Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Tidak Sabar!


__ADS_3

"Astaga, salah apa komik sama kamu!" kata Maya dan Ifraz hanya menatap datar Maya.


Maya mengambil komik itu dan meletakkan komik tersebut di meja belajar Ifraz.


"Kenapa? Cerita sama mamah!" kata Maya seraya ikut duduk di ranjang.


"Nggak ada!" kata Ifraz seraya menundukkan kepala.


"Oohh, nggak ada, ya. Tapi kamu tadi nanyain Pia? Kenapa sama Pia?" tanya Maya yang sengaja memancing Ifraz dan berharap Ifraz akan menceritakan masalahnya supaya Maya bisa memberi saran.


Mendengar itu, Ifraz masih diam dan tak mau mengatakan apa yang telah mengganggu hatinya.


"Cerita lah, mamah akan menjadi pendengar yang baik!" kata Maya seraya mengusap punggung Ifraz.


Walau begitu Ifraz masih tak mau menceritakan itu. Lalu, Maya menceritakan asal-usul Pia pada Ifraz tanpa diminta Ifraz.


"Pia adalah anak angkat, dia bukan adik kamu tapi kalau kamu mau menganggap adik nggak papa, toh selama ini kalian sudah saling menjaga, sebagai sahabat dan belakangan ini kalian menjadi kakak adik, kan?"


"Ifraz nggak mau jadi kakak Pia!" jawab Ifraz singkat dan masih menundukkan kepala.


"Terus maunya jadi apa?" tanya Maya yang masih terus menatap Ifraz.


"Entah!" jawab Ifraz seraya beringsut, ia tak tau harus bagaimana dan sekarang ingin bangun dari duduknya, tetapi Maya menahan lengan Ifraz dan memintanya untuk duduk.


"Dengarkan, jangan pernah melakukan kebodohan yang akan membuat kamu sakit selama hidup! Kalau kamu cinta katakan cinta, kalau kamu mau Pia gapai lah dia! Jangan pernah kamu sia-sia kan gadis seperti Pia. Ingat, penyesalan selalu datang di akhir! Sebelum Pia menjadi milik orang lain, kejar lah!" kata Maya dan Ifraz seolah mendapatkan dorongan, ia menganggukkan kepala dan sekarang meminta Maya dan Daniel untuk melamar Pia.


"Kalian harus membantu ku, melamarnya!" kata Ifraz dan Maya menganggukkan kepala.


"Baiklah, besok kita akan ke sana!" jawab Maya dan Ifraz merasa sangat lama sekali untuk menunggu besok.


"Kenapa besok? Sekarang kan bisa?"


"Astaga, ini udah malam sayang!" kata Maya seraya mengusap rambut Ifraz.


"Baiklah!" jawab Ifraz terdengar pasrah.


Setelah membuat hati anaknya sedikit lega dan semakin menambah kegalauan Ifraz karena Ifraz menjadi tidak sabar untuk menunggu besok, terlebih lagi Ifraz ingin mendengar jawaban apa yang akan Pia katakan.


Sekarang Maya pamit pada Ifraz, Maya juga mengatakan pada Ifraz untuk segera istirahat.


"Iya, Mah," jawab Ifraz seraya menganggukkan kepala.


Sementara itu, ternyata Daniel menguping pembicaraan mereka.

__ADS_1


Sekarang Daniel segera pergi dari tempatnya berdiri, segera masuk ke kamar seolah sedang membaca.


Padahal, Daniel memikirkan ucapan Maya. Berpikir kalau Maya telah menyesal menikah dengannya.


Tetapi, Daniel tidak akan pernah berani untuk menanyakan itu pada Maya, tidak pernah siap untuk mendengar jawaban apa yang akan Maya berikan nanti.


"Kamu belum tidur, Mas?" tanya Maya yang baru saja masuk kamar.


"Belum, aku menunggu istriku!" jawab Daniel seraya menutup buku yang ada ditangannya.


"Oh, ya sudah. Ayo kita tidur," kata Maya seraya naik ke ranjang dan menarik selimut menutupi setengah badannya.


Daniel mengusap rambut Maya, menatapnya dan entah apa yang dipikirkan oleh Daniel.


Setelah itu, Daniel pun segera menyusul Maya.


****


Keesokan harinya, Pia bertemu dengan Miko di kampus, tetapi pria itu masih saja terlihat sangat cuek, bahkan tak menyapa Pia walau keduanya berpapasan.


