Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Bram Merajuk


__ADS_3

Selama perjalanan pulang, Daniel hanya diam saja, dia juga merasa bingung ingin berkata apa, ia takut akan mengatakan yang dapat menyakiti hati Maya.


"Dan, aku minta maaf!"


Daniel menjawab dengan tersenyum.


"Kamu marah?" tanya Maya seraya menatap Daniel.


"Enggak, nggak tau kenapa, aku nggak bisa marah sama kamu, May!" jawab Daniel.


"Hmmm, kamu ngegombal?"


"Serius, kalau aku bisa marah aku udah lama marah, tapi aku nggak bisa, aku juga bingung," jawab Daniel dengan tetap fokus menyetir.


"Aku janji, akan segera menyelesaikan masalah ku dengan Bram!" kata Maya.


Kembali, Daniel menjawab dengan senyum, lalu ia membawa Maya agar bersandar di lengannya.


"Aku percaya sama kmu, May!" lirih Daniel dengan tetap fokus menyetir.


Sesampainya di rumah, Daniel meminta pada Maya untuk menyiapkan pakaian ganti, setelah itu Daniel pergi untuk mandi tidak lupa membawa Maya masuk ke kamar mandi, ia meminta Maya untuk menggosok punggungnya.


"Kamu mau juga aku gosok punggungnya?" tanya Daniel yang sedang menikmati setiap sentuhan dari Maya.


"Nggak usah, aku gosok sendiri aja!" jawab Maya yang sedang telaten menggosok sekaligus memijit bahu suaminya.


"Terimakasih, May," kata daniel dan Maya menjawabnya dengan semakin keras memijit bahu Daniel.


"Jangan lama-lama, aku juga mau mandi!" kata Maya seraya bangun dari duduknya, mendengar itu Daniel berinisiatif membawa Maya untuk masuk kedalam bak mandi bersamanya.


"Aaaaaaa!" pekik Maya, ia terkejut karena tiba-tiba saja tubuhnya melayang.


"Jangan berteriak, nanti Ifraz bangun!" kata Daniel seraya menaruh jari telunjuknya di bibir Maya.


Maya mengangguk mengerti, bisa batal mandi bersama kalau Ifraz sudah merengek, Karena Maya akan secepat kilat meninggalkan Daniel untuk putranya.


Sekarang, Maya sedang menikmati pijitan lembut suaminya di bahu.


"Dan," lirih Maya.


"hhmmm," jawab Daniel.


"Kenapa pijitan kamu selalu enak?" puji Maya dan Daniel mengecup leher jenjang istrinya membuat Maya merasakan sensasi yang menjalar di tubuhnya.

__ADS_1


"Kenapa, sayang?" tanya Daniel tepat di telinga Maya saat mendapati istrinya sedikit menggeliat.


Maya menjawab dengan menggelengkan kepala. Ia merasa malu kalau harus berterus terang kalau dirinya sudah terhanyut dengan belai lembut yang suaminya berikan.


"Sayang, kita nambah cucu buat mamah," bisik Daniel dan kali ini tangannya sudah bergerilya.


Terjadilah pertempuran lembut di dalam kamar mandi. Selesai dengan itu, sekarang keduanya sudah berada di ranjang, Daniel memeluk Maya dari belakang dan maya memeluk Ifraz. Maya merasa beruntung telah memiliki Daniel di sisinya, yang selalu setia menemani Maya dua tahun belakangan ini.


"Jangan pernah berubah meski aku menjengkelkan, Dan!" ucap Maya dalam hati dan seolah mengetahui isi hati Maya, Daniel semakin mengeratkan pelukannya.


****


Sementara Biru, ia sedang duduk di balkon, menatap langit yang bertabur bintang. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria tampan itu.


Pastinya adalah Ifraz.


"Tega sekali kamu, May. Kamu menjaga perasaan suamimu tanpa mengerti perasaan aku, kenapa kamu harus memutuskan tali antara aku dan Ifraz?" gumam Biru, pria itu merasa kalau dirinya masih di hukum atas masalalunya.


"CK!" decak Biru, pria itu merasa dingin berada di teras, sekarang memilih untuk masuk ke kamar. Di kamar, ia melihat Pia sudah semakin panjang.


"Pia, jangan pernah pergi tinggalkan ayah, sayang!" ucapnya seraya membelai lembut pucuk kepala Pia.


