Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Apakah Kembar?


__ADS_3

Maya menyusul Ifraz, wanita itu menahan bantal yang dibawa oleh anaknya.


"Dengarkan, mamah mau bicara, mamah akan mengatakan semua dengan syarat!"


"Syarat apa? Kenapa harus memakai syarat untuk mengetahui siapa aku?" jawab Ifraz.


"Sayang, ayolah, jangan bersikap seperti ini sama mamah, mamah tau, mamah salah, tapi tolong jangan seperti ini, sakit hati mamah melihat anak bersikap seperti ini pada orang tuanya," lirih Maya, ia menatap anaknya dan Ifraz mulai mengendorkan ototnya.


"Baik, aku akan mendengarkan!" kata Ifraz.


Sekarang, Maya dan Ifraz kembali ke kamar.


Maya meminta pada Ifraz untuk berjanji kalau tidak akan marah setelah mengetahui siapa ayahnya.


"Siapa? Pria yang ada di dalam foto itu?" tanya Ifraz, Ifraz tak mau duduk, pria itu berdiri di pintu sedangkan Maya, ia berdiri di tengah ruangan itu menatap putranya.


"Aku nggak yakin kalau dia nggak akan marah!" batin Maya.


"Tapi, mau sampai kapan aku merahasiakan ini!" lanjutnya. Wanita itu cemas dan meremas jari-jemarinya.


"Ayah kamu adalah...." Maya menggantungkan ujung kalimatnya dan Ifraz segera bertanya, "Siapa?"


"Kamu harus janji dulu! Kamu tidak akan marah pada siapapun!" kata Maya, ia teringat dengan permintaan Biru yang meminta itu.


"Ok!"


"Ayah kamu adalah Albiru!"


"Siapa Albiru?" tanya Ifraz, "Seperti apa wajahnya? Apa sangat mirip dengan ku?"


"Tidak, kamu mirip kami berdua jadi tidak hanya mirip ayah kamu!" jawab Maya, ia merogoh saku piyamanya, mengeluarkan selembar foto Biru yang sedang menggendongnya untuk pertama kali di rumah sakit saat Ifraz baru lahir.


Kenyataan itu tidak membuat Ifraz senang, tetapi Ifraz kembali merasa ditipu.


"Mamah yakin dia orangnya?" lirih Ifraz seraya menatap foto itu, seketika semua kenangannya dengan Biru terlintas, ia teringat saat Biru mengajarinya mengendarai mobil dan motor, masih banyak kenangan lain dengan Biru, orang yang dianggapnya pahlawan di luar rumah.


"Kenapa, kenapa kalian seolah mempermainkan aku? Dia ayah ku tetapi aku memanggilnya dengan sebutan 'OM'," batin Ifraz.


Ifraz menangis dan kali ini ia memilih keluar dari rumah. Ia pergi dan Maya mengejarnya.


"Ifraz, jangan pergi, kamu mau pergi kemana malam-malam seperti ini?" tanya Maya, wanita itu menahan stang motor Ifraz tetapi tangannya disingkirkan oleh Ifraz.


Ifraz meninggalkan rumah Maya dan kali ini Ifraz tidak pergi ke taman, di sana banyak kenangan dirinya dan Pia juga Biru.

__ADS_1


Selama perjalanan, Ifraz teringat dengan Biru. Salah satunya adalah saat Biru membelikan es krim untuk Pia dan dirinya, di taman itu.


Ifraz menangis, merasa semua orang mempermainkannya, sekarang Ifraz pergi ke rumah Zenia.


Sesampainya di sana, Ifraz langsung memeluk kekasihnya.


"Ifraz? Lo kenapa?" tanya Zenia yang berada di pelukannya, keduanya masih berdiri di pintu.


"Faz, kenapa? Cerita sama gue, gue pacar lo, kan?" lirih Zenia, gadis itu mulai merasakan kesedihan yang Ifraz rasakan. Mungkin Zenia sudah merasa ada ikatan di antara mereka.


Ifraz melepaskan pelukan itu, ia tidak menjawab melainkan mengecup bibir Zenia.


Zen yang merasa kalau Ifraz sedang sangat marah itu melepaskan ciuman Ifraz, ia menarik lengan Ifraz membawanya masuk dan mengajaknya duduk di sofa.


"Kenapa? Katakan?"


"Gue udah tau siapa bokap gue, gue merasa di tipu sama semua orang!" jawab Ifraz dengan menundukkan kepala.


