Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Kasihan Biru, Kena Tipu:V


__ADS_3

Setelah mengisi perutnya sekarang Biru kembali ke rumah Murni dan Asisten Murni membawanya ke ruang kerja.


"Ada apa lagi?" tanya Murni yang baru masuk ke ruangan itu.


"Mah, kenapa? Mamah harusnya memberikan waktu untuk aku menjadi wali bagi Ifraz sampai dia dewasa nanti, aku akan membuktikan kalau aku akan menjadi lebih baik lagi dalam memimpin perusahaan."


"Mamah rasa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, semua jelas dan keputusan sudah dibuat!" Setelah mengatakan itu Murni kembali ke kamarnya.


Di sana, Murni menangis, tak tega melihat putranya yang semakin tak beraturan, berantakan dengan rambut dan jas yang acak-acakan.


Lalu, Murni bangun dari duduknya, berjalan ke arah jendela, melihat Biru yang sedang memarkirkan mobilnya.


"Nak. Maafkan mamah. Ini semua hukuman untuk kamu, mamah yakin kalau memang Hafizah adalah terbaik untuk kamu, wanita itu akan menerima keadaan kamu, apapun itu!" batin Murni, setelah itu ia berjalan ke arah meja nakas, melihat foto masa kecil Biru yah sedang bermain golf dengan ayahnya.


"Kenapa kamu pergi terlalu cepat, aku merasa gagal membesarkan anak kita!" kata Murni seraya mengusap kedua pria tampan yang selalu ada di hatinya.


****


Sekarang, Biru mengendarai mobilnya ke rumah yang dulu pernah ia belikan untuk Hafizah. Di sana, Biru terduduk lesu memikirkan dirinya yang sekarang tidak memiliki apapun lagi.


Pria itu mengusap air mata yang hampir menetes. Pria yang mencoba kuat itu tetap saja tidak dapat menahan segala rasa yang ada di hati, rasa kesal, benci, sedih, terpuruk, semua itu menjadi satu.


Lalu, Biru mencoba untuk menghubungi Hafizah.


"Sayang, bagaimana keadaan kamu?" tanya Biru dari sambungan teleponnya.


"Aku baik, kamu kenapa, Mas? Kok terdengar sedih?" tanya Hafizah, wanita itu menjadi sangat khawatir dengan Biru.


"Tidak apa-apa, kamu tidak usah khawatir!" jawab Biru, "yang, aku rindu kamu, rindu perhatian kamu, aku rindu semua!" lanjut Biru, pria itu menangis ingin menceritakan semuanya pada Hafizah.


"Mas, kamu jangan bohong. Kamu kenapa? Nggak biasanya kamu seperti ini?"


Setelah mendengar itu, Biru pun menceritakan semua pada Hafizah.


"Kalau begitu, kenapa enggak pulang ke sini aja, kamu masih punya aku, Mas! Kamu enggak sendiri!"


"Ya, nanti aku akan datang!" jawab Biru, setelah mengatakan itu Biru segera menyudahi panggilan tersebut.


"Ya, aku tidak sendiri, aku masih memiliki Hafizah dan anakku yang masih belum lahir!" ucapnya, pria itu bangun dari duduknya, memilih untuk mandi lebih dulu setelahnya bersiap untuk ke pulang ke villa.

__ADS_1


"Untung saja masih ada Villa dan rumah ini!" batin Biru.


****


Sementara Hafizah, wanita itu sedang cemas menunggu Biru. Merasa khawatir apabila nanti Biru akan terus berada di villa, takut kalau rahasianya akan terbongkar.


"Gimana ini? Lagian kenapa sih, kok tega banget mereka berbuat seperti itu pada Mas Biru!" gerutu Hafizah, ia berjalan mondar-mandir di kamarnya.


Lalu, Hafizah menghubungi Maya.


"Hafizah?" lirih Maya saat melihat ponselnya yang bergetar.


"Pasti wanita itu sudah tau semua!" gumam Maya, ia pun menerima panggilan itu dan tanpa basa-basi lagi Hafizah langsung menuduh Maya.


"Kamu puas telah mengambil semua gak milik suami aku? Seharusnya kalau kamu meu bercerai ya cerai saja! Kenapa harus berbuat seperti itu?"


