
Di kamar, Biru menelepon Ran, menanyakan perihal rumah yang dimintanya.
"Kenapa lama sekali? Memangnya tidak ada rumah dijual?" bentak Biru dari sambungan teleponnya.
Setelah itu Biru memutuskan sambungan telepon tersebut.
"Kenapa, Mas?" tanya istri Ran.
"Biasalah, sekarang dia minta rumah baru, padahal sayang, dari tadi semua rumah terlihat bagus," jawab Ran seraya melihat-lihat gambar rumah dari anak buahnya yang dikirim ke ponselnya.
"Loh, memangnya kamu cari rumah seperti apa?"
"Yang biasa saja, itu rumah untuk istri mudanya!" jawab Ran singkat jelas dan padat, setelah itu Ran meminta pada istrinya untuk tidak mengganggu lebih dulu.
****
"Permisi, ini eskrimnya," kata Andi seraya mengulurkan tangannya pada Hafizah.
"Buat kamu saja, saya sudah tidak berselera," kata Hafizah, gadis itu bangun dari duduknya dan berjalan masuk ke kamarnya yang berada di lantai atas, bersebelahan dengan kamar Maya.
"Astaghfirullah?" ucap Andy, pria itu merasa geram dengan tingkah laku Hafizah.
Sekarang, Andy mencari Susi, memerintahkannya untuk menyimpan es tersebut, berjaga-jaga kalau Hafizah akan meminta eskrimnya lagi.
****
Sementara Bram, pria sederhana itu membantu Maya untuk turun ke kursi rodanya, sedangkan Ifraz berada di gendongan Gala. Setelah itu semua orang masuk ke rumah Lisna.
"Rumah sepi sekali, di mana Bunda?" tanya Maya, sedangkan Bram yang sedang mendorong kursi rodanya menatap Gala.
"Sini, biar Ifraz sama gua!" kata Bram seraya mencoba menggendong bayi mungil itu.
"Gua ke dalam dulu!" kata Bram seraya menggendong Ifraz membawanya ke kamar Gala, Bram membaringkan bayi itu di ranjang.
"Hay kecil, cepat tumbuh besar dan lindungi mama kamu!" kata Bram, bayi itu menjawab dengan menghisap bibirnya sendiri, seperti ingin menyusu, kemudian terlihat bayi itu menggerak-gerakkan bibirnya seperti akan menangis.
"Aduh, om salah bicara ya?" Bram menjadi bingung saat melihat bayi itu benar-benar menangis.
****
"Kenapa diam?" tanya Maya, kemudian Maya berteriak-teriak memanggil Bundanya.
"Bunda!" teriak Maya seraya menggerakkan rodanya dan Gala menghentikan itu.
"Sekarang hanya tersisa kita bertiga, mbak. Bunda sudah menyusul ayah," lirih Gala, pria itu segera membawa Maya ke kamarnya.
__ADS_1
Malam ini benar-benar menjadi malam kejutan untuk Maya, setelah mengetahui Biru dan Hafizah tinggal di rumah impiannya sekarang kabar buruk dari bundanya ia dengar.
"Kenapa kamu enggak bilang sama mbak? Dari kemarin mbak tanyakan bunda, kamu diam saja! Memangnya mbak tidak berhak untuk tau?"
"Bukan begitu, Gala ingin mbak sembuh dulu, Gala tidak ingin mbak bersedih terus menerus!" kata Gala, "Mbak, sudah... kalau mbak bersedih terus siapa yang akan mengurus Ifraz, dengar! Bayimu menangis, mungkin dia haus!" lanjut Gala.
Mendengar itu, Maya segera menghapus air matanya. Sedangkan Gala segera keluar dan mengambil bayi itu dengan hati-hati dari gendongan Bram.
"Makasih ya, Bang. Udah bantuin Gala," kata Gala, kemudian Gala keluar dari kamarnya membawa bayi itu pada ibunya.
"Sayang, maafin mamah, nak!" ucap Maya seraya menciumi bayi mungilnya.
Setelah itu, Maya memberikan ASI, tetapi Ifraz seperti menolak.
"Aduh, kamu kenapa sayang?" Maya kebingungan saat melihat anaknya semakin kencang menangis.
Maya menimang bayinya dan memanggil Gala.
