Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Haruskah?


__ADS_3

Tanpa mengatakan apapun, Maya langsung mengambil tas kecil miliknya yang berada di meja, tak menghiraukan Bram yang terus menatapnya.


Setelah itu Maya membayar lebih untuk taksi tersebut, Maya masuk ke rumah dan dengan cepat masuk ke kamar, menutup pintu dengan membanting.


"Mbak, kenapa?" tanya Gala seraya bangun dari duduknya, pria itu mengira kalau Maya baru saja kembali bertengkar dengan Biru.


"Mbak!" Gala mengetuk pintu setelah tidak mendapatkan jawaban, sementara Bram... pria itu masih terdiam, merasa bersalah dan menyesal telah berbuat yang tidak-tidak pada Maya.


Setelah itu Bram meminta pada Gala untuk membelikannya rokok di warung depan komplek.


"Yang biasa ya, bang?" tanya Gala seraya menerima uang pemberian Bram.


"Iya," lirih Bram, pria itu seperti hilang semangat, ada yang mengganjal di hatinya selama Maya belum memaafkan dirinya.


Bram berjalan dengan perlahan, melupakan sakit di kakinya, pria itu mengetuk pintu kamar Maya.


TOK... TOK... TOK...


"Maya, gua minta maaf. Sumpah, gua nggak bohong. Tadi gua enggak melakukan apa yang kamu bilang itu, Maya!" kata Bram, pria itu berharap kalau Maya akan mempercayainya tetapi masih tidak ada jawaban dari dalam membuat Bram semakin lesu.


"Ok. May, gua tau lo sekarang benci banget sama gua, Setelah ini gua nggak akan ganggu lu atau pun Gala lagi, Gua permisi! Cuma satu pinta gua May. Gua nggak bohong, biar pun gua lelaki bejat tapi gua bukan pembohong!" kata Bram dan setelah itu Bram mengembalikan semua uang pemberian Maya pada Gala dengan cara mentransfernya.


"Gua pamit, May! Lu jaga diri. Kalau lu mau suami lu balik lagi ke lu, lu harus kuat untuk merebut kembali hak lu dari perempuan itu, jangan cengeng. Angkat kepala lu, May. Gua bantu doa semoga lu dapat yang terbaik!" kata Bram, pria itu mulai melangkah meninggalkan rumah Gala yang sudah dianggapnya seperti adik.


Dengan langkah yang berat pria itu meninggalkan rumah Gala.


Sementara Maya, wanita itu terdiam di kamarnya, hanya bisa mendengarkan apa yang Bram katakan.


Satu minggu kemudian...


Setelah hari itu, sekarang Bram tidak pernah terlihat, entah pergi kemana bahkan pria itu kembali meninggalkan kuliahnya dan Biru sudah tidak sekaku sebelumnya, pria itu telah mengizinkan kan Maya untuk sekedar bertemu dan akan pulang sebelum Biru kembali ke rumah.

__ADS_1


Sampai suatu hari, Biru demam dan harus kembali dari kantor lebih cepat membuat mereka saling bertemu kembali di rumah yang pernah penuh dengan mimpi itu.


Baru saja Biru masuk ke rumah dan ingin segera beristirahat di kamarnya. Namun, saat ia berjalan melewati kamar tamu ia mendengar suara Maya yang sedang membacakan dongeng untuk Ifraz.


Biru pun mendekati pintu itu, ia berdiri di sana, menyenderkan lengannya ke pintu, menatap Maya penuh kerinduan.


Lalu, Maya merasa kalau dirinya sedang diawasi, wanita itu melihat kearah pintu dan terlihat Biru yang pucat itu memberikan senyum padanya.


Maya bangun dari duduknya, menutup buku dongeng itu lalu menghampiri Biru.


"Kenapa nggak masuk?" tanya Maya, "Nggak pengen ketemu Ifraz?" lanjutnya.


"Bukan itu, aku lagi demam takut menular ke dia," kata Biru, pria itu masih terus menatap Maya membuat Maya merasa risih.


Dengan reflek Maya menaruh tangannya di dahi Biru dan benar saja suhu badannya sangat tinggi.


