
Setelah kepergian orang tuanya, sekarang teman Bram membuka suara, mengatakan kalau pesta telah usai dan pengantin pria telah digantikan.
"Apa?" tanya Marisa tak percaya.
"Iya, Maya sudah menikah dengan yang lain!"
"Seharusnya Maya di sini, menemani adik gua bukan mencari pengganti adik gua!" geram Marisa dalam hati.
Sementara di rumah Gala, Dilan berterimakasih padanya karena telah berhasil mendesak Maya agar mau menikah dengan Daniel.
"Kok kalian jahat banget!" protes Ayana yang sedang ikut duduk bersama Dilan dan Gala.
"Loh, kenapa jahat? Kan memang dulu mereka saling mencintai! Karena dijodohkan saja Maya menikah dengan Biru!" jawab Dilan, "Ay. Harusnya kamu mendukung Maya mendapatkan cintanya, jangan lelaki seperti Bram!" lanjut Dilan, gadis itu menatap Ayana.
"Kalau tiba-tiba Bram datang gimana? Kalian mikir nggak sih perasaan mereka!" protes Ayana, setelah mengatakan itu Ayana bangun dari duduknya.
"Kalau mau datang seharusnya jangan telat!" jawab Dilan seraya memperhatikan Ayana.
Ayana menggelengkan kepala, setelah itu melangkahkan kakinya keluar dari rumah Gala.
"Ay, kemana? Aku ikut!" kata Dilan seraya bangun dari duduk, mengejar Ayana.
Sedangkan Gala, pria itu masih duduk dengan bersedekap dada.
Memikirkan dirinya sendiri, "Maaf Bang, Gua mau Mbak Maya dapat lelaki terbaik!"
****
Sementara Maya, wanita itu baru saja menidurkan Ifraz dan Daniel sedang memperhatikan Maya, ia duduk di sofa panjang seraya memegang buku.
"Dan," lirih Maya yang baru saja turun dari ranjang dan ikut duduk bersama dengan pria yang sekarang menjadi suaminya.
"Kenapa?" tanya Daniel seraya menatap Maya.
"A-aku!"
"Kenapa?" tanya Daniel, pria itu melihat kegugupan di wajah Maya.
Daniel pun mengangkat dagu istrinya. "May, aku nggak akan maksa buat melakukan itu sekarang! Kamu tenang saja! Aku mau cinta kamu kembali buat aku lebih dulu!"
Mendengar ucapan Daniel membuat Maya menitikkan air mata.
"Kenapa? Kok malah nangis? Kamu kecewa? Apa kamu mau melakukannya sekarang?"
Maya menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Aku merasa jahat telah meninggalkan calon suamiku, Dan!"
__ADS_1
"Kamu enggak boleh mikir gitu, dia sendiri yang enggak datang!" kata Daniel, pria itu membawa Maya ke dalam pelukan.
Dalam hatinya menyadari kalau Maya mencintai calon suaminya.
"Sudah jangan menangis, aku akan selalu ada buat kamu!" kata Daniel seraya mengusap lengan Maya.
****
Di Kamar Imelda, wanita menangis, mengatai anaknya bodoh.
"Aku harus bicara dan kenapa mereka bisa menikah, sebenarnya,apa yang terjadi?" tanya Imelda pada dirinya sendiri.
"Mah, sudah malam, besok saja!" kat sukma, pria itu mencoba mencegah istrinya.
"Papah tau kan, Mamah paling nggak bisa menunggu!" kata Imelda, wanita itu keluar dan mengetuk pintu kamar Daniel.
"Biar aku aja!" kata Daniel seraya bangun dari duduknya, pria itu membuka pintu dan melihat mamahnya berdiri di sana.
"Mamah, ada apa?" tanya Daniel.
"Ikut Mamah!" kata Imelda, wanita berambut pendek itu membawa Daniel ke ruang kerja suaminya.
"Ada apa, Mah?" tanya Daniel setelah menutup pintu ruangan tersebut.
"Kamu masih tanya kenapa?" bentak Imelda seraya menatap tajam anaknya.
"Serius, Daniel nggak ngerti maksud mamah."
"Kamu itu kenapa jadi lelaki bodoh sekali? Bukannya Maya sudah menikah, kenapa dia bisa menjadi istri kamu! Mana buktinya kalau dia istri kamu!"
