
Sepulang sekolah, Ifraz melihat Maya seperti biasa, menjalani kesehariannya sebagai seorang ibu. hari ini ada Imelda datang, wanita itu ingin mengajak Kania dan Maya berbelanja tetapi Maya mengatakan kalau badannya sedang tidak sehat dan Imelda hanya membawa Kania bersamanya.
Selama perjalanan, Kania menceritakan semua yang terjadi pada Imelda dan Imelda pun akhirnya merasa penasaran, segera ia ingin bertanya Daniel.
****
Di rumah, Maya mengetuk pintu kamar Ifraz tetapi Ifraz mengabaikan ibunya.
Ifraz tidak akan berbicara sebelum Maya mengatakan yang sejujurnya.
Maya pun memilih untuk kembali ke kamar. Duduk dengan memijit kepalanya yang terasa pusing.
Maya tertidur sampai Daniel kembali dari kantor, pria itu melihat raut wajah Maya yanng terlihat jelas sangat lelah.
Daniel megambil baju ganti dari lemari dan ia segera mandi, setelahnya, Daniel membangunkan Maya yang masi tertidur.
"May, bangun atau nanti malam kamu akan begadang?" tanya Daniel seraya mengusap lembut kaki Maya.
Maya merasakan sentuhan itu segera membuka mata, ia menatap Daniel yang sudah ia lukai hati dan perasaannya.
Daniel pun mengajak Maya makan malam, tetapi kali ini Daniel tidak membantu Maya untuk bangun. Lalu, Daniel menghentikan langkahnya saat merasakan jari-jemarinya di tahan oleh Maya.
Maya menatap Daniel begitu juga dengan Daniel, lalu Daniel memberikan senyum pada Maya.
Daniel tidak akan pernah tega melihat Maya menangis. "Ayo! Kita makan!" perintah Daniel dan Maya menganggukkan kepala.
Sebelum pergi ke meja makan, Maya menahan lengan Daniel, ia menanyakan sesuatu pada suaminya.
"Mas, kamu masih ingat dengan janji kita?" tanya Maya, ia menatap Daniel dan Daniel merasa lupa janji apa yang Maya tanyakan.
"Janji yang mana? banyak janji diantara kita, May."
"Janji yang mengatakan kalau apapun yang terjadi dalam rumah tangga kita, kita akan bertahan, selalu bersama dan saling menjaga!" kata Maya dan Daniel pun menganggukkan kepala.
Maya pun melingkarkan lengannya di lengan Daniel, keduanya keluar bersama dari kamar, sebelum sampai meja makan Maya mengetuk pintu kamar Ifraz terlebih dulu.
tak ada jawaban membuat Maya membuka pintu kamar yang ternyata tidak terkunci itu, Maya melihat kedalam dan kamar itu kosong, Maya juga mengecek ke kamar mandinya.
Tak menemukan yang dicari, Maya segera keluar dan berfikir kalau anaknya sedang berada di ruangan lain.
Sesampainya di meja makan, Maya hanya melihat Daniel dan Kania.
__ADS_1
"Dimana Ifraz?" tanya Maya dan Daniel tidak tau, hanya Kania yang melihat Ifraz pergi dari rumah.
"Abang pergi, tadi, rapih pakai jaket sama bawa helm." Kania memberitahu dua orang tuanya.
Maya tidak merasa khawatir karena sudah tau kemana Ifraz pergi. Maya menarik nafas dalam mendapati anaknya pergi tanpa pamit.
Di tempat lain, Biru sedang menunggu Ifraz untuk balapan motor. Sekarang Ifrazs sudah sampai. Pria yang baru pertama kali ini akan balapan segera bergabung dengan Biru dan anak muda lainnya yang akan balapan.
Tentu saja, area itu sudah Biru amankan.
Ifraz menyalami Biru dan memujinya, juga meledek Biru, "Wah, nggak nyangka, Om nggak takut kalah kah? Ingat umur, Om!"
"Jangan salah, biar tua jiwa tetap muda!) " jawab Biru seraya menepuk dadanya.
Setelah itu, sekarang, semua orang yang sudah bersiap itu mulai menggerungkan motornya.
Sedangkan Pia, ia berdiri di tepi dan berteriak menyemangati Biru dan Ifraz.
Di rumah, Maya wanita itu sedang duduk bersama dengan Daniel.
