
Pembaca yang baik, jangan lupa klik like setelah membaca, jangan lupa di favorit kan juga ya 🙂
****
Ifraz mengajak dua gadis itu untuk makan siang lebih dulu, tetapi Zenia mengajak Ifraz untuk makan siang di rumahnya, tepatnya rumah Marisa.
"Ayo lah, sesekali temuin tante gue, lo kan pacar gue, biar tante gue kenal!" rengek Zenia dan Ifraz memperhatikan dari kaca spion, melihat Pia sedang memainkan ponselnya.
"Tapi... kita antar Pia pulang dulu, ya," kata Ifraz.
"Gue turun di sini aja, besok-besok nggak usah ngajak bareng! Biar gue pulang sendiri!" ucap Pia seraya merapikan tasnya dan setelah mobil itu berhenti Pia turun dari mobil membuat Ifraz menjadi bingung.
"Kan ini mobil dia, kenapa dia yang turun!" Ucap Ifraz.
Sementara Pia, gadis itu berdiri di tepi jalan, merasa bodoh karena baru saja dia turun dari mobilnya sendiri.
"astaga, harusnya, gue yang nyuruh mereka turun!" gumam Pia seraya merapikan anak rambutnya.
"Pia, masuk, jangan kaya anak kecil," ucap Ifraz seraya menarik lengan Pia.
"Apaan sih, gue balik sendiri aja!" kata Pia seraya berusaha melepaskan tangan Ifraz.
"Kenapa sih, kok sekarang ngambek mulu!"
"Pikir aja sendiri!" jawab Pia, setelah itu ia menyetop taksi dan segera pergi meninggalkan Ifraz.
Setelah itu, Ifraz kembali ke mobil dan mengantar Zenia pulang ke rumah Marisa.
"Makasih, ya, udah anterin gue pulang, gue kasih tau tante dulu kalau pacar ponakannya datang ke rumah," kata Zen, ia segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Marisa.
Marisa yang menerima pesan itu dari Zen merasa kalau akhirnya Ifraz akan masuk ke dalam perangkapnya dan Marisa akan melanjutkan balas dendamnya yaitu mengusik kebahagiaan Maya dan Daniel.
"Kalian yang memulainya dan aku tidak akan berhenti sebelum kalian hancur!" geram Marisa, ia segera bangun dari duduk dan segera bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, Marisa melihat Ifraz dan Zenia sedang duduk di sofa ruang tengah.
"Eheem!" Marisa sengaja mengeluarkan suara, menghentikan aktivitas Zen dan Ifraz yang sedang bermesraan.
Ifraz terkejut, ia takut akan di marahi oleh tante Zen, takut akan dimintai pertanggungjawaban karena sudah berani mencium keponakannya.
Ifraz segera berdiri, merasa tidak enak, pria itu menggaruk tengkuknya.
"Mampus gue, mampus!" ucapnya dalam hati.
Namun, tidak seperti yang Ifraz pikirkan.
"Kalian, sudah makan siang?" tanya Marisa seraya meletakkan tas tangannya di sofa. Memberikan senyum pada dua anak muda itu.
"Belum, kami menunggu tante," jawab Zenia.
Setelah itu, Marisa mengajak Zenia dan Ifraz untuk makan bersama.
Selama makan, Ifraz hanya diam saja, dia masih merasa malu karena terpergok tadi.
Lalu, Marisa membuka pembicaraan, seolah tak mengenal orang tua Ifraz.
__ADS_1
Seperti kebanyakan orang tua pada umumnya, Marisa bertanya apa profesi ayah dan ibu Ifraz.
Ifraz menjawab semua.
"Oh, iya. Tuan Daniel. Saya pernah bertemu dengan beliau di acara peresmian hotel baru Tuan Sukma," kata Marisa seraya menatap Ifraz.
"Tante mengenal semua keluarga ku?"
"Tidak, hanya pernah melihat dan mendengar nama saja," jawab Marisa.
"Sebenarnya apa yang direncanakan oleh nenek sihir ini?" batin Zenia dengan terus menyantap makan siangnya.
"Tapi, kenapa kamu sangat berbeda dengan Tuan Daniel?"
"Maksud tante?"
"Ah, bukan apa-apa! Lupakan!" jawab Marisa, setelah itu Marisa bergumam, sengaja agar Ifraz mendengarnya, "jangan-jangan anak pungut, makanya nggak ada miripnya!"
"Uhukk!" Ifraz tersedak makanan saat mendengar itu, segera Zenia memberikan minum pada Ifraz.
"Sayang, pelan-pelan dong!" kata Zenia seraya menepuk punggung Ifraz.
