
Setelah Biru berangkat ke kantor sekarang Pia sendiri di rumah, sebelum membuka tokonya, Pia ingin bertemu dengan Karen dan sekarang Pia mengendarai mobilnya sendiri ke rumah sahabatnya itu.
Sesampainya di sana, Pia segera berteriak memanggil sahabatnya, mengira kalau orang tua Karena masih berada di luar Negri.
"Eh, Nak Pia, tumben pagi-pagi udah sampai sini, gimana kabar ayah kamu?" tanya wanita yang baru saja keluar dari kamarnya, wanita itu adalah Rose, Mami dari Karena.
"Eh, Tante, maaf Tan, pagi-pagi Pia udah berisik," kata Pia seraya menganggukkan kepala.
"Nggak papa, santai aja, oh iya tante ada oleh-oleh buat kamu," kata Rose, kemudian Rose kembali masuk dan mengambil oleh-oleh yang ia bawa dari Singapura.
"Makasih, Tante, Tante selalu ingat Pia," kata Pia seraya menerima paperbag yang diulurkan oleh Rose.
"Ya udah sana, Rena masih ada di kamar, malas banget dia buat bangun!" kata rose dan Pia segera berlari ke kamar Karena, benar saja, gadis itu masih berada di bawah di selimut.
"Rena, bangun, Ren!" kata Pia seraya menggoyangkan lengan sahabatnya itu.
''Emmm, apaan sih, ganggu aja, lagi enak-enak tidur juga!" kata Karena seraya menyingkirkan tangan Pia dari lengannya.
"Eh, ada Fazza!" seru Pia berhasil membangunkan Karena.
Ya, Fazza adalah cinta Karena dan sekarang keduanya menjalin kasih.
"Astaga, lo bikin gue kaget aja, mana ada Fazza di sini!" gerutu Karena seraya bangun dari tidurnya.
"Habisnya lo susah banget dibangunin!" gerutu Pia, gadis itu menarik selimut Karena dan menariknya agar cepat turun drai ranjang.
Karena menggerutu karena tidurnya diganggu oleh Pia.
"Gue gabut, Ren! Gue butuh temen, ayo bangun!" kata Pia dan Karena pun akhirnya bangun dan meminta pada Pia untuk menunggu dirinya mandi.
Tak berlama-lama dengan mandinya, sekarang Karena sudah keluar dari kamar mandi dan melihat Pia sedang bermain ponsel.
Setelah mengganti pakaiannya, sekarang Karena mengajak Pia untuk sarapan dan Pia hanya menemani saja karena sudah makan bersama dengan Biru.
"Habis ini kita mau kemana?" tanya Karena seraya mengunyah roti selainya.
"Kemana, gue pengen nyari buku, sekalian kita ngemall, yuk. Udah lama kita nggak jalan."
"OK!" jawab Karena dan setelah memakan roti, sekarang gadis berambut lurus sebahu itu meminum susu yang sudah disiapkan oleh bibi.
__ADS_1
Rena mengambil ponselnya yang tergeletak di meja makan, ia berniat menghubungi Fazza, memintanya untuk bertemu di mall dan belum sempat Karena mengirim pesan pada Fazza, Pia sudah menarik nafas dalam.
"Kenapa lagi?" tanya Karena pada Pia, melirik Pia yang bersedekap dada menundukkan kepala.
"Gue mau berdua aja sama lo, lo sekarang sibuk sama pacar lo, Ifraz menjauh dari gue, gue kesepian, Ren!" kata Pia, terlihat raut sedih di wajahnya.
"Astaga, gue lupa kalau gue punya sahabat, ya udah, sekarang kita jalan, Pia anak manis dan baik hati jangan menangis!" kata Rena dan Pia pun tersenyum pada Karena.
Di mall, Pia langsung menggandeng lengan Karena, membawanya ke sebuah toko buku. Di sana, Pia melihat Zenia yang sedang memilih buku, Pia menatap tajam gadis itu dan Karena pun ikut melihat ke arah mata Pia memandang.
"Pi, lo sekarang sebel banget ya sama dia, lo sih waktu awal dia masuk baik banget dan sekarang Ifraz diambil sama dia, kan!"
