Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Bukan Cinta Palsu


__ADS_3

Ifraz membawa Pia ke tempat sepi, di sana Ifraz mengatakan kalau ia adalah kakaknya dan meminta pada Pia untuk berhenti di manfaatkan oleh Biru.


"Gue udah tau itu, tapi maksud lo dimanfaatkan itu apa?" tanya Pia, ia merasa kalau Ifraz sudah kelewatan.


"Lo sadar nggak? Kenapa dari kecil kita selalu bersama, dimana gue sekolah pasti lo masuk juga? Setiap gue sedih, gue nangis lo pasti ada! Itu semua rencana Biru, ini semua rencana dia buat bohongin gue, dia pura-pura jadi om yang selalu ada buat gue tapi apa, ternyata dia bokap kandung gue-''


Belum sempat Ifraz mengatai Biru lebih jauh lagi, Pia sudah menampar pipi Ifraz dengan sangat keras.


"Lo nggak akan ngerti rasanya di bohongi, makanya lo masih bisa marah saat gue bicara seperti itu, coba lo ada di posisi gue sebentar aja!" ucap Ifraz dan setelah mengatakan itu, ia pergi meninggalkan Pia, Pia yang menangis itu memilih untuk pulang.


Di sana, ia tidak menerima semua ucapan Ifraz yang mengatai Biru telah memperalatnya, walau terdengar memang kenyataanya seperti itu, tetapi Pia tetap tidak tega untuk mencurigai Biru yang telah merawatnya dari kecil.


"Ayah, apa benar kalau ayah memperalat ku?" lirih Pia, gadis itu tengkurab di ranjang, terisak dan tetap memilih untuk mempercayai ucapan ayahnya yang mengatakan kalau Pia harus lebih percaya pada Biru.


****


Setelah acara selesai, sekarang, Zenia


mengantar Ifraz untuk pulang.


Zenia tidak ikut masuk, ia masih di mobil dan melambaikan tangan pada Ifraz.


"Semoga secepatnya membaik!" kata Zenia dan Ifraz menganggukkan kepala.


Sekarang mobil Zenia sudah pergi dan Ifraz mulai melangkahkan kakinya masuk ke halaman rumah.


Ifraz melihat Maya terbujur kaku dan di kelilingi keluarganya dan beberapa tetangga yang sedang mengaji surah yasin untuk Maya.


Ifraz yang masih berdiri di pintu itu terpaku, diam dan tidak dapat berkata apa-apa lagi.


Ia menyesal telah menghukum ibunya,


"Ma-mah!" ucap Ifraz dengan terbata dan semua orang yang ada di ruangan itu menatap tajam pada Ifraz.


"Mamah!" teriak Ifraz dan Ifraz merasakan sesuatu menepuk pipinya dan ternyata Zenia yang menepuk pipinya.


Ifraz yang sedang berbaring di sofa kamar itu mengerjapkan mata dan segera memeluk Zenia, Ifraz menangis sesenggukkan, tidak ingin mimpi buruk itu terjadi.


"Zen, gue harus pulang!" kata Ifraz seraya melepaskan pelukan itu.

__ADS_1


Zenia pun menganggukkan kepala dan mendukung Ifraz.


"EMMUUUAAACH!" Ifraz mengecup kening Zenia dan Zenia pun merasakan cinta Ifraz yang semakin dalam begitu juga dengan Zenia yang semakin mencintai Ifraz.


Ifraz segera pulang diantar oleh sopir dan sesampainya di rumah, rumah itu terlihat sepi. Ifraz takut kalau mimpinya itu menjadi kenyataan.


Pria itu mulai membuka pagar rumahnya dan di sambut oleh satpam yang sedang berjaga.


Ifraz segera berjalan menuju pintu utama dan ternyata pintu itu tidak terkunci. Rumah yang sepi membuat Ifraz takut sesuatu sudah terjadi pada Maya, beruntung, rumah itu sepi karena memang semua penghuninya sudah tidur.


Ifraz berdiri di depan pintu kamar Maya, ingin mengetuknya tetapi ragu.


Ifraz berbalik badan dan ternyata ada Maya yang berdiri dibelakangnya.


Maya menatap penuh kerinduan pada Ifraz, matanya berkaca dan segera Maya memeluk anaknya itu.


