Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
DIMISKINKAN!


__ADS_3

Biru membuka dan membanting pintu ruangan Ran. Pria itu yang masih berdiri di pintu meneriakinya.


"Apa yang kamu kerjakan, bodoh!" Biru masuk dan menarik kerah kemeja Ran yang terkejut dengan kedatangan Biru.


BUGH!


Biru meninju pipi Ran, pria itu sama sekali tidak melawan!


Huh!


Biru menarik nafas kasar, lalu pria itu melepaskan dengan mendorong Ran, ia meminta Ran untuk memanggil kuasa hukumnya.


"Bawa Dio ke ruangan ku! Cepat!" Setelah mengatakan itu Biru berjalan dengan cepat ke ruangannya.


Biru menunggu dengan gelisah di sana.


Tidak lama kemudian Ran dan Dio sekarang sudah berada di ruangan Biru.


"Siapa dari kalian yang berkhianat?" teriak Biru menatap tajam pada dua orang kepercayaannya itu.


Diam...


Mereka hanya diam, karena mereka lebih menuruti perintah Murni dari pada Biru.


"Di mana surat undangan untukku?" teriak Biru seraya menggebrak mejanya.


"Saya yang menerima surat undangan itu, Tuan," jawab Ran, pria itu menundukkan kepala.


PLAK!


Biru melempar foto pernikahannya pada Ran tepat mengenai kepalanya membuat dahi Ran sedikit tergores terkena pecahan kaca itu.


"Sialan! Siapa yang telah menyuruhmu berbuat begitu pada ku?" teriak Biru, pria itu mendekati Ran, Biru kembali menarik kerah kemeja dan hampir meninjunya kalau Murni dan Maya tidak cepat datang.


"Saya yang menyuruh mereka! Mau apa kamu?"


Semua orang melihat kearah pintu, terlihat Murni dan Maya berada di belakangnya.


"Kenapa, Mah? Kenapa mamah menghancurkan hidup anak sendiri?" tanya Biru seraya melepaskan Ran dengan kasar.


"Jangan pernah lupakan ini! Kamu pernah menandatangani ini! Setelah bercerai dari Maya kamu harus pergi dari sini!" ucap Murni dengan tegas.


"Kapan Biru menceraikan wanita pilihan mamah ini? Bahkan Biru tidak pernah tau kalau kalian menyiapkan ini di belakangku!"


Biru terlihat tak berdaya dan tak percaya kalau Murni benar-benar tega melakukan ini.

__ADS_1


"Dengar, kalian sudah resmi bercerai di pengadilan agama, sekarang kamu harus pergi dan meninggalkan perusahaan ini!"


"Aku tidak akan pernah menandatangani akta cerai itu!" ucap Biru.


"Terserah, mamah sudah mendapatkan akta cerai itu melalui kuasa hukum kamu!"


DEG!


Biru merasa sakit tapi tak berdarah, merasa semua orang telah menikam dirinya.


Biru keluar dari ruangannya itu lalu kembali lagi menarik dasi Ran tetapi kali ini Ran tidak tinggal diam.


Pria itu melepaskan tangan Biru dari dasinya. "Kamu kerja pada siapa? Aku Tuan mu kalau aku tidak di sini berarti kamu juga tidak di sini, kamu ikut aku!"


"Maaf, saya bekerja untuk Wijaya bukan untuk Tuan!" jawab Ran, pria itu masih sedikit menghormati Biru dengan tetap menundukkan kepala.


Mendengar itu membuat Biru seketika membenci Murni dan Maya.


Lalu, Biru yang merasa gerah itu mulai mengendorkan dasinya, pergi meninggalkan perusahaan itu. Sekarang, pria itu ingin membawa Ifraz pergi dari Maya dan Murni.


"Kalian tidak akan menemukan Ifraz, tidak akan melihatnya lagi!" gumam Biru seraya menyetir mobilnya.


Sesampainya di rumah, Biru segera berlari mencari Ifraz di kamarnya sayangnya pria itu tidak dapat menemukan yang dicari.


"Nia! Susi!" teriak Biru yang berdiri di berkacak pinggang di ruang tengah.


"Di mana Ifraz?" tanyanya, pria itu merasa frustasi.


