknya.
"Sembarangan, emang gue kakeknya, Pakde aja, jangan opa, ketuaan!" protes Biru dan semua orang tertawa.
Melihat anak Gala yang terlihat imut itu membuat Biru gemas dan segera mengambil dompet, ia memberikan beberapa kembar uang berwarna merah muda untuk anak Gala.
"Astaga, jangan banyak-banyak!" protes Gala, ia takut anaknya akan menjadi kebiasaan mengenal banyaknya uang.
"Horeeeee, makasih Pakde," seru anak Gala.
"Aku bisa beli mainan baru, pah," kata anak Gala dan Biru yang mendengar itu mengajak Gala beserta keluarganya untuk ke toko.
Di toko, anak Gala bebas memilih mainan manapun yang dimau!
"Gua jadi ngerepotin," kata Gala yang sedang duduk di kursi plastik yang tersedia di toko.
"Nggak papa, namanya juga keluarga!" jawab Biru. Setelah itu Biru menawarkan rokok pada Gala dan Gala menolak.
"Gua nggak ngerokok, Mas!" kata Gala seraya menggelengkan kepala.
****
Di Dufan, Maya sedang memperhatikan Kania dan Daniel yang sedang naik wahana. Maya sendiri memilih untuk tidak naik karena Maya akan merasa mual dan pusing.
Maya berkali-kali mengambil potret anak dan suaminya, sesekali Maya melambaikan tangannya pada Kania dan Daniel yang sedang berteriak di wahana.
Setelah lelah, sekarang Maya dan keluarganya memilih untuk mencari restoran dan mengisi amunisinya.
"Mamah sih, nggak mau naik, coba naik juga pasti makin seru, Mah!" kata Kania yang duduk bersandar di sandaran kursi resto.
"Mamah nggak bisa, Ken. Nanti mamah pusing!" jawab Maya seraya mengusap pucuk kepala Kania.
"Papah juga pusing, tapi seru!" timpal Daniel yang sedang memperhatikan obrolan ibu dan anak itu.
"Pusing apaan, itu kan hobi kamu dari dulu!" timpal Maya dan Daniel pun tersenyum, merasa kalau Maya tidak melupakan masa lalu indah bersamanya.
Bersambung.
__ADS_1