Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Aku Pergi!


__ADS_3

"Aku tidak akan kembali lagi! Sudah cukup aku menderita karena kamu!" jawab Maya.


Setelah itu, Maya merasakan lengannya tersenggol oleh Bram yang keluar dari rumah menyusul Biru, ternyata pria itu menyeret Biru.


"Pergi lu!" teriak Bram seraya melempar Biru keluar dari pagar rumah.


Maya merasa sedikit tidak tega saat melihat mantan suaminya di perlakukan seperti itu, tetapi Maya tidak ingin menunjukkan rasa kasihannya itu pada Biru.


Setelah itu, Bram yang berdiri di pintu pagar itu memperhatikan Biru pergi, setelahnya ia sudah bersiap untuk naik ke motor dan pria itu melihat ke arah Maya yang memanggilnya.


"Terimakasih," ucap Maya dengan suara lirih.


Bram tidak menjawab, pria itu pergi mengendarai motornya dan Maya kembali masuk ke rumahnya.


"Pintu baru benerin udah begini lagi," gumam Maya saat melihat pintu itu kembali rusak setelah didobrak oleh Bram.


****


Biru mengendarai mobilnya ke rumah, di sana pria itu mengobati sendiri lukanya.


Merasa tidak ada yang perlu dikerjakannya lagi hari ini dan esok membuat pria itu berfikir untuk pulang dan sejenak beristirahat di villa untuk menenangkan diri dan otaknya.


Biru melihat jam di dinding dan ternyata masih pukul 20.00 WIB.


Pria itu menyambar kunci mobil yang berada di depannya.


Keluar dari rumah itu dan tidak lupa menguncinya lagi.


Biru mengendarai mobilnya dan ternyata bensin hampir habis, pria itu membelokkan mobilnya ke pengisian BBM. Di sana, Biru melihat perempuan seperti Hafizah sedang berboncengan motor dengan temannya, mengantri untuk mengisi bensin.


"Biasanya dia selalu izin walau pergi ke warung terdekat, jadi aku rasa itu bukan Hafizah!" gumam Biru.


Selesai mengisi bensin, Biru kembali melanjutkan perjalanannya menuju villa.


Pria itu tidak memikirkan apapun lagi selain istirahat untuk memulai kehidupan barunya bersama Hafizah.


Hampir tiga jam, sekarang Biru sudah sampai di villa tetapi dirinya tidak mendapati keberadaan Hafizah.


"Entah, ayah tidak melihatnya," jawab Bambang saat Biru bertanya padanya.


Biru pun menghubungi Hafizah dan wanita itu tidak segera menerima panggilannya.


"Kamu dimana? Aku pulang kamu tidak ada!" Biru mengirim pesan pada Hafizah.


Hafizah yang membaca pesan itu menjadi tegang. "Astaga, kenapa dia pulang? Katanya nggak pulang!" gumamnya, wanita yang sudah siap dengan kimononya itu melihat jam di dinding kamar temannya.


"Jam 23, mana mungkin aku bisa pulang malam-malam begini!" Hatinya tidak tenang dan ia mencari jawaban yang sekiranya tidak membuat Biru menjadi marah.

__ADS_1


"Sayang, orang tua temanku meninggal, aku berada di sini untuk menemani temanku, aku minta maaf tidak meminta izin lebih dulu sebelumnya karena aku juga sangat terkejut mendengar kabar duka dari temanku," balas Hafizah, ia berharap Biru mempercayainya dan benar saja Biru hanya membalas, mengatakan besok dirinya harus sudah sampai di rumah.


Hafizah bernafas lega membaca pesan itu.


****


Di rumah Gala.


Pria itu baru saja selesai membayar tukang yang baru saja membetulkan pintu rumahnya.


"Semoga nggak rusak lagi ya, Nak Gala!" kata bapak tukang.


"Iya, Aamiin. Makasih, pak!"


Setelah itu, Gala menemui Maya yang menunggunya di ruang tengah.


"Mau bicara penting apa, Mbak?" tanya Gala seraya duduk di samping kakaknya.


"Gal. Mbak mau menyusul Ifraz, mbak tidak bisa jauh dari dia, maaf mbak nggak bisa nemenin kamu di sini lagi," kata Maya, wanita yang terlihat pucat itu menatap adiknya.


