
Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan like juga komentarnya, ya!
Akhirnya Maya menyerah dan menerima ajakan itu, sekarang keduanya sudah berada di restoran hotel tersebut.
Wanita itu memperkenalkan dirinya pada Maya.
"Saya Melisa, maaf telah merepotkan anda dan terimakasih tidak membuang saya."
"Hmm," jawab Maya yang belum bisa akrab dengan wanita itu.
"Nama anda?"
"Saya Maya," jawab Maya yang sedang mengaduk-aduk minumannya.
"Kenapa? Sepertinya anda sedang bersedih," ucap wanita itu yang memperhatikan Maya.
"Urusan pribadi," jawab Maya yang masih mengaduk-aduk minumannya.
"Kalau kau ingin teman curhat, curhat lah, aku akan menjadi teman curhat yang baik," ucap Melisa, wanita itu tersenyum pada Maya walau Maya sendiri lebih diam.
"Maaf, aku harus pergi," kata Maya seraya bangun dari duduknya.
Dan Melisa hanya mengedikkan bahunya, memperhatikan Maya pergi dari sana.
"Kasian, sepertinya sangat tertekan!" gumam Melisa yang kemudian menyeruput kopi latte miliknya, setelah itu mengambil makanan dan minuman milik Maya yang belum sempat di makan.
"Sayang, daripada mubazir!" ucapnya.
****
Maya memilih untuk kembali ke kamar dan ternyata di sana sudah ada Daniel.
Maya merasa heran dari mana Daniel tau keberadaannya dan ternyata Daniel tau itu karena informasi dari Biru yang melihat Maya masuk ke hotel tersebut.
"Maya, maafkan aku!" kata Daniel yang sedang berdiri di depan pintu kamar Maya.
Maya hanya menatap datar Daniel dan setelah itu Maya yang merasa tidak enak kalau harus membahas itu di depan umum akhirnya mengajak Daniel untuk masuk.
"Silahkan!" Maya mempersilahkan Daniel dan pria yang tak bersemangat itu pun masuk.
"Dari mana kamu tau aku di sini?" tanya Maya setelah menutup pintu kamarnya.
"Biru!"
"Hah, di mana istrimu saja kamu tau dari orang lain!" cibir Maya.
"Iya, aku memang payah!"
Maya diam tak menjawab, tidak ingin membuat suasana menjadi panas, walau bagaimana masih banyak yang harus bicarakan pada suaminya.
"Katakan, ada apa kamu mencari ku?" tanya Maya seraya duduk di sofa.
"Kenapa harus di pertanyakan, kalau kamu sudah tau jawabannya!"
"Aku bukan peramal atau cenayang, jadi, aku enggak tau ada apa kmu ke sini!"
__ADS_1
Daniel pun menyusul Maya, duduk di sofa dan meraih kedua tangan Maya.
"May, aku mau ajak kamu pulang, apalagi!"
"Tapi aku masih butuh waktu untuk sendiri!" jawab Maya seraya melepaskan tangan Daniel.
"Aku minta maaf, aku janji akan percaya kamu!" bujuk Daniel, pria itu menatap mata Maya.
"Tolong, kita butuh waktu untuk berpikir, aku merenungkan salahku, begitu juga kamu!" kata Maya, wanita itu tak mau menatap Daniel, tak ingin menjadi lemah dan merasa kasihan pada Daniel.
"Jelaskan, aku harus bagaimana?"
"Pergilah, aku masih ingin sendiri!" ucap Maya, ia berdiri dan bersedekap dada, matanya menatap pintu dan Daniel pun menurut.
"Ok, aku pergi, tapi aku akan kembali!"
Maya menarik nafas dalam dan segera duduk di sofa, dua tangannya mengusap wajah.
****
Satu minggu berlalu, sekarang Kania sedang menunggu Ifraz di salah satu resto makanan siap saji dan tidak lama kemudian Ifraz pun datang.
"Ada apa, Ken?" tanya Ifraz seraya menarik kursi depan Kania.
"Ken sedih dan bingung, Ken nggak tau harus gimana, bang!"
"Maksudnya?"
Ifraz bertanya dengan mengerutkan dahinya.
"Mamah minta Ken untuk ikut Mamah dan kenapa Ken harus ikut mamah, bukan ikut mamah dan papah!" lirih Kania seraya menundukkan kepala.
