
Di dalam kamar, Murni berfikir, merasa telah gagal mendidik anaknya menjadi pria yang bertanggungjawab.
"Aku harus temui Maya!" ucapnya dalam hati, setelah itu, Murni bangun dari duduknya dan menyambar tas tangan yang berada di atas nakas.
Murni menuruni tangga dengan hati-hati, tidak mau karena tergesa membuat dirinya menjadi celaka, betapa terkejutnya Murni saat melihat Hafizah masih berada di rumahnya.
"Bukankah tadi Biru sudah datang? Kenapa kamu masih di sini?" tanya Murni.
Hafizah pun berdiri dari duduknya.
"Memang tadi Mas Biru datang, tapi dia hanya memanggil dokter dan saya masih menunggu ada perlu apa ibu membawa saya ke rumah ini?"
"Tidak tau malu!" gumam Murni dalam hati.
"Pulang lah," kata Murni pada Hafizah.
"Tapi nasib saya dan anak saya bagaimana, bu?" tanya Hafizah membuat Murni semakin sakit kepala.
Murni tidak menjawab, wanita itu pergi meninggalkan Hafizah yang masih berdiri penuh tanya.
"Ya ampun, enggak ada harganya sama sekali aku di rumah ini," gumam Hafizah dalam hati.
Setelah itu, Hafizah kembali ke hotel dan ternyata dirinya sudah ditunggu oleh manajer hotel.
Pria itu menghadang Hafizah.
"Maaf, ini barang-barang anda!" kata pria itu dan Hafizah dengan cepat mengambilnya, di sana Hafizah mendapatkan tatapan sinis dari beberapa karyawan hotel.
Mau tidak mau Hafizah mengambil barang miliknya. Wanita itu kembali keluar dari hotel.
"Aduh, mau bilang apa aku sama ayah kalau tiba-tiba aku pulang!" gumam Hafizah seraya menggendong tasnya.
Hafizah pun duduk di halte, memikirkan cara untuk masuk kembali ke kehidupan Biru.
Gadis itu sedikit merasa menyesal, tidak menyangka kalau akan seperti ini akhirnya.
"Aku yakin kalau aku hamil, aku tidak pernah telat selama ini! Buktinya banyak kan mereka yang baru menikah tapi ceweknya cepat hamil!" ucapnya pada diri sendiri.
"Aduuuh! Aku harus kemana ini, enggak mungkin aku pulang!" gumam Hafizah.
__ADS_1
"Apa aku ke rumah Mas Biru?" tanyanya pada diri sendiri, "bukankah Mbak Maya mengatakan tidak ada yang salah dengan poligami?" lanjut Hafizah.
Setelah itu, Hafizah merogoh saku celananya mengambil ponsel dan melihat foto kartu Identitas Biru yang semalam di potretnya.
"Tapi enggak mungkin aku ke sana, lihat ibunya Mas Biru aja udah dingin, enggak dihargai, apalagi aku ke rumah Mbak Maya!" ucapnya, "sudahlah, lebih baik aku pulang!" lanjut Hafizah yang kemudian melambaikan tangannya pada angkot.
Selama perjalanan, Hafizah memikirkan alasan apa yang tepat untuk diberikan pada ayahnya.
Dan begitu sampai di rumahnya, Hafizah melihat ayahnya sudah dengan koyo yang berada di pelipisnya.
"Ayah sakit?" tanya Hafizah yang baru membuka pintu.
"Hanya sedikit pusing, mana Nak Biru? Ada yang ingin ayah tanyakan!"
Mendengar pertanyaan itu, Hafizah kebingungan, belum sempat Hafizah menjawab Bambang sudah bertanya lagi.
"Kenapa jam segini sudah pulang? Biasanya malam kamu baru pulang?"
"Hafizah enggak enak badan, Hafizah juga telat datang bulan," jawab Hafizah seolah memberitahu kalau dirinya tengah hamil.
"Hafizah mau ke kamar dulu," lanjut Hafizah, ia sengaja ingin menghindari ayahnya.
Di kamar.
****
Di rumah Lisna.
"Mbak, apa lelaki itu ada menghubungi mbak?" tanya Gala yang sedang mengajak Ifraz bermain di kamar Maya.