Ifraz bernafas lega saat melihat Maya baik-baik saja. Pria muda itu membalas pelukan Maya dan sekarang Semua orang mendengar tangisan mereka.


Daniel dan Kania ikut berpelukan.


Apakah semua akan kembali normal?


****


Sementara Biru, ia semakin bingung dengan Pia yang semakin jadi pendiam. Pia menahan semua pertanyaan itu ada di dalam hatinya.


Pia merasa kalau yang diucapkan Ifraz adalah benar kalau Biru hanya memanfaatkan, ditambah Pia sudah mengetahui kalau dirinya adalah anak pungut.


Walau begitu, Pia tidak bisa marah pada Biru, pria yang ia cintai, yang ia anggap sebagai dewa dalam hidupnya.


Sekarang, Pia menangis di kamar, merindukan Biru dan ia sendiri tersiksa dengan perasaannya.


Lalu, Pia mendengar suara orang mengetuk pintu.


"Tumben, biasanya nggak di kunci!" kata Biru dalam hati. Ya, Biru lah yang mengetuk pintu itu.


Pia segera bangun untuk membuka pintu itu dan sekarang Biru melihat mata sembab Pia, Biru mengira kalau Pia menangis setelah acara perpisahan dengan teman-temannya.


"Ada apa?" tanya Biru dan Pia hanya menggelengkan kepala.

__ADS_1


Setelah mendengar pertanyaan itu, Pia semakin merasa sesak, menangis sesenggukan dan Biru akhirnya meminta pada Pia untuk menceritakan apa yang terjadi.


Pia pun tak kuat menahan apa yang dipendamnya.


"Ayah? Apakah selama ini ayah menggunakan Pia supaya bisa dekat dengan anak kandung ayah?" lirih Pia, ia bertanya dengan suara yang bergetar dan Biru membawa Pia ke dalam pelukan.


Biru mengusap lembut rambut Pia. "Inilah yang Ayah khawatirkan, Ayah takut kamu akan lebih percaya omongan orang. Dengar, Pia. Ayah menyayangi kamu seperti menyayangi anak kandung. Jangan pikirkan omongan orang, kamu harus tetap percaya sama ayah, kamu sudah mulai dewasa sekarang ayah punya sesuatu untuk kamu!" kata Biru dan Pia menganggukkan kepala.


"Sesuatu apa?" tanya Pia, gadis ayu itu mendongakkan kepala, menatap Biru yang memejamkan mata.


Setelah itu, Biru melepaskan pelukannya, memberikan kotak yang belum Pia ketahui isinya.


"Buka!" kata Biru dan Pia membukanya, ternyata itu adalah kunci.


"Kunci?" tanya Pia dan Biru menganggukkan kepala.


"Kamu sudah harus mulai belajar bertanggungjawab, itu kunci toko ayah, selama ini semua berjalan normal karena ada karyawan di toko itu, ayah sengaja menyiapkannya untuk kamu! Di sana lah dulu awal kita bertemu, besok kita akan ke sana!"


Pia pun menganggukkan kepala tidak lupa berterimakasih.


Biru memberikan senyum pada anak gadisnya dan sekarang Biru mengajak Pia untuk makan malam.


"Udah malam, Yah. Pia takut gendut, tapi Pia akan temani ayah makan, ayo!" ajak Pia seraya menggandeng lengan Biru.


Biru pun mengecup pucuk kepala Pia.


****


Di rumah Marisa, ia sedang menginterogasi Zenia.


"Benar kamu tidak mencintai dia? Ingat, Zen. Aku tidak akan memaafkan seorang pengkhianat!"


"Benar, Tan. Aku sudah melakukan semua yang tante minta, aku menganggap tante seperti tante ku sendiri, aku akan berbakti pada tante yang sudah mengangkat gembel ini menjadi putri," jawab Zenia dan Marisa merasa puas mendengar jawaban Zenia.


"Bagus, pertahankan itu!"


kata Marisa dan setelah mengatakan itu Marisa keluar dari kamar Zenia.


"Ifraz, maafin gue, kebaikan gue di mata lo itu semua cuma pura-pura, tapi yang harus lo tau, gue mulai mencintai lo dengan tulus!" kata Zenia dalam hati.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2