
"Kenapa, Ayah? Pia merasa deg-degan menunggu itu," jawab Pia dan Biru meminta pada Pia untuk tidak mendengarkan siapapun kecuali dirinya dan Ran.
"Di luar sana banyak musuh yang mengintai dan menunggu keluarga kita hancur, selalu ingat pesan Ayah, kamu harus mempercayai ucapan Ayah jangan sampai seperti ifraz yang lebih memilih orang lain dari pada keluarganya sendiri.
"Baik, Ayah."
"Apapun nanti yang akan ku katakan!" kata Biru dan Pia semakin penasaran juga mulai memiliki firasat yang tidak enak.
****
Di rumah Marisa, ketiga manusia itu sedang makan malam, Marisa juga meminta maaf pada Ifraz atas apa yang telah terjadi
"Nggak papa, Tan. Malah aku makasih karena kalian sudah memberitahu Ifraz yang sebenarnya, kalau kalian tidak memberitahu rahasia ini tidak akan pernah terungkap!" jawab Ifraz.
"Bagus, sekarang kamu dan Zenia harus membantu Bram untuk bangkit, aku yakin kalau kamu bisa membuatnya bangun karena kamu dan ibumu lah yang membuat adikku seperti itu, tidak mau bangun dari duduknya, kamu tau Ifraz? Sudah berapa banyak lukisan kamu dan ibumu yang Bram lukis!"
Ifraz hanya diam.
"Lupakan!" kata Marisa dan semua sudah kembali makan.
Selesai dengan makan malam, Zenia mengajak Ifraz untuk keluar dan Ifraz merasa kalau dirinya membutuhkan hiburan maka tidak menolak.
Marisa hanya mengingatkan untuk selalu hati-hati pada Zenia, kali ini Marisa meminta pada Ifraz untuk menjaga keponakannya.
Ifraz tidak keberatan dan ia berjanji akan menjaga Zenia.
Zenia pergi ke club langganannya, di sana tempat biasa ia berkumpul dengan teman-teman yang satu frekuensi dan Ifraz merasa tidak suka melihat Zenia cipika-cipiki denan pria lain.
"Zen, apa yang lo lakukan? Apa seperti ini setiap kali lo keluar?" tanya Ifraz yang suaranya tak terdengar jelas.
"Apa? Gue nggak denger, sayang?" tanya Zenia dengan nada tinggi dan Ifraz memilih menarik Zenia untuk keluar dari club itu.
Di luar Club, Ifraz memprotes Zenia dan kali ini Zenia tersenyum mendapati pacarnya cemburu.
"Lo cemburu?" tanya Zenia dan Ifraz menjawab, "Harus, kalau enggak lo harus mempertanyakan cinta gue!" jawab Ifraz dan Zenia pun tersenyum.
"Terus kita mau kemana?'' tanya Zenia dan Ifraz mengajak gadis itu untuk pergi menonton.
__ADS_1
"Ok, baiklah, karena aku sedang menghibur pacarku yang tampan ini sekarang kita let's goooo!" kata Zenia seraya menarik lengan Ifraz dan malam ini Zenia tidak meminta diantar sopir karena ada Ifraz yang mengendarai.
Di perjalanan, Zenia dan Ifraz yang sedang berhenti di lampu merah itu melihat seorang pria berambut putih mengetuk pintu kaca samping Zen, pria kurus itu adalah ayah Zen, alias si Tano.
"Lo kenal?" tanya Ifraz dan Zenia meminta ifraz untuk segera pergi meninggalkan lelaki itu, terlihat raut wajah Zen yang ketakutan dan Ifraz segera menancap gas setelah lampu berganti hijau.
Pria berambut putih itu tidak ingin kehilangan jejak Ifraz dan Zenia, ia berfikir keras mengapa Zenia berada di dalam mobil mewah dan bersama dengan seorang pemuda tampan, Tano berfikir kalau Zenia sudah menjual kesuciannya pada pemuda itu, maka Tano harus mendapat sedikit bagian untuk membiayai hidupnya.
Sekarang, Tano berhasil memotong jalan, pria itu tiba-tiba-tiba berhenti tepat di depan mobil yang Ifraz kendarai.
Motor Tano sedikit tersundul oleh Ifraz dan sekarang Ifraz turun dari mobil, ia langsung mendapatkan kemarahan Tano.
