
Melihat mobil sedan yang berhenti di depan mereka membuat Ayana dan Dilan saling menatap dan bertanya-tanya.
''Siapa? Kamu kenal?'' tanya Ayana pada Dilan dan Dilan menggelengkan kepala.
''Kamu kenal May?'' tanya Dilan dan Maya pun menganggukkan kepala.
Belum sempat Maya menjawab sudah turun pria tampan dari mobil tersebut.
''May? Ngapain?'' tanya pria itu yang tak lain adalah Bram.
''Aku habis jalan, mau pulang mogok mobilnya.'' Maya menunjuk ke mobil Ayana.
Bram yang tak mengerti soal mobil pun tidak menawarkan bantuan untuk memperbaiki mobil tersebut.
''Gua hubungin montir, ya!'' kata Bram dan Ayana pun menganggukkan kepala.
Setelah itu Dilan menyikut lengan Ayana yang terkesima dengan ketampanan Bram. ''Kondisikan!'' bisik Dilan dan Ayana pun membalas dengan senyum.
Selesai dengan teleponnya sekarang Bram menawarkan tumpangan pada tiga gadis itu.
Tetapi semua menolak, Dilan tidak ingin meninggalkan Ayana sendirian menunggu montir lalu meminta pria itu untuk mengantar Maya.
''Anter Maya aja gimana, kasian dia udah malam juga!'' usul Dilan dan Maya menjawab, ''Nggak enak aku ngerepotin! Kalau aku pesan taksi aja gimana?'' kata Maya dan Bram pun tak menerima usul Maya, pria itu langsung membopong Maya membawanya masuk ke mobilnya.
''Lu udah gua anggap seperti adik, May! Jadi jangan menolak!'' kata Bram dan dua teman Maya itu hanya memperhatikan.
Sementara Maya dia sedikit sebal tetapi karena keadaannya itu membuat Maya pasrah dan tidak bisa menolak.
Sekarang Bram sedang melipat kursi roda itu lalu memasukannya kedalam bagasi.
''Kami jalan dulu, ya!'' kata Bram dan dua teman Maya itu menganggukkan kepala.
''Gila, Maya nemu dimana cowok tampan kaya gitu, apa dia teman Biru secara mereka sama-sama tampan!'' kata Ayana.
''Entah,'' jawab Dilan singkat.
****
__ADS_1
Tak ada obrolan diantara Maya dan Bram selain menanyakan kemana Maya pulang dan Bram hanya membatin saat tau Maya kembali ke rumah suaminya.
''Ok,'' jawab Bram dan Bram memperlambat laju mobilnya dan harus berhenti karena bertemu lampu merah.
Seraya menunggu Bram mengambil rokoknya yang berada di depan mata, pria itu membuka kaca mobilnya supaya ada jalan keluar untuk asap rokok tersebut.
Tanpa Bram dan Maya ketahui ternyata Biru melihat mereka dari arah sebaliknya, sudah pasti Biru salah sangka, mengira Maya dan Bram ada sesuatu, pria yang baru saja membeli martabak itu memutar balik mobilnya dan mengejar mobil Bram.
Bram melihat dari spion merasa heran dengan mobil yang mengikutinya, Bram semakin mempercepat laju mobilnya itu dan Maya bertanya ada apa.
''Ada yang ngikutin kita!'' jawab Bram dan Maya pun melihat ke belakang.
''Itukan mobil Mas Biru!'' gumam Maya dan Maya mengerti kenapa mobil Biru mengejarnya.
Dan Bram pun memperlambat laju mobilnya saat mendengar gumaman Maya.
Bram menepikan mobilnya saat melihat mobil Biru sudah memotong jalan. Terlihat Biru dengan wajah yang sangat jengkel itu turun dari mobil dan membuka pintu mobil Bram sedangkan Maya sudah mengerti apa yang akan terjadi.
Benar saja Biru menarik kerah kemeja Bram membawa Bram turun dari mobilnya dan langsung memberi tinju pada Bram.
Bram mengusap ujung bibirnya yang berdarah, sementara Biru dan Bram tidak mendengar seruan Maya yang meminta mereka untuk berhenti bertengkar. Maya mengatakan yang sejujurnya tetapi percuma karena Biru tak mendengarkan.