Biru juga selalu teringat dengan ucapan Murni sebelum ajal menjemputnya


Biru menitikkan air matanya, menyesal, karena kebodohannya ia harus kehilangan tiga orang yang sangat dicintainya.


Dalam sunyi, di tengah gelap malam Biru selalu menangis seorang diri.


****


Hari sudah berganti, sekarang Biru yang semakin kurus itu sedang mencukur bulu yang tumbuh di rahangnya itu.


"Kenapa aku menolak tua, berapa umurku sekarang?" tanyanya pada diri sendiri.


Sementara itu, di rumah sakit, Bram tidak mau menyantap sarapannya, ia juga menolak Marisa yang ingin merawatnya, yang ia inginkan adalah Maya. Hanya Maya.


"Bram, Maya sekarang bekerja, mungkin dia sibuk dan tidak bisa datang!" kata Marisa.


"Kenapa dia bekerja, nanti kalau gua udah bisa jalan dia harus berada di rumah, dia hanya boleh merawatku! Biar aku yang akan mencari nafkah."


Marisa merasa muak dengan adiknya yang selalu menyebut nama nama Maya. wanita yang sekarang berpenampilan lebih kalem itu menatap datar Bram.


"Bram. dia bukan lagi milikmu!" batin Marisa, ia meletakkan bubur yang sedari tadi dipegangnya. setelah itu wanita berambut lurus terurai itu keluar dari kamar rawat Bram.

__ADS_1


Marisa merasakan sakit di hatinya, tidak tega melihat adiknya yang belum mengetahui apapun tentang Maya.


Marisa yang sedang duduk di kursi panjang itu memilih untuk menghubungi Maya.


"Maya, lu bisa datang kan? Dia terus menyebut nama kamu!" lirih Marisa dengan tersengguk, tanpa Marisa tau, sebenarnya yang menerima panggilan itu adalah Daniel.


Setelah mengatakan itu Marisa memutuskan sambungan teleponnya. Ia tidak ingin mendengar Maya menolak permintaanya.


Daniel merasa telah memisahkan Maya dengan Bram, pria itu meletakkan kembali ponsel Maya ke nakas. Ia mencari Maya yang ternyata sedang menyiram tanamannya di teras.


Daniel yang sudah rapih dengan pakaian kerjanya itu memeluk Maya dari belakang.


"Ada yang mencarimu!" bisik Daniel.


Maya melihat ke arah suaminya yang berada sangat dekat. "Cup!" Daniel mengecup pipi Maya.


"Siapa lagi, pasti kamu yang mencariku, bukannya aku sudah menyiapkan semua keperluan kamu?" tanya Maya yang kembali fokus menyiram tanaman.


"Mantan calon suami kamu!" jawab Daniel dengan suara lirih seraya melepaskan pelukan itu, Danile kembali masuk meninggalkan Maya yang terdiam.


Bahkan Maya tidak menyadari saat tetangganya menggoda Maya yang baru saja menebarkan kemesraan di pagi hari.


"Bram?" lirih Maya,


"Ya, aku belum menjelaskan apapun padanya!" gumam Maya. Ia segera menggulung selang, lalu menyusul Daniel yang sedang menunggunya di meja makan.


Terlihat Daniel sedang bercerita dengan Ifraz.


"Kalian ngobrolin apa? Kok mamah nggak diajak?" tanya maya yang sedang menarik kursi meja makan.


"Mah, Papah mau ajak Ifraz naik kuda, akhir pekan nanti!" kata Ifraz.


"Kamu berani naik kuda?" tanya Maya seraya menyendokkan sarapan untuk Daniel.


"Berani, kan ada mamah sama papah!" jawab Ifraz seraya mengulurkan piring untuk Maya isi dengan sarapannya.


Selesai dengan sarapan, Maya dan Ifraz mengantar Daniel sampai ke pintu, mereka bergantian mencium punggung tangan pria yang sekarang menjadi kepala rumah tangga itu.


"Sayang, kalau mau pergi hubungi aku, ya!" perintah Daniel seraya mengusap pucuk kepala Maya.


Bersambung.


Terimakasih untuk yang masih setia membaca cerita cinta Maya. Sampai jumpa di next episode.

__ADS_1


__ADS_2