
Setelah melihat kakaknya menangis, pria itu merasa sedikit tidak tega, merasa kalau dirinya sudah keterlaluan.
Bram mengejarnya dan langkah kaki Bram dihentikan oleh manager resto.
"Bram, mau kemana kamu! Cepat ke ruang saya!"
"Baik," jawab Bram.
Pria itu mengekori managernya dan ternyata Bram yang dianggap sering membuat rusuh di resto itu harus dipecat.
Bram pun tidak mengambil pusing, sekarang pria itu keluar dari ruangan manager dan mulai mengambil barangnya di loker.
"Menyebalkan!" gerutu Bram dalam hati.
Pria itu mengendarai motornya, ingin menemui Marisa di kosnya.
Sesampainya di sana, Marisa tidak membukakan pintu, Marisa berteriak dari dalam, mengatakan kalau Bram tidak usah lagi membantu membayar biaya kos Marisa.
"Yakin?" jawab Bram yang masih berdiri di balik pintu.
Marisa tidak menjawab, setelah itu Bram mengirim pesan.
"Kak, gua juga butuh biaya, bentar lagi gua wisuda, tolong ngertiin, aku nggak selalu punya uang."
Marisa hanya membaca pesan itu tanpa membalas, tetapi Marisa berfikir kalau dirinya mungkin, memang sudah keterlaluan, menggantungkan hidupnya pada Bram.
"Maafin kakak ya, Bram." lirih Marisa seraya menatap layar ponselnya.
Setelah itu, Bram memilih untuk pulang ke apartemen.
Menjatuhkan badannya ke sofa seraya melihat foto-foto Maya dan Ifraz.
Setelah itu, ia berfikir akan mencari kerja apa lagi setelah ini dan Bram yang terinspirasi dari pemilik resto yang dulunya hanya orang biasa itu karena tekun menjalani bisnisnya sekarang menjadi pemilik resto.
Bram ingin belajar memasak supaya bisa membuka restonya sendiri.
Sekarang.
****
Murni mencoba menenangkan balita yang sekarang menjadi cucu angkatnya, anak kecil itu selalu menangis, mencari-cari ibunya.
Lalu, Murni meminta asistennya untuk mencari keberadaan ibu dari balita itu, memerintahkan untuk membiayai pengobatannya.
__ADS_1
"Baik, siap laksanakan."
Setelah mengatakan itu, wanita tersebut menjalankan perintahnya dengan baik dan benar, tanpa menunggu lama wanita itu sudah mendapatkan informasi di mana wanita itu tinggal dan ternyata ia tinggal di dalam rumah kardus.
Asisten Murni mengetuk pintu itu tetapi tak ada jawaban, ia, wanita yang mengenakan pakaian serba hitam itu mengintip dari celah-celah kardus dan terlihat wanita itu sudah tergeletak (sudah tidak bernyawa lagi).
****
"Maaf, Nyonya. Ibu dari anak ini sudah meninggal," ucap asisten Murni, ia berdiri di belakang Murni yang sedang memperhatikan Dinara bermain boneka di ruang tengah.
"Innalillahi, sudah kamu urus pemakannya?"
"Sudah, Nyonya."
"Bagus, siapkan penerbangan ke Surabaya, aku ingin mengenalkan cucuku dengan gadis ini, siapa tau setelah mendapatkan teman akan membuat gadis kecil ini menjadi ceria!"
"Baik, Nyonya."
****
Hari sudah menjadi malam, sekarang, Biru sedang menutup tokonya dan baru saja pria itu akan menggembok datang seorang pria yang mengetuk baju Biru.
"Jangan tutup dulu dong, Mas! Saya mau fotocopy ini," ucapnya yang tersengal dan Biru pun menoleh kearahnya.
Biru memandangnya datar karena yang menepuk bahu Biru adalah mantan temannya.
"Maaf, toko sudah tutup," kata Biru seraya meninggalkan Randy.
"Ayo lah, bro. Masa sama teman kaya gitu!" protesnya dengan terus mengikuti Biru di belakangnya.
Biru hanya membatin.
"Teman katanya, apa dia lupa waktu gue butuh tumpangan sementara!"
Biru tak menggubris mantan temannya itu, Biru mengendarai motornya, pertama, Biru mencari makan malam lebih dulu sebelum pulang ke rumahnya dan ternyata ada yang sedang memperhatikan Biru dari dalam mobilnya, orang itu adalah Murni dan balita yang baru saja menjadi cucunya.