''Berani-beraninya lo deketin bini gue!'' kata Biru seraya terus meninju Bram dan kali ini Bram tidak tinggal diam, pria itu balik meninju Biru sehingga pria itu tersungkur.
''Tepatnya bini yang lo sia-siakan bukan!'' kata Bram sera meninju rahang Biru.
Dan karena sudah malam, jalanan yang sepi membuat teriakan Maya meminta tolong tidak ada yang mengindahkannya.
''Harus bagaimana ini, bisa babak belur mereka,'' gumam Maya yang mencoba untuk menggerakkan kakinya, Maya ingin melerai keduanya yang bertengkar dengan terus meracau dan saling memaki.
Biru mengatai Bram sebagai pria perebut istri orang sedangkan Bram mengatai Biru sebagai peselingkuh. Mendengar itu membuat Biru sangat jengkel karena menurutnya Bram telah ikut campur dalam urusannya.
Biru mendorong dada Bram dan berkata yang sangat menyakitkan bagi Maya yang sekarang sudah berdiri dibelakang Biru.
''Kalau lo mau rebut istri orang lebih baik lo cari yang normal enggak cacat kaya bini gue!''
Bram menatap Maya yang berada di belakang Biru, wanita itu menitikkan air matanya lalu meraih lengan Biru.
__ADS_1
Biru yang masih diselimuti kejengkelannya itu mengibaskan tangan yang berada di lengannya dan Biru yang merasa kesal pada orang yang mencoba melerainya itu itu langsung berbalik badan meninjunya.
Bugh! Tinju Biru mengenai wajah Maya membuat Maya terhuyung dan jatuh seketika pingsan.
''Bajing*an lu!'' geram Bram seraya memukul Biru secara membabibuta beruntung ada beberapa warga yang melerai keduanya kalau tidak saya pastikan Biru tewas malam itu juga.
Sekarang Bram membopong Maya membawanya kembali ke mobil.
''Maya!'' seru Bram seraya menepuk pipinya, terlihat sudut bibirnya sudah berdarah.
Bram segera membawa Maya ke rumah sakit dan Bram merasa senang saat melihat Maya sudah bisa berjalan dengan perlahan.
Sementara Biru, pria itu melupakan martabak untuk Hafizah, sekarang sudah berada di rumah menunggu Maya dengan perasaan yang sangat jengkel dan sedikit menyesal telah tidak sengaja meninju Maya.
Sementara Maya dan Bram masih dalam perjalanan dari rumah sakit.
''May, lu beneran nggak papa?'' tanya Bram seraya melirik Maya yang terdiam, hanya air mata yang menetes. Ya, Maya merasa sakit hati saat mendengar Biru mengatainya cacat.
Tak mendapat jawaban membuat Bram memilih untuk diam. Sekarang sudah sampai di depan pagar rumah Biru, Bram membantu Maya untuk turun dan memindahkannya ke kursi roda.
Bram mendorong kursi roda itu sampai masuk ke rumahnya. Di sana Bram mendapat tatapan tidak suka dari Biru yang sudah berkacak pinggang.
Maya menyuruh Bram untuk segera pulang.
''Tapi May, gua khawatir lu diapa-apain sama monster ini,'' jawab Bram seraya melirik Biru sementara Biru yang sudah sangat jengkel melihat kebersamaan Bram dan Maya itu membanting guci yang berada di dekatnya.
Pyaaarrr! suara guci yang pecah membuat Maya merasa semakin takut.
''Aku minta kamu pulang, Bram!'' perintah Maya, ''Biar ini rumah tanggaku menjadi urusanku!'' lanjut Maya dan Bram pun mengiyakan perintah Maya, pria itu dengan berat hati meninggalkan wanita yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
Setelah itu Maya mendorong kursi rodanya masuk ke dalam melewati Biru yang frustasi tetapi pria itu tidak tinggal diam.
Biru menahan kursi roda Maya dan berteriak meminta Maya untuk jangan berpura-pura lumpuh.
''Bangun kamu!''
Bersambung.
__ADS_1
Terimakasih yang sudah membaca. Jangan lupa untuk tinggalkan like dan favorit ya