Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Menyadari!


__ADS_3

"Kenapa bengong?" tanya Maya.


"ah... iya. Aku mau, itu...," jawab Biru menggantung ujung kalimatnya.


"Apa?"


"Ke toilet, titip Pia sebentar!" Setelah mengatakan itu Biru pergi ke toilet, di sana, Biru memperhatikan cincin yang dibawanya.


"Sangat sederhana, seperti kamu, May. Sangat cocok!" kata Biru, setelah memperhatikan cincin dengan permata satu di tengah itu Biru kembali menyimpan cincin itu kembali.


"Semoga Maya mau rujuk sama aku!" harap Biru. Selesai dengan membuang air dan kegugupannya, Biru kembali pada Maya dan ternyata di sana sudah ada Bram yang sedang menggendong Ifraz.


Biru melihat Bram mencium kening Maya dan saat itu Biru merasa sesak dan sakit di hatinya.


"Ayah!" seru Pia saat melihat Biru datang menghampiri semua orang.


Pia yang sedang berada di gendongan Maya pun meminta untuk turun.


Pia berlari, lalu meminta gendong pada BIru.


Biru membawa Pia ke gendongannya, ia juga menyapa Bram.


"udah balik, Bram?"


"Udah, oia nanti jangan lupa hadir di nikahan gua!" kata Bram sedangkan Maya menundukkan kepala.


"Gue pasti datang, ngomong-ngomong mana calon lo?" tanya Biru.


Mendengar pertanyaan itu Bram segera merengkuh Maya, membawanya ke pelukan. "Maya, calon istri gua, bidadari dari surga, pemberi cahaya dalam gelap gua!"


Biru seolah mati, mendengar itu Biru tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Bahkan untuk menelan salivanya pun terasa berat. Dadanya seperti tertikam pedang panjang.


"Selamat!' ucap Biru seraya mengulurkan tangannya.


Bram tersenyum dan segera membalas uluran Biru.


"Aku pamit dulu, May!" kata Biru yang kemudian pergi meninggalkan Maya dan Bram.


"May,'' lirih Bram seraya meraih tangan Maya.


"Hm,'' jawab Maya seraya menatap Bram.


"Terimakasih!" ucapnya.


"Untuk?" tanya Maya.


"Untuk semua, gua jauh lebih baik sekarang, terimakasih juga karena udah mengerti gua, lu nggak ninggalin gua seperti yang lain!" kata Bram.

__ADS_1


Maya menjawab dengan tersenyum lalu masuk kedalam pelukan Bram bersama putranya.


****


Di rumah Maya, ia menyampaikan niat baiknya bersama dengan Bram, tetapi Gala tidak menyetujuinya.


"Mbak coba pikir lagi!" kata Gala.


"Kenapa? Dia nggak pernah nyakitin Mbak! Selama mbak kenal dia, dia baik kok! kalau soal masalalunya mbak tidak memikirkan itu, dia sudah membuktikan kalau dirinya sudah berubah! Di-"


"Dia apa? Mbak mau belain dia terus?" ucap Gala memotong ucapan Maya.


Setelah mengatakan itu, Gala meninggalkan Maya yang masih berdiri di pintu kamarnya, Gala melewati Bram yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


Bram yang mendengar itu hanya bisa menerima cemoohan calon adik iparnya.


"Bram. Maafin Gala, ya!" kata Maya yang baru datang dari dalam.


"Nggak papa, gua juga ngerti perasaan Gala!" jawab Bram.


"Kita pasti bisa melewati ini semua, May!" lanjut Bram dan Maya pun menganggukkan kepala.


Sementara Biru, pria itu baru selesai menidurkan Pia. Ia menangis seraya memeluk putrinya. Setelah itu, Biru bangun dari tidurnya, kembali menatap cincin yang sudah ia siapkan.


"Kenapa, Biru! Kenapa lo lelet banget sampai Maya harus jatuh di tangan Bram!" ucapnya pada diri sendiri. Biru menundukkan kepala, mengusap air matanya yang hampir menetes.


Sekarang, Biru menyimpan cincin itu di lemarinya, cincin itu tersimpan rapih di dalam kotak. Biru mengusap dadanya yang terasa sesak apabila mengingat Maya, ia ingin mengulang waktu dan tidak akan melakukan kebodohan itu!


