
Jangan lupa like, ya.
Selamat membaca...
Di mana Maya? Bukankah sebelumnya ia mengatakan akan ke rumah Gala? Ya, Maya berubah pikiran saat sudah berada di taksi.
****
Maya berada di hotel, wanita menyedihkan itu tidak ingin diganggu sementara oleh siapapun, ingin menenangkan diri dan apakah kali ini Maya akan menyerah?
Maya menatap ponsel yang ada di depannya, ingin meraihnya tetapi ditahannya, Maya menggelengkan kepala memantapkan hatinya untuk benar-benar sendiri dulu.
****
Daniel dan Kania masih dalam perjalanan, keduanya masih mencari Maya walau tidak tau di mana, Daniel juga sudah menghubungi teman-teman Maya dan jawaban mereka adalah tidak tau!
Sekarang, Daniel menepikan mobilnya, masih memikirkan keberadaan Maya.
"Apa mungkin dia pergi ke makam?" gumam Daniel dalam hati.
Daniel pun mulai menancap gas.
"Kali ini mau kemana?" tanya Kania yang tak mau menatap Daniel.
Kania fokus memperhatikan jalanan yang semakin sore semakin ramai banyak orang melintas.
"Entah, papah pikir, mungkin mamah kamu ada di makam, ziarah ke makam nenek," jawab Daniel, matanya terus fokus ke depan.
Sayangnya, sesampainya di sana Daniel tak menemukan siapapun.
Sekarang, Daniel mengajak Kania untuk pulang dan ternyata di rumah sudah ada Ifraz yang menunggu kedatangannya.
"Di mana Mamah?" tanya Ifraz seraya bangun dari duduknya.
"Belum ketemu!" jawab Kania, setelah itu Kania pergi meninggalkan Daniel dan Ifraz di ruang tamu.
"Jelaskan!" kata Ifraz seraya menatap Daniel.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan!" jawab Daniel, pria itu merasa lelah sudah seharian mencari tetapi tidak ada hasil, belum lagi pertanyaan Ifraz yang seolah menyudutkan.
"Enggak mungkin mamah pergi tanpa sebab!"
Mendengar pertanyaan itu Daniel pun menghentikan langkah kakinya.
Tanpa melihat Ifraz, pria itu meminta anaknya untuk pulang.
"Pulanglah, papah yakin semua akan baik-baik saja!"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Daniel pun melangkah kan kakinya, Daniel pergi ke kamarnya. Malam ini terasa hampa tanpa ada Maya di sisinya.
****
Malam semakin larut, Maya belum juga dapat memejamkan matanya. Wanita berambut panjang yang dibiarkannya terurai itu duduk di ranjang dengan menekuk dua kakinya, dipeluknya kaki itu.
Maya masih merenungkan apa yang terjadi. Apa yang selama ini ia lalui.
"Aku akui, kamu memang baik. Tapi aku juga lelah kalau terus menerus harus dicurigai!"
Maya menyembunyikan wajahnya diantara dua lutut itu.
Lalu, Maya mendengar suara ketukan pintu dan Maya segera turun dari ranjang, Maya mengintip dari lubang kecil di pintu.
Terlihat seorang wanita dengan pakaian seksi yang mencoba meminta masuk pada Maya.
Maya pun membukakan pintu itu dan wanita tersebut langsung memeluk Maya dan memuntahkan isi perutnya dan mengenai Maya.
"Astaga!" seru Maya seraya mendorong wanita itu sehingga terjatuh.
Maya segera menutup pintu dan berlari ke kamar mandi, Maya membersihkan badannya yang terkena muntahan wanita mabuk itu.
Selesai membersihkan badan, Sekarang Maya membangunkan wanita muda yang masih tergeletak di lantai itu.
"Bangun kamu!" perintah Maya, Maya menggerakkan kakinya untuk membangunkan wanita itu, sudah Maya tendang pelan-pelan kakinya tetapi wanita itu tak juga mau bangun.
Maya segera mengistirahatkan badannya tetapi otak dan hatinya masih terpaku.
Maya yang sudah berbaring itu merubah posisinya menjadi duduk, mengusap wajahnya.