"Gala, mungkin Ifraz sudah terbiasa dengan susu formula, tolong carikan susu!" perintah Maya dan Gala pun bersiap.
tetapi, langkahnya terhenti saat Bram memanggilnya.
"Gala, biar gua aja yang cari, lu di rumah aja jaga mereka!"
Bram pun segera mengendarai motor milik Gala.
"Malam-malam begini cari susu di mana?" gumam Bram dalam hati.
Lalu Bram mencoba mencari susu di apotek, benar saja Bram mendapatkan itu, "Tapi cari botolnya dimana?" gumamnya, pria itu keluar dari apotek.
"Udahlah, mungkin Maya punya stok botol di rumah, kalau enggak punya ya coba aja pakai sendok."
Segera Bram membawa susu itu pulang dan ternyata sudah ada seorang pria yang menunggunya di depan gerbang, pria itu adalah Biru.
Biru merebut kantong yang berada di tangan Bram.
"Apa ini? Lu beli susu murahan seperti ini buat siapa?" tanya Biru seraya membanting kotak susu tersebut.
"Anak lu haus dan sekarang lu yang buang susu itu! Bapak macam apa lu!" geram Bram.
Mendengar itu Biru menjadi emosi, merasa kalau tugasnya sebagai ayah telah diambil oleh orang lain. Lalu Biru membuka pintu mobilnya, mengambil susu Ifraz yang dibawakan oleh Hafizah. Ya, Hafizah mengingatkan Biru untuk membawa susu karena takut bayi itu lapar di tengah malam, mengingat tadi Maya tidak membawa apapun saat pergi dari rumah Biru.
"Gue ayahnya, gue lebih tau yang terbaik buat dia!" jawab Biru yang kemudian masuk gerbang, mencari Maya dan anaknya.
Sementara Bram, pria itu merasa kesal dan merasa kalau dirinya bukan siapa-siapa. "Siapa gua? Dah lah mending gua balik!" kata Bram.
__ADS_1
Bram mengambil ponsel dari saku jaketnya, mengirim pesan pada Gala, mengatakan kalau dirinya pulang.
"Susu ponakan gua mana, bang?" balas Gala.
"Udah ada bapaknya, gua balik!" Setelah mengatakan itu Bram benar-benar pergi dari sana.
****
Sementara Biru, pria itu mengetuk pintu kamar Maya dan Gala sudah berdiri di belakangnya.
"Ngapain lu ke sini?"
"Di sini ada istri dan anak gue!"
"Kenapa sih, lu nggak bosan cari masalah! Biarin mereka nenangin diri di sini!"
"Gue enggak akan pulang sebelum bawa mereka!"
"Pede banget lu!" geram Gala, pria itu sudah mengangkat dadanya menantang kakak iparnya, kemudian terdengar suara Maya membuka pintu.
"Aku mau di sini, aku mau nenangin diri, tolong kamu jangan memaksa!" ucap Maya, wanita itu menatap nanar suaminya.
"Tolong! Lagi pula ada wanita hamil yang harus kamu urus bukan?" sindir Maya.
"May, tolong jangan bahas yang lain disaat kita sedang berdua," lirih Biru, pria itu memberikan paper bag yang berada di tangannya.
"Mungkin kamu juga bilang begitu saat sedang berduaan dengan Hafizah, bukan?"
Mendengar jawaban Maya membuat Biru memijit pelipisnya, apapun yang dikatakan olehnya di kembalikan oleh Maya begitu saja.
Setelah mengatakan itu Maya kembali masuk tanpa mengambil apa yang Biru bawakan, Maya mengunci kamarnya sementara Biru meletakkan paper bag itu di meja.
Pria itu menggulung lengan kemejanya, keluar dari rumah Maya, di sana Biru mengusap wajahnya.
"Aaarggh," geram Biru.
"Apa yang terjadi, semua ini seperti mimpi!" ucapnya, kemudian pria itu memilih untuk pulang, membiarkan Maya untuk menenangkan dirinya.
Biru mengendarai mobilnya, membelah jalanan sepi di tengah malam membuat dirinya teringat kembali malam itu, malam saat dirinya pertama kali bertemu dengan Hafizah.
Bersambung.
Jangan lupa untuk klik like setelah membaca, Favorit juga ya supaya tidak tertinggal update terbarunya.
Terimakasih bagi yang sudah membaca dan mendukung karya ini 🤗
__ADS_1