
Ifraz melihat air mata Pia yang menetes membuat Ifraz tersadar dengan apa yang dilakukan, Ifraz segera melepaskan Pia, ia juga tidak akan mungkin tega melakukan itu pada Pia yang ia kira adalah adiknya sendiri.
Pia masih menangis karena itu adalah ciuman pertamanya yang telah direnggut paksa oleh Ifraz, sekarang Ifraz sudah berdiri di pintu, membukanya dan menyuruh Pia yang masih berbaring di ranjang itu untuk keluar.
"Keluar!" kata Ifraz tanpa melihat Pia dan Pia pun segera bangun, ia berlari keluar dan segera masuk ke kamar.
Di kamar, Pia mengusap bibirnya yang masih merasakan sentuhan bibir Ifraz.
"Aaa, nyebelin!" teriak Pia seraya mengacak rambutnya.
****
Keesokan harinya, Pia dan Ifraz tidak saling menyapa, tetapi kali ini, Ifraz mengantarkan Pia kuliah, sebagai tanda maaf darinya, Pia menolak dan segera menyambar tas miliknya.
Pia berangkat sendiri dan sebelum itu ia harus ke toko. Di sana sudah Miko yang sedang menunggu Pia.
"Gimana, sehat?" tanya Miko yang bangun dari duduknya.
Pia menganggukkan kepala.
Miko juga bertanya, "Gimana, kapok nggak naik gunung?"
"Nggak dong, itu pengalaman pertama gue, nanti ajak lagi ya, kalau mendaki lagi!" kata Pia, ia duduk di bangku panjang yang tersedia dan terlihat toko sangat ramai pengunjung.
"Siap, tapi pengawal lo gimana? Ikut juga?"
"Pengawal?" tanya Pia tak mengerti maksud Miko.
"Ifraz, itu loh, udah kaya pengawal!"
"Ooh, dia. Iya emang nyebelin dia!" kata Pia, gadis itu masih sebal karena kejadian kemarin.
"Tapi... lo suka, kan?" tanya Miko yang sedang mencaritahu tentang perasaan Pia dan benar saja, Pia menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan.
"Gimana, ya. Dia susah digapai, gue udah lama nunggu dia!" jawab Pia dan tentunya itu membuat Miko terkejut.
"Jadi bener, lo suka sama abang lo sendiri?" tanya Miko seraya menatap Pia yang menundukkan kepala.
"Ya, gimana. Namanya cinta kan nggak tau bakal buat siapa, kalau tau cinta mau kemana dan menurut kita nggak tepat pasti bisa di cegah!" kata Pia.
"Pi, dia abang lo!" ucap Miko mencoba mengingatkan dan Pia justru tertawa mendengar itu.
"Kok lo ketawa, sih?"
"Dia bukan abang kandung gue, gue cuma anak angkat ayahnya dia!" lirih Pia dan sekarang terlihat raut sedih dari Pia.
__ADS_1
"Lo sedih karena lo bukan anak kandung atau karena dia nggak peka sama lo?"
"Dia sebenarnya peka, kaya kemarin aja dia cemburu, kan. Jadi ya gitu terus dia, tapi dia sempet punya pacar dan sekarang mereka sudah putus," jawab Pia. Gadis berambut kuncir kuda itu memberi senyum pada Miko.
"Oh, gitu yah. Gue ada kesempatan buat deketin lo, nggak? Secara dia kan bukan abang lo, pasti lo berharap sama dia, kan?" Miko berbicara dalam hati.
"Mik, gue boleh minta tolong nggak?" tanya Pia dan Miko menjawab dengan cepat.
"Boleh, kenapa enggak?"
"Bantu gue buat dapatin hati dia!" pinta Pia seraya menatap mata Miko.
"Tapi dengan cara gue? Lo mau?"
"Asal bisa buat dia sadar kalau dia sebenarnya ada rasa buat gue!" kata Pia.
"Ok, gue bantu, bantu manasin dia!" jawab Miko dan keduanya saling senyum.
Miko berharap semoga nanti setelah membantu Pia dan setelah dekat dengannya Pia akan melihatnya.
"Nggak papa, lah. Berjuang aja dulu!" batin Miko.
Setelah itu, Pia dan Miko membantu melayani pelanggan yang datang, setelah itu pergi kuliah bersama dan pulang bersama.