Mendengar itu Ifraz mengerti maksud dari kalimat tersebut.
"Nanti abang coba tanyakan sama mamah, ya!"
Kania menganggukkan kepala dan tanpa terasa air matanya menetes. Kania selalu takut dengan pertanyaan yang Maya berikan.
Setelah itu, Ifraz mengajak Kania untuk pulang dan ternyata Maya masih belum kembali, terlihat Imelda yang sedang duduk membaca majalah di ruang keluarga dengan televisi yang menyala.
"Kalian sudah pulang, di mana Maya?" Imelda bangun dari duduknya dan meletakkan majalah itu di meja.
"Mamah belum pulang," jawab Kania seraya melihat Imelda dan Ifraz secara bergantian.
"Kemana? Ini udah sore, mau malem!"
"Mamah ke salon," jawab Ifraz dengan cepat, setelah itu Ifraz menarik lengan Kania dan meminta alamat Maya tinggal.
Kania memberikan alamat Maya tinggal sekarang, setelah itu Ifraz segera pergi tanpa pamit pada Imelda yang kembali duduk di sofa, Ifraz segera pergi menemui Maya.
Maya segera membuka pintu saat mengetahui siapa yang datang, kebetulan di sana ada Daniel yang masih dengan setia membujuk Maya.
"Ada apa ini?" tanya Ifraz yang baru saja masuk kamar Maya.
Mendengar itu Daniel dan Maya sama-sama diam, Daniel ingin agar Maya saja yang menjawab.
__ADS_1
"Mah, ada apa?" Ifraz bertanya lagi dan kali ini seraya menggoyangkan lengan Maya.
"Ifraz," lirih Maya, matanya menatap manik mata anaknya.
"Katakan, ada apa? Kenapa Faz nggak tau apapun!"
"Sebenarnya, mamah dan papah akan berpisah, mamah tidak ingin lagi menyakiti hati mamah, menyakiti papah dan nenek kamu!"
"Apa?"
Mendengar itu Ifraz sangat terkejut, pria itu meminta Maya untuk memikirkannya lagi.
"Mah, mamah yakin? Mamah siap kehilangan orang baik seperti papah?" lirih Ifraz seraya menatap Maya yang tak mau menatapnya.
"Aku harus bagaimana?" tanya Maya, ia seperti sangat menderita dengan keadaannya saat ini.
Merasa tak ada yang mengerti, Maya meminta semua untuk keluar dari kamarnya.
Daniel pun bangun dari duduknya dan mengajak Ifraz untuk keluar.
"Pah, papah!"
Ifraz terus memanggil Daniel yang menarik lengannya.
"Kita bicarakan di luar!" kata Daniel dan Ifraz pun menurut.
Di luar, Daniel bercerita kalau Maya merasa tertekan dan tidak menjadi diri sendiri.
"Ya, Ifraz tau. Tapi, apa sudah tidak bisa dibicarakan?"
"Sudah, satu minggu ini papah sudah berusaha untuk membujuk mamah kamu pulang, hasilnya ya... seperti ini!" lirih Daniel, dua pria itu berjalan beriringan keluar dari hotel.
****
Di kamar Maya, Maya kedatangan Lisa.
"Bagaimana?" tanya Lisa yang sepertinya sudah akrab dengan Maya.
"Ya begitu, dia tidak mau bercerai," jawab Maya seraya mempersilahkan Melisa untuk masuk.
"Tapi aku lihat dia orangnya baik, yakin dengan keputusan kamu?"
Mendengar pertanyaan itu Maya kembali menarik nafas dalam.
"Bagaimana, aku lelah, 15 tahun sudah kami berumah tangga, aku sudah menjadi seperti yang mereka mau, tapi masih selalu kurang, lalu harus berapa lama lagi aku menunggu untuk mereka percaya padaku?"
"Benar juga, ya sudah kalau begitu aku ikut saja apa keputusan hati kamu!" kata Melisa seraya menjatuhkan dirinya di ranjang.
Baru saja Maya duduk di tepi ranjang, ia melihat ponselnya yang berada di atas bergetar, Maya mengambil itu dan ternyata Gala yang menelepon.
Kira-kira Gala bakal ngomong apa nih, ya?
Bersambung.
Maaf ya uppnya lama, kemarin keluarga kami berduka 🙏.
__ADS_1