"Albiru, dia adalah ayah Pia, apakah aku dan Pia anak kembar, Pia ikut ayah dan aku ikut mamah?" batin Ifraz.



Pia Dinara.


Lalu, Ifraz merasakan lengannya digoyangkan oleh Zenia dan Zenia bertanya pada Ifraz soal ayahnya, gadis itu merasa penasaran siapa ayah Ifraz sebenarnya.


"Zen, boleh nggak gue tidur di sini?" tanya Ifraz.


"Kenapa enggak, lo boleh tidur di sini, mau di kamar gue juga boleh!" kata Zenia, gadis itu mengedipkan sebelah matanya tetapi Ifraz menganggap itu hanya gurauan dari Zenia.


"Genit!" kata Ifraz seraya menoyor kepala Zenia dan keduanya sama-sama tertawa.


"Gitu dong, ketawa, jangan nangis terus. Lo kan cowok!" kata Zenia, ia menatap Ifraz dan sekarang memeluknya dari samping.


Ifraz merasa hangat di peluk olehnya dan sekarang Ifraz meminta Zenia untuk tidur karena hari sudah sangat malam.


"Gue nggak bisa tidur, kalau udah kebangun jam segini," jawab Zenia, ia melihat jam di layar ponselnya, pukul 00.45 wib.


Gadis yang rambutnya di ikat itu menatap Ifraz dan sekarang menatap bibir manis Ifraz. Zenia mulai memajukan wajahnya mendekat Ifraz, ia mencium pria itu sampai sekarang gadis itu berada di atasnya.


Setelah beberapa saat, sekarang Ifraz melepaskan ciuman itu, ia takut akan kebablasan.


"Jangan seperti ini, rumah ini sangat sepi, gua takut!" kata Ifraz.

__ADS_1


"Takut apa? Sepi jadi aman dong, nggak ada yang melihat!"


"Itu dia, gue takut akan melakukan apa yang nggak boleh gue lakukan!" kata Ifraz, pria itu mendorong Zenia supaya bangun dari atasnya dan ternyata lututnya tak sengaja mengenai anu Ifraz.


"Astaga, Zen!" gerutu Ifraz.


"Sorry, gue nggak sengaja!" kata Zenia, gadis itu menutup mulutnya saat merasakan anu Ifraz bangun.


"Pergi sana, tidur!" kata Ifraz dan Zenia pun bangun lalu berlari ke kamarnya, sebelum benar-benar hilang dari pandangan Ifraz, Zenia mengatakan kalau Ifraz harus tidur di kamar tamu.


Zenia menunjukkan kamar tamu itu yang berada di bawah tangga.


Ifraz pun bangun dan berjalan mendekat ke kamar yang Zenia maksudkan.


"Selamat malam!" kata Zenia dan Ifraz membalas dengan senyum.


****


Di rumah Daniel, Maya ingin menjadi. bangunkan suaminya tetapi tidak jadi, ia takut mengganggu istirahatnya.


Lalu, Maya mengirim pesan pada Biru, menanyakan apakah Ifraz pergi ke sana dan ternyata tidak.


Maya cemas dengan itu, memikirkan Ifraz pergi kemana dan Biru mengatakan kalau Maya tidak usah cemas, biar ia yang akan mencari putranya.


"Terimakasih," jawab Maya


"Sudah kewajiban ku, sebagai ayah!" kata Biru, setelah itu Maya tidak membalas pesan itu lagi.


Sedangkan Biru, ia mulai menghubungi Ran, mengganggu Ran yang sedang memeluk Popy.


"Astaga, tengah malam, ada apa lagi ini!" batin Ran saat melihat ponselnya bergetar di atas nakas.


Ran segera mengambilnya dan keluar dari kamar, tidak ingin Popy terganggu.


"Iya, Tuan," kata Ran setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Ifraz pergi dari rumah, katakan di mana dia pergi?"


"Di kira gue dukun kali, ya!" batin Ran, tapi tenang, karena Ran sudah menyuruh kata-kata untuk tetap mengawasi pergerakan Ifraz.


"Sebentar, saya cek dulu!" kata Ran. pria itu memutuskan sambungan telepon dan membuka pesan dari anak buahnya yang mengatakan kalau Ifraz pergi ke rumah? Marisa.


Ran mengirim pesan pada Biru, mengatakan kalau Ifraz berada di sana.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa klik like dan di favoritkan, ya! Terimakasih 😇


__ADS_2