Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Membuat Rencana


__ADS_3

Biru mengajak Maya untuk sarapan bersama tetapi Maya menolak, wanita itu mengabaikan Biru, sekarang Maya berada di kamar dan Biru sarapan seorang diri. Merasa malas membuat Biru untuk meninggalkan meja makan.


Biru naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya, ia bersiap untuk mandi tetapi langkahnya terhenti saat ponselnya berdering.


Biru menerima panggilan itu.


"Halo!"


"Tuan, Anda ditunggu di ruang rapat," kata Ran. Setelah itu Ran langsung memutuskan sambungan teleponnya dan segera menjemput Biru.


"Sial! Siapa dia berani memutuskan sambungan telepon!" geram Biru, pria itu mendengus sebal lalu meletakkan kembali ponselnya, pria itu penasaran dengan rapat yang diadakan dadakan ini.


Begitu juga dengan Murni, wanita itu terlihat sedang bersiap untuk kekantor.


Satu jam kemudian, sekarang semua jajaran direksi sudah berada di ruang meeting, begitu juga dengan Lisa dan Dion karena merekalah yang berada di balik rapat dadakan ini.


Begitu Biru tiba dan belum sempat duduk di kursi kebesarannya, Lisa langsung melemparkan beberapa foto kearah Biru, di gambar itu terlihat Biru bersama dengan seorang wanita yang tak lain ada Hafizah saat mereka berada di butik.


"Apa ini? Apa begini cara seorang pemimpin?" kata Lisa, wanita berusia 45 tahun itu duduk dengan tangan bersedekap dada, tersenyum smirk menatap Biru yang sedang memperhatikan foto itu.


"Terimakasih, anda telah repot-repot mengawasi saya!" jawab Biru, pria itu ingin terlihat setenang mungkin.


"Pasti kalian bertanya-tanya siapa wanita ini bukan?" tanya Biru seraya menunjukkan Hafizah.


Sementara semua orang terlihat berbisik-bisik, tetapi tidak dengan Murni.


Wanita itu menatap tajam putranya.


Murni ingin tahu apa yang diucapkan oleh anaknya.


"Wanita ini adalah teman istri saya, dia hamil dan Maya meminta saya sedikit membantu ekonominya, kalian bayangkan betapa mulianya hati Maya!"


Mendengar itu Lisa tidak diam. "Bukannya kamu yang menghamilinya? Makanya kamu bertanggungjawab atas wanita itu kan! Saya tidak membayangkan kalau berita ini tersebar sudah pasti mengancam keberadaan produk kita di pasar!"


Deg! Biru sedikit terkejut tetapi lelaki itu dapat menutupi kegugupannya.

__ADS_1


Sementara Murni, wanita itu merasa geram dengan Lisa dan Biru. Geram pada Lisa yang gak bosan berusaha untuk menggulingkan posisi Biru.


"Kalau pun wanita itu hamil oleh Biru memangnya kenapa? Yang salah adalah ketika Biru tidak bertanggungjawab!" timpal Murni, wanita itu tidak menyembunyikan apapun supaya tidak ada masalah dikemudian hari.


"Berarti anak kakak tidak pantas memimpin perusahaan ini! Bagaimana dia akan memimpin kalau memimpin rumah tangganya saja tidak bisa!" cibir Lisa, wanita berambut pendek itu berusaha keras meracuni pikiran semua orang yang berada di ruangan itu dan benar saja, semua berbisik dan ada yang mengatakan kalau tidak ingin rugi.


"Diam!" bentak Biru, suara getas nya itu berhasil membuat semua diam.


"Apa hubungannya rumah tangga ku dengan perusahaan, selama ini semua berjalan baik! Bahkan selama aku memimpin, perusahaan ini semakin maju!" jawab Biru dan benar saja, semua membenarkan ucapan Biru.


"Lisa! Sudah baik kamu punya sedikit saham di sini, jangan pernah lupakan kalau aku dan almarhum suamiku yang membangun perusahaan ini!" kata Murni, wanita itu tidak ingin dibantah dan wanita itu lah pemilik saham terbesar di perusahaannya.