Satu minggu berlalu, sekarang tibalah hari pernikahan Maya dan Bram.


Pernikahan itu diadakan dengan sederhana di rumah Maya.


Sekarang, Murni sedang menggendong Ifraz, sedangkan Gala, pria itu masih terdiam, mencoba menerima keputusan Maya.


"Semoga lu bahagia dengan keputusan lu, mbak!" kata Gala dalam hati.


Maya yang baru saja selesai dirias itu menunggu kedatangan mempelai prianya.


Tidak lama kemudian Biru datang bersama dengan Pia, pria itu seolah mengalami dejavu disaat dirinya akan melangsungkan pernikahannya dengan Maya, di rumah yang sama hanya saja dulu Biru belum mencintai Maya dan sekarang pria itu tersadar kalau Maya adalah cintanya.


Biru mencoba untuk tetap tersenyum, menyembunyikan lukanya. Sekarang Biru memilih untuk duduk bersama Murni.


****


Di apartemen. Bram sedang bersiap di temani oleh Marisa dan juga teman dekatnya.


"Bram, nanti lu udah nikah jangan lupa sama gua, ya!" kata Marisa seraya memakaikan kopiah pada adiknya.

__ADS_1


"Mana mungkin gua lupa, sih! Mending lu cepat cari calon biar lu nikah juga!" kata Bram.


Selesai bersiap, sekarang Bram meminta untuk mengendarai motornya supaya bisa cepat sampai ke rumah Maya.


Mendengar itu, teman Bram merasa khawatir.


"Mana ada calon manten bawa motor sendiri! Gua percuma dong udah ngehias mobil gua jadi cantik!" protesnya.


"Lah, siapa suruh! Gua kan mau bawa keliling anak dan istri gua naik motor!" kata Bram seraya meraih kunci motornya di meja ruang tengah.


"Bram, ada baiknya dengerin kata temen lu, ini kan hari besar, nggak seharusnya lu naik motor. Ingat calon istri lu udah nunggu!" kata Marisa dan benar saja, ponsel Bram segera bergetar, Maya menghubunginya.


"Iya, sayang. Sebentar lagi sampai, kok!" kata Bram yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.


"Oia, udah disiapin belum semua, gua mau vidio yang bagus buat acara nikahan gua!" kata Bram.


"Udah, mereka udah nunggu lu di sana. Vidio dari sini biar gua yang ambil nanti diedit sama orangnya!" kata teman Bram dan benar saja, dari Bram mengambil kunci motor, keluar dari apartemen dan menaiki motornya, semua di rekam oleh teman Bram.


Lalu Bram melambai pada kamera dan teman Bram hanya menggelengkan kepala melihat temannya yang keras kepala itu.


****


Di rumah Maya, semua tamu sudah menunggu, begitu juga dengan penghulu!


Semua terlihat ceria, teman-teman Maya dari zaman sekolah SMA dan kuliah, mereka sudah hadir.


Lalu, seorang pria tampan, pria itu adalah masalalu Maya. Ia menghampiri Maya.


"Maya," lirih pria itu yang bernama Daniel. Pria itu berdiri di pintu kamar Maya.


"Dan. Aku kira kamu nggak bisa datang!" kata Maya seraya bangun dari duduknya.


"Nggak mungkin aku nggak datang, May. Kamu kenapa nggak bilang selama ini kalau kamu udah pisah sama suami kamu!" protesnya.


"Karena itu bukan kabar bagus, jadi aku tidak membuat pengunguman!"


" Aku tanya serius kok kamu jawab bercanda, May! Kamu tau kan selama ini aku udah nunggu janda kamu, tapi yang dapat malah orang lain!"


Maya hanya terdiam, tidak bisa menjawab ucapan mantan kekasihnya yang ternyata masih setia menunggu.


"Harusnya kamu jangan menunggu aku, kan masih banyak wanita lain yang pantas sama kamu, aku udah pernah ninggalin kamu, Dan!" kata Maya, wanita menundukkan kepala.


Lalu datang Murni mengatakan kalau penghulu sudah menunggu.


"Iya, Bram mana ya, kenapa belum sampai juga?" tanya Maya. Setelah itu Maya meminta ponselnya pada Dilan yang selalu setia menemani Maya.


Maya mencoba menghubungi Bram tetapi tidak ada jawaban membuat Maya merasa risau.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2