Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Apa Yang Kamu Lakukan?


__ADS_3

Maya baru saja melakukan videocall dengan anaknya, sekarang semakin terasa rindu itu dan ingin segera menemuinya.


Lalu datang Gala mengetuk pintu kamar Maya.


"Ada apa, Gal?" tanya Maya seraya berjalan ke pintu.


Gala menjawab setelah pintu terbuka, "Mbak, dari pada di rumah sendirian lebih baik ikut aku aja ke toko!"


"Iya, Mbak nanti nyusul ya!"


"Sekalian aja, biar sekalian naik motor sama aku!"


"Hmmm, iya udah. Mbak bersiap dulu."


"Gala tunggu di depan!"


Setelah mengatakan itu Gala menunggu seraya memanasi mesin motornya.


Tidak lama kemudian. "Yuk," ajak Maya yang baru saja keluar dari rumah tidak lupa mengunci pintu.


Gala menjawab dengan menganggukkan kepala.


Sesampainya di toko, Maya melihat sudah banyak perkembangan pada bisnis adiknya.


"Gal, kamu butuh karyawan lagi nggak? Mbak kerja di sini aja, ya."


"Ngapain, Mbak? Mbak kan punya semua, lagian kalau mbak mau mencari kesibukan mbak tinggal belajar bisnis sama tante!"


"Mbak nggak mau, nggak tega sama Mas Biru!"


"Hhhmmm, mending mbak buka usaha sendiri aja kalau gitu!"


"Iya, tapi usaha apa?"


"Mbak kan lebih ke fashion, pakai apa aja juga cocok. Tinggal buka butik atau toko kosmetik, banyak mbak kalau mbak mau mah!"


"Nanti mbak pikir-pikir dulu!"


Gala tidak menjawab lagi, pria itu membuka kunci pintu tokonya dan mempersilahkan Maya untuk masuk.


****


Sementara Hafizah, wanita itu masih dalam perjalanan dan selama perjalanan itu juga dirinya selalu memikirkan Maya yang sekarang hidup enak sendiri dengan cara mengambil semua hak milik suaminya.


"Mbak Maya. Aku enggak nyangka kalau kamu licik juga ya. Aku nyesel kemarin kenapa enggak aku ambil harta sebanyak-banyaknya lebih dulu sebelum kalian bercerai!" batin Hafizah.


HAHH!


Hafizah menarik nafas dan mengeluarkannya kasar.

__ADS_1


Sekarang, Hafizah sudah sampai di depan rumah mewah Maya. Ya, wanita itu mengira Maya berada di sana. Hafizah berteriak memanggil namanya.


"Mbak Maya!"


Satpam pun datang.


"Maaf, Nyonya tidak lagi tinggal di sini!" kata satpam itu yang berbicara dari balik pintu.


"Di mana dia? Saya mau bicara penting!"


"Maaf, kami tidak bisa memberitahu!" jawab satpam dan sekarang satpam itu meninggalkan Hafizah yang merasa kesal.


Lalu, Hafizah yang masih berdiri di depan pagar itu mencoba untuk menghubungi Maya tetapi Maya memilih untuk mengabaikan panggilan itu.


"Pengecut kamu!" umpat Hafizah seraya menatap ponselnya.


Setelah itu Hafizah menghubungi temannya sewaktu dulu bekerja di mall.


"Dew, aku kangen sama kamu, gimana kabar kamu?" ucap Hafizah basa-basi.


"........... "


"Ok, aku ke rumah ya!" balas Hafizah, setelah itu Hafizah memutus sambungan teleponnya, memesan ojek online tidak lama kemudian ojek yang di pesannya datang.


Hafizah memakai masker dan helm setelah itu naik ke motor dan di perjalanan wanita itu melihat Maya yang sedang masuk ke sebuah toko distro dengan membawa kantong berisi camilan.


"Kiri bentar, Pak!" perintah Hafizah seraya menepuk bahu supir ojek.


Hafizah pun menyebrangi jalan dan berdiri di depan toko milik Gala.


"Jadi kamu di sini, mbak!" gumam Hafizah.


Setelah itu Hafizah berfikir untuk melempar batu ke kaca toko tersebut dan baru saja ia mengambil batu di tepi jalan ada satu kaki yang menginjak tangannya.


"Aah!" pekik Hafizah dan tangan satunya mendorong kaki itu supaya menyingkir dari tangannya.