"Daniel, maafkan aku, aku merasa lebih baik sendiri dari pada harus kalian curigai dan selalu kalian tekan!" batin Maya.
Tidak lama kemudian Maya melihat wanita yang tergeletak di lantai itu bergerak, segera Maya mengambil posisi untuk bersiap, berjaga-jaga siapa tau wanita itu adalah penjahat.
Namun, dugaan Maya salah, wanita itu adalah wanita yang salah mengetuk pintu kamar yang ia kira adalah kamar temannya.
Wanita berambut pendek dan bertato di leher itu menatap Maya yang sedang memperhatikan.
"Siapa kamu?" sergah wanita itu, ia mencoba untuk bangun walau kepalanya masih terasa pusing.
"Seharusnya saya yang tanya, siapa kamu!" timpal Maya, bersedekap dada menatap wanita muda itu.
"Hey songong sekali anda, ini adalah kamar saya dan teman saya, cepat keluar!" ucap wanita itu seraya berjalan ke arah Maya.
Maya pun menampik tangan wanita itu yang hampir meraih kerah piyamanya.
"Kamu mabuk, wajar saja mengira ini adalah kamar kamu, tapi saya tegaskan ini adalah kamar saya dan saya mau anda cepat keluar dari sini!" perintah Maya seraya menunjuk pintu.
__ADS_1
Tetapi, wanita itu tak mau mendengarkan Maya, ia masih kekeh dengan pendiriannya yang mengatakan kalau itu adalah kamarnya.
Maya yang tak mau ribut itu segera menyeret wanita itu keluar.
"Perhatikan nomor anda!" ucap Maya yang kemudian menutup pintu kamarnya, kemudian Maya kembali membuka pintu ada dan melemparkan tas tangan milik wanita itu.
"Menyebalkan!" gumam Maya.
****
Di kamar, Daniel menatap tempat Maya biasa tidur, ia mengusap bantal Maya.
"Kamu di mana, May? Kenapa sampai sekarang enggak bisa dihubungi juga!" ucapnya.
"Maafin aku, May!"
Keesokan harinya, Daniel mengurus semua keperluan kerjanya sendiri.
Merasa repot karena selama ini Maya lah yang menyiapkan segalanya.
"Papah, ayo cepat, nanti Ken telat!" teriak Kania dari lantai bawah.
"Iya!" jawab Daniel, setelah itu Daniel segera memakai kaos kaki dan memakai sepatu kerjanya.
Daniel segera turun dan ikut sarapan bersama bersama dengan Kania, Daniel pun lupa kalau Maya tidak ada di rumah, ia memanggilnya, "May, mana kopi ku?"
"Papah," kata Kania dan Daniel pun menatap anaknya.
"Mamah belum pulang,"kata Kania, setelah itu segera meminum susunya sampai habis.
Belum habis sarapan Daniel sekarang Kania sudah mengajaknya berangkat, Daniel pun mengiyakan dan menggigit roti tawar itu sambil berjalan.
Sementara itu, sebenarnya Maya mengawasi dari kejauhan dan melihat suaminya yang sekarang sudah duduk di bangku kemudi dengan mulut yang menggigit roti.
"Kalian baik-baik saja dan akan terbiasa!" gumam Maya yang berada di dalam di taksi.
Setelah Daniel dan Kania berangkat, sekarang Maya kembali ke hotel dan di lobby Maya berpapasan dengan wanita yang semalam, Maya mengabaikan wanita itu tetapi wanita itu yang merasa tidak enak pun segera mengejar Maya dan sekarang sudah mengikuti Maya.
"Mbak, maaf. Saya yang salah semalam!" kata wanita itu, kemudian Maya pun menghentikan langkah kakinya, wanita yang mengenakan dress itu berbalik badan dan menatapnya yang meminta maaf.
"Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau mbak saya traktir!" kata wanita itu seraya mengedipkan kedua matanya.
"Maaf, terimakasih. Saya sibuk!" kata Maya, ia kembali berbalik badan dan mulai melangkahkan kakinya.
Tak berhenti di situ, wanita itu memaksa Maya dan sekarang sudah berjalan beriringan.
"Mau, yah. Sebagai permintaan maaf!"
__ADS_1
Bersambung.