"Mah, sudah jelas, karena Daniel masih mencintai Maya, sampai kapanpun!" jawab Daniel, setelah itu ia keluar dari ruangan tersebut, kembali ke kamar dan ternyata Maya sudah mengganti pakaiannya dengan piyama.
Malam ini, Daniel memilih untuk tidur di sofa, sedangkan Maya dan Ifraz di ranjang.
****
Murni menghubungi Biru, menanyakan keberadaannya.
"Biru baik-baik saja, malam ini Biru tidak pulang, Biru titip Pia untuk malam ini," kata Biru, setelah itu Biru memutuskan sambungan teleponnya.
"Biru, mamah tau apa yang kamu rasakan dan mamah semakin tidak tega untuk menghukum kamu lebih jauh lagi, toh sekarang kamu sudah menyadari semua salah kamu!" batin Murni.
"Soal Maya, mamah hanya bisa berdoa untuk kebaikannya, semoga dengan pernikahannya kali ini, ia menjadi bahagia," Doa Murni dalam hati.
****
Keesokan harinya, Maya bangun lebih pagi, ia ingin menyiapkan sarapan untuk anggota keluarga barunya.
__ADS_1
Terlihat, di dapur sudah ada asisten rumah tangga yang sedang bekerja.
Maya menghampiri dan menanyakan apa yang akan ia masak.
"Biar saya bantu," kata Maya setelah mengetahui nasi goreng lah menu sarapan pagi ini.
"Tidak usah, Non. Non kan tamu di sini," kata asisten Imelda.
"Nggak papa, aku harus siapkan sarapan untuk suamiku!" kata Maya, asisten itu yang mendengar ucapan Maya bertanya-tanya dalam hati 'siapa Maya' karena baru pagi ini ia melihatnya.
Setelah beberapa menit, sekarang Daniel yang sedang menggendong Ifraz itu menyusul ke dapur.
Terlihat Ifraz yang menangis mencari-cari Maya.
"Mungkin dia masih takut sama aku!" kata Daniel seraya memberikan Ifraz pada Maya.
Sementara Imelda, wanita itu menjadi tidak nyaman, rumah yang biasanya tenang sekarang terdengar suara berisik tangisan dari anak kecil.
"Urus saja anak kamu, urusan dapur biar di kerjakan Sari!" kata Imelda dan Daniel yang berdiri di pintu merasa tidak tega pada Maya, karena mendapatkan tatapan tidak suka dari mamahnya.
Daniel membawa Maya ke kamar, meminta Maya untuk mengemasi barang-barangnya.
Maya merasa heran dan bertanya mengapa Maya harus mengemasi barang yang bahkan belum ia pindahkan ke lemari.
"Sudah, nanti juga tau!" kata Daniel, "aku mandi dulu," lanjutnya.
Maya yang merasa sudah menjadi istri dari mantan kekasihnya itu berinisiatif untuk menyiapkan baju ganti untuknya.
Maya membuka lemari Daniel, mencari pakaian yang di rasa cocok untuk suaminya dan di saat itu juga Maya melihat Daniel masih menyimpan fotonya yang sedang berduaan di atas motor.
Maya mengembalikan foto itu di bawah tumpukan baju Daniel.
"Ternyata kamu masih menyimpan semua kenangan kita!" ucapnya. Maya menjadi semakin bersalah dulu telah menyakiti Daniel.
Seraya menggendong Ifraz Maya memasukkan kembali semua peralatan make upnya ke dalam tas.
Tidak lama kemudian, Maya melihat Daniel yang keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya, Maya pun berbalik badan menjadi membelakangi Daniel.
Daniel hanya tersenyum dan segera memakai pakaian yang sudah siap di ranjang.
Selesai dengan itu, Daniel membawa Maya turun dan ternyata Imelda berserta suami sedang menunggu kedatangan Daniel dan Maya untuk makan bersama.
Daniel dan Maya pun ikut sarapan, selesai dengan itu, Daniel mengutarakan niatnya yang ingin membawa Maya tinggal di rumahnya.
Imelda yang mendengar itu hanya diam saja, sedangkan Sukma menyerahkan semua keputusan itu pada anak dan menantunya.
"Kenapa? Kamu tidak suka tinggal di sini?" tanya Imelda pada Maya, ia menatap datar Maya yang tidak tau niatan dari Daniel.
__ADS_1
"Ini semua rencana Daniel, Mah!"
Bersambung.