Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Membuat Biru cemburu


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Maya langsung mencuci tangan, setelah itu langsung membopong Ifraz dan menciumi pipi lembutnya.


"Sayang, maafin Mamah ya. Mamah sangat sibuk, habis ini mamah mau pergi lagi, kamu baik-baik ya di rumah sama Sus Nia!" ucap Maya, setelah itu Maya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Berada di bawah guyuran shower Maya mengusap wajahnya yang basah, otaknya mengajak untuk segera bertemu Bram dan mengutarakan niatnya.


Maya mempercepat mandinya, setelah itu mengambil gaun yang diberikan oleh Bram tempo hari lalu melalui Gala.


"Boleh juga seleranya!" gumam Maya seraya memperhatikan gaun berwarna merah, gaun yang tidak memiliki lengan dengan tali kecil di bahunya dan Maya merasa lega karena gaun itu tidak terlalu rendah untuk di bagian dadanya, belahan panjang di kanan dan kirinya sampai di atas lutut.


Selesai dengan bersiap, Maya keluar dari kamar itu dan meminta Andy untuk mengantarkannya ke sebuah kafe yang ia tunjuk.


"Kamu pulang aja!" kata Maya yang sudah bersiap untuk turun dari mobilnya. Sekarang Maya sudah turun dari mobil,


Maya berjalan dengan rasa sedikit gugup juga cemas. Cemas memikirkan Bram apakah Bram akan menolaknya malam ini atau sebaliknya.


Setelah masuk ke kafe, Maya melihat muda-mudi yang sedang kongko. Setelah itu, Maya mencari tempat duduk dan segera mengeluarkan ponselnya dari tas tangannya.


Maya menghubungi Bram dan ternyata Bram sedang menonton televisi di apartemen.


Bram melihat ke ponselnya yang tergeletak di meja, ponsel itu bergetar dan terlihat nama Maya yang memanggil.


"Halo!" kata Bram setelah menerima panggilan itu.


".........."


"Ok!" setelah mengatakan itu Bram memutuskan sambungan telepon. Bram juga tidak lupa untuk mematikan televisinya terlebih dulu, lalu menyambar kunci motornya yang berada di meja.


Pria itu tidak membutuhkan waktu lama untuk bersiap, sekarang sudah rapih dengan jaketnya.


Setelah selesai bersiap. Sekarang Bram sudah mengendarai motornya ke kafe tersebut.


Sesampainya di parkiran, Bram melepaskan helmnya dan sedikit merapikan penampilannya.


"Ada apa ya Maya ngajak ketemuan?" gumamnya dalam hati. Pria itu masuk ke kafe dan mecari-cari keberadaan Maya dan Bram langsung mengenali Maya walau ia melihatnya dari belakang, Bram melihat gadis yang mengenakan gaun pilihannya dengan rambut pendek yang terikat rapih terhias dengan aksesorisnya menambah keanggunan Maya.

__ADS_1


Bram berjalan kearahnya dan entah mengapa malam ini Bram merasa sedikit gugup, pria itu langsung duduk di depan Maya yang sedang bermain ponsel ditemani minuman hangat.


"Udah lama?" tanya Bram dan Maya pun segera menyimpan ponselnya ke tas.


Maya menggelengkan kepala, tersenyum kaku membuat Bram merasa heran dan semakin penasaran dengan Maya.


"Ada perlu apa?" tanya Bram yang tidak lagi basa-basi.


"Aku mau nanya sesuatu, tapi kamu jangan tersinggung ya!"


"Tanya aja," jawab Bram, pria itu mengambil kopi milik Maya dan menyeruputnya dan Maya hanya memperhatikan saja. Wanita itu mengerti mungkin memang sudah kebiasaan Bram seperti itu.


"Kamu pria bayaran?" tanya Maya dan Bram pun menyemburkan kopi yang berada di mulutnya, pria itu terkejut dengan pertanyaan Maya.


