Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Maya Diculik?


__ADS_3

Maya menganggukkan kepala, mengiyakan apa yang Daniel ucapkan dan Maya tidak menyadari kalau ternyata diam-diam Biru memperhatikan Ifraz dari jauh.


"Kalian bahagia, aku tidak!" ucap Biru dalam hati. Pria itu menggenggam setir erat kemudinya.


"Ifraz, papah di sini, Nak!" kata Biru, pria itu menatap tajam pintu rumah Maya yang baru saja Maya tutup.


Setelah itu Biru mengejar mobil Daniel.


Pria itu ingin memberi pelajaran karena Daniel sudah menekan Maya, memerintahkan supaya Biru menjauh dari anaknya.


Daniel melihat ke spion, ia melihat mobil yang tak asing baginya.


"Itu kan mobil Biru? Kenapa dia kaya ngejar aku?" batin Daniel.


Benar saja, sekarang mobil Biru sudah berhenti tepat di depan mobil Daniel.


Daniel turun dari mobil begitu juga dengan Biru.


Sayangnya, Daniel yang tak mengerti amarah Biru tak bersiap saat Biru tiba-tiba meninju wajahnya.


Daniel mengusap sedikit darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Apa maksud kamu?" tanya Daniel.


"Jangan pura-pura kamu!" kata Biru, pria itu ingin meninju Daniel dan kali ini Daniel dapat menghindari serangan Biru.


"Aku nggak ngerti masalah kamu sama saya apa!" kata Daniel, pria itu memilih untuk meninggalkan Biru, tetapi Biru yang belum selesai dengan amarah dan unek-uneknya itu meraih bahu Daniel.


"Kamu sengaja kan melarang Ifraz untuk menemui aku?" sergah Biru.


Daniel pun membalikkan badan, menggelengkan kepala. "Pasti mamah yang sudah meminta itu pada Maya!" batin Daniel.


"Hah! Memangnya kenapa? Dengar Biru, Maya adalah istriku, anaknya juga anakku! Sudah seharusnya aku cemburu melihat kamu terus datang menemui anak dan istriku!" kata Daniel seraya mengibaskan tangan Biru, pria itu meninggalkan Biru yang tercengang dengan ucapannya.


Biru kembali masuk ke mobilnya, membanting pintu itu lalu memukul setir kemudi.


"Sudah aku duga, karena Maya tidak akan melakukan itu tanpa di suruh!" batin Biru.


Pria itu ingin menculik Ifraz, tetapi tidak tega dengan Maya. Ifraz juga sudah terbiasa dengan Maya sedari bayi tidak mungkin ia akan memisahkan Maya dengan Ifraz.


"Aaaaa!" teriak Biru, pria itu merasa frustasi.


****


Di rumah sakit, Bram mulai merasa resah, memikirkan Maya yang belum juga datang, lalu, seorang perawat menghubungi Marisa yang sedang bekerja.


Marisa yang sedang berada di ruang rapat itu meminta izin untuk ke toilet lebih dulu.


Di sana, Marisa mendengar kalau adiknya masih belum mau makan dan selalu mencari ponselnya.


"Baik, saya akan segera datang!" kata Marisa, setelah itu ia memutuskan sambungan teleponnya, memasukkan kembali ponselnya ke saku.


"Maya!" geram Marisa.


Wanita itu kembali ke ruang rapat.

__ADS_1


Selesai dengan rapat, Marisa baru akan menemui adiknya.


Ya, Marisa sekarang mewakili Brandon untuk mengurus perusahaannya, wanita itu tidak memperdulikan lagi Siska yang terus mencoba meracuni Brandon agar tidak mempercayai anak-anaknya.


Tetapi, Marisa yang tekun dan dapat di percaya, membuat Brandon memilih untuk memberikan sedikit kesempatan untuk anaknya.


Perusahaan Brandon bergerak di industri pangan, bersaing dengan perusahaan Biru.


Sedangkan Daniel, ia mendirikan usahanya sendiri di bidang travelling dan menjalin kerjasama dengan hotel Sukma.


****


Daniel merasa senang, akhirnya sedikit berkurang beban di hatinya, karena Imelda mengatakan itu pada Maya tanpa dimintanya.


"Terimakasih, Mah!" kata Daniel, pria itu dengan semangat bekerja.


"Sekarang aku hanya harus menunggu, menunggu Maya menyelesaikan dengan masalahnya dengan Bram. Yang aku perlukan sekarang adalah bersabar, jangan sampai aku mengekang Maya atau menekannya!" batin Daniel.


"Aku tidak mau kehilangannya lagi," lanjut Daniel.


