Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Sedih


__ADS_3

"Baiklah, kalau begitu Mamah akan ikut mengantarkan kalian!" kata Imelda setelah mendengar jawaban dari Daniel.


Benar saja, selesai dengan sarapan, Imelda mengambil tas tangannya dan meminta izin pada Sukma untuk mengantar anak dan menantunya.


Sukma meminta maaf karena tidak bisa mengantar karena ada meeting dengan karyawannya. "Nanti pulang meeting papah akan menyusul!" kata Sukma.


"Terimakasih, pah," ucap Daniel, setelah itu Daniel membawa Maya ke mobilnya, Maya memilih untuk duduk di belakang, sementara Imelda di depan.


Tidak membutuhkan waktu lama, sekarang Daniel sudah membawa Maya ke rumah sederhana miliknya.


"Maaf ya, May. Rumah aku enggak sebesar rumah dia!" kata Daniel setelah membuka kunci rumah itu.


Maya tidak menjawab, karena memang Maya tidak mengukur kebahagiaan dari seberapa besar rumahnya.


Maya meminta izin pada Daniel untuk mengirim alamatnya tinggal pada Biru, supaya Biru bisa menjenguk anaknya.


"Boleh," kata Daniel, setelah itu Daniel membawa Maya ke kamar, menunjukkan isi rumah itu tersebut.


****


Biru yang sedang bekerja itu menerima pesan dari Maya.


Biru hanya bisa mendesah, masih terasa sakit di hatinya, masih berharap kalau Maya akan kembali ke pelukannya.


"Kenapa, Om?" tanya seorang gadis, ia pelanggan Biru.


"Nggak apa-apa," jawab Biru tanpa melihat gadis itu, Biru kembali fokus dengan mesin fotocopynya.


Sepanjang hari, Biru hanya diam, pria itu tidak mengerti hatinya yang merana, ia sudah meminta pada hatinya untuk baik-baik saja, tetapi tetap saja hatinya merasakan kegundahan.


Setiap sore, Biru menyempatkan diri untuk menemui Ifraz. Di sana, Maya tidak mengajak Biru masuk ke rumah, ia hanya mengizinkan Biru bermain di teras selama suaminya belum pulang bekerja.


Satu minggu berlalu, Maya menjalani kehidupan rumah tangga yang biasa saja, ia hanya dicintai tanpa mencintai Daniel.


Bahkan Maya merasa kalau dirinya sudah kejam pada suaminya. Dalam hati, Maya selalu meminta maaf pada Daniel karena cinta itu tak kunjung tumbuh untuknya.


"Dan, aku ada perlu sama Mamah Murni, boleh aku datang ke sana?" tanya Maya dan Daniel yang sedang memeriksa laporan dari anak buahnya itu menatap Maya.


"Biar aku antar!" kata Daniel seraya bangun dari duduknya.


"Kamu sepertinya lelah, kalau nggak bisa antar biar aku naik taksi saja!"


"Kenapa? Apa karena di sana ada mantan suami kamu?"

__ADS_1


"Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Maaf, May. Aku nggak suka dibantah!" jawab Daniel dan sebenarnya pria itu sedang kesal dengan Maya, sudah beberapa hari menikah, Maya masih belum kembali seperti Maya yang dulu ia kenal saat masih berpacaran.


Daniel ingin mendengar kata cinta dari Maya, tetapi pria itu tidak dapat memaksanya, hanya bisa memendam perasaannya.


"Maaf, May. Nggak ada niat jelek dari aku, aku cuma mau menjaga kamu!" kata Daniel seraya mengemudikan mobilnya.


Maya mengangguk mengerti, sudah seharusnya Daniel cemburu, itu tanda sayang, pikir Maya.


Setelah sampai di rumah Murni, ia di sambut hangat oleh mantan mertuanya, sekarang, Maya menitipkan Ifraz pada Daniel sedangkan Maya mengikuti Murni ke ruangannya.


"Ada apa, May?" tanya Murni seraya menutup pintu ruangan tersebut.


"Mah, aku merasa tidak enak," kata Maya.


"Kenapa tidak enak? Apa yang kamu bicarakan?" tanya Murni.


"Maya mau langsung ke intinya, Maya maaf, Maya takut mengecewakan mamah."


"Katakan, ada apa?" tanya Murni seraya meraih tangan Maya, keduanya duduk di sofa.