Untung saja, Bram menyemburkan kopi itu tidak sampai mengenai wajah cantik Maya dan Maya nyengir kuda merasa tidak enak bertanya langsung seperti itu.


"Lu tau dari mana?" tanya Bram seraya mengusap bibirnya.


"Adalah, nggak penting tau dari mana!" jawab Maya, wanita itu merasa sedikit risih karena Bram terus memperhatikannya.


"Enggak!" jawab Bram singkat, tetapi pria itu tersenyum karena gaun pemberiannya itu Maya pakai untuk menemui dirinya.


****


Sementara Biru, pria itu sedang duduk santai menghisap rokok di temani minuman bersoda, Biru berada di luar villa karena tidak ingin Hafizah dan bayinya terpapar asap rokoknya.


Biru memainkan ponselnya dan ternyata ia dapat kiriman foto dari Ran, Ran mengirim foto keberadaan Maya dan Bram yang berada di kafe.


Biru merasa geram dengan apa yang dilihatnya, pria itu menghisap dalam rokoknya lalu membanting putung rokok dan menginjaknya.


"Hah! Tidak bisa dibiarkan!" gerutu Biru seraya mematikan ponselnya, pria itu tidak ingin melihat Maya dan Bram yang semakin dekat.


Pria itu masuk ke dalam dan menjatuhkan dirinya di ranjang, mencoba untuk memejamkan mata menyusul Hafizah yang sudah tertidur pulas.


Malam ini, Biru tidak dapat tidur dengan nyenyak karena selalu memikirkan Maya yang baru saja malam mingguan bersama Bram. Sementara Hafizah, wanita itu terbangun dan segera mendekat kearah suaminya, meletakkan kepalanya di dada bidang Biru.

__ADS_1


****


"Lu udah tau semua, terserah kalau lu mau bilang sama Gala!" kata Bram seraya menyulut rokoknya.


"Aku mau membayar kamu!" kata Maya seraya menatap Bram dengan Serius.


Sedangkan Bram, pria itu sedikit gugup tidak mengira kalau Maya membutuhkan jasanya.


"Kenapa? Apa karena suami lu enggak pernah nyentuh lagi?" kata Bram, pria itu sudah berfikiran yang tidak-tidak tepatnya berfikiran mesum dengan Maya.


Lalu Bram merasa heran saat Maya terkekeh.


"Kenapa?" tanya Bram yang keheranan.


"Jangan berfikiran terlalu jauh!" jawab Maya seraya mengambil cangkir kopinya dan menyeruput kopi itu walau Bram sudah meminumnya.


Setelah itu Maya mengatakan niatnya dan Bram merasa sedikit kecewa saat mendengar Maya bukan meminta apa yang telah ia pikirkan.


"Lalu?"


"Bantu aku buat Mas Biru cemburu! Aku akan membayar mahal untuk itu!" kata Maya, wanita itu bersedekap dada, menyenderkan punggungnya ke kursi.


Sedangkan Bram merasa risih melihat dada Maya lalu pria itu berdiri dan melepaskan jaketnya, memakaikannya pada Maya.


"Pakai ini, jujur! Otak gua udah travelling!" kata Bram, pria itu kembali duduk dan Maya pun sebagai wanita yang sudah menikah mengerti dengan maksud Bram.


"Dia sendiri yang beli gaun kaya gini!" gerutu Maya dalam hati.


"Ok, gua bantu! Tapi gua nggak mau lu cengeng!" kata Bram seraya menghisap dalam rokoknya.


"Ok!" jawab Maya. setelah itu Maya meminta nomor rekening Bram setelah mendapatkan itu Maya mengirim sejumlah uang dan uang itu lebih banyak dari pemberian tante-tante yang menyewa malam-malam Bram.


Bersambung.


Berhasilkah rencana Maya membuat Biru terbakar api cemburu dan membuat Biru merasakan rasanya diduakan?

__ADS_1


__ADS_2