Miko mengantar Pia pulang dan ternyata itu dilihat oleh Ifraz yang sedang berdiri di balkon.
Ifraz segera berlari kecil dan sekarang sudah berdiri di ruang tengah, menunggu Pia.
"Gue antar nggak mau, gue jemput nggak mau, tapi sama cowok lain mau!" kata Ifraz setelah melihat Pia yang baru saja masuk.
Pia tak menghiraukannya, gadis itu berjalan melewati Ifraz yang berkacak pinggang.
"Pia, gue ngomong sama lo!" seru Ifraz dan Pia hanya menghentikan langkah.
Setelah itu melanjutkan lagi langkahnya dan sekarang sudah berada di kamar, Ifraz menyusul dan meminta Pia untuk tidak dekat-dekat dengan Miko.
"Terserah gue, mau deket sama siapa itu urusan gue!" kata Pia, sekarang Pia berdiri di pintu, meminta Ifraz untuk segera keluar dari kamar.
"Pi, gue minta maaf, gue juga nggak ada niat melecehkan lo kemaren itu!" kata Ifraz dan Pia tak menghiraukannya.
"Keluar!" ucap Pia dengan dinginnya dan Ifraz pun segera keluar dari kamar itu. Kebetulan melihat Biru yang baru saja pulang bekerja, menenteng tas kerjanya dan berjalan ke arah kamarnya.
"Om, lihat Pia, dia udah ngerti pacaran!" kata Ifraz dan Biru merasa bingung kenapa Ifraz tiba-tiba mengatakan itu.
"Nggak papa, kan Pia juga udah dewasa," jawab Biru dan Ifraz ditertawakan oleh Pia.
__ADS_1
Biru masuk ke kamarnya dan Ifraz menatap tak percaya pada Biru yang sudah mengizinkan Pia untuk berkencan.
Pia menutup pintu kamarnya dan Ifraz pun kembali ke kamar.
Ifraz yang duduk di sofa itu menggerutu, kenapa dirinya bisa sesebal itu melihat Pia dengan pria lain.
"Aaaarrgghh!" geram Ifraz seraya mengacak rambutnya.
****
Di apartemen Bram, Zenia menimbang berat badannya dan ternyata sudah naik sedikit.
"Aku kelihatan gemuk nggak, om?" tanya Zenia pada Bram yang sedang membuatkan susu Zenia.
"Kenapa memangnya? Wanita gemuk itu montok, seksi!" kata Bram dan ternyata itu membuat Zenia merasa malu.
Zenia tak bertanya apapun lagi, gadis itu memilih untuk duduk di sofa depan televisi dan Bram pun datang membawakan susu itu.
Bram memberikan susu itu pada Zenia dan Zenia menerima, mengucapkan terimakasih.
Setelah habis susu itu, sekarang Zenia meminta makan mangga muda pada Bram.
"Astaga, malam-malam begini? Cari di mana gue?"
Zenia hanya menjawab dengan mengusap perutnya yang masih rata. Menundukkan kepala dan membuat Bram merasa tak tega.
"Baiklah," jawab Bram. Pria itu bangun dari duduknya dan segera keluar dari apartemen.
Berfikir akan mencari pohon mangga yang berbuah.
"Om," panggil Zenia sebelum Bram menutup pintu apartemen.
Bram melihat kearahnya dan Zenia mengucapkan terimakasih lagi juga meminta maaf.
Bram tak menjawab apapun, pria berbadan kekar itu segera menutup pintu dan benar-benar pergi mencari mangga muda.
Setelah beberapa saat menunggu, Zenia sudah tidak sabar, ia ingin membeli makanan di luar, ingin siomay, ingin batagor dan akhirnya Zenia pergi sendiri, berharap menemukan salah satu dari mereka.
Zenia yang berdiri di tepi jalan itu bukannya menemukan makanan yang ia cari tetapi ia di tarik oleh seseorang dari belakang.
Zenia berteriak karena kesakitan dengan tangan menahan rambutnya yang ditarik.
Bersambung.
Hmm, siapa ya kira-kira yang narik rambutnya, penasaran? Yuk kita cari tau jawabannya di episode selanjutnya.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan di favoritkan, ya. Terimakasih sudah membaca^^