
Biru yang sedang berada di ruang kerjanya itu mendengar suara Pia dan Ifraz yang bergurau, terdengar kedua anaknya itu sedang bahagia.
Biru yang mendengar itu pun segera keluar dari ruang kerjanya.
Ternyata Pia sedang di kejar oleh Ifraz dan sekarang, Pia berlindung di balik badan Biru.
"Ayah, anak ayah suka nyubitin aku, sakit!" rengek Pia pada Biru seraya menunjukkan lengannya yang membiru karena di cubit oleh Ifraz.
"Dia dulu yang mulai, yah. Lihat!" ucap Ifraz seraya menunjukkan pinggangnya yang di cubit oleh Pia dan ternyata tidak ada bekasnya.
Sementara itu, Biru sedang senang karena Ifraz memanggilnya ayah.
"Sudah kalian jangan seperti Tom dan Jerry! Sekarang sudah malam, tidur lah anak-anak ayah!" kata Biru seraya menatap Pia dan Ifraz bergantian.
Sekarang, Pia berlari ke kamarnya, sementara Ifraz sudah tidak lagi mengejar, hanya memperhatikan Pia yang terus berlari.
"Pia akan ayah jodohkan!" kata Biru dan seketika itu membuat Ifraz sangat terkejut dan menjadi gugup di depan Biru
"Apa? Memangnya masih jaman dijodohkan?" tanya Ifraz, pria muda itu masih berdiri di tempatnya.
"Lihat saja nanti!" jawab Biru, setelah itu Biru menepuk bahu Ifraz yang berdiri tidak jauh darinya.
Ifraz merasa kalau pilihan ayahnya adalah yang terbaik untuk Pia.
"Dari pada sama Miko, mungkin akan lebih baik kalau Pia di jodohkan dengan yang lain!" batin Ifraz.
Pria muda itu menatap kepergian Biru yang masuk ke kamar.
Walau mencoba untuk menerima, Ifraz yang mendengar itu menjadi tidak tenang dan kembali memikirkan Pia.
Sekarang, Ifraz kembali ke kamar dan membersihkan badannya.
Ifraz mencoba untuk menidurkan dirinya tetapi selalu terngiang ucapan Biru yang akan menjodohkan Pia, Ifraz menjadi tidak tenang dan malam ini Ifraz yang tak dapat tidur itu memilih untuk membuat kopi, Ifraz bermain game online untuk mengalihkan pikirannya.
Tetapi, tetap saja gagal. Ifraz tidak dapat mengalihkan pikirannya.
Hanya Pia, Pia dan Pia.
"Aaaarrgggh!" geram Ifraz seraya melempar ponselnya ke ranjang.
Sementara Pia, gadis itu sangat kelelahan sehingga cepat untuk tidur, ditambah lagi Pia memang suka sekali tidur, masih seperti di awal cerita kalau Pia tidak akan tahan mengantuk kalau sudah bertemu dengan bantal.
****
__ADS_1
Keesokan harinya, sekarang pagi di meja makan, Biru dan anak-anak baru saja selesai menyantap sarapannya, masih berkumpul lalu Biru mengatakan kalau Pia akan dijodohkan. Biru jiga mengatakan kalau dirinya akan pergi untuk perjalanan bisnis ke luar negeri.
Biru meminta pada Ifraz untuk membantu pekerjaannya yang ada di Jakarta dan Ifraz mengiyakan tentunya di bawah bimbingan Ran yang Biru mintai untuk mengawasi perusahaannya yang ada di Jakarta.
Setelah mengatakan itu, Biru bangun dari duduknya meninggalkan anak-anak untuk berangkat ke kantor.
Ifraz dan Pia yang masih duduk di tempatnya itu saling menatap.
"Apa?" tanya Pia dengan galaknya.
"Lo mau dijodohin?" tanya Ifraz, ia masih terus menatap Pia yang ada di depan matanya.
"Kenapa? Lo cemburu?" tanya Pia balik.
"Ogah amat gue cemburu!" kata Ifraz seraya bangun dari duduknya, ia yang memang cemburu itu memilih untuk pergi dari pada tidak tahan harus melihat Pia yang akan segera menjadi milik orang lain.
Di tempat lain, Bram mengubur janin yang entah milik siapa, itu semua Bram lakukan supaya Marisa meyakininya.
Sedangkan Zenia, gadis itu menangis pilu, seolah kehilangan bayinya sungguhan.