Sementara Maya mendapat telepon dari Imelda yang mengajaknya untuk berbelanja.


"Kamu tunggu di rumah aja, biar mamah yang datang, sekalian berangkat!" kata Imelda.


"Alhamdulillah, mamah sekarang sudah membuka lagi hatinya untuk aku," gumam Maya, ia segera bersiap sebelum mertuanya tiba.


"Asik, jalan-jalan sama omah!" seru Ifraz setelah mengetahui itu.


Maya segera keluar dari kamar setelah mendengar suara orang mengetuk pintu.


Ia segera membuka pintu dan ternyata yang berada di balik pintu adalah Marisa. Ia menatap tajam pada Maya.


"Kakak," lirih Maya.


"Ikuti saya!" kata Marisa seraya menarik lengan Maya.


"Kak, anak aku sendirian di rumah!" kata Maya seraya mencoba melepaskan tangan Marisa.


"Cepat, masuk!" Marisa mendorong Maya supaya masuk ke mobil.


Maya melihat ke belakang, ia melihat mobil Imelda yang baru saja sampai membuat ia merasa sedikit lega karena Ifraz tidak lagi sendiri.


****


"Ifraz, kamu kenapa, nak?" tanya Imelda saat melihat Ifraz menangis di pintu seorang diri.


"Mamah dibawa sama orang!" tangis Ifraz.


"Apa?" tanya Imelda, ia sangat terkejut, berfikir Maya telah diculik.


"Biasanya yang diculik itu anak-anak tapi kok penculik ini ngambil Maya dan membiarkan anak kecil ini sendirian!" batin Imelda.


Imelda bertanya ciri-ciri yang menculik Maya. Setelah Ifraz menceritakan, ia segera menghubungi Daniel.


"Tidak salah lagi, pasti Marisa," ucap Daniel dalam hati.

__ADS_1


"Mah, tenang. Daniel akan mencarinya, Daniel minta tolong sama mamah, tolong jaga Ifraz selama Maya belum kembali," pinta Daniel.


Di saat itu juga Daniel mendengar tangisan Ifraz.


"Omah, mamah," tangis Ifraz.


Daniel menarik nafas dalam.


Pria itu berfikir untuk menjemput Ifraz, tidak tega mendengar suara tangisan anak tirinya itu.


Benar saja, Daniel meninggalkan pekerjaannya, ia menjemput Ifraz.


Sesampainya di rumah, Ifraz memeluk Daniel.


"Papah, Mamah diculik!" rengek Ifraz.


"Enggak, mamah bukan diculik, tadi itu yang datang teman mamah kamu," kata Daniel, ia mensejajarkan tingginya dengan Ifraz.


"Tapi tadi mamah nggak mau, tapi dipaksa, pah," ujar Ifraz masih menangis.


"Iya, teman mamah kamu memang hobinya memaksa, udah jangan nangis, ya! Papah yakin kalau mamah kamu baik-baik aja," kata Daniel, pria itu menggendong Ifraz.


Sedangkan Imelda bertanya, siapa wanita yang telah menculik Maya.


"Namanya Marisa, tadi pagi dia udah nelpon, mungkin kesel karena nunggu Maya nggak datang-datang jadinya maksa," jawab Daniel, ia mencoba memberi pengertian dan berharap Imelda tidak bertanya lebih jauh lagi.


"Kita beli es krim, mau?" tanya Daniel dan Ifraz menganggukkan kepala.


"Kami pergi dulu, mah," kata Daniel, "salim dulu sama Omah!" perintah Daniel pada Ifraz.


****


Di rumah sakit.


"Kak, aku harus minta izin dulu sama suami aku!" kata Maya yang sedang di seret oleh Marisa.


Marisa melepaskan kasar tangan Maya, "Cepat hubungi suami kamu!"


Maya mencari-cari ponselnya dan ternyata ponselnya itu tertinggal di kamar.


"Aku nggak bawa ponsel!" lirih Maya. Setelah itu Marisa kembali menyeret Maya.


"Dengar Maya, setidaknya kamu harus merawat Bram sampai dia pulih dan keluar dari rumah sakit!" ucap Marisa.


"Tapi aku punya tanggungjawab yang lain, kak, yang harus aku utamain, dia suami aku!"


Marisa berhenti dan secepat kilat menampar Maya.


PLAK!


Bersambung.


Halo pembaca setia cerita cinta Maya, jangan lupa klik like, bintang lima, oia kalau masih ada vote, yuk boleh di vote Maya nya, biar makin semangat menjalani hidup 🙂.


Sekian dulu, terimakasih bagi yang sudah membaca, like, komen dan gift/votenya. Sampai jumpa di episode selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2