
Setelah itu, Ifraz yang baru menutup pintu mobil Marisa di kejutkan oleh kedatangan pemilik mobil yang sudah berdiri di belakangnya.
"Terimakasih!" ucap Marisa, kemudian wanita itu masuk ke mobil, duduk di bangku kemudi, memasang sabuk pengaman, di perjalanan Marisa bertanya pada Bram.
"Lu tau siapa cowok tadi?"
Bram meggelengkan kepala.
"Dia Ifraz! Mantan calon anak tiri lu!"
"Astaga." Bram memijit pelipisnya.
"Lu liat, mereka hidup bahagia, nggak seharusnya lu tetap menderita seperti ini!" ucap Marisa seraya tetap fokus menyetir.
Sementara, Zenia. Ia mendengarkan semua pembicaraan Bram dan Marisa, mulai menangkap dan mengerti mengapa Marisa sangat membenci Ifraz dan keluarganya.
"Bodo amat, yang penting gue nggak hidup miskin lagi! Toh itu urusan pribadi mereka!" kata Zen dalam hati. Gadis itu memejamkan matanya.
****
Di rumah Daniel, Maya baru saja memeriksa kamar anak-anaknya, takut kalau mereka menyembunyikan sesuatu yang dapat merusak masa depan.
Di kamar Ifraz, dia hanya menemukan selembar foto gadis yang terlihat cantik dengan lesung pipinya, gadis itu adalah Zen.
"Cantik," puji Maya, "ok, kamu harus mengenalkannya sama mamah!" lanjutnya, Maya membawa foto itu untuk barang bukti.
Selesai dari kamar Ifraz sekarang ia masuk kamar Kania, dia sana ia menemukan boneka panda besar dan seingat Maya tidak ada anggota keluarganya yang memberikan bonekanya itu.
"Ken, ken. Masih kecil kamu sayang, mamah harap ini boneka persahabatan ya, sayang!" Maya kembali meletakkan boneka itu dan teringat kalau ia harus menjemput Kania pulang dari sekolah.
"Astaga, sampai lupa kalau aku harus menjemput Ken!" ucapnya.
Sekarang, Maya memesan taksi, setelah kecelakaan itu, Maya menjadi takut untuk mengendarai mobil lagi.
Tidak menunggu lama, sekarang taksi itu sudah datang dan Maya mengirim pesan pada Ifraz, mengatakan kalau dirinya tidak perlu menjemput Ken.
Selama perjalanan, Maya merasa seluruh badannya terasa sakit, membuat wanita itu ingin pergi untuk refleksi.
"Refleksi enak ini!" batin Maya seraya menyenderkan punggung ke bangku mobil.
Ia juga selalu mengingat Daniel, entah mengapa selalu terasa berat untuk mengatakan kata cinta sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Daniel.
"Maafkan aku, Dan!" batin Maya, wanita itu melihat ke kaca mobil, melewati sekolah SMA nya dulu.
Setelah beberapa menit, sekarang, Maya sudah sampai di sekolah Kania, Maya menunggu untuk beberapa saat setelah itu Kania yang baru saja keluar dari gerbang memanggil Maya.
"Mah!" seru Ken, ia merasa senang karena Maya yang menjemput, itu menandakan kalau Maya akan mengajak Ken untuk pergi.
"Kita refleksi mau, Ken?" tanya Maya setelah memeluk anak gadisnya.
Kania pun menganggukkan kepala.
__ADS_1
Sekarang Maya mengajak Kania untuk refleksi di tempat langganannya.
****
Sementara itu, Ifraz yang baru saja memasukkan bukunya ke dalam tas tak sengaja melihat selembar foto, ia mengenali wajah Maya dan bayi kecil itu.
"Ini foto di mana? Kok aku baru liat!" kata Ifraz dalam hati, pria itu pun kembali memasukkan foto itu kembali ke tas, ingin bertanya pada Maya.
Selesai dengan itu, sekarang Ifraz keluar dari kelas, berjalan beriringan dengan Pia dan Karena.
"Pi, gue nebeng ya!" kata Karena dan Pia tidak keberatan.
"Pi, hati-hati!" kata Ifraz yang baru saja masuk ke mobilnya.
"Siap!" jawab Pia.
Setelah itu, Ifraz segera memarkirkan mobilnya dan perlahan meninggalkan area sekolah.
Sesampainya di rumah, Ifraz langsung mencari makanan dan itu sudah tersedia di meja makan, selesai makan ia teringat dengan Zen.
Ifraz menghubungi gadis itu.