Murni membubarkan rapat pagi ini dan semua keluar dari ruangan itu tetapi tidak dengan Biru dan Murni.


Keduanya masih duduk di kursi masing-masing, Murni menatap Biru yang menundukkan kepala. Setelah itu Murni bangun dari duduknya.


PLAK! Murni menampar Biru, agaknya wanita itu sudah tidak tahan lagi dengan Biru. Ia melemparkan selembar salinan kertas perjanjiannya dulu dengan Biru yang menuliskan bahwa Biru tidak akan mendapatkan apapun dari hartanya apabila bercerai dengan Maya sebelum 10 tahun pernikahan.


"Ck!" decak Biru, pria itu mengusap pipinya yang terasa perih.


****


Satu minggu berlalu, Maya sudah bisa berjalan walau pun belum sepenuhnya pulih seperti sediakala dan selama satu minggu itu pula Biru mulai mengabaikan Maya. Semakin membuat Maya merasa kalau dirinya bagai burung dalam sangkar.


****


Sekarang Biru sedang berada di vila. Ya, Biru menyembunyikan Hafizah di sana.


Bahkan Hafizah merasa bosan karena harus berada di dalam vila itu, Biru melarang Hafizah untuk keluar dari rumah.


"Mas, aku bosan! Kasur, TV, ayah dan taman belakang yang setiap hari ku lihat," rengek Hafizah seraya memijit kaki Biru, sementara Biru memejamkan mata, menyenderkan punggung di bantal yang sudah ia susun.


"Kenapa? Apa kamu ingin berlibur?"


"Iya," jawab Hafizah singkat.

__ADS_1


"Kemana? Bali, mau?" tanya Biru, pria itu merengkuh tubuh Hafizah membawanya ke pelukan.


"Mau!" jawab Hafizah dibuat seimut mungkin, wanita itu mengeratkan pelukannya


Setelah itu Biru segera menghubungi Ran untuk mengantar jadwal liburannya.


Sedangkan Maya, wanita itu sedang duduk seorang diri di kursi meja makan, merasa hampa dengan hidupnya dan saat ini Maya benar-benar ingin pergi dari rumah itu tapi tidak mungkin karena Ifraz dijaga ketat oleh orang Biru. Maya mencengkram rambutnya, kepalanya terasa sakit karena masalahnya semakin larut.


"Ifraz. Maafin mamah, Nak! Mungkin Mamah akan sedikit tega demi mendapatkan kebebasan untuk kita!" lirih Maya dalam hati.


Lalu Maya merasakan tangan yang mengusap punggungnya, Maya menoleh ke belakang dan ternyata itu adalah Murni.


Murni membawa Maya ke kamar karena ada hal penting yang harus dibicarakan.


Maya pun menurut.


Setelah membicarakan itu, Murni meminta Maya untuk berfikir lebih dulu sebelum menolak.


"Tapi, Mah. Maya tidak mengerti sama sekali tentang saham!" lirih Maya.


"Sudah, kamu ikuti saja perintah ku! Kalau pun Biru pergi dari hidupmu dan Ifraz biar dia menyesal telah menukar permata dengan batu!"


Maya terdiam mendengar itu karena yang Maya inginkan hanya satu yaitu pergi bersama dengan Ifraz.


"Sudah malam, mamah pulang dulu, kamu tidak sendirian, ada mamah selalu membantu kamu!"


Maya menganggukkan kepala, setelah kepergian Murni, Maya menghubungi Gala untuk membahas apa yang baru saja Murni rencanakan dan Gala sangat mendukung.


"Mbak, kalau mbak nggak mau hartanya tetapi anak mbak punya hak, benar kata Tante, semua harus menjadi milik Ifraz!" jawab tegas Gala membuat Maya menjadi semakin yakin.


Maya pun akhirnya memberanikan diri untuk menerima saham itu dengan syarat yang Murni berikan.


"Ya, aku pasti bisa!" ucapnya menyemangati diri sendiri.


Bersambung.

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca, like, komen, fav dan juga gift/votenya☺.


Sampai jumpa lagi besok dengan episode barunya.


__ADS_2