
Dua hari telah berlalu, sekarang Maya sudah membaik, di dorong dengan semangatnya yang menggebu membuat Maya tak mengenal lelah untuk bangkit.
"Jatuh enggak papa yang enggak boleh itu tidak mau bangun!" ucapnya pada diri sendiri. Kata itu lah yang membuat Maya selalu semangat.
Di saat jatuh Maya harus bangun, tidak mau mengandalkan siapapun selain dirinya sendiri.
Sekarang, Maya sedang dalam percakapan di grup chat bersama teman-temannya.
"Maaf, aku enggak bisa ikut!" balas Maya saat mendapat ajakan hangout dari temannya.
"Maya! Cek chat pribadi lo!" timpal Ayana dan ternyata Ayana sudah mengirim pesan di sana.
"Maya, sesekali mikirin diri sendiri enggak papa, lagian di rumah kamu kan enggak kurang orang buat jagain anak, yuk kita jalan, ku jemput titik enggak pakai nolak!" kata Ayana.
"Iya benar, selama ini aku selalu memikirkan Mas Biru dan Ifraz, apa aku egois kalau malam ini pergi untuk mencari suasana baru?" gumam Maya, setelah itu Maya menghubungi Susi, memintanya untuk datang ke kamar.
Tidak menunggu lama sekarang Susi sudah berada di depan kamar, mengetuk pintu kamar Maya.
Maya segera membuka pintu.
"Malam ini aku pergi dulu sebentar, ingin mencari suasana baru, aku bosan berada di rumah," kata Maya.
"Baik, apa saya dan Nia ikut?" tanya Susi.
"Tidak usah, kalian di rumah saja, aku titip anakku sebentar ya, tolong jaga Ifraz!"
Kata Maya, setelah itu Maya keluar dari kamar dan mendapat tatapan dari dua pengawal yang seperti tak pernah lelah dan mengantuk.
Maya menunggu teman-temannya datang, tidak lama menunggu, Ayana dan Dilan sudah sampai.
"Hai!" seru Maya seraya mengulurkan dua tangannya dan dua temannya itu masuk memeluk Maya.
"Maya, kok kamu di sini lagi? Kemarin kamu bilang mau cerai?" tanya Dilan setelah melepaskan pelukannya.
"Nanti aja aku ceritain. Sekarang yuk jalan nanti keburu malam banget!" ajak Maya, setelah itu Ayana mendorong kursi roda Maya ke mobil mininya. Keduanya membantu Maya untuk duduk di kursi belakang.
Selama perjalanan, Maya menceritakan semua yang sudah dilaluinya selama berada di rumah Biru pada Ayana dan Dilan.
"Iya juga sih, ngeri juga ya berurusan sama orang egois dan berduit!" timpal Ayana dengan tetap fokus menyetir.
"Kamu harus kuat, Maya! Kami mendukung kamu, enggak kepikiran lah kalau Ifraz jatuh di tangan bapaknya yang gila gitu! Bisa-bisa dididik seperti itu, emangnya kamu rela?" tanya Dilan seraya melihat ke arah Maya.
"Enggak lah, makanya aku mau cerai dan anak harus ikut aku, tapi enggak semudah itu karena dia enggak mau ceraiin aku," kata Maya, kemudian wanita itu mengikat rambut pendeknya, memperlihatkan leher jenjangnya.
"Gila sih, aku enggak nyangka, cewek secantik kamu aja di duain, nyari yang kaya gimana sih si Biru itu!" geram Dilan dan Ayana menimpali, "Iya, mending selingkuhannya cantik, b aja tuh!"
__ADS_1
"Emang kamu liat, Ay?" tanya Dilan.
"Liat, kan waktu itu kepergok Maya sama aku," jawab Ayana, sekarang Ayana memarkirkan mobilnya di sebuah kafe.
Setelah itu, Ayana dan Dilan membantu Maya untuk turun dari mobil.
"Makasih ya, kalian udah mau direpotin sama aku," kata Maya.
"Santai, makanya, ayo semangat biar bisa jalan lagi dong," kata Dilan seraya mendorong kursi roda Maya.
"Itu juga aku mau, Dil!"
Kemudian ketiganya masuk ke kafe tersebut, malam ini Maya seolah melupakan beban dan lukanya.
"Makasih, ya!" lirih Maya seraya menatap bergantian pada dua temannya.
"Apaan sih, makasih mulu dari tadi," timpal Ayana, "kita kan berteman sudah dari zaman SMA sampai kuliah, jangan sungkan," lanjut Ayana.
Sementara itu, Dilan sedang disibukkan memilih menu makan malam.
"Kamu apa, Maya?"