"Maaf... Tuan. Kami tidak mengetahuinya," jawab Susi dan Nia.


Tidak lama kemudian Biru mendengar suara benda dan benda itu adalah koper yang terjatuh dari tangga. Ternyata koper itu adalah miliknya yang dengan sengaja di jatuhkan oleh orang suruhan Murni untuk mengusir Biru.


"Siapa kamu?" sergah Biru pada pria berotot yang berdiri di lantai atas menatapnya tajam.


Sedangkan Nia dan Susi kembali pergi ke belakang, mereka tidak sanggup menyaksikan Biru yang di seret oleh dua pria itu.


Biru ditendang keluar dari istananya.


Pria itu mencoba untuk tenang, sekarang yang ada di pikirannya adalah membujuk Murni.


Biru membawa kopernya masuk ke mobil dan segera mengendarainya ke rumah Murni. Sesampainya di sana Biru menunggu sedikit lama, pria itu duduk di ruang di tamu dengan menyangga dagunya.


****


Sementara itu, di kantor. Murni sedang menggelar rapat, menunjuk seseorang untuk menggantikan posisi Biru untuk sementara, sampai cucunya itu cukup umur.

__ADS_1


Orang yang ditunjuk Murni adalah Ran. Putra dari tangan kanan almarhum suaminya.


Selesai dengan itu, Murni mengantar Maya untuk pulang ke rumahnya.


"Maya, Maafkan mamah. Mamah melakukan ini demi keamanan anak kamu, cucu mamah!" kata Murni yang sedang menggenggam erat tangan Maya, mereka masih berada di mobil.


"Iya, Mah. Maya percaya. Tapi Maya mau sesering mungkin untuk menemui anak Maya, Mah."


"Tentu, nanti kita urus itu bersama, ya!" jawab Murni seraya membelai wajah Maya.


"Lisna, aku sudah melakukan tugasku sebagai orang tua, maafkan aku sudah membuat putrimu menderita," lirih Murni dalam hati.


"Ya sudah, ayo... mamah masuk dulu!" ajak Maya seraya membuka pintu mobil.


"Tidak, Maya. Masih banyak yang harus mamah urus. Mamah yakin kalau Biru sudah berada di rumah," jawab Murni, wanita itu sangat mengetahui watak anaknya.


"Baik, mamah hati-hati di jalan."


Murni menjawab dengan menganggukkan kepala.


Setelah itu, Murni meminta pada sopir untuk segera pulang ke rumahnya.


Rupanya bukan hanya Biru yang berada di sana tetapi Lisa dan juga anaknya.


Murni yang baru saja masuk itu sudah langsung disambut oleh Biru, pria itu merengek pada Murni.


"Mah... kenapa, Mah? Anak mamah itu aku, bukan Maya atau siapapun, aku anak tunggal mamah!" Biru Berbicara seraya terus mengikuti Murni yang terus melangkahkan kaki masuk ke dalam sampai ke ruang keluarga.


Lalu, Biru menghentikan langkah kakinya saat mendengar Lisa menyebut nama Ran sebagai presdir baru.


"Kak, kenapa harus Ran, sedangkan ada anak aku, dia lebih berhak atas jabatan itu!" protes Lisa berhasil membuat Murni ikut menghentikan langkah kakinya.


"Karena saya lebih percaya pada Ran!" jawab Murni dengan tegas, padat dan jelas.


Setelah itu, Murni melanjutkan langkah kakinya, tetapi... baru saja kakinya naik satu anak tangga wanita itu sudah kembali menghentikan langkah kakinya.


"Saya tidak mau kamu ada di sini, kamu harus menerima hukuman mu! Sesuai dengan apa yang pernah saya katakan!" ucap Murni tanpa melihat kearah putranya.


Setelah mengatakan itu, Murni kembali melanjutkan langkah kakinya.


"Maafkan mamah, Biru. Mamah tidak pernah main-main dengan ucapan!" batin Murni.


Walau begitu, tetap saja. Hatinya sebagai ibu tetap merasakan kesedihan yang dalam saat melihat anaknya hancur di tangannya sendiri.


"Tidak, bukan aku yang menghancurkannya, tetapi perilaku dan pilihannya!" batin Murni, wanita itu mengusap air matanya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2