"Aku tidak mengambil apapun dari siapapun, mungkin ibu mertuaku tau atau tidak rela apabila anaknya harus menafkahi jalan*ng seperti kamu!"


"Kamu yang jalan*ng! Aku tidak pernah melakukan hubungan bebas dengan Mas Biru, semua halal! Tidak seperti kamu!"


DEG!


Maya merasa kalau dirinya tersindir oleh ucapan Hafizah yang seolah mengingatkan kalau Maya pernah tidur dengan Bram membuat Maya kembali teringat dengan pria itu.


Hafizah membanting ponselnya ke ranjang.


"Aaaaaa!" teriaknya.


"Aku memang mencintai Mas Biru, tapi enggak bisa dia tinggal di sini! Bagaimana kalau Nia melihat Arumi di rumah ini, aku tidak boleh ketahuan!" ucapnya, wanita itu merasa panik.


"Tidak apa, Afi! Usia kehamilan kamu masih muda dan usia kandunganmu memang seharusnya belum terlihat gendut, kamu masih bisa menyembunyikannya dan semoga Mas Biru cepat mendapatkan pekerjaan lagi di Jakarta!" ucapnya dalam hati.


Setelah beberapa jam, Biru sudah sampai dan pria itu turun untuk membuka pintu pagar.


Biru masuk ke villa dan terlihat sangat sepi karena hari sudah malam.


Hafizah pun keluar dari kamarnya menyambut Biru.


"Mas," lirihnya.

__ADS_1


Biru langsung memeluk Hafizah setelah itu mengusap perutnya yang masih rata.


"Sayang, bagaimana kabar kamu?" tanyanya dan Hafizah menjawab dengan suara yang dibuat imut, "Aku baik, ayah!"


Mendengar itu Biru merasa terhibur, tanpa ia tahu kalau itu semuanya hanyalah palsu, kebahagiaan yang tersisa saat ini semua palsu. (HAHAHAHAAA) Author tawa jahat dulu sebentar 🤭🙈


"Maafkan aku, Mas. Aku tidak punya pilihan lain!" kata Hafizah dalam hati.


Setelah itu Hafizah mengajak Biru untuk makan tetapi pria itu menolak karena tidak nafsu untuk itu, pikirnnya ia harus cepat mencari kerja.


****


Keesokannya Hafizah dan Biru menjalani kehidupan rumah tangga layaknya seperti keluarga bahagia, Biru merasa beruntung masih memiliki Hafizah yang mau menerima dirinya apa adanya.


"Sayang, makasih. Kamu masih menerima aku walau aku tidak memiliki apapun lagi!"


Hafizah yang sedang membuatkan kopi untuk Bambang dan Biru hanya membalas dengan senyum.


Setelah itu menyiapkan sarapan untuk semua orang.


Seraya menunggu, Biru pun menanyakan keadaan Bambang.


"Ayah, bagaimana keadaan ayah? Sepertinya sedang tidak sehat?"


"Iya, sudah jangan pikirkan ayah, ayah baik-baik saja," ucap Bambang, pria itu tidak ingin membuat anak dan menantunya semakin memikirkan dirinya karena Bambang merasa bersalah pada Biru, karena Hafizah hadir di hidupnya sekarang pria itu menjalani semua konsekuensinya.


****


Selesai dengan sarapan, Biru pamit pada Hafizah, pria itu ingin menemui mantan koleganya dulu, ingin mencari pekerjaan.


"Walaupun Hafizah masih memiliki uang, aku harus tetap mencari kerja untuk menyambut kelahiran anakku!" batin Biru. Pria itu memutuskan untuk semangat demi anaknya yang masih berada di rahim Hafizah, begitulah pikir Biru.


"Hati-hati, Mas!" kata Hafizah setelah mencium punggung tangan suaminya.


"Iya, nanti aku tidak pulang karena jarak Jakarta ke sini agak jauh, aku akan pulang dengan membawa kabar baik!" kata Biru dan Hafizah menjawab dengan tersenyum dan menganggukkan kepala.


Setelah kepergian Biru, Hafizah pun pamit pada Bambang, wanita itu ingin menemui Maya, karena tidak puas memarahinya melalui telepon.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa klik like ya kk semua, yg belum favorit jangan lupa lupa difavoritkan 🤗.


Dukung terus karya ini ya, terimakasih sudah membaca cerita receh ini ✌✌✌


__ADS_2