Hafizah mendongakkan kepala melihat siapa yang telah menginjak tangannya itu.


HAH!


"Ternyata kamu, kamu pasti menguntit Maya, kan?"


"Bukan urusanmu! Urusanku adalah melindungi dia dari orang-orang jahat seperti kalian!" ucapnya, pemilik kaki itu yang menggunakan sepatu pantofel menatap tajam Hafizah membuat wanita itu merasa takut.


Hafizah memilih pergi meninggalkan pria itu yang tersenyum smirk padanya.


Sedangkan Biru, pria itu tidak mendapatkan pekerjaan di manapun.


Sekarang merasa frustasi, duduk di mobilnya menjatuhkan kepalanya di setir kemudi.

__ADS_1


"Kalian akan menerima balasan untuk ini!" batin Biru, pria itu semakin membenci Maya dan Murni.


"Lalu di mana anakku?" tanyanya pada diri sendiri, "pasti mamah yang ada di balik semua ini, Maya mana mungkin bisa berbuat seperti ini!" lanjutnya.


Setelah merasa sia-sia mendatangi semua kantor koleganya sekarang Biru memilih untuk istirahat di rumahnya yang kecil.


"Enak sekali kamu, Maya! Sekarang pasti kamu sedang menikmati semua hartaku sendirian!" batin Biru.


"Aku tidak boleh tinggal diam!" lanjutnya dan sekarang pria itu tersenyum jahat memikirkan rencana yang dikiranya akan membuat Maya mau tidak mau harus kembali padanya, pria itu ingin membalas dendam rasa hatinya.


"Ternyata kamu tidak bisa di baik-baikin!" batin Biru.


Setelah itu, Biru memilih untuk istirahat lebih dulu, pria itu tertidur di sofa ruang tengah.


****


Hari sudah sore dan Maya merasa lelah membantu Gala di toko dan sekarang Gala baru datang sepulang dari kuliahnya.


"Gal, mbak pulang dulu ya. Mbak lelah, oia nanti ada hal penting yang harus mbak bicarakan, tapi di rumah aja!" kata Maya yang sedang membantu membungkus paket bersama dengan dua karyawan Gala.


Gala menjawab dengan menganggukkan kepala.


Setelah mengatakan itu Maya pun bersiap pulang dan Gala meminta salah satu karyawannya itu untuk mengantar Maya.


Setelah sampai di rumah, Maya mengucapkan terimakasih pada karyawan Gala.


Wanita itu turun dari motor dan membuka kunci pintu pagar tidak lupa menguncinya lagi. Sekarang Maya sedang membuka pintu rumah dan perasaannya itu tidak enak.


"Mungkin perasaan aku aja!" gumam Maya dalam hati.


Maya yang sedang kelelahan itu memilih untuk mandi.


Wanita itu tidak berlama-lama dengan mandinya karena perutnya merasa lapar, ia yang rambutnya masih basah dan digelung menggunakan handuk itu memilih untuk duduk di tepi ranjang, menjatuhkan dirinya menatap langit-langit kamar, tersenyum tidak sabar ingin segera menyusul putranya yang sekarang sedang berada jauh di sana. Maya memejamkan mata, membayangkan kehidupan bahagianya bersama dengan putranya.


Lalu Maya harus membuka mata saat dirinya mendengar seseorang mengetuk pintu.


"Gal?" seru Maya dan tidak ada jawaban membuat Maya segera membuka pintu dan betapa terkejutnya Maya saat melihat Biru yang berdiri di balik pintu itu.


"Kenapa? Apa sekarang kamu sama sekali tidak merindukanku?" tanya Biru, pria itu mendorong pintu kamar Maya terbuka.


"Ka-kamu. Mau apa kamu!"


"Sudah jangan berlagak tidak mengerti apa yang ku inginkan!" ucap Biru seraya merengkuh Maya membawanya ke pelukan dan Maya sangat takut dengan tatapan mata Biru.


"Lepas!" ucap Maya seraya mendorong dada Biru tetapi tidak juga terlepas dan sekarang Biru yang melempar Maya ke ranjang.


"Pergi kamu, pergi! Atau aku akan berteriak!"


Biru tidak mengindahkan ucapan Maya, justru pria itu mulai membuka kancing kemejanya satu persatu membuat Maya semakin panik.

__ADS_1


Bersambung.


Like ya 😊, sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2