Daniel merasa heran dengan Maya yang terlihat santai saja.
Bagaimana tidak santai, ia tau kemana anaknya dan dengan siapa.
"Mas," lirih Maya dan Daniel pun melihat ke arahnya.
"Hmm," jawabnya.
"Aku mau mengatakan semua pada Ifraz, supaya tidak ada masalah lagi!"
"Setelah itu Ifraz tau siapa ayahnya dan kalian akan sering bertemu?" tanya Daniel.
Maya terdiam dengan apa yang di dengarnya, sangat jelas kalau Daniel cemburu.
"Kenapa kamu berfikir seperti itu?" tanya maya dan Daniel memilih tidak menjawab.
Daniel bangun dari duduknya, memasukkan ponsel yang sedari tadi dipegangnya ke saku celana.
"Sekarang, dimana Ifraz?" tanya Daniel dan Maya kesulitan untuk menjawab.
"Kalian bertemu, kan?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Daniel meninggalkan Maya yang menundukkan kepala.
Daniel memilih untuk tidur di kamar Kania.
Maya menarik nafas dalam dan sekarang membuat minuman coklat hangat.
Di dapur, bibi yang masih sedang membereskan dapur menawarkan pada Maya untuk memijitnya dan Maya pun tidak menolak.
"Terimakasih, bi. Ini sangat nikmat sekali, bahuku terasa berat dan kencang!" kata Maya dan bibi itu mengucap syukur, merasa senang kalau dirinya bisa bermanfaat bagi orang lain.
Setelah itu, Maya melihat ponselnya yang berada di atas meja makan bergetar dan ternyata wanita itu mendapat pesan dari Biru yang mengirim foto kalau dirinya baru saja balapan dengan Ifraz dan niat Biru mengirim foto itu adalah supaya Maya tidak cemas memikirkan Ifraz.
Selesai balapan, sekarang, Ifraz, Biru dan Pia sudah berada di restoran, mereka makan malam bersama. Setelah itu Biru menasehati Ifraz.
"Kalau ada apa-apa jangan ngebut di jalan, selain membahayakan diri sendiri itu juga membahayakan orang lain, ingat itu!" kata Biru dan Ifraz menganggukkan kepala.
Sekarang, Biru meminta pada Ifraz untuk pulang, kembali Biru meminta pada Ifraz untuk hati-hati dan tidak mengebut.
Ifraz menganggukkan kepala.
Setelah itu, Ifraz pamit pada Biru dan juga Pia yang memperhatikan obrolan antara Biru dan Ifraz.
Pia bertanya pada Biru, "Emang Ifraz ngebut, yah? Kapan, kok Pia nggak tau?"
"Tadi pagi, Ayah tidak sengaja melihatnya mengebut di jalan," jawab Biru berbohong, padahal Biru memang sengaja ingin mengikuti Ifraz, tepatnya ingin melihat dan memastikan keadaan anaknya baik-baik saja.
****
Sesampainya di rumah, Ifraz melihat semua lampu di matikan, pria itu segera masuk ke kamar dan ternyata di sana sudah ada Maya yang sedang menunggunya, duduk di ranjang.
Ifraz melepaskan jaket dan melemparkannya ke sembarang arah, sekarang duduk di kursi meja belajarnya, melepaskan sepatu dan Ifraz seolah tak ada Maya di sana.
Pria itu pergi ke kamar mandi, mencuci wajahnya, tangan dan kakinya.
Selesai dengan itu, Ifraz segera keluar dari kamar mandi dan ternyata Maya masih duduk di tempatnya.
"Keluar, gua mau istirahat!" kata Ifraz seraya membukakan pintu tanpa melihat Maya.
"Ada yang ingin ku sampaikan, kemarilah, sudah lama kita tidak bercerita bukan?" kata Maya seraya menepuk sisi kanannya, berharap anak lelakinya itu akan mendekat, tetapi Ifraz yang benar-benar sangat lelah dan masih marah pada semua orang itu tidak memperdulikan Maya.
"Kalau mamah nggak keluar, biar Ifraz yang tidur di luar!" kata Ifraz dan sekarang pria itu menarik bantal dan selimut.
__ADS_1
Keluar meninggalkan Maya yang tak berhasil mendekati anaknya.
Bersambung.