Marisa yang ikut ke pemakaman itu mengacuhkan Zenia yang tidak lagi ada gunanya, Zenia duduk di kursi roda dengan terus menatap janin yang sedang dikubur.
Marisa pergi dari sana sebelum prosesi pemakaman selesai, Zenia merasa kalau rencananya telah berhasil, terlihat dari raut wajah Marisa yang nampak sangat kecewa.
Zenia merasa senang, begitu juga dengan Bram. Pria berbadan tegap dan penuh bulu yang menggoda itu berharap kalau rencananya akan berhasil.
Sekarang, setelah pemakaman itu selesai, Bram mengajak Zenia untuk pulang.
Sesampainya di apartemen, Bram meminta Zenia untuk memilih kartu undangan pernikahannya, tetapi Zenia meminta pada Bram untuk di lakukan secara sederhana saja.
Bram menatap Zenia yang ada di sampingnya, keduanya sedang duduk di sofa panjang.
Zenia yang ditatap itu pun menjadi gugup dan berdebar.
"Kenapa? Apa kamu malu menikah sama om?" tanya Bram dan Zenia menggelengkan kepala.
"Bukan seperti itu, kita lakukan secara sederhana, sah di mata negara dan agama," kata Zenia dan Bram pun tidak menolak.
"Kalau kita adakan pesta nanti tante akan curiga sedangkan aku baru saja keguguran, kita adakan sederhana saja yang penting sah dan ada saksi," kata Zenia dan Bram kembali setuju.
Sekarang, Bram yang sudah semakin tidak dapat menahan gejolak di dadanya itu memajukan wajahnya dan sekarang Bram mengecup bibir Zenia, awalnya kecupan kecil tetapi Zenia menyambutnya membuat Bram mengulangi dan mengulangi lagi, sekarang kecupan itu berubah menjadi ******* ganas.
Bram menahan kepala Zenia supaya tidak cepat melepaskan ciumannya itu.
__ADS_1
Tetapi, Zenia yang hampir kehabisan nafas itu mendorong dada Bram.
"Hosh... hosh... hosh...," Zenia menarik nafas dan setelah mendapatkan nafasnya kembali sekarang Bram mengulanginya dan kali ini tangan Bram tidak tinggal diam, tangannya bermain di area bukit kembar milik Zenia.
Zenia merasa tidak tahan lagi dengan apa yang Bram lakukan, begitu juga dengan Bram, tetapi Bram mengerti kalau Zenia sedang hamil.
Bram hanya sebatas melakukan itu saja dan sekarang Bram sudah melepaskan Zenia.
"Kita harus segera menikah!" kata Bram dan Zenia menganggukkan kepala. Gadis itu merasa malu dan sekarang masih tidak yakin tentang perasaannya pada Bram.
Entah perasaan nyaman atau suka, mau bilang cinta tetapi secepat itu.
Zenia akan menjalaninya dengan Bram selama itu membuatnya nyaman.
Sekarang Bram bangun dari duduknya dan masuk ke kamar, merasa tidak tahan melihat Zenia, Bram takut akan memangsanya sekarang juga.
"Sial!" gerutu Bram saat mendapati adik kecilnya mulai meronta di bawah sana.
Bram mulai menjinakkannya di kamar mandi.
****
Di toko, Pia menceritakan pada Miko kalau dirinya akan di jodohkan, tetapi entah dengan siapa Pia masih belum tau.
Miko yang mendengarnya semakin merasa kalau dirinya tidak lagi memiliki kesempatan untuk dekat dengan Pia.
"Pi, gue balik ya. Nanti kita ketemu di kampus!" kata Miko dan ternyata Miko tidak pulang, ia menemui Silvi di rumahnya.
Di sana, Miko menceritakan kalau Pia akan di jodohkan dan Silvi menceritakan betapa menyebalkannya Ifraz.
Setelah saling bercerita, sekarang Miko mengajak Silvi untuk berangkat bersama.
Di kampus.
Di kampus, Miko mulai menjaga jarak dengan Pia, tidak ingin lukanya semakin dalam dan Pia merasakan kalau ada yang berbeda dari Miko.
Bersambung.
Kira-kira beneran dijodohin nggak ya?
Yuk kita cari tau jawabannya di episode selanjutnya.
Jangan lupa like, komen dan difavoritkan, ya. Gift atau Vote juga, terimakasih bagi yang setia membaca dan atas dukungannya.
__ADS_1