Maya yang sedang duduk di tepi ranjang itu menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Kenapa lelaki itu sangat lelet sekali, bahkan lebih lelet dari seekor keong!" gerutu Gala dalam hati.
"Mbak yakin kalau Mas Biru akan datang menjemput dan meminta maaf, mbak berharap saat Mas Biru menjemput mbak dia sudah menyelesaikan masalah itu!" jawab Maya dan Gala yang mendengarnya menggelengkan kepala.
"Mbak, kenapa sih, sudah tau lelaki seperti itu kenapa masih mbak pertahanin? Apa karena dia kaya? Mbak! keluarga kita juga tidak miskin-miskin amat! Distro Gala cukup lah buat kita makan sehari-hari!"
Maya menjawab dengan suara lirih, "Mbak mencintainya! Kalau tidak, mbak tidak akan sanggup bertahan sejak lama."
__ADS_1
Setelah itu Maya menghapus air mata, dirinya teringat bagaimana ia dulu berjuang mendapatkan cinta Biru dan sekarang karena perselingkuhan itu Maya menjadi tidak yakin kalau Biru mencintainya.
"Apa aku harus menghubungi dia lebih dulu?" gumam Maya dalam hati.
Sementara itu, Murni yang baru saja sampai di rumah Biru, wanita itu tidak mendapati keberadaan menantu tersayangnya.
"Apa Maya sudah mengetahuinya?" gumam Murni. Wanita paruh baya itu duduk dengan memijit pelipisnya.
Memilih untuk mengirim pesan pada Maya, menanyakan di mana Maya.
Dan Maya, wanita itu mendengar kalau ponselnya bergetar, ia berfikir kalau Biru yang mengirim pesan itu, dengan cepat Maya mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Setelah mengetahui Murni yang mengirim pesan, ada sedikit rasa kecewa pada dirinya sendiri, kenapa dirinya begitu terlalu berharap pada Biru.
Maya menarik nafas dan masih menutupi itu dari mertuanya dengan mengatakan kabar baik dan sekarang sedang berada di rumah Lisna sehingga Murni mengira kalau Maya belum mengetahui perselingkuhan Biru.
Sementara itu, hari semakin malam dan Maya masih belum juga mendapatkan kabar dari Biru, berungkali Wanita malang itu memeriksa ponselnya.
"Kenapa, seharusnya aku yang marah, bukan aku yang selalu menunggu kabar darinya!" gerutu Maya dalam hati, Maya yang merasa kesal itu memutuskan untuk mematikan ponselnya dan setelah beberapa jam Maya kembali menyalakan ponsel itu, berharap kalau suaminya menghubungi atau mengirim pesan.
"Enggak guna!" geram Maya pada ponselnya. Wanita itu menangis di tengah malam seorang diri, "Hiks... hiks... hiks!"
Sementara itu, Biru masih berada di kantornya, ditemani oleh rokok yang asapnya terus mengepul.
Pria itu tengah frustasi, memikirkan Maya dan Hafizah.
Ponsel Biru terus bergetar karena Hafizah terus menerus mengirimi Biru pesan.
Biru menertawakan dirinya sendiri saat melihat alat tes kehamilan bergaris dua dari Hafizah.
"Kenapa wanita itu harus hamil! Semakin sulit aku menyingkirkannya," ucap Biru seraya menghisap rokok yang berada di jarinya.
Sementara itu, Ran yang masih berada di ruangan Biru memperhatikan Tuannya yang bodoh.
"Kenapa Tuan selalu bodoh? Dulu sebelum mencintai Nona dirinya selalu marah-marah dan sekarang setelah mencintainya dirinya sendiri yang merusak hubungan itu!" Ran menggelengkan kepala, pria itu akan diam selama Biru tidak mengajaknya berbicara atau meminta pendapat.
"Hafizah hamil? Apa yang akan aku katakan pada Maya!" decak Biru.
"Apa aku harus berbohong pada Maya, seolah aku telah membereskan Hafizah?" gumam Biru dalam hati.
"Tapi..., aku bukan pria yang pandai berbohong, buktinya hanya hitungan hari aku sudah ketahuan! Hahahaa!" Biru menertawakan dirinya sendiri membuat Ran menjadi merinding melihat Biru yang frustasi.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa untuk tinggalkan dukungan berupa vote, like dan komennya ya. Terimakasih bagi yang sudah membaca^^