"Gue udah baikan kok!" kata Zen dari sambungan teleponnya.
"Ya udah, istirahat! Gue jenguk lo nanti malam, ya!" kata Ifraz.
Setelah itu, Ifraz memutuskan sambungan teleponnya.
****
"Nggak bisa, sampai kapanpun aku tidak boleh bicara!" kata Daniel, pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
Otaknya merasa terusik dengan Biru yang tak berhenti mengikuti Ifraz.
Siang berganti malam, sekarang Maya baru saja kembali bersama dengan Ken, baru saja Maya duduk, Ifraz sudah meminta izin untuk keluar, menjenguk temannya yang sakit dan Maya mengizinkan.
Baru saja Ifraz keluar, ia sudah kembali lagi untuk bertanya pada Maya.
"Mah, ini foto di mana? Kok Ifaz baru lihat?" tanya Ifraz seraya menunjukkan foto tersebut.
"Mana, sini coba mamah lihat?" kata Maya seraya mengulurkan tangannya dan menerima foto itu.
"Apa? Ini kan di Malang dan foto ini siapa yang mengambilnya?" batin Maya, ia berfikir kalau Biru lah yang mengambil foto itu secara diam-diam.
"Apa jangan-jangan dia?" batin Maya, wanita itu menatap kosong pada Foto tersebut.
"Mah?" Ifraz memanggilnya, membuyarkan lamunan Maya.
"Coba lihat?" kata Kania seraya merebut foto itu dari tangan Maya.
"Ini di mana, Mah? Terus Ken mana? Kok nggak ada?"
__ADS_1
"Kamu belum ada, Ken. Itu aja abang masih kecil!" jawab Maya.
"Mah, Ifraz mau lihat foto papah ada?" tanya Ifraz dan yang dimaksud adalah foto Daniel bersama dengan Ifraz waktu bayi.
"Foto itu hilang, Faz. Dan sekarang kamu harus menjenguk teman kamu yang sakit itu!" kata Maya.
"Ok, untung mamah ingetin!" kata Ifraz dan sekarang pria itu keluar mengendarai motor maticnya dan motor itu sudah lama tak ia kendarai karena mendapatkan mobil baru dari Daniel.
Tanpa Ifraz ketahui kalau ada kabel yang tergigit oleh hewan pengerat yang memutuskan rem motor tersebut.
****
Di rumah Marisa, wanita itu sedang mengajak Hafizah mengobrol dan Hafizah merasa tidak perlu berada di kubu Biru.
Wanita itu mengatakan yang sebenarnya pada Marisa semua setelah pertemuan itu dengan Ran.
"Tidak ku sangka! Lalu, tujuanmu apa datang kemari? Padahal aku masih lama membutuhkan kamu!"
"Awalnya aku berada di sisi Biru, dia berfikir kalau akan mudah mencaritahu apa yang kamu lakukan apabila ada penyusup yang datang kemari! Dia berfikir kalau aku memiliki motif yang sama dengan kamu yaitu dendam," kata Hafizah, mereka mengobrol santai di balkon kamar Marisa.
"Benarkah? Apa aku harus percaya?" tanya Marisa.
"Benar, aku ingin mereka hancur dan aku harus tau apa rencana mu, aku akan membantu!" kata Hafizah dan Marisa justru memelintir lengan Hafizah.
"Aaakh!" pekik Hafizah dan Marisa mengambil ponsel yang berada di saku Hafizah, ponsel itu terhubung dengan Ran.
"Kamu pikir aku bodoh!" ucap Marisa, wanita itu membanting ponsel Hafizah hingga remuk.
Setelah itu, Marisa menyeret Hafizah, menarik rambutnya membawanya keluar dari kamar.
"Dasar penyusup!" teriak Marisa, wanita itu melemparkan Hafizah hingga punggung wanita itu membentur meja yang berada di depan kamar.
Mengundang perhatian dari Zenia.
Zen keluar dari kamar dan melihat itu.
"Tante! Apa yang tante lakukan?"
"Diam kamu! Apakah kamu akan me jadi pengkhianat seperti ibu kamu?"
Zen terdiam, tidak menjawab itu.
"Diam, kalau kau tidak ingin dalam masalah!" ancam Marisa dan Hafizah berusaha mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri, namun, Marisa menjadi semakin geram padanya.
Bersambung.
Apa yang akan Marisa lakukan pada Hafizah?"
Jangan lupa klik like dan tap favorit nya ya, sampai jumpa di episode selanjutnya.
Terimakasih banyak bagi yang sudah mendukung 😇
__ADS_1