Tano mencengkeram kerah baju Ifraz da Zenia dari arah belakang sudah memegang batu bersiap untuk memukul Tano.
Ifraz melarang Zenia melakukan itu, takut Zen akan dipenjara kalau melakukan hal kriminal.
"Awas!" kata Ifraz seraya membawa Tano untuk menghindari pukulan Zenia.
"Cecunguk!" geram Tano dan Sekarang Tano beralih pada Zenia, menarik rambut panjang Zenia.
"Akh!" Pekik Zenia dan Ifraz meninju perut Tano karena sudah melukai Zenia.
Zenia segera berlari dan Tano berhasil menahan bahu Ifraz, pri itu tidak ingin merka lepas begitu saja.
"Baru saja Tano bersiap meninju Ifraz, lelaki itu sudah ada yang memukul dari belakang, orang yang memukul itu adalah Daniel.
Kali ini Daniel tidak datang sendiri, ia bersama dengan Biru, ingin sama-sama memberikan pengertian pada Ifraz, sayangnya, Ifraz masih kecewa pada orang-orang itu.
Ifraz memilih pergi meninggalkan Biru dan Daniel, keduanya sedang mengurus Tano yang pingsan.
"astaga, lo kekencengan mukulnya!" kata Biru dan Daniel hanya mengedikkan bahu.
Sekarang, Biru dan Daniel membawa Tano ke kantor polisi. a, Biru sudah meminta Ran untuk menyelidiki keluarga Zenia dan Tano memiliki banyak catatan kriminal.
"Sampah masyarakat! Penjarakan dia jangan lupa beri dia pelajaran!" kata Biru pada polisi.
****
__ADS_1
Setelah melihat Tano, Zenia menjadi takut dan sekarang meminta pada Ifraz untuk pulang, sesampainya di rumah, Ifraz dan Zenia mendapatkan pertanyaan dari Marisa.
"Loh, kok cepet. Katanya mau hangout?" tanyanya dan Zenia tidak menjawab, gadis itu berlari masuk ke kamarnya, Ifraz berniat menyusul tetapi lengan ditahan oleh Marisa.
"Ada apa?" tanya Marisa dan Ifraz menjawab kalau tadi mereka bertemu dengan seorang lelaki tua, berambut putih dan sedikit kurus.
"Tidak salah lagi, itu pasti Tano,'' gumam Marisa dan Ifraz pun tak bertanya apa-apa lagi, ia mengejar Zenia ke kamarnya dan ternyata kamar itu sudah terkunci.
"Zen, buka pintunya. Lo kenapa?" tanya Ifraz seraya mengetuk pintu itu.
Zenia tidak menjawab, gadis itu menelusupkan wajahnya di bantal, menangis dan sekarang teringat dengan ibunya lagi.
zenia menangis sampai tertidur.
****
Setelah dari kantor polisi, Biru mengajak Daniel untuk menemui Imelda.
Sesampainya di sana, Imelda melihat tidak suka pada Biru.
"Ada apa?" tanya Imelda yang membukakan pintu.
"Masuk dulu dong, Mah! kata Daniel dan Imelda pun memberikan jalan pada mereka, lalu datang Sukma, pria itu terlihat ramah dan menyalami Biru, Daniel juga tidak lupa mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Sukma memanggil bibi, ia meminta padanya untuk membuat minuman hangat untuk tamu.
sementara Imeda. Wanita itu langsung bertanya pada Biru tanpa basa-basi lagi.
Biru pun sebelumnya meminta maaf dan langsung mengatakan tujuannya datang ke rumahnya.
"Saya meminta pada Ibu untuk membantu kami menjelaskan semua pada Ifraz, pastinya kalian juga menyayangi Ifraz bukan?"
"Dia cucuku, sudah seharusnya kami sayang!" kata Imelda seraya melengos, ia tidak mau melihat Biru.
"Kalau begitu bawa Ifraz kembali pulang, jangan biarkan ibunya yang sudah berkorban demi kalian terus menderita," ucap Biru dan Imelda merasa menjadi tersangka saat Biru meminta pertanggungjawabannya.
Bersambung...
__ADS_1
Setiap masalah adalah proses, jadi bersabarlah!
Terimakasih yang sudah mampir. like, favoritnya juga, gift dan votenya. sampe jumpa di episode selanjutnya.