"Lihat, dia adalah ayah kamu, tampan bukan, satu lagi yang bikin oma bangga, ayah kamu adalah seorang pekerja keras, Oma lihat sendiri bagaiman ayah kamu bangkit!" ucap Murni yang sedang memangku Dinara seraya menunjukkan Biru yang baru saja keluar dari warteg.
Setelah itu, Murni meminta pada sopirnya untuk pulang, karena balita itu sudah tidak menangis lagi setelah diajak jalan-jalan.
Sepulang dari warteg, Biru langsung pulang ke rumah dan ternyata di pos ronda sedang ada ramai-ramai yang bermain catur. Biru berinisiatif untuk membelikan kopi instan ke sebuah minimarket 24 jam dan ternyata itu adalah minimarket di mana Hafizah bekerja.
Hafizah yang sedang bersiap pulang mengendarai motornya itu melihat Biru memarkirkan motor di sampingnya tetapi Biru tidak melihat wajah Hafizah yang kepalanya tertutup oleh hoodie dan wajahnya menggunakan masker.
__ADS_1
"Mas, Biru!" lirih Hafizah dalam hati, sedangkan Biru sudah masuk ke toko, membeli apa yang memang ingin dibelinya.
"Aku sangat merindukan kamu, Mas!" lirih Hafizah yang masih berada di depan di toko.
Wanita itu berniat mengikuti Biru. Ingin tau di mana pria itu tinggal sekarang.
Di perjalanan, Biru merasa kalau dirinya telah diikuti, sesekali Biru melihat ke kaca spionnya.
"Siapa dia?" geram Biru, setelah itu Biru sengaja masuk ke gang buntu dan bersembunyi, menunggu motor yang mengikutinya itu masuk ke dalam gang.
"Apa, gang buntu? Lalu di mana dia?" gumam Hafizah melihat ke kanan dan kirinya, hanya ada motor Biru yang tergeletak di depan matanya dan ternyata Biru sudah sudah berdiri di belakang motor Hafizah.
"Siapa kamu!" serah Biru dan Hafizah menjadi tegang, takut Biru akan marah setelah tahu kalau dirinya mengikuti Biru.
Hafizah yang kebingungan itu tak memiliki pilihan lain selain turun dari motornya dan menatap wajah Biru yang sedang menatapnya tajam.
"Ini aku, Mas," jawab Hafizah seraya membuka maskernya.
Biru menggelengkan kepala mengetahui siapa wanita itu, setelah itu Biru pergi meninggalkan Hafizah, membiarkan motornya tergeletak di sana, pikirnya akan kembali lagi nanti setelah wanita ular itu pergi dari sana.
Tetapi, Hafizah tidak tinggal diam, wanita itu mengejar Biru, meraih lengannya dan Biru menghentikan langkah kakinya.
"Lepaskan, atau aku tidak akan pernah memaafkan kamu!" ucap Biru tanpa melihat ke belakang.
"Mas, aku minta maaf, aku janji tidak akan mengulangi semua kesalahan ku!" rengek Hafizah yang tak mau melepaskan lengan Biru.
Biru tak menjawab, pria itu mengibaskan tangan Hafizah dari lengannya.
"jANGAN PERNAH GANGGU KEHIDUPAN KU LAGI! INGAT ITU!" ucap Biru penuh penekanan dan masih tidak mau menatap wajah Hafizah yang mengiba.
Hafizah terduduk setelah kepergian Biru.
Menangis di sana seorang diri. Merasa kalau usahanya sia-sianya, Hafizah memilih untuk pulang ke rumahnya.
Sementara Biru, pria itu yang sebenarnya belum pergi harus kembali untuk mengambil motornya.
"Merepotkan! Aku sangat membenci kamu!" gumam Biru dalam hati.
****
Sekarang, Maya baru saja melakukan perawatan di rumahnya, merasa rileks wanita itu menyusul Ifraz tidur di kamarnya.
"Aku harus sering perawatan, apalagi pijit, mengingat anakku sangat aktiv dan aku tidak boleh mengeluh dalam merawat anak, aku harus semangat!" ucapnya, wanita yang rambutnya sudah kembali panjang itu mengecup kening putranya.
__ADS_1
Bersambung.
Yuhuuu, yuk pembaca yang budiman dan baik hati, tidak sombong apalagi pelit like, Like ya setelah membaca 🤗