"Bebas, aku apa aja," jawab Maya membuat dua temannya mendengus.
"Entar enggak sesuai minta tukeran lagi," protes Dilan yang sudah hapal betul dengan watak Maya.
"Iya, iya, iya!" jawab Maya, "aku mau nasi goreng minumnya aku mau durian kocok!" lanjut Maya pada pelayan yang berdiri di sampingnya.
****
"Sayang!" seru Biru yang sedang membereskan ruangan sebelah kamar Hafizah.
"Iya, ada apa Mas?" tanya Hafizah yang sedang menyiapkan makan malam, ia menggulung rambutnya supaya tidak gerah, tetapi itu menggoda bagi Biru, Biru pun mengecup leher jenjang Hafizah yang sekarang sudah berada di sampingnya.
"Geli," lirih Hafizah seraya sedikit menggeliat dan mendorong dada Biru, keduanya saling menatap dan Hafizah pun melemparkan senyumnya.
"Kamu yang menggoda ku!"
"Aku enggak menggoda, sayang. Kan tadi aku masak jadi biar nggak gerah gitu," jawab Hafizah, "manggil aku ada apa?" lanjut Hafizah seraya menaruh dua tangannya di bahu Biru.
"Ruangan ini ku buat ruang kerja ku, ya!"
"Bebas, ini rumah pemberian kamu, kenapa harus meminta izin?" jawab Hafizah, gadis itu merasa menang banyak karena sudah tiga malam berturut-turut Biru berada di rumahnya bahkan sekarang Biru menyiapkan ruang kerja untuknya.
"Oia, besok ada dua pelayan yang akan datang, kamu tidak usah capek-capek lagi ngurus rumah! Yang perlu kamu lakukan hanya melayani ku, sayang!" kata Biru seraya menatap mesra Hafizah, keduanya pun mulai hanyut dalam alunan mesra yang mereka buat.
__ADS_1
Biru mengecup seluruh wajah dan leher istrinya itu dan tidak bosan Hafizah mengingatkan kalau kandungan lemah, belum bisa melakukan itu.
Tetapi seperti biasa, Hafizah pandai menyenangkan Biru dengan caranya.
Selesai dengan pelepasan, keduanya pun pergi untuk makan malam.
"Sayang, tumben kamu enggak banyak mau ini dan itu? Apa bayi kita sudah tidak rewel lagi?" tanya Biru seraya menyantap makan malamnya.
"Sebenarnya ada yang aku pengen, tapi aku takut ngerepotin kamu," lirih Hafizah seraya terus menatap piringnya.
"Apa itu? Katakan! Aku enggak mau anak kita ileran nantinya!"
"Aku mau martabak!" kata Hafizah, ia menunjukkan senyum manisnya pada Biru, "yang toppingnya tebal," lanjut Hafizah.
"Baik, aku akan segera mencari!" kata Biru, lelaki itu dengan cepat menyelesaikan makan malamnya, setelah itu Biru pun bangun dari duduknya.
Biru keluar dari rumah dan melihat Bambang sedang duduk di teras dengan tetangga sedang membahas perihal burung yang ngetrend bahkan di bandrol dengan harga yang fantastis.
Biru hanya menganggukkan kepala, setelah itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Maya, ini hukuman untuk kamu karena tidak menurut!" batin Biru, pria itu belum menghubungi atau menemui Maya lagi setelah pertengkaran malam itu.
Tanpa Biru tahu sebenarnya Maya sedang bersenang-senang dengan dua temannya dan Maya sekarang sudah dalam perjalanan pulang.
Namun, sayangnya mobil Ayana harus mogok di tengah jalan.
Maya pun melihat jam di ponselnya.
"Aduh, mana udah malam lagi!" gumam Maya, wanita itu memikirkan anaknya yang berada di rumah, membuat hatinya tidak tenang karena sudah pergi terlalu lama.
Lalu Maya menurunkan kaca mobilnya, melongokkan kepala dan bertanya pada Ayana, "Ay. Masih lama enggak?"
"Kayanya, kita pesan taksi aja ya!" kata Ayana dan Dilan setuju.
Keduanya membantu Maya untuk turun dari mobil dan duduk di kursi rodanya.
Ketiganya berdiri di tepi jalan.
Tidak lama kemudian ada sebuah mobil yang tidak asing berhenti tepat di depan mereka.
Mobil siapa itu?
Bersambung.
Like dan komen sangat di butuhkan untuk menambah semangatku dalam menulis, terimakasih yang sudah mampir, jangan lupa diklik like dan komennya ya, tentunya Favorit juga ☺
__ADS_1
Sampai jumpa di episode selanjutnya.