Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Kembali?


__ADS_3

Hafizah meminta Bambang untuk menyembunyikan hal tersebut dari Biru, meminta dengan memohon agar Bambang menurutinya.


''Tapi, Nak. Lebih baik kamu katakan yang sejujurnya. Kalau benar dia mencintai kamu, dia tidak akan meninggalkan kamu!!'' tutur Bambang, pria itu merasa sedih melihat putrinya menangis.


''Afi takut, waktu itu dia bilang karena anak yang membuat dia kembali pada Afi , Ayah!" kata Afi seraya menggoyangkan lengan Bambang.


''afi udah terlanjur cinta sama Mas Biru, Yah! Afi mau Mas Biru tetap ada buat Afi, lagi pula setelah menikah, keluarga kita menjadi berkecukupan. Yang perlu ayah lakukan hanya mendukung Afi dan menutup mulut ayah. Afi yakin bisa hamil lagi!''


Mendengar itu Bambang merasa kalau putrinya tidak lagi bisa dinasehati. Pria itu menundukkan kepala.


''Ponsel Afi mana, Yah?'' tanya Hafizah seraya mencari-cari keberadaan tasnya.


Bambang pun memberikan tas Hafizah.


Segera Hafizah mengambil ponselnya dan memeriksa pesan masuk.


''Maaf untuk beberapa hari aku tidak bisa datang!'' Hafizah membaca isi pesan dari suaminya, Hafizah merasa senang karena dengan begitu dirinya bisa memulihkan fisiknya lebih dulu.


****


Maya berada di depan kamar Gala, mengetuk pintu itu. 'Gal!''


Mendengar itu Gala pun yang sudah tertidur segera membuka mata, turun dari ranjang dan membuka pintu, Gala terkejut melihat Maya yang berambut pendek.


'''Mbak potong rambut?''


''Iya, Gala. Mba mau bicara penting sama kamu.''


Gala pun menarik kursi roda Maya masuk ke kamarnya, Gala duduk di tepi ranjang dan mendengarkan apa yang ingin Maya sampaikan.


''Mbak udah putuskan kalau akan kembali ke rumah itu. Mbak mau kamu tidak melarang.''


Gala geram mendengar itu. Merasa kalau Maya sudah terpancing oleh Biru.


''Gala yakin kok kalau dia cuma mengancam! Mba jangan mau diancam!''


''Mbak merasa kalau dia tidak akan menceraikan mbak. Kamu tau kan kalau dia kaya, dia punya uang bisa melakukan segalanya. Mbak nggak bisa tanpa Ifraz, Gal! Mbak mau kamu harus percaya sama mbak!'' Setelah mengatakan itu Maya keluar dari kamar Gala sedangkan Gala menatap tidak percaya pada kakaknya.


''Lu bodoh apa gimana sih mba?'' gerutu Gala, pria itu masih duduk di tepi ranjangnya.


****


''Ea... ea... ea!'' suara Ifraz menangis membuat Biru tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


Biru yang sedang duduk di sofa pajang itu segera bangun dan menimang Ifraz.


''Kenapa? Anak papah rindu mamah, ya?'' tanya Biru dan Ifraz semakin kencang menangis.


Biru membangunkan Susi, pria itu menanyakan kenapa anaknya menangis dan Susi membuatkan susu untu Ifraz, Susi juga menggantikan popok bayi itu.


Setelah sudah semua, sekarang Ifraz sudah kembali tenang.


''Kamu sabar ya sayang, papah yakin kalau besok mamah kamu udah ada di sini.''


****


Sementara itu, di kafe. Bram mendapat tawaran pekerjaan tetapi dirinya menolak karena selalu memikirkan Biru yang belakangan ini mengusik ketenangannya.


''Gue libur dulu!'' jawab Bram.


''Yakin? Cantik loh! Tajir lagi!'' bujuk teman Bram. Bram pun mengiyakan tawaran itu dan segera menemui kliennya, Pria Itu mengajak kliennya untuk pergi makan lebih dulu.


''Kenapa lo butuh gua?'' tanya Bram pada wanita yang berada di depannya.


''Suami gua impo*ten, sedangkan gua cewek normal! Gua akan bayar mahal buat cowok setampan lu kalau bisa bikin gua puas!''