"Diem!" kata Pia dan karena pun langsung menutup mulutnya.
Pia meminta pada Karena untuk mengikutinya dulu, karena ada yang ia katakan pada Zenia.
Pia mulai berjalan meninggalkan Karena dan sekarang Pia sudah berdiri di samping Zenia.
"HM." Pia mulai mengeluarkan suaranya.
Zenia melihat ke sisi kanannya dan melihat itu adalah Pia.
"Gimana? Lo bahagia? Bahagia setelah menghancurkan kebahagiaan kami?'' tanya Pia dengan melirik Zenia.
Zenia pun melihat ke arah Pia.
''Kebahagiaan siapa yang gue rusak?'' tanya Zenia dengan dinginnya.
"Lo suka sama Ifraz? Seharusnya lo nggak usah berlindung di balik kata sahabat!" jawab Zenia, gadis itu mulai pergi meninggalkan Pia yang sepertinya hampir menangis.
"Kebahagiaan ayah gue! Dia jadi nggak bisa deket sama anaknya lagi!" batin Pia dan sekarang Zenia memilih membayar buku yang sudah dipilihnya, Pia terus memperhatikan Zenia dari tempatnya berdiri.
"Zen, gue benci sama lo, gue juga benci sama Ifraz!" batin Pia, lalu Pia mengerjapkan matanya saat merasakan bahunya di tepuk oleh Karena, Pia segera menghapus air matanya yang hampir jatuh.
"Udah, jangan lo deketin lagi dia!" kata Karena dan ia mengajak Pia untuk mencari baju.
Pia pun menganggukkan kepala dan sekarang Pia membayar buku yang dicarinya.
****
__ADS_1
Zenia masuk ke mobilnya, membanting pintu mobil itu dengan kesal, sekarang Zenia meminta pada sopirnya untuk segera pulang.
"Pia, lo pikir gue mau kaya gini?" batin Zenia. Ia memilih untuk memejamkan mata, sampai ponselnya berdering, Zenia merogoh ponsel itu yang ada di tasnya.
"Halo, kenapa, Tan?" tanya Zenia pada Marisa.
"datang ke kantor, ada yang harus kamu ambil!" kata Marisa dan Zenia pun menjawab iya.
Sesampainya di sana, Zenia segera berjalan masuk ke ruangan presdir.
"Ada apa, Tan?' tanya Zenia seraya menutup pintu ruangan itu.
Marisa menyuruh Zenia untuk duduk dan segera memberikan Zenia sebuah botol kecil.
"Apa ini, Tan?'' tanya Zenia seraya mengambilnya.
"Jangan berlama-lama lagi, lagi pula sepertinya dia sudah terlalu mencintai kamu!"
"Aku nggak ngerti, Tan!" jawab Zenia seraya menatap botol itu.
"Teteskan ini di minuman pacar kamu, kalian harus segera melakukan itu, lalu campakkan dia!"
"Kalaupun kami akan melakukannya, kami tidak membutuhkan ini, kami akan melakukannya, tante bersabarlah, aku juga sudah lelah!" jawab Zenia, setelah itu, Zenia bangun dari duduknya.
Ia meninggalkan botol pemberian dari Marisa lalu pergi dari sana. Zenia merasa sudah lelah terus menerus harus berbohong pada pada prang yang dicintainya.
Zenia yang baru saja masuk ke mobil kembali mendapatkan telepon dan kali ini dari Ifraz.
Zenia menerima panggilan itu dengan suara serak, menahan sedih karena permainannya harus segera berakhir. Menandakan kalau dirinya akan meninggalkan Ifraz.
Mendengar itu Ifraz bertanya padanya dan Zenia mengatakan kalau ia tidak dapat berbicara di telepon. Zenia meminta pada Ifraz untuk menemui nanti malam di rumah Marisa.
Lalu, Zenia mengirim pesan pada Marisa untuk pulang telat dan Marisa pun mengiyakannya.
Berhasilkah rencana Zenia?
Bersambung. Terimakasih bagi yang sudah membaca, like, komen dan gift/votenya.
Sampai jumpa lagi di episode selanjutnya.
__ADS_1