Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Bahagia


__ADS_3

Ifraz memaksa Pia dan sekarang Ifraz mengajak Pia untuk ikut bersamanya. Ifraz menyeet Pia sampai ke depan rumah.


"Gua ada janji sama Miko!" kata Pia seraya mengibaskan tangan Ifraz tepat di depan mata Miko yang sedang menatapnya.


Ifraz pun menatap sebal pada Miko dan sekarang pria itu mengatakan kalau akan terus mengikuti adiknya.


"Gue nggak akan rela adik gue pacaran sama yang bukan pilihan gue!" kata Ifraz yang terlihat sangat cemburu.


Pia menatap sebal pada Ifraz dan kali ini Pia memilih untuk berangkat sendiri.


Gadis yang sudah rapih itu pergi meninggalkan Ifraz dan Miko yang masih saling menatap.


Setelah kepergian Pia, Miko mengatakan sesuatu pada Ifraz, "Dengar, kalau lo bikin dia nangis atau bikin dia sakit gue nggak akan tinggal diam!"


Setelah mengatakan itu, sekarang Miko pergi dari hadapan Ifraz da Ifraz menghentikan langkahnya.


"Gue abangnya, kenapa gue harus bikin dia sakit hati, gue bakal jaga dia dari buaya macam lo!" kata Ifraz dan Miko yang menghentikan langkah kakinya itu mengatai Ifraz tol*ol.


"Dasar tol*ol, dia bukan adik lo!" kata Miko dan setelah mengatakan itu Miko benar-benar pergi dari hadapan Ifraz yang masih belum dapat mencerna ucapan Miko dengan baik.


Setelah itu Ifraz pun segera pergi karena ada kelas pagi dan Ifraz tidak membawa kendaraannya, ia memesan taksi dan setelah kuliah ia akan pergi ke kampus Pia untuk menyusul gadis itu.


Benar saja, setelah jam kuliah selesai, sekarang Ifraz yang selalu memikirkan Miko dan Pia itu segera menyusul.


Sesampainya di sana, Ifraz melihat Pia dan Silvi yang sedang duduk bersantai di bawah pohon dengan memangku laptop masing-masing.


Ifraz menghampirinya dan seketika membuat Silvi tak dapat berhenti menatap Ifraz yang terlihat sangat tampan di depan Silvi.


Tetapi Ifraz tak menghiraukan Silvi, yang ada di kepalanya saat ini adalah Pia dan Miko, Ifraz pun merasa sebal pada dua manusia itu karena selalu berhasil mengganggu pikirannya.


"Ngapain lo?" ketus Pia dan Ifraz menjawab kalau menjemput dirinya,


"Gue berangkat sendiri jadi pulang sendiri, lagian kan lo bawa kendaraan sendiri, gimana sih, aneh!" Pia masih terlihat sebal pada Ifraz yang sampai sekarang tida peka itu.


"Gue sengaja nggak bawa kendaraan, biar gue yang nyetir mobil lo!" kata Ifraz yang sudah ikut duduk lesehan di bawah bawah pohon.


Ifraz mencari kunci mobil yang ternyata ada di dalam tas Pia. Ifraz mengambilnya dan mengajak Pia pulang.


Pia menjawab kalau dirinya masih ada kelas, sekarang Pia mengajak Silvi untuk bangun dan kembali ke kelas.


Silvi yang mengikuti langkah Pia itu merasa bingung dan menarik lengan Pia, dua gadis itu mengehentikan langkah kakinya.

__ADS_1


"Kan jam kelas lagi nanti sore, gue mau balik aja, mumpung ada abang lo gue nebeng ya, gue pengen pedekate!" kata Silvi dan Pia melarangnya secara halus.


"Percuma lo deketin es balok, nggak akan bisa, mending lo cari cogan yang lain, yang nggak nyebelin, yang nggak nggak rese kaya dia."


"Biar rese gue suka sama dia, tolonglah Pia, restui kami ya," rengek Silvi dan benar saja Pia akhirnya pun mengiyakan, berfikir siapa tau kalau Silvi adalah jodoh Ifraz.


"Makin susah lo gue kejar!" kata Pia dalam hati, ia mendengus sebal dan membenci dirinya sendiri karena memiliki perasaan yang dalam untuk Ifraz.


Sekarang Pia dan Silvi sudah ada di parkiran, Silvi meminta untuk duduk di depan supaya bisa dekat dengan Ifraz dan Pia hanya mengiyakan.