"Gue nggak papa," jawab Ifraz.
"Maaf, Tan. Aku mendengar yang tante ucapkan!" kata Ifraz, setelah itu ia bangun dari duduknya dan segera berjalan meninggalkan ruang makan itu.
"Ifraz!" seru Zenia, ia bangun mengejar pria tampan yang tersinggung dengan ucapan Marisa.
"Kejarlah, layaknya seorang kekasih, kita mainkan sekarang!" kata Marisa.
****
"Zen, maaf. Tapi gue harus balik!"
"Faz, jangan marah sama tante, salah paham aja ini!"
"Iya, makanya sekarang gue mau balik," jawab Ifraz yang sedang membuka pintu mobil.
"Lo nggak marah kan sama gue?"
"Enggak, tenang aja! Bye!" kata Ifraz, setelah itu, lelaki tinggi tersebut segera menutup pintu mobil dan segera menancap gas.
Di perjalanan, Ifraz terngiang-ngiang dengan ucapan Marisa.
"Kenapa gue marah, kan udah biasa gue dibilang nggak mirip!" batin Ifraz.
Lelaki itu memukul stir kemudinya, hatinya kembali terusik dengan kenyataan itu.
Ifraz memilih untuk mengembalikan mobil Pia.
Sesampainya di sana, Ifraz tidak menemui Pia, ia mengembalikan kunci mobil itu pada satpam yang sedang bertugas.
Sementara Pia, gadis itu melihat dari jendela kamarnya.
"Kenapa tuh anak?" tanyanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Sementara Zenia, ia mendapatkan sejumlah uang yang cukup banyak dari Marisa.
"Dengar, yang harus kamu lakukan adalah membuat pria itu tergila-gila, lalu jatuhkan!" ucap Marisa seraya memberikan uang itu.
"Ok, demi uang, gue anggap ini adalah pekerjaan gue!" batin Zenia. Gadis itu tersenyum dan mencium uang dalam amplop coklat.
"Murahan, melakukan apapun demi uang!" batin Marisa. Wanita itu keluar dari kamar Zenia, gadis yang ditemuinya di tepi jalan beberapa bulan lalu.
Sementara Zenia, gadis itu merasa beruntung, telah keluar dari rumah dan dipungut oleh Marisa.
****
Sore ini, Maya dan Daniel kembali dari perjalanan bisnisnya.
Keduanya hanya melihat Kania.
"Abang kamu di mana?" tanya Daniel.
"Entah, dari semalam mamah nggak lihat Ifraz," jawab Imelda yang sedang duduk bersama dengan Maya.
"Biar Maya hubungi," kata Maya yang kemudian mencoba menelepon Ifraz.
"Nggak diterima," lirih Maya, wanita itu menatap Daniel.
"Mungkin lagi main, udah gitu pasti sibuk juga, udah mau semester kan dia," ucap Daniel.
"Itu dia, harusnya belajar, bukan keluyuran," timpal Maya, "aku lelah, ingin ke kamar dulu," lanjutnya, ia bangun dari duduknya dan segera meninggalkan semua orang di ruang tengah.
Sementara itu, Ifraz, ia sedang berada di rumah Arya.
"Kenapa? Jangan bilang urusan cewek!" tanya Arya, pria tampan berwajah oriental itu menatap Ifraz yang terlihat murung, duduk depan televisi dengan sampah kacang yang berserakan.
"Arya, di rumah, cuma gue doang yang beda, wajar nggak kalau gue berfikir kalau gue bukan anak kandung bokap, nyokap gue?"
"Iya sih, kok bisa lo beda sendiri!" tanya Arya keheranan.
"Kenapa nggak dilihat aja dari buku nikah mereka?"
"Benar! Tumben otak lo encer!"
"Gue selalu encer, jangan lupa itu kulit kacang!" kata Arya mengingatkan dan Ifraz tidak menghiraukan, pria yang sedang galau itu langsung menyambar tasnya yang berada di sebelahnya, ia segera pulang.
Sesampainya di rumah, Maya bertanya apa yang terjadi, kenapa wajah putranya bisa lebam?
"Bukan apa-apa, wajar aja, anak muda!" jawab Ifraz yang kemudian menerobos masuk, meninggalkan Maya yang baru saja membukakan pintu.
Maya menutup kembali pintu itu, ia menyusul Ifraz.
"Ifraz, kamu kenapa, Nak? Ceritakan sama mamah!"
Bukannya bercerita, tetapi Ifraz segera masuk ke kamar dan mengunci kamar itu.
"Kenapa lagi anak itu!"
Bersambung.
__ADS_1