"Kamu harus istirahat!" kata Maya dan Biru menganggukkan kepalanya, pria itu meninggalkan Maya dan Ifraz di kamar tersebut.


Biru memikirkan dirinya, mengapa bisa dia beristri dua dan sekarang sudah satu minggu Biru tidak menemui Hafizah. Keduanya hanya bertukar kabar melalui pesan. Pikir Biru, uang untuk Hafizah tidak kurang, Biru juga mentransfer uang sama untuk Maya.


Sekarang pria itu ingin benar-benar berlaku adil pada dua istrinya, sayangnya apakah hatinya bisa adil? Lebih besar mana Biru mencintai diantara dua istrinya itu? Maka dari itu poligami bukanlah hanya materi yang harus di sama ratakan tetapi hati, bisa kah hati membaginya dengan adil?


****


Di kamar, Maya yang sudah kembali duduk itu selalu mengingat ucapan Bram yang mengatakan kalau dirinya harus kuat dan apabila masih mencintai Biru maka Maya harus merebut suaminya kembali dari wanita yang telah mengusik ketenangan rumah tangganya.


Maya terdiam memikirkan apa yang harus dilakukan, lalu wanita itu bangun dari duduknya.


"Sus. Jaga Ifraz ya!" kata Maya pada Nia yang selalu setia berada di sisi Ifraz, Nia menjawab, "Baik."


Setelah itu Maya berjalan dengan perlahan, merasa tidak yakin akan menyusul Biru ke kamarnya.

__ADS_1


"Apakah aku akan kembali? Apakah aku bisa memiliki suamiku seutuhnya lagi?" tanyanya pada diri sendiri.


"Bukankah semua orang melakukan kesalahan dan mungkin saja semua ini adalah ujian rumah tanggaku, bisakah aku dan suamiku melewati ujian ini?" batin Maya, sekarang wanita itu sudah berdiri di depan pintu kamar yang dulu pernah menjadi kamarnya juga.


Entah terdorong dari perasaan cinta pada suaminya atau hanya sebatas ingin memiliki secara utuh! Maya masih bimbang dengan perasaannya. Namun, Maya tetap mengetuk pintu karena kembali teringat dengan ucapan Bram yang mengatakan kalau dirinya harus berjuang apabila ingin merebut kembali suaminya.


Tidak mendapat jawaban membuat Maya memberanikan diri untuk membuka pintu dan ternyata pintu itu tidak terkunci, terlihat Biru masih dengan posisi yang sama lalu Maya mendekati suaminya dan kembali menempelkan telapak tangannya di dahi Biru.


"Dia demam tinggi!" batin Maya, lalu wanita mungil itu berinisiatif untuk mengompres Biru menggunakan air hangat.


Maya mengambil wadah kecil terlebih dulu di dapur setelah itu Maya kembali ke kamar dan mengisi wadah itu dengan air hangat di kamar mandi dan saat Maya menutup keran air itu Maya merasakan lengan kekar memeluknya erat dari belakang.


Sekejap Maya teringat dengan Bram yang pernah dengan tiba-tiba memeluknya dari belakang seperti itu membuat Maya menyebut nama pria itu dalam hati.


Lalu, Maya melihat ke kaca besar yang berada di depannya, terlihat Biru memeluk dan mencium tengkuknya.


"Jangan begini, Mas," lirih Maya seraya menggerakkan kepala kegelian.


"Kenapa?" lirih Biru dan lelaki itu mengambil wadah yang Maya pegang, meletakkannya di wastafel.


"Aku hanya ingin mengompres kamu, tidak lebih," jawab Maya, wanita itu berusaha melepaskan tangan Biru yang semakin erat memeluknya.


"Untuk apa mengompres, bahkan kamu bisa memandikan aku, May."


Biru mulai melepaskan apa yang melekat di tubuh istrinya, membawanya ke bawah shower dan menyetel untuk mandi air hangat.


Bersambung.


Jangan lupa like dan komennya, Bintang limanya juga ya 😗.


Kalau masih ada votenya yuk divote, beri dukungan untuk author supaya karya ini bisa semakin maju 🤗.

__ADS_1


Sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2