Ifraz menatap dua gadis yang sekarang masuk ke mobil dan menanyakan jam kelas yang mereka tadi katakan.


"Nggak jadi," jawab Pia yang duduk di belakang, sementara itu Silvi selalu mencuri pandang pada Ifraz.


Ifraz menyadari itu dan sekarang bertanya pada Silvi.


"Lo ngapain?"


"Mau ikut pulang," jawab Silvi dengan sedikit gugup.


"Nggak ada, lo turun sekarang!" kata Ifraz dengan dinginnya.


Silvi yang terlanjur malu itu memilih untuk turun dari mobil dan pergi meninggalkan Pia juga Ifraz.


Silvi terus berjalan cepat tanpa menghiraukan Pia yang terus memanggil namanya.


"Setelah itu, Ifraz meminta pada Pia untuk pindah ke depan tetapi Pia menolak.


Tidak menunggu lama sekarang Ifraz sudah melajukan mobilnya, namun, bukan ke toko melainkan ke rumah Maya.


Pia pun merasa senang karena akhirnya bisa bertemu dengan Maya, wanita yang selalu dipuja oleh ayahnya.


Begitu juga dengan Maya, ia merasa senang karena akhirnya bisa dekat lagi dengan orang-orang masalalunya.


Maya menyambut kedatangan Pia dan Ifraz, sekarang semuanya berkumpul di ruang tengah, Maya juga membuatkan jus buah untuk Ifraz dan Pia.


"Maaf, Tante. Pia jadi ngerepotin," kata Pia dan Maya menjawab merasa senang telah direpotkan oleh Pia.


Setelah itu, Maya melihat jam dinding dan sebentar lagi Kania harus di jemput.


"Bang, mumpung kamu di rumah, jemput adik kamu sana!" kata Maya dan Ifraz pun menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Lo tunggu di sini, ya! Tenang aja, Mamah orangnya baik kok, jangan takut!" kata Ifraz dan Pia hanya menatapnya.


Setelah kepergian Ifraz, sekarang Maya menceritakan sedikit masalalu Pia yang dulu di kejar oleh Ifraz karena Ifraz sangat gemas dengan rambut Pia.


"Wah, berarti kami udah dekat dari bayi ya, tan?" tanya Pia dan Maya pun mulai membuka album lama, terlihat Pia dan Ifraz bermain di mall bersama, bermain di rumah Gala.


Bukannya memperhatikan foto yang sedang ditunjukkan oleh Maya tetapi Pia justru menatap Maya, wanita yang lembut dan penuh kasih sayang.


Maya menyadari itu dan menatap Pia yang sedang terpesona olehnya.


"Ehm!" Maya membuyarkan lamunan Pia.


"Kenapa, sayang?" tanya Maya seraya mengusap pipi Pia.


Seketika Pia merasakan belaian lembut yang selama ini ingin ia rasakan, Pia pun menjadi sedih dan merindukan ibunya.


"Kenapa? Ada yang salah? Katakan sama Tante, Tante akan mendengarkan!" Kata Maya yang masih membelai lembut Pia.


"Boleh Pia memeluk tante?" tanya Pia seraya menatap sendu Maya.


"Kenapa nggak boleh, sini tante peluk!" kata Maya seraya membuka tangannya.


Pia masuk ke pelukan itu dan menangis bahagia, berfikir kalau Maya adalah ibunya sudah pasti ia tidak akan kurang kasih sayang.


Maya dapat mengerti perasaan Pia dengan latar belakang Pia yang hanya dibesarkan oleh orang tua tunggal itu pasti merindukan sosok ibu.


****


Di sekolah Kania, gadis kecil itu merasa senang karena Ifraz menjemputnya. Kania melihat mobil Ifraz terlihat baru dan mengira kalau mobil Pia adalah mobilnya.


"Cie, anak sultan mah bebas ya, bang?" tanya Kania dan Ifraz mengusap pucuk kepala Kania.


Terlihat mobil yang Ifraz bawa adalah mobil mewah tidak seperti mobil yang dibelikan oleh Daniel.


Ifraz mengatakan kalau mobil itu adalah milik Pia bukan miliknya. Karena sekarang Ifraz lebih suka mengendarai motor yang dibelikan oleh Maya.


Bersambung.


Pembaca yang baik, jangan lupa klik like, komen dan difavoritkan, ya.


sampai jumpa di episode selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2