Pia yang terlalu ramah itu sudah memberikan senyum terlebih dulu pada Miko merasa menyesal.


"Sial, gue udah senyum dia malah datar aja, kan gue jadi malu! Diihh besok-besok mah ngapain gue ramah sama orang sombong!" batin Pia, gadis yang selalu berpenampilan rapih itu segera pergi ke kelasnya.


Maya pergi bersama Ifraz dan Maya yang memilih. Pilihan Maya jatuh pada cincin yang tampilannya sangat sederhana dengan satu permata, tetapi Maya yakin kalau cincin itu sangat cocok dengan Pia.


Ifraz pun tak menunggu apa-apa lagi, ia langsung meminta untuk membungkusnya, Ifraz membeli cincin itu sepasang dengan cincin miliknya.


"Nggak sabar banget, main bungkus aja! Ukuran udah pas belum?" tanya Maya dan Ifraz menjawab kalau jari manis Pia seukuran dengan jari manis Maya.


"Pas, yakin!" jawab Ifraz, setelah berbelanja, sekarang Ifraz mengantarkan Maya untuk pulang lebih dulu, setelah itu Ifraz pergi ke kampus untuk kuliah.


Hari ini terasa lama, sangat lama bagi Ifraz yang sudah tidak sabar lagi ingin secepatnya datang malam hari.


Ifraz kuliah dengan semangat, walau yang ada dipikirannya hanya Pia, Pia dan Pia, tetapi memang Pia lah yang sekarang menjadi penyemangatnya.


Setelah melalui hari yang cukup panjang, sekarang Ifraz yang sudah di rumah mengirim pesan pada Pia, mengatakan kalau dirinya akan datang dan Pia membatin kalau Ifraz sangat aneh, menurutnya, datang kan tinggal datang.


Setelah itu Pia mengabaikan pesan dari Ifraz.


Sekarang kembali ke rumah Daniel.


Pria itu sedang bersiap dan Maya yang sedang sibuk mengurus Kania itu lupa kalau harus menyiapkan baju ganti untuk Daniel.

__ADS_1


Daniel membuka sendiri lemari itu dan di sana ia melihat jas yang dirasa bukan miliknya.


Daniel mengambil jas berwarna biru tua itu dan memperhatikan jas tersebut.


"Punya siapa ini? Perasaan bukan punya aku!" gumam Daniel, "tapi jas ini terlihat sangat mahal," lanjutnya, Daniel kembali meletakkan jas itu di lemari.


Ia mengambil jas miliknya dan setelah rapih mengurus Kania, sekarang Maya mengurus dirinya.


"Kamu udah rapih, Mas?" tanya Maya yang baru saja masuk ke kamar.


"Udah, kamu masih lama?" tanya Daniel.


"Enggak, aku tinggal ganti baju aja," jawab Maya yang kemudian mengambil baju di lemari, seketika Maya teringat dengan jas Biru.


"Tadi dia liat jas ini nggak, ya?" gumam Maya dalam hati.


"Tapi Daniel diam aja, apa dia nggak lihat?" kata Maya dalam hati, sedangkan Daniel menunggu Maya sendiri yang menjelaskan.


"Apa itu kado buat aku, May?" tanya Daniel dalam hati.


Daniel pun memutuskan untuk menunggu Maya yang akan memberikan jas itu padanya.


Sementara itu, Maya sedang mengganti pakaiannya di kamar mandi.


Tidak lama kemudian, satu keluarga itu sudah siap dan sekarang Daniel mengemudikan mobilnya ke rumah Biru.


Sesampainya di sana, kebetulan Pia yang sedang duduk di ruang tengah mendengar bel, segera Pia yang hanya mengenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek itu membuka pintu.


Pia merasa malu saat melihat Ifraz datang bersama dengan keluarganya.


"Astaga, gue kira lo dateng sendirian!" gumam Pia dalam hati.


Setelah itu Pia mempersilahkan keluarga Ifraz untuk masuk.


Pia segera memanggil Biru dan mengganti pakaiannya dengan yang lebih sopan.


Bersambung.


Uwuw, lamarannya lancar nggak ini kira-kira?


Do'ain acaranya lancar ya guys🤭✌.


Yuk jangan malas untuk klik like karena klik like nggak bikin jempol kesleo, kok 🤭.

__ADS_1


__ADS_2