"Lagi pula kalau mbak di sini bahaya juga, bisa jadi pria itu terus mengejar mbak!" batin Gala, ia menatap kakaknya yang masih ketakutan.


"Mbak, aku akan dukung apapun itu, Gala minta maaf karena nggak bisa ikut mbak pergi, Gala harus kuliah dan menjadi orang sukses supaya Bunda dan Ayah bangga sama Gala!" jawab Gala.


Maya dan Gala pun berpelukan.


Maya merasa terharu mendengar adiknya berbicara seperti itu.


Gala menjawab dengan menganggukkan kepala.


Selesai dengan itu, Maya kembali ke kamar, membereskan pakaian yang akan dibawanya. Sekarang Maya menjatuhkan dirinya di ranjang, menatap langit-langit kamarnya.


"Besok aku akan pergi, aku akan merindukan rumah ini yang penuh dengan kenangan," ucapnya, Maya memejamkan mata dan terbayang saat malam pertamanya dengan Biru di kamar itu setelah hari pernikahan.


Maya tersenyum...


"Aku akan menghapus semua kenangan buruk kita dan aku akan selalu mengingat kenangan indah saat bersamamu!" gumamnya.


Maya memilih untuk segera tidur, Menjemput mimpinya.


****


Keesokannya, sebelum subuh Hafizah sudah memesan taksi, berharap tidak bertemu dengan kemacetan.


Setelah beberapa jam, sekarang Hafizah sudah sampai di villa, wanita itu melihat Bambang sedang memesan lontong sayur di depan villa.


"Ayah," lirih Hafizah yang baru saja turun dari taksi.

__ADS_1


"Afi, dari mana saja kamu!" tanya Bambang seraya mengulurkan tangannya dan Hafizah mencium punggung tangan itu.


"Ada perlu sebentar!"


"Cepat! Masuk sana, suami kamu sudah menunggu!"


"Iya!" Setelah itu Hafizah segera masuk dan sebelum itu tangannya ditarik oleh Arumi.


"Arumi!" pekik Hafizah, wanita itu melepaskan tangan Arumi dari lengannya.


"Ada apa?" tanya Hafizah seraya melihat ke kanan dan kirinya. Takut Biru akan melihat gelagat anehnya.


"Uang jajan aku habis, aku minta sama kakak dulu!"


"Astaga, Arumi, aku itu lagi susah, suami aku lagi kena masalah tapi kamu malah minta uang jajan!" geram Hafizah.


"Mau anak ini ngiler?" Pertanyaan yang mengancam itu berhasil membuat Hafizah mengeluarkan uangnya sebesar dua ratus ribu.


"Untuk sementara jangan datang dulu kemari! Nanti akan ku kabari lagi!"


"Iya, tapi kalau uang bulanannya lancar ya!"


Hafizah hanya memandangnya datar, merasa kesal dengan Arumi.


"Kalau aku nggak butuh bayinya aku malas berurusan sama kamu!" batin Hafizah.


Setelah tiu, Hafizah meninggalkan Arumi dan segera masuk ke villa menemui Biru yang masih tertidur di kamarnya.


"Astaga, bonyok lagi!" gerutu Hafizah, "mau sampai kapan dia berkelahi terus!" lanjutnya, wanita itu berbicara dalam hati.


****


Maya menekan bel apartemen Bram tetapi tidak ada jawabannya.


Sebenarnya, Bram ada di dalam tetapi pria itu tidak mau menemui Maya.


Karena kehadirannya ditolak, Maya mengirim pesan pada Bram.


"Bram, hari ini aku akan pergi jauh, terimakasih selalu membantuku, aku akan fokus membesarkan anakku!"


Bram membaca pesan itu dan masih bertekad tidak akan menemui Maya sebelum wanita itu mempercayai ucapannya tempo hari.


"Mau kemana kamu, May!" batin Bram, pria itu pun keluar dari apartemen dan ternyata Maya sudah tidak ada di sana.


"Kenapa gua sedih! Gua nggak boleh sedih! Toh dia nggak punya rasa sama gua, siapa gua? Gua cuma sampah di mata masyarakat!"


Bersambung.

__ADS_1


Yuhuuu aku upp sekaligus tiga bab ini, jangan lupa ya buat votenya, likenya juga jangan lupa di favoritkan! Bintang lima juga 😗.


Sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2