''Ok. Setelah itu tidak lupa Bram membeli pengaman dan membawa wanita itu ke hotel. Di sana Bram menunjukkan kegagahannya sekaligus melampiaskan amarahnya.


Tentu saja apa yang Bram lakukan malam ini membuat wanita itu merasakan nikmat dan tak berdaya, tetapi seolah tak ingin berhenti membuta Bram melayani berkali-kali wanita itu.


''Gua akan menambah uang ini kalau lu mau kasih nomor telepon lu!'' ucap wanita itu yang sekarang sudah mengenakan lingerie.


''Maaf. Gua tidak menerima job untuk kedua kalinya, setiap malam gua tidur sama cewek berbeda. Gua nggak mau ada ikatan.'' Setelah itu Bram mengambil uang tersebut lalu pergi meninggalkan wanita itu yang masih penasaran dengan Bram.


''Meresahkan!'' ucap wanita itu seraya menggigit bibir bawahnya lalau wanita itu menjatuhkan dirinya di ranjang dan berniat akan mencari lelaki itu lagi.


****


Keesokan harinya. Maya sudah berada di depan pintu rumah Biru, pria itu menyambut istrinya tanpa memperdulikan Gala yang berada di belakang Maya.


Tetapi ada raut kecewa dari Biru saat melihat Maya berambut pendek.


''Kenapa, May?'' tanya Biru seraya menyentuh rambut Maya.


''Tidak apa-apa!'' jawab Maya singkat.


Lalu Maya berteriak memanggil nama anaknya.

__ADS_1


''Ifraz, mamah pulang, Nak!'' teriak Maya dan segera Susi keluar dari kamar Biru membopong Ifraz memberikan bayi itu yang sudah dikawal oleh dua pengawal.


''Sudah ku duga,'' batin Maya saat melihat dua orang berbadan tegap, tinggi dan besar.


Setelah itu, Biru mengajak Maya untuk sarapan bersama.


''May. Nanti kita ke rumah mamah, ya. Sudah lama kita enggak ke sana.''


Maya menjawab dengan anggukan, lalu Maya mengatakan kalau dirinya kembali untuk Ifraz dan Murni.


Benar saja setelah sarapan Biru mengajak Maya untuk mengunjungi orang tuanya di hari libur ini.


''Terimakasih,'' ucap Biru, lelaki itu melirik istrinya dan tersenyum.


Sementara Maya merasa heran dengan Biru yang sama sekali tidak mempermasalahkan rambutnya yang ia potong pendek,


''Aku kira kamu akan jengkel!'' batin Maya.


Sesampainya di rumah Murni, ternyata rumah itu sudah ramai, ya banyak tamu berada di sana setelah mendengar kesehatan Murni yang menurun.


''Maya!'' seru Murni saat melihat Maya yang membopong Ifraz dan Biru yang mendorong kursi rodanya. Murni merasa senang melihat Maya dan Ifraz mengunjunginya, terlebih lagi seperti sudah membaik hubungannya antara Biru dan Maya.


Ya, tidak bisa dipungkiri kalau Murni tidak ingin melihat anaknya bercerai dari menantu pilihannya.


Murni menitikkan air matanya.


Sementara itu, ada Lisa adik Murni yang tidak menyukai Biru, tepatnya tidak menyukai Biru menjabat sebagai direktur utama.


''Halo ponakan tante!'' sapa Lisa berpura-pura menyukai Biru dan Maya.


Biru menganggukkan kepala begitu juga dengan Maya.


''Untung saja wanita ular ini tidak mengetahui kemelut rumah tanggaku, kalau tau dia pasti akan menggunakan cara itu untuk menggantikan posisiku dengan anaknya yang bodoh itu!'' batin Biru, pria itu memilih untuk membawa anak dan istrinya ke kamar tidak mau bergabung dengan kerabat yang sama sekali tidak disukainya.


****


Sementara Hafizah, wanita itu masih menangis dan sedang memikirkan cara baru untuk membuat Biru tetap berada di sisinya.


Bambang melihat Hafizah yang seperti melamun, membuat pria sedikit buncit itu memanggil lirih anaknya.


''Nak. Kamu harus makan dulu!'' lirih Bambang seraya memberikan bubur tetapi Hafizah masih diam.


Bersambung.

__ADS_1


Pembaca tercinta, jangan lupa tinggalkan like setelah membaca, klik Favorit supaya tidak tertinggal update terbarunya.


Sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2