"Mah, Maya minta, mamah berhenti untuk menghukum Mas Biru, kembalikan jabatannya, lagi pula Ifraz masih kecil, lebih baik perusahaan kembali di pimpin oleh Mas Biru. Kalau pun perusahaan itu kelak akan menjadi milik cucu mamah, setidaknya biarkan anak mamah untuk menjadi walinya, bukan orang lain." Maya menatap mata Murni, memohon supaya Murni mengembalikan semua milik Biru.


"Akan mamah pikirkan," kata Murni.


"Sama-sama, kamu menang menantu terbaik mamah," kata Murni, setelah itu, Maya dan Murni berpelukan.


"Sekarang, Maya pamit, sudah malam, mamah jangan kurang istirahat!" kata Maya mengingatkan.


Murni pun menitikkan air mata, merasa sedih mengingat Maya bukan lagi menantunya.


"Mah, kenapa menangis?"


"Mamah rindu kalian, seperti dulu!"


"Mah, tolong jangan seperti itu, semua keadaan sudah berbeda, Maya yakin kalau nanti Mas Biru akan menemukan pengganti Maya, jauh lebih baik dari Maya."


"Kamu yang terbaik, May!" lirih Murni.


Wanita itu ingin meminta Maya untuk kembali bersama dengan anaknya, tetapi Murni tidak bisa mengatakan itu, Murni sadar kalau dirinya dulu memaksa kehendaknya lalu anaknya yang tak bisa menjaga amanah dirinya.


****

__ADS_1


Di rumah sakit, Marisa masih menangisi Bram.


"Bram, bangun Bram, mau sampai kapan lu terbaring tidur seperti ini! Hiks... hiks... hiks!" tangisnya seraya menjatuhkan kepalanya di lengan Bram.


"Maya, lu di mana? Lu harusnya di sini!" geram Marisa dalam hati, wanita itu sekarang sangat membenci Maya yang tidak menemani adiknya untuk berjuang.


"Bram, gua pergi dulu!" kata Marisa seraya bangun dan menghapus air matanya.


Marisa mengendarai mobilnya ke rumah Gala, di sana terlihat sepi.


Marisa turun dari mobilnya, memanggil nama Maya tetapi tidak ada jawaban.


"Hah!" geram Marisa, wanita itu merasa gerah memilih untuk mengikat rambut keritingnya. Wanita itu kembali mobilnya, menyulut rokok yang diapitnya.


"Lu nggak akan bahagia selama adik gua nggak bahagia, May!" ucap Marisa dalam hati.


****


Sementara Maya, ia yang baru saja keluar dari ruangan Murni melihat Daniel sedang memperhatikan foto Biru yang sedang menggendong Ifraz bayi di ruang keluarga, terlihat Maya duduk di kursi, foto terlihat sangat elegan dan mewah.


"Ayo kita pulang!" ajak Maya seraya mengusap lengan Daniel.


"Kami permisi, Tan," kata Daniel pada Murni dan Murni menganggukkan kepala, setelah kepergian Maya, Murni menangis di kamarnya. Melihat Maya pergi dengan pria lain selain anaknya.


Di sela-sela tangisnya, Murni meminta pada asistennya untuk membawa Biru kembali ke rumah.


"Baik." Setelah mengatakan itu asisten tersebut menyusul Biru ke toko tetapi toko sudah tutup karena hari sudah malam.


Asisten Murni mencari ke rumah Biru, ternyata Biru sedang duduk bersama tetangganya, ditemani kopi hitam dan rokok yang diapitnya.


Biru yang sedang bermain gaple itu melihat kehadiran orang suruhan Murni, segera Biru bangun dari duduknya, menghampiri wanita berbadan tegap itu.


"Ada apa?" tanya Biru.


"Tuan, anda diminta untuk pulang, Nyonya sudah menunggu!"


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba? Bagaimana dengan kesehatan Mamah?" tanya Biru, pria itu merasa khawatir dengan kesehatan Murni.


"Beliau baik-baik saja, kalau begitu saya permisi!" kata asisten Murni.


****


Biru kembali masuk, melihat Pia yang pulas tertidur, tidak tega untuk membawa Pia pergi malam-malam.

__ADS_1


"Besok aja aku ke rumah," gumam Biru.


Bersambung.


__ADS_2