Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Rahasia Pia


__ADS_3

Sekarang, Ifraz kembali ke kamarnya, di sana ia membuka ponselnya yang ternyata banyak pesan masuk dari Maya.


Ifraz membaca pesan itu yang berisi kalau Maya meminta maaf dan tidak ada niat untuk menipu anaknya.


"Entahlah, aku merasa kecewa pada kalian, kalian terlalu banyak membohongiku, di tambah lagi ayahku yang selama ini ku panggil om, sungguh sandiwara yang sempurna!" kata Ifraz dalam hati.


Setelah itu, Ifraz pergi ke rumah sakit dimana Maya dirawat. Bukannya masuk untuk melihat keadaan ibunya, tetapi Ifraz hanya melihat dari luar, dari celah kaca kecil yang menempel dipintu.


Ifraz menatap tak tega, tetapi mau bagaimana lagi, ia menganggap kalau ini adalah akal-akalan Maya supaya dirinya pulang.


Setelah itu, Ifraz pergi dari sana, ia kmebali pulang dan ternyata sudah ditunggu oleh Zenia.


"Ifraz, dari mana? Malam-malam begini?" Zenia bangun dari duduknya dan segera membawa Ifraz duduk.


"Gue cuma nyari angin aja!" jawab Ifraz.


Malam ini, tak ada kemesraan bagi Zenia dan Ifraz, Ifraz merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya setelah melihat keadaan ibunya.


"Ya udah, sekarang tidur, besok Tante sama Om mau bawa kita liburan!" kata Zenia dan Ifraz pun menurut.


****


Sementara itu, Biru sedang menunggu Pia di ruang kerjanya, setelah Pia masuk, sekarang, Biru bangun dari duduknya, ia membuka kain yang menutupi foto besar itu.


"Dia adalah masalalu Ayah!" kata Biru seraya menjatuhkan kain yang ada di tangannya.


Pia memperhatikan sosok wanita yang ada di lukisan itu dan mengenalinya.


"Tante maya?" tanya Pia dan Biru menganggukkan kepala.


"Dia adalah wanita yang pernah ku sia-siakan!" jawab Biru dan Pia bertanya apakah Maya adalah ibunya dan Biru menjawab dengan senyum.


"Benar?" tanya Pia, gadis itu berfikir kalau dirinya dan Ifraz adalah kakak-beradik.


"Bukan, tetapi ayah selalu menganggap dia adalah ibumu," jawab Biru, pria itu sekarang duduk di kursi kebesarannya , membuka laci mengambil foto kecil Pia, Biru memberikan foto itu pada gadis yang masih berdiri.


Pia pun menerima foto itu, ia terlihat sangat kurus dan bajunya pun bukan baju mahal seperti yang ia kenakan sekarang.

__ADS_1


Di situ Pia melihat perbedaan dirinya yang baru datang bersama dengan Murni dan setelah dirawat oleh Murni dan Biru.


"Maksud Ayah, Pia anak pungut?" tanya Pia seraya menatap nanar mata ayahnya.


"Kamu anak angkat kami, pelipur lara kami karena datang setelah kami kehilangan Maya dan Ifraz. Ayah harus mengatakan ini semua karena kamu sudah dewasa, tapi ayah mohon, kamu jangan pernah berubah atau merasa menjadi anak angkat, kamu adalah adalah anak ayah!" kata Biru dan Pia menitikkan air mata.


"Iya, Pia anak ayah, bukan anak orang lain, apakah Pia dibuang oleh orang tua Pia?'' tanya Pia dengan suara bergetar.


"Tidak, jangan berfikiran seperti itu, Ibu kandungmu sudah meninggal dan maafkan ayah karena tidak pernah mengajak kamu ke makam ibumu, ayah berfikir akan memberitahu mu setelah lulus sekolah dan sekarang adalah waktunya," kata Biru dan Pia hanya menganggukkan kepala.


"Ayah, tolong jangan carikan ayah kandungku, aku mau tetap bersama dengan ayah, itupun kalau ayah masih menginginkan Pia!" Setelah mengatakan itu, sekarang, Pia keluar dari ruang kerja Biru, Pia berlari masuk ke kamarnya.


Di sana, Pia menangis setelah mengetahui kebenarannya.


"Ayah, aku kira aku adalah anak kandungmu, maafkan Pia yang selama ini manja sama ayah, minta ini dan itu, Pia juga merasa bersalah karena Pia terus merengek meminta ibu, Pia seperti tidak bersyukur karena sudah memliki ayah di hidup Pia," lirih Pia.


****


Sementara itu, di rumah sakit, Daniel sedang membujuk Maya untuk makan malam tetapi Maya hanya diam, dengan telaten Daniel membujuk dan akhirnya Maya pun membuka mulut dan masuk sedikit makanan.


Daniel merasa geram pada Ifraz dan pria itu yang sudah tidak dapat menahan kesabarannya, sekarang tidak lagi ingin menggunakan cara halus.


"Ifraaaz!" teriak Daniel yang baru pertama kali ini meluapkan amarahnya.


Melihat itu Ifraz menyadari kalau Daniel sangat marah padanya.


Ifraz memilih untuk keluar dari mobil dan Marisa tersenyum smirk. Ini adalah salah satu pertunjukkan yang ingin ia tonton.


Daniel langsung menarik lengan Ifraz, pria itu membawa Ifraz dengan kasar dn Ifraz membrontak.


"Siapa lo, hah?" tanya Ifraz memancing kemarahan dari Daniel.


BUGH!


daniel meninju wajah putranya.


"INI SAYA, AYAH YANG MEMBESARKAN KAMU, AYAH BERKERINGAT UNTUK MENCARI NAFKAH SUPAYA KAMU TIDAK KEKURANGAN!" bentak daniel dan Ifraz yang jatuh ke aspal itu mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah.

__ADS_1


"Aku tidak meminta itu, itu adalah maumu!" jawab Ifraz, pria itu bangun dan segera kembali ke mobil Marisa


Ifraz duduk tanpa menatap siapapun, ia memilih diam, Marisa dan Zenia pun tak bertanya apa-apa setelah melihat ekspresi Ifraz.


Marisa Melanjutkan, menancap gas dan membawa dua anak muda itu liburan di luar kota, tidak lupa Marisa menjemput Bram lebih dulu.


Sementara Daniel, pria itu pergi menemui Biru, ia membicarakan Maya dan Ifraz.


"Dia akan pulang setelah melihat sisi buruk Marisa dan Zenia, percuma juga memaksanya, kalau bukan keinginan dari hatinya!" ucap Biru yang sedang berdiri di pintu, menatap keluar.


"Kita harus membuat Ifraz melihat siapa Zenia dan Marisa sebenarnya!" ucap Biru. pria itu mulai merencanakan sesuatu.


"Apa itu, bagaimana cara membuka kebusukan mereka!"


"Sebenarnya, aku pernah menemui Zenia, meminta pada gadis itu untuk melepaskan Ifraz. Tetapi dia menolak!" kata Biru. Daniel pun berdiri dari duduknya.


"Apakah uang kamu berikan kurang banyak? Kalau begitu kitagabung saja uang mu dan aku!" kata Daniel dan Biru merasa tersindir.


"Menurutmu uang yang ku tawarkan sedikit?"


"Lalu apa yang membuat gadis itu menolak?" tanya Daniel.


"Balas budi, gadis itu balas budi pada Marisa yang telah mengangkatnya menjadi anak!"


"Astaga, kepalaku sangat sakit, belum lagi Maya yang semakin menurun kesehatannya!" lirih Daniel.


"Aku permisi, aku harus menjaga istriku!" kata Daniel seraya menerobos Biru yang berdiri di pintu.


"Nggak sopan!" kata Biru dan sekarang Biru memanggil Pia, mengajaknya untuk melihat keadaan Maya.


Pia pun dengan senang hati dan sekarang pergi ke kamarnya untuk mengambil jaket.


"Ayo," kata Pia yang sudah menyusul Biru di ruang tamu.


Sekarang, Biru mengemudikan mobilnya tanpa bicara, sesampainya di sana Biru permisi pada Daniel yang sudah duduk di sofa menunggu Maya yang tertidur.


Pia menatap Biru yang sedang menatap Maya, tatapan cinta dan Pia mengerti itu.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa like, komen, favorit dan juga bintang limanya. Terimakasih dan sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2