Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Kado Pertama Untuk Ifraz


__ADS_3

Maya di temani oleh asistennya, menghadiri pesta ulang tahun teman anaknya di sebuah mall besar.


Di sana, Maya merasa kasihan pada anaknya yang sudah lama tidak bertemu dengan ayahnya.


Bahkan, Maya selalu tidak menjawab ketika Ifraz bertanya di mana ayahnya.


Maya hanya menjawab di dalam hati, "Ayah kamu sudah bahagia dengan keluarga barunya!"


Ifraz selalu menempel pada Maya dan sekarang berada di gendongannya, memperhatikan teman-temannya yang bahagia bersama dengan keluarga utuhnya.


Selesai dengan pesta ulang tahun, sekarang Maya mengajak Ifraz membeli es krim, Maya mendudukkan Ifraz di kursi bayi yang tersedia, seraya menunggu pesanannya datang, Maya memotret Ifraz dan mengirimnya pada Gala.


Maya juga mengajari Ifraz untuk voice note pada pamannya.


"Faz, bilang sama om, Ifraz kangen om," kata Maya dan Ifraz menurut, suara imut menggemaskannya membuat Gala sangat merindukan ponakannya.


"Om juga kangen kamu, sayang, nanti om datang kamu mau oleh-oleh apa?" balas Gala yang sama dengan menggunakan voice note.


"Ifaz mau petawat!" jawab Ifraz tanpa Maya ajari.


"Ok, tunggu om datang, ya!" Setelah itu Gala menyudahi obrolannya dengan Ifraz.


Pria itu membuka aplikasi di ponselnya untuk berbelanja online tanpa Gala tau toko online yang dikunjunginya itu adalah milik Biru.


Tetapi, Biru yang menerima alamat dari pelanggannya itu masih ingat kalau alamat itu adalah alamat toko Gala.


"Apa mungkin Gala membeli mainan ini untuk anakku?" tanyanya dalam hati.


Lalu, Biru menggratiskan belanjaan Gala dengan alasan Gala memenangkan giveaway di tokonya.


"Maafkan papah, Ifraz. Selama ini papah belum membelikan mainan untuk kamu, ini hadiah kecil untuk kesayangan papah," ucap Biru dalam hati, Biru membungkus mainan itu serapih mungkin, penuh kasih sayang dan matanya sudah berkaca, sangat merindukan anaknya.


Gala yang tidak mengetahui itu dengan senang hati menerima hadiah giveaway tersebut. Bahkan Gala juga memberikan ulasan yang bagus untuk toko online Biru yang diberi nama 'April' dan di bulan itulah Ifraz lahir.


****


Murni yang baru saja dari kantor itu menepikan mobilnya ke sebuah mini market untuk membeli aneka jajanan untuk anak-anak panti dan Murni melihat Hafizah di mini market tersebut.

__ADS_1


Murni tidak menyapanya hanya menatapnya datar dan Hafizah, ia hanya diam, memilih seolah tak mengenal Murni.


Selesai dengan berbelanja, Murni membayar semua tagihannya setelah itu segera membawa apa yang dibelinya ke panti, tetapi, di perjalanan, Murni merasa ada yang kurang, ia ingin membeli mainan untuk anak-anak panti.


Teringat dengan usaha Biru, membuat Murni memborong dagangan anaknya. Murni memerintah seseorang yang di temuinya di tepi jalan.


"Tolong belikan mainan yang banyak di toko itu, nanti kamu akan saya kasih imbalan!" kata Murni pada gadis berkerudung putih, gadis itu masih mengenakan seragam putih-abu dan gadis yang sedang menunggu angkot itu tidak menolak.


Setelah itu, Murni menunggu di mobilnya seraya mengawasi gadis itu.


"Banyak sekali, apakah ini semua untuk kado?" tanya Biru yang sedang memperhatikan gadis itu mengambil banyak barang.


"Iya, untuk kado, adik aku ada banyak, jadi kalau beli satu atau dua bisa berantem!" jawab gadis itu seraya memberikan senyum pada pria tampan si pemilik toko.


"Ya, benar, boleh aku sedikit bercerita," kata Biru, pria itu berdiri di balik etalase dengan tangan berada di atas etalase.


"Cerita apa? Soal ceweknya, ya?"


"Bukan, aku jomblo, aku ingin bercerita soal anakku," jawab Biru seraya meraih belanjaan gadis itu yang baru saja diberikan pada Biru untuk ditotal.


"Aku menjual mainan dan sesekali membayangkan, suatu saat anakku datang dan berlarian mengambil mainan mana yang di sukainya," jawab Biru seraya memberikan belanjaan gadis itu pada kasir.


"Memangnya di mana anak, om?"


"Ada, sama mamahnya," jawab Biru, pria itu tersenyum menyembunyikan kesedihannya.


"Om duda?" tanya gadis itu, terlihat matanya berbinar seolah memiliki kesempatan untuk mendekati lelaki tampan itu.


Biru tidak menjawab, hanya tersenyum setelah itu memberikan belanjaan milik gadis itu.


"Makasih, Om tampan," ucap gadis itu dan Biru hanya menggelengkan kepala, karena ini bukan pertama kali dirinya digoda oleh pelanggan.


Gadis itu mengetuk kaca mobil Murni dan Murni mempersilahkannya untuk masuk.


"Ini uang untuk kamu, sekolah yang rajin ya!" kata Murni dan gadis itu sangat senang mendapat uang sebesar dua juta, padahal dirinya hanya membelikan pesanan wanita tua itu.


"Serius, ini semua buat aku, Bu?"

__ADS_1


"Iya, terimakasih, ya!" jawab Murni seraya tersenyum.


"Saya yang berterimakasih, Bu. Kalau begitu saya permisi!" ucap gadis itu dengan semangat. Sekali lagi menganggukkan kepala setelah turun dari mobil Murni.


Sekarang, Murni membawa semua belanjaannya itu ke panti, sesampainya di sana, wanita itu sudah di sambut oleh anak-anak yang sudah mengenal dekat dengannya.


Murni merasa senang melihat anak-anak yang antusias dan asisten Murni membagikan secara merata pada anak-anak tersebut dan setelah selesai dengan itu sekarang Murni berpamitan pada semuanya.


Murni yang berjalan kaki menuju mobilnya itu melihat seorang gadis kecil yang mungkin usianya sama dengan cucunya, gadis kecil itu sedang berdiri di depan pagar panti bersama dengan seorang wanita yang berpenampilan sangat lusuh.


Murni memanggil pengurus panti, mengerti maksud kehadiran mereka, mungkin wanita itu ingin menitipkan anaknya di panti tersebut dan benar saja, wanita itu merasa tidak sanggup membesarkan anaknya.


"Maafkan saya, Bu. Saya sakit parah, ayah anak ini tidak tau kemana, saya bingung, kalau nanti saya meninggal, saya takut tidak ada yang mengurusnya, saya menitipkan anak saya di panti ini, apa di perbolehkan?"


"Tentu saja boleh, siapa nama anak ibu?"


"Namanya Dinara, berusia dua tahun, saya minta tolong jaga anak saya, saya permisi," ucap wanita itu yang kemudian berlari tanpa melihat ke belakang, tak menghiraukan tangisan anaknya yang terus memanggilnya 'ibu'.


Murni tersentuh, membuat dirinya meminta pada asistennya untuk mengurus surat adopsi anak itu.


"Baik, siap saya laksanakan," jawab asisten Murni yang setia berdiri di belakang Murni.


****


Di restoran, Bram yang sedang bekerja merasa risih dengan Marisa yang selalu mengikutinya.


"Kak, gua lagi kerja, gua minta lu pulang sana!"


"Nggak bisa, gua minta duit dulu!"


"Astaga, kenapa sih, lu, duit mulu pikirannya, emang kerja kaya gini berapa sih gajiannya, lu udah dewasa kenapa enggak kerja aja sana, kalau nggak mau kerja ya merit, biar enak tinggal ngang*kang aja dapat duit dari laki lu!" bentak Bram tanpa berfikir kalau Marisa merasa malu telah di bentak seperti itu di depan umum.


Marisa pergi dari hadapan Bram tanpa sepatah kata pun, gadis itu berlari keluar dari resto tersebut dengan menangis, telah di rendahkan oleh adiknya sendiri.


Bersambung.


Maaf ya kak banyak typo, banyak kesalahan dalam menulis 🙏🙏. Yuk, jangan lupa like ya pembaca yang budiman